
Rizal terdiam saat mendengar ucapan Maira. Memang benar apa yang dikatakannya bukanlah cinta tapi lebih pada obsesi. Tapi Rizal selalu menampik kenyataan itu.
" tunggu, menyiksa ? siapa yang menyiksamu ? aku tidak pernah menyiksamu " kata Rizal merasa bingung dengan ucapan Maira
" jangan berlagak sok polos dan tidak tahu ! Ini semua memang rencana kalian dari awalkan ? kalian membawaku jauh dari suamiku dan menyiksaku disini. Lalu setelah itu apalagi ? " tanya Maira penuh amarah
" apa maksydmu ? aku berani bersumpah aku tidak mengerti apa maksudmu menyiksa ?" tanya Rizal lagi
Tunggu dulu, nerarti yang menyiksaku itu hanyalah keinginan Kirana. Tapi apa bisa orang seperti dia dipercaya ucapannya ?
hati Maira bertanya tanya
" apa wanita itu yang menyiksamu ?" tanya Rizal
Maira hanya diam tak menjawab apapun, fikirannya terus bertanya tanya tentang kebenarannya. Tapi Maira tidak bisa mempercayainya begitu saja, walau bagaimana pun juga Maira tahu Rizal pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Secara tiba tiba Rizal membalikkan tubuh Maira, dan langsung membuat Maira meringis merasqkan sakit. Suhu tubuhnya yang tinggi membuat wajahnya pucat, apalagi ditambah luka luka bekas cambukan di punggungnya menambah rasa sakitnya juga.
Setelah tahu jika orang yang dicintainya terluka, Rizal langsung keluar dari ruangan dan menyuruh pada salah satu penjaga untuk membeli obat penurun panas dan obat luka. Setelah itu Rizal menemui Kirana yang sedang menunggunya didalam mobil. Rencananya Rizal dan Kirana akan melakukan rencana selanjutnya, tapi sepertinya rencana itu akan sedikit terhambat sekarang.
" buka " tegas Rizal sambil menggedor kaca pintu mobil
" apa ?" tanya Kirana ketus
" kenapa kau malah menyiksanyan ? Dudah berkali kali aku mengingatkanmu agar tidak menyakitinya " emosi Rizal
__ADS_1
" aku tidak suka dibantah " kata Kirana cuek
" Aku tahu, tapi kenapa malah menyiksanya ? kenapa tidak kau ancam saja hah ?" tanya Rizal lagi
" terserah aku dong, aku melakukan itu juga supaya kamu bisa cepat memilikinya juga ! Tapi dia malah mrnolak mentah mentah " jawab Kirana
" benar benar keterlaluan ! menyesal aku mengikuti rencanamu " kesal Rizal
Kirana malah tersenyum sinis menatap Rizal tanpa menjawab lagi, ia memainkan kuku jari tangannya.
Merasa amarahnya tidak juga reda, Rizal kembali ke ruangan tempat Maira. Orang suruhannya tadi baru saja tiba dengan membawa obat yang diperintahkan oleh tuannya tadi. Rizal langsung mengambilnya tanpa berbicara dan langsung masuk. Dilihatnya Maira duduk sambil bersandar pada dinding dengan mata terpejam. Tubuhnya yang menggigil membuat Rizal tak tega jika harus terus membiarkannya seperti ini. Perlahan Rizal mendekati Maira.
" Mai, minum dulu obatnya supaya kamu tidak sakit " kata Rizal lembut
" aku mau pulang " lirih Maira
Maira meminum obat yang diberikan oleh Rizal. Maira tahu untuk masalah kesehatannya Rizal tak akan mau macam macam.
" berbaringlah " kata Rizal setelah Maira meminum obatnya
" tidak perlu " jaeab Maira
Rizal hanya menghela nafas saja, ia sadar jika ia tidak bisa memaksakan kehendaknya. Rencananya dengan Kirana juga entah akan bagaimana nantinya. Eetelah melihat Maira yang terluka karena Kirana membuatnya berfikir kembali untuk melanjutkan rencananya. Melihat kondisi Maira yang seperti ini membuat hatinya terasa sakit. Rizal pun memikirkan ucapan Maira yang tadi, 'jika cinta tak harus selalu memiliki' itu memang benar adanya. Kini Rizal juga sadar dengan apa yang dilakukannya salah, memaksakan kehendak itu tidak akan penah membuahkan hasil yang baik. Bisa saja ia membawa Maira pergi bersamanya sekarang, tapi itu sama saja dengan ia menyiksa batinnya.
Melihat sekarang saja wajah Maira sudah makin tirus dibandingkan saat hari pertama Maira dibawa olehnya. Rasa menyesal pun timbul dibenaknya, tadinya ia ingin memiliki Maira dan membalas Fardhan untuk papanya yang telah dijebloskan kedalam penjara oleh Fardhan. Tapi semua kini tidak berguna, ia juga sudah tahu jika papanya melakukan kesalahan yang fatal. Dan sekarang ia juga melakukan kesalahan dengan melakukan ini dan memaksakan kehendaknya juga.
__ADS_1
Lama terdiam, akhirnya Rizal memutuskan akan membantu Maira terbebas. Bagaimana pun caranya Maira harus dibebaskan secepatnya dari sini dan dati wanita itu.
" cepatlah sembuh, aku akan membantumu untuk keluar dari sini dan kembali pada keluargamu " kata Rizal dengan nada berat
Maira membuka matanya menatap Rizal yang ada dihadapannya.
" aku tidak main main dengan ucapanku Mai. Sekarang aku sadar, apa yang kamu katakan memang benar. Ambisiku yang ingin memilikimu membuatmu tersiksa dan sakit seperti ini, maafkan aku " kata Rizal penuh penyesalan
" sudahlah, lagi pula semua sudah terjadi. Tidak perlu kamu sesali, cukup kamu menyadari dan memperbaiki dirimu saja sekarang. Harus kamu tahu, tidak semua inginmu itu harus terkabul seperti apa yang kau inginkan " kata Maira
" ya, aku benar benar minta maaf Mai. Sekarang aku sadar, jika apa yang aku lakukan itu salah. Aku menyesal, maafkan aku " kata Rizal lagi
Hari ini Rizal memutuskan untuk berdamai dengan keadaan, ia ingin memperbaiki kesalahannya. Batinnya terasa sakit saat melohat orang yang dicintainya tersiksa seperti itu. Ia juga berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan menemui Fardhan dan memberi tahukan semua kebenarannya, juga meminta maaf atas apa yang ia lakukan pada Maira dan juga apa yang terjadi sekarang.
.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1
Happy reading😊