
Maira masih didalam kamarnya menangis pilu, semua tuduhan yang dilontarkan oleh Fardhan membuat hatinya terluka. ingin rasanya Maira pergi dari rumah ini menjauh dari Fardhan, tapi itu hanya akan menambah kemarahan Fardhan dan akan membetulkan prasangka yang di tuduhkan padanya.
Fardhan memilih untuk tidur di kamar tamu di lantai bawah untuk menghindari Maira. Maira sendiri didalam kamar masih belum berhenti menangis, bagaimanapun juga Fardhan adalah suaminya.
Maira menangis hingga tertidur setelah ia shalat isha, ia merasa lelah dengan semua yang terjadi hari ini. Bi Titin mengetuk pintu kamar tapi tidak ada yang menjawabnya, perlahan ia membuka pintu ternyata Maira tengah tidur. Bi Titin kembali ke tuang makan menemui Fardhan.
" neng Maira nya tidur den " kata bi Titin
" ya sudah, biarkan saja dia tidur bi jangan diganggu ! sekarang bibi makanlah " kata Fardhan
Bi Titin dan mang Jajang pun bertanya tanya dalam hatinya ada apa, tapi sudahlah keduanya tidak mau ikut campur dengan urusan rumah tangga tuannya. Setelah selwsai makan malam, Fardhan pergi ke kamarnya melihat Maira dan benar saja kini Maira tengah tertidur sambil memeluk guling dan membenamkan wajahnya. Fardhan keluar dan kini melangkahkan kakinya menuju ruang kerja nya.
Fardhan memeriksa beberapa dokumen yang harus ia selesaikan, setelah menyelesaikannya Fardhan kembali ke kamar tamu untuk beristirahat. Ia masih enggan bertemu dengan Maira, ia takut jika ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Pagi hari Fardhan bangun dan langsung mandi, lalu ia pergi ke kamarnya untuk mengambil baju yang akan di pakainya ke kantor. Saat Fardhan mengambil baju, Maira tengah mandi didalam kamar mandi. Setelah memakai baju yang telah disiapkan Maira lalu sarapan, Fardhan segera pergi ke kantor tanpa berpamitan pada Maira. Kali ini Fardhan berangkat lebih pagi.
Maira turun untuk sarapan setelah Fardhan pergi ke kantor. Maira langsung duduk di kursi meja makan dan langsung mengambil sarapannya.
" bi, apa mas Fardhan aarapan dulu sebelum berangkat ?" tanya Maira
" iya neng. Neng kenapa, kok wajah neng pucat begitu itu lagi matanya kenapa sembab ?" tanya bi Titin
"gak kenapa napa bi, wajahku pucat emang aku belum pakai make up. Mata juga semalam susah tidur lagi pas kebangun, baru bisa tidur tadi jam empat bi " jawab Maira
" maaf ya neng sebelumnya, apa neng sedang ada masalah ?" tanya bi Titin
" tidak ada bi, semuanya baik baik saja " jawab Maira
Bi Titin pun kembali membersihkan bekas sarapan tadi lalu menyapu halaman belakang. Maira mengambil nasi goreng dan telor ceplok, tapi selera makannya hilang begitu saja saat mengingat ia selalu makan sepiring berdua dengan Fardhan. Maira memaksakan diri untuk memakan nasi goreng itu walau hanya dua suap saja. Setelah itu ia kembali pergi ke kamarnya.
Maira duduk termenung di kursi yang ada di balkon kamarnya, fikirannya melayang jauh dan tatapan matanya kosong. Dengan mudahnya Fardhan menuduhnya berselingkuh setelah menjalani semuanya bersama selama ini. Jika memang Maira menginginkan berpisah dari Fardhan kenapa tidak dari dulu saja, toh dulu juga banyak laki laki yang ingin meminang Maira. Tapi Maira meneguhkan hatinya hanya untuk Fardhan. Tapi semua kepercayaan yang ia bangun selama ini seakan runtuh hanya karena sebuah fhoto yang tidak benar adanya, itu hanya kesalah fahaman saja.
__ADS_1
Maira masuk kedalam kamarnya setelah melihat ada pemberitahuan dari Ghina.
β Ghina
bismillah...
kak, bagaimana kabarnya ?
maaf saat kemarin kakak kesini Ghina gak bisa nemuin kakak, soalnya lagi cek stok bahan di belakang.
β kak Maira
alhamdulillah sehat, kamu bagaimana kabarnya ?
iya gak apa Ghin, nanti kalau ada waktu kakak kesana lagi buat cek.
bagaimana kafe hari ini ?
β Ghina
ya udah, nanti Ghina hubungi lagi ya kak. sekarang mau bantu dulu yang lain, kebetulan lagi banyak pelanggan datang
β kak Maira
iya Ghin gak apa
Maira menyudahi komunikasinya dengan Ghina karena Ghina harus kembali bekerja. Maira kembali terdiam, untuk saat ini baik Maira maupun Fardhan sama sama tidak ingin bertemu dulu. Keduanya ingin menenangkah hati masing masing dulu, tapi batin keduanya bertolak belakang. Maira merindukan sosok Fardhan yang baik, lemah lembut baik dalam ucapan maupun prilaku.
Hari sudah siang, sebentar lagi adzan dzuhur akan berkumandang. Maira masuk kedalam kamarnya dan bersiap untuk shalat, sedangkan Fardhan masih saja disibukkan dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Usai shalat dzuhur, bi Titin mengetuk pintu kamar Maira.
tok.. tok.. tok..
" neng, makan siangnya sudah siap " kata bi Titin dati luar
" iya bi, bibi makan duluan saja sama mang Jajang ya. Nanti Mai nyusul " kata Maira
Sebenarnya Maira sangatlah tidak berselera untuk makan, alasan akan menyusul hanya untuk mengulur saja. Hanya makan dua suap saja rasanya sudah sangat sulit bagi Maira, sebelumnya Maira tidak pernah mendapatkan masalah seperti ini. Ingin hatinya mengadu tapi pada siapa ? kalau mengadu pada abangnya pasti akan menambah masalah saja, kalaupun mengadu pada mama dan papa pasti akan menjadi beban fikiran dan membuat keduanya sakit. Maira hanya bisa mengadukan semua yang terjadi dan ia alami pada sang Pemilik Kehidupan yang Kekal Abadi dalam sujudnya. Terlebih Maira juga tahu, kalau masalah rumah tangga itu sebisa mungkin orang lain jangan tahu. Karena dalam sebuah hadits menyatakan
" seorang istri itu pakaian bagu suaminya dan suami adalah pakaian bagi istrinya "
Maka tidaklah pantas untuk mengumbar aib rumah tangga sendiri, terlebih urusan ranjang. Maira duduk sambil bersandar di kasur dengan kaki yang di selonjorkan, rambutnya yang hitam nan panjang terurai beraturan. Maira mecoba memejamkan matanya merenungi semua yang terjadi, ia tak pernah mendua jangankan melaksanakannya untuk berfikir pun tidak pernah. Ah sudahlah, lebih baik waktu saja yang menjawab semuanya.
Maira memejamkan matanya, sepintas terfikir dan berharap ia tidur dan tidak bangun lagi. Tapi ia juga sadar, itu tidak boleh.
.
.
.
.
.
TBC
Happy reading...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yups...
Terima kasiihππ»ππ»