
Maira merenung terduduk sendiri disana, ia masih diam tanpa bersuara sedikit pun. Hanya air mata yang kini mampu ia tumpahkan, ia tidak mau menceritakannya pada siapapun saat ini. Maira baru sadar kalau hari sudah sangat larut bahkan hampir maghrib, barulah ia pulang ke rumah. Alam seolah mengerti dan tahu apa yang dirasakan Maira saat ini, hujan turun mengguyur dengan derasnya.
Tidak ada jas hujan atau payung, tidak juga menepi hanya sekedar untuk berteduh. Maira terus melajukan motornya untuk pulang, dinginnya hujan tak mampu menyurutkan niatnya untuk pulang. Satu yang ingin ia tanyakan pada suaminya, apa maksud kebohongan tadi siang !
Maira sampai di rumah pukul setengah tujuh malam, ia memarkirkan motornya di garasi. Maira langsung pergi ke kamar untuk membersihkan diri.
" dari mana ?" tanya Fardhan dingin
" kafe " jawab Maira singkat
" mengapa baru pulang ? bukankah aku sudah berpesan agar pulang sebelum aku datang ? kenapa ?" tanya Fardhan mulai marah
" maaf " kata Maira tanpa menatap Fardhan
" bersihkan dirimu, aku ingin bicara !" kata Fardhan
Tanpa menoleh dan berbicara lagi Maira langsung pergi ke kamar mandi dan meninggalkan Fardhan yang tengah mematung menatap kepergian Maira. Maira keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju tidur dan langsung duduk di sofa dimana Fardhan tengah menunggunya.
" ada apa ?" tanya Maira
" aku harus pergi ke Kalimantan besok " kata Fardhan
" pergilah, bukankah itu sudah menjadi tugasmu " jawab Maira
" kenapa kamu berubah Mai ?" tanya Fardhan
" aku ? kenapa pertanyaan itu kau tujukan padaku ? kenapa tidak kamu tanyakan pada dirimu sendiri mas ?" kata Maira sambil menunjuk Fardhan
" kenapa kamu jadi seberani ini padaku ?" tanya Fardhan geram
__ADS_1
" aku tahu ada yang kamu sembunyikan dariku mas ! katakan saja " kata maira membuat Fardhan terdiam
" kenapa diam ? katakanlah, aku sudah siap mendengarnya !" tambah Maira
" apa yang harus aku katakan ? aku bahkan tidak menyimpan rahasia apapun " kata Fardhan berkilah
" jangan bohong mas ! aku sudah tahu bahkan sekarang kamu sudah berbohong padaku ! katakan saja sejujurnya mas, dan apa alasannya ?" tegas Maira walau mulai berurai air mata
" jangan menangis Mai " lirih Fardhan berusaha menghapus air mata Maira yang mulai menetes tapi tangannya ditepis oleh Maira
" jangan mengalihakan pembicaraan mas !" tegas Maira
" aku tahu mas, kamu diam diam berhubungan dengan wanita lain. Sudah sering aku mengecek riwayat chat di ponselmu mas. Aku membacanya, dan tadi siang kamu bilang sedang di kantor nyatanya kamu sedang duduk berdua di kafe dengan seorang wanita !" kata Maira mencoba tegar
" maaf, bukan maksud aku untuk membohongimu. Itu semua permintaan mama dan nenek ! Tadinya aku ingin membicarakan hal ini denganmu, tapi kamu sudah tahu lebih dulu " kata Fardhan
" tapi kenapa kamu harus berbohong mas ? kamu tahu mas, sakit rasanya mas ! " isak Maira
" iya mas, aku tahu ! aku milikmu dan kamu milik orang tuamu sampai kapanpun ! Tapi apa aku tidak kamu anggap mas, sampai kamu melakukan hal itu. Kenapa mas, kenapa ?" kata Maira
" aku hanya tidak ingin menyakitimu, mas tidak mau membuatmu kefikiran dan bersedih " jawab Fardhan
" tapi kamu juga menyakitiku mas, kamu melukaiku. Bukan hanya itu, kamu juga meruntuhkan kepercayaanku padamu mas ! kamu bilang harus saling terbuka, tapi apa nyatanya ? kamu sendiri yang mengingkarinya mas, kamu memakan omonganmu sendiri " kata Maira
" maafkan aku Mai " kata Fardhan sambil menunduk
" sudahlah mas, aku lelah ! jangan ganggu aku, biarkan aku sendiri dulu !" kata Maira berlalu pergi meninggalkan kamarnya
Maira turun ke lantai bawah, dia duduk di taman belakang rumahnya. Ia berharap ini hanya mimpi, dan berharap esok saat terbangun semua tidak seperti sekarang. Maira menangis dalam diamnya sambil menatap langit mendung.
__ADS_1
ya Allah, kenapa ini harus terjadi padaku ? berat rasanya ya Rabb !
jerit batin Maira sambil berurai air mata
Maira kembali masuk kedalam rumah dan pergi ke kamar tamu. Biarlah malam ini Maira menenangkan fikirannya dahulu, semua begitu cepat baginya. Maira mengusap kembali hidungnya yang kembali mengeluarkan darah. Akhir akhir ini hal seperti ini memang sering terjadi pada Maira, sering merasa pusing, mudah lelah dan mimisan secara tiba tiba. Entahlah apa penyebabnya, Maira berfikir itu hanya efek dari terlalu banyaknya fikiran dan kurang mengkonsumsi vitamin C saja.
Hal tersebut ia juga pendam sendiri, biarlah semua berjalan sesuai dengan takdirnya masing masing. Rencananya besok Maira akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Maira merebahkan dirinya di ranjang sambil memegangi tissue yang di pakai untuk menyumbat hidungnya yang masih mengeluarkan darah.
Aku pasrahkan segala urusanku dan hidupku pada Mu ya Rabb..
Kaulah yang menggenggam bumi beserta isinya, Kaulah yang Maha membolak balikkan hati manusia. Jika memang ini yang harus aku jalani, maka kuatkanlah aku dan sabarkanlah aku untuk menjalaninya ya Allah..
Hamba tahu, Kau punya rencana indah bagi hamba dibalik semua yang tengah hamba hadapi..
kuatkanlah ya Allah, kuatkanlah hamba
doa Maira lalu memejamkan matanya beristirahat dan mulai berlayar kedalam mimpinya.
Pagi datang menjelang, Fardhan sudah menyiapkan beberapa baju yang akan di bawanya. Dan Maira kini tengah bersiap akan pergi ke rumah Aisyah. Sebelumnya Azka sudah menelfon dan menawarkan tumpangan untuknya, tapi Maira lebih memilih membawa mobil sendiri. Hari ini Fardhan pergi ke Kalimantan bersama Shandy, mereka akan pergi dengan jam penerbangan pagi. Setelah Fardhan pergi, Maira pun ikut pergi meninggalkan rumah. Sesampainya di rumah Aisyah, Maira langsung di arahkan masuk ke kamar Aisyah untuk menemaninya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC