
Keesokan harinya kondisi Maira sudah membaik, hanya beberapa luka saja yang masih membutuhkan perawatan. Tapi luka itu bisa diobati sendiri oleh Maira di rumah, jadi Fardhan akan membawa Maira pulang siang ini.
Setelah sampai di rumah, Maira merebahkan diri diatas kasurnya yang sangat ia rindukan. Saking asiknya bernostalgia diatas kasur, Maira sampai tidak sadar kalau ia tertidur. Fardhan yang melihat Maira tertidur dengan pulasnya hanya bisa tersenyum saja, ia faham betul kondisi Maira saat berada ditempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tidak ingin mengganggu istirahat sang istri, Fardhan kembali ke ruang kerjanya yang sudah ditunggu oleh Shandy. Keduanya bekerja dari rumah saja untuk hari ini, sedangkan Shandy besok ia harus masuk kantor seperti biasa menggantikan Fardhan.
Maira masih tertidur pulas diatas kasurnya. Sedangkan papa, Azka, Nisa dan Silmi sudah berada diruang tamu.
tok tok tok
" Den, maaf ganggu. Itu papanya si neng sama keluarga abangnya ada diruang tamu " kata bi Titin
" oh, iya bi. Terima kasih informasinya ya " kata Fardhan
" Shan, kau teruskan saja. aku mau menemui keluarga istriku dulu " kata Fardhan
" siap bos " sahut Shandy
Fardhan membuka pintu kamar untuk melihat sang istri apakah sudah bangun atau belum. Tapi yang dilihatnya Maira masih tidur pulas juga, Fardhan pun membiarkannya saja dan langdung keluar kamar untuk menemui keluarga Maira.
" bagaimana kondisi kalian Dhan ?" tanya papa
" aku baik baik saja pa, Maira juga sama. Tapi dia masih belum bisa keluar kamar untuk sementara waktu. Selain luka di kakinya, Maira juga masih tidur pulas " jawab Fardhan
" sukurlah, papa senang mendengarnya " kata papa
" Dhan, aku sudah menemukan wanita itu " kata Azka
" dimana bang ?" tanya Fardhan spontan
__ADS_1
" dia aku temukan dihotel xx. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang disana, tapi entah siapa aku tidak tahu " jawab Azka
" sekarang dia dimana ?" tanya Fardhan
" sudah diamankan Ghaisan, kamu tenang saja. dia ada ditempat yang aman, dan sekarang dia tidak akan bisa kabur dari pengawasan Ghaisan. Ghaisan sudah tahu kelemahan dan celah tentang wanita itu" jelas Azka
" sukurlah, dalam waktu dekat aku ingin menemuinya bang " kata Fardhan
" ya, abang juga mai menemuinya " kata Azka juga merencanakan hal yang sama
" aku ikut bang " sambar seseorang dari arah belakang
" Zahra " gumam Azka
" aku harus ikut bang, aku mau melihat wanita licik itu " kata Zahra
" Nisa juga harus ikut mas " sahut Nisa
" tidak ada tapi tapian, pokoknya aku harus ikut " ucap Nisa dan Zahra kompak
" duh, kalian kalau udah gini susah deh ngelarangnya " kata Azka sambil menepuk keningnya
Akhirnya dengan berat hati Azka pun mengiyakan permintaan Nisa dan Zahra. Zahra dan Nisa meminta izin untuk melihat Maira dikamar, jujur saja keduanya sudah sangat merindukan Maira.
Fardhan mengantar Nisa dan Zahra untuk menemui istrinya dikamar. Sesampainya dikamar, dilihatnya Maira menggeliatkan badannya kemudian membuka matanya. Maira masih berbaring ditempat tidur, ia pun tersenyum saat menyadari kalau Fardhan, Nisa dan Zahra berada didepañ pintu kamarnya sembari tersenyum.
" apa kami membangunkanmu ? " tanya Nisa
" tidak, aku memang sudah bangun sebelum kalian membuka pintu. Masuklah " kata Maira
__ADS_1
" bagaimana keadaanmu sayang ? " tanya Fardhan
" alhamdulillah baik mas, hanya sedikit nyeri saja di punggung dan kaki " jawab Maira
" sukurlah. Kalau masalah nyeri, nanti akan segera membaik jika terus diobati " kata Fardhan
" mas keluar dulu ya, ini kak Nisa dan Zahra mau bertemu kamu biar lebih leluasa ngobrolnya " pamit Fardhan
" iya mas " kata Maira
Fardhan keluar dari kamar dan kembali bergabung dengan Azka dan papa di ruang tamu. Ketiganya ngobrol dari masalah pekerjaan hingga masalah yang menimpa Maira dan Fardhan.
Tak jauh dari ketiga pria di ruang tamu, dikamar Maira pun membahas hal yang sama. Hanya saja tidak seintens yang dibahas oleh suami dan papa mereka. Maira menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. Nisa dan Zahra merasa sedih saat mendengar cerita tentang apa yang Maira alami. Tapi mereka juga bersyukur karena Maira bisa kembali dengan selamat walaupun harus terluka. Tapi ity semua tidak apa apa, yang penting sekarang mereka bisa bertemu dan berkumpul bersama. Ketiganya pun kini saling berpelukan.
Setelah suasana sedih kini ketiga wanita itu sedang bercanda sambil menggoda Zahra yang semakin dekat saja dengan Shandy. Zahra yang terlihat malu malu sontak saja menjadi bulan bulanan Maira dan Nisa. Tapi mereka juga bahagia saat mendengar Zahra dekat dengan lelaki yang bisa mereka kenal baik, bahkan dekat dengan mereka.
Berbeda dengan ketiga pria diruang tamu, mereka kini sedang merencanakan untuk bertemu dengan Kirana sebelum membawa Nisa dan Zahra menemui Kirana. Entah apa yang mereka rencanakan, tapi yang jelas ketiga pria itu menyudahi obrolan seriusnya dengan senyum penuh arti.
.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1
Happy reading😊