Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
131


__ADS_3

131.


Fardhan terus berjalan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi rerumputan. Jalan itu memang datar, tapi tertutup rimbunnya rerumputan yang tak pernah dibersihkan.


Sekilas ia mengedarkan pandangan memangdangi sekitarnya, dilihatnya hanya sebuah tanah luas dipenuhi oleh rumput liar dan beberapa rumah berjejer rapi tapi tak terurus.


Fardhan mendekati salah satu bangunan itu dan terus menelitinya. Hampir setiap rumah ia sambangi tetap sama tak berpenghuni. Hanya sarang laba laba dan kelelawar yang mengisi hampir setiap rumah.


Hingga sampai di rumah kedua terakhir, ia mendengar rintihan seorang wanita yang mrnangis begitu pilu. Suara itu seperti tidak asing lagi baginya. Merasa penasaran, Fardhan pun mencoba membuka pintu masuk tapi hasilnya sangatlah sulit, pintunya dikunci. Biar pun tak berpenghuni tapi bangunan itu masih tetap berdiri kokoh.


" permisi " ucap Fardhan


" halloooo, apa ada orang didalam ?" tanya Fardhan


" tolong aku " ucap seseorang di dalam rumah terdengar lirih


" pintunya dikunci " ucap Fardhan


" tolong aku " ucapnya lagi


" tunggu, aku cari alat dulu untuk mencoba membuka pintunya " kata Fardhan


Fardhan mencari alat apa saja yang ia temui untuk membuka pintu itu. Tapi masih belum ada hasilnya, pintu itu masih saja terkunci. hingga akhirnya Fardhan menemukan sebuah jepit rambut wanita yang sudah sedikit berkarat.


Fardhan menggunakan jepit rambut yang ia temukan untuk mencoba membuka kunci. Setelah beberapa lama, akhirnya pintu itu bisa terbuka juga. Dilihatnya seorang wanita berambut panjang sedang terbaring membelakanginya.


Tapi tunggu dulu ! Sepertinya bentuk tubuh dan baju yang dipakainya tidak asing bagi Fardhan.


tunggu, bentuk tubuh itu seperti aku kenal. Dan baju yang dipakai juga aku pernah melihatnya. ya, baju itu baju Maira


gumam Fardhan


" Mai " panggil Fardhan hati hati

__ADS_1


" tolong aku " ucap si wanita


" kamu Maira kan ? " tanya Fardhan


Wanita itu tidak menjawab, hanya suara tangisnya saja yang terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Merasa penasaran, Fardhan pun maju mendekati wanita yang masih berbaring memunggunginya itu.


Fardhan mencoba membalikkan tubuh wanita itu, tapi si wanita malah merintih sambil terisak. Alangkah terkejutnya ia saat melihat orang yang ia cari ternyata kini ada dihadapannya dengan kondisi yang lemah.


" mai, sayang ini kamu ?" tanya Fardhan


Maira hanya mengangguk sambil terisak sebagai jawabannya. Fardhan membalikkan tubuh Maira dan membawanya kedalam pelukannya. Sungguh, Fardhan sangat merindukan hangatnya pelukan wanita yang ia cintai ini. Wanita yang beberapa hari ini tidak ada disisinya.


aaawww


jerit Maira saat Fardhan memeluknya. Seluruh tubuhnya terasa sakit, wajahnya pucat dan tubuhnya lemah. Entah apa yang terjadi dengannya, Fardhan juga tidak tahu.


" kenapa sayang ?" tanya Fardhan khawatir


" sakit " rintih Maira


Maira tidak bisa menjawabnya, ia hanya mencoba untuk bisa tetap sadar berada dalam pelukan suaminya.


Sedangkan Fardhan mengangkat tubuh Maira dan membawanya keluar dari rumah itu. Walau harus berjalan pelan agar tidak tersangkut dengan rumput liar. Beberapa kali Fardhan sempat jatuh tapi ia terus berupaya keluar dari kawasan yang sangat asing baginya.


Walau harus bersusah payah, akhirnya Fardhan berhasil membawa Maira keluar dan saat ini ia berada di jalan menuju rumah sakit. Sedangkan Maira sudqh tak sadarkan diri sedari tadi.


Setelah beberapa lama Fardhan sampai di rumah sakit dan membawa Maira dalam gendongannya. Fardhan terus berteriak memanggil perawat yang sedang berjaga, hingga akhirnya Maira dibawa oleh perawat ke ruang UGD untuk dilakukan pemeriksaan.


Setelah setengah jam berlalu barulah seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


" bagaimana kabar istriku ?" tanya Fardhan


" istri anda masih belum sadar sampai saat ini. Luka ditubuhnya cukup serius, pasien juga mengalami dehidrasi yang cukup parah juga. Kita tunggu saja 1×24 jam, jika masih belum sadar juga kita harus segera melakukan pengecekan secara menyeluruh " kata dokter

__ADS_1


Baru saja dokter selesai menjelaskan, salah satu perawat keluar dari dalam ruangan memanggil dokter. Dokterpun terlihat panik dan segera berlari masuk ledalam ruangan.


" dok, pasien kritis " kata salah satu perawat


Dokter langsung melakukan tindakan untuk menyelamatkan pasiennya yang kini sedang bertarung nyawa. Setelah hampir lima belas menit berjuang, akhirnya dokter menyerah juga. Pasien tidak bisa diselamatkan. Salah satu perawat menemui Fardhan untuk menyuruhnya masuk.


Saat tiba didalam ruangan, Fardhan terpaku pada blankar yang ditutupi kain putih. Fardhan hanya bisa berdiri mematung memandangi sebuah jasad yang terbaring kaku tanpa nyawa dan tak lagi bernafas


Fardhan mencoba membuka kain penutup itu perlahan. Dilihatnya wajah dari wanita yang ia cintai begitu damai dengan wajah pucatnya. Dalam hembusan nafas terakhirnya sang istri mengukir senyum dibibirnya.


Fardhan memangdang pada dokter dengan mata yang berkaca kaca. Dokterpun mengerti arti dari tatapan Fardhan yang meminta penjelasan padanya.


" maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi pasien tidak bisa diselamatkan. Ada luka dalam yang tidak bisa kami obati dan tidak terkontrol, ditamvah lagi dengan pecahnya pembuluh darah di otak membuatnya tifak bisa bertahan. Maafkan kami " ucap dokter


" ya Allah, cobaan apalagi ini ? " lirih Maira


" bersabarlah " kata dokter menenangkan


" kenapa kamu harus pergi secepat ini Mai ? kenapa ?" tangis Fardhan pun pecah seketika


" Mai bangun Mai, bangun Maira " teriak Fardhan


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


Happy reading😊


__ADS_2