
Setelah puas bertemu dan melihat kondisi Maira yang sudah membaik, papa dan Azka juga Nisa kembali pulang. Sedangkan Zahra masih menemani Maira ngobrol didalam kamar sambil menunggu Shandy yang akan mengantarnya pulang.
Setelah Zahra pulang bersama Shandy, Maira kembali istirahat membaringkan tubuhnya. Maira meraih laptopnya yang ada didalam laci nakas, ia merasa bosan menunggu Fardhan yang masih menerima telfon dari mamanya.
Maira memeriksa laporan perkembangan kafe yang dikelola Aisyah dan Zahra, baik kafe pertama maupun yang kedua begitupun dengan rumah makan yang ia dirikan didaerah Banten.
Ada yang omset penjualannya naik, tapi ada juga yang menurun. Ya, kadang memang seperti itu. Tidak selamanya omset naik, kadang juga turun dan merugi. Tapi itulah resikonya dalam dunia bisnis.
Tapi Maira tak ambil pusing, selama ia masih bisa menggaji karyawannya ia merasa lega. Biarlah omsetnya menurun, yang terpenting masih bisa memberikan kewajibannya pada karyawan setiap bulannya. Lagi pula tidak selamanya omset menurun, malah kalau dihitung hitung omset yang menurun itu bisa dihitung dengan jitungan jari saja selama ini.
Maira masih fokus dengan laptop dipangkuannya. Maira masih berkutat dengan laptopnya, ia terlihat serius sekali sampai tidak menyadari kalau Fardhan sudah duduk didepannya.
ekhem
Fardhan berdehem membuyarkan konsentrasi Maira.
" lagi apa sih ? serius amat " kata Fardhan
" lagi cek pesan aja yang masuk email, ada beberapa yang belum dibuka. oh iya, bagaimana kabar mama disana ?" tanya Maira sambil menutup laptopnya dan mengembalikannya kedalam laci nakas disamping ranjangnya.
__ADS_1
" alhamdulillah baik, mama minta maaf katanya masih belum bisa kesini jengukin kamu. Mama masih banyak kerjaan yang gak bisa ditinggalkan " kata Fardhan menyampaikan ucapan mamanya
" iya mas, tidak apa apa. Asalkan kondisi mama dan Faidah baik baik saja aku merasa lega dan tenang " kata Maira
" oh iya, sini mana salepnya ! mas olesin salepnya, biar lukamu cepat sembuh " kata Fardhan menengadahkan tangan meminta salep yang diberikan oleh dokter
Maira menyerahkan salep yang berada diatas nakas pada Fardhan. Untuk bagian kaki Maira bisa mengolesnya sendiri, lah untuk bagian punggung dia gak bisa karena gak kelihatan lukanya. Jadi Fardhan yang mengoleskan salep dipunggung Maira.
" pelan pelan mas, itu masih sakit " kata Maira yang mendesis merasa sakit saat lukanya tidak sengaja terlalu ditekan oleh Fardhan
" maaf sayang, sepertinya luka ini paling parah deh dibagian punggung. Soalnya selain lebam, ini juga bengkak. Kalau yang lainnya udah gak bengkak lagi " kata Fardhan sambil terus mengoleskan salepnya
" aku juga merasa begitu mas, rasanya beda banget. Jadi kalau mau rebahan aku mesti cari posisi yang pas supaya tidak sakit " jawab Maira
Saat ini Fardhan beralih pada kaki Maira yang masih luka tapi tidak ditutupi perban, karena Maira didalam ruangan. Dokter menyarankan lukanya dibalut jika keluar dari kamar saja.
" biar Mai aja yang olesin salepnya mas " cegah Maira saat Fardhan akan mengobati luka dikakinya
" tidak sayang, biar mas saja yang mengobatinya. Kamu diamlah " kata Fardhan sambil meneteskan alkohol pada kapas dan mulai membersihkan luka ditelapak kaki Maira
__ADS_1
" maaf ya mas, aku selalu merepotkanmu dan membuatmu susah " Maira yertunduk setelah selesai berkata demikian, ia merasa bersalah pada suami dan keluarganya
" kamu jangan bilang begitu Mai ! Kamu itu tanggung jawabku. Kamu harus tahu, saat aku mengucapkan ijab qabul dihadapan papa saat itu juga aku yang bertanggung jawab atas dirimu. Baik buruknya kamu itu menjadi tanggung jawabku, karena ikrar yang aku ucapkan itu bukan hanya dihadapan keluarga dan kerabat saja tapi juga langsung disaksikan Allah dan para Malaikat. Sejak itu pula dosamu menjadi dosaku juga. Kebaikanmu menjadi kebaikan bagiku juga " terang Farfhan menjelaskan panjang lebar
" maaf juga mas, aku masih belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. Aku masih belum bisa membuatmu menjadi seorang ayah . Maafkan aku mas " lirih Maira
" dengar ! Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Sampai saat ini Allah masih belum memberikan kita keturunan mungkin Allah sedang merencanakan suatu yang lebih indah dari bayangan kita. Saat ini Allah masih mengizinkan kita untuk bisa menikmati waktu kebersamaan kita berdua. Semua ada waktunya sayang, Allah itu Maha Tahu segala apa yang terbaik bagi umatnya. Allah juga tidak akan menguji seorang hamba diluar batas kemampuannya "terang Fardhan
Maira langsung memeluk Fardhan, ia begitu terharu dengan apa yang Fardhan ucapkan. Apa yang dikatakan Fardhan memang benar, ia pun memberikan Maira semangat untuk kembali menjalani program hamil nanti setelah ia sembuh.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC
Happy reading😊