
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
π HAPPY READING π
"Hem, kamu bekerja keras seperti ini sebenarnya untuk apa?"
"Apakah kamu membiayai orang tuamu? Atau kamu mempunyai tanggungan besar?" Xander yang sejak kemarin penasaraan akhirnya berani untuk mengeluarkan keluh kesah yang ada di otaknya itu secara langsung.
"Tidak, aku tidak membiayainya, karena aku 4 bersaudara, dan kita semua memberi orang tua kita. Jadi tidak terlalu besar dalam membiyayai mereka." Ryn menjawabnya dengan jujur.
"Tapi kalau di tanya kenapa aku berkerja keras?"
"Ya jawabannya akan kembali aku balikkan, kenapa kita tidak harus kerja keras?" Ryn memberikan jawaban yang paling ambigu menurut Xander.
Wanita itu seperti menyinggung Pria yang ada di depannya itu. Pria yang malas pergi bekerja, pria yang bahkan tidak tahu akan gambaran masa depan akan seperti apa.
Dan benar saja, di saat Xander mendengar kalimat Ryn ini, sejenak langsung menundukkan kepalanya.
Sedangkan Ryn yang melihat Xander tidak mengatakan apa - apa lagi, malah tersenyum dengan manis.
"Tidak apa, bukankah kamu tidak terlalu perlu bekerja? Karena ada Harta Papahmu." Tambahnya lagi, memang suaranya lembut namun kalimatnnya sangat menyekit.
"Oh iya, aku tahu kenapa kita harus bekerja dengan sangat keras."
"Jawabannya, karena kita ini perintis, bukan pewaris." Ryn benar - benar menyinggung Xander habis - habisan.
Namun pria ini adalah Xander, pria yang sama sekali tidak perduli dengan kalimat singgungan orang lain atau apapun.
"Justru itu, karena aku pewaris maka aku hanya harus menikmati saja." Responnya dengan senyuman tipis namun datar.
"Tapi, aku pewaris bukan berarti aku tidak bisa apa - apa," tambahnya lagi, membuat Ryn langsung menyeritkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Jadi kamu bisa apa?" Tanya Ryn dengan senyum meremehkan.
Xander ikut tersenyum lalu menatap ke arah berkas. - berkas yang ada di sebelah wanita itu.
"Dari jauh sini saja, aku sudah bisa melihat perselisihan angka - angka itu." Jawabnya tanpa menunjuk.
Dia hanya menatap saja, namun Ryn sudah memahaminya.
"Beda angka?"
"Tapi aku sejak siang mengerjakan ini, sama sekali tidak menemukan keanehan apa - apa." Ryn kembali menatap ke laptopnya dan juga berkas - berkas yang ada di tangannya.
Xander bangkit dan mencoba duduk untuk lebih mendekat dengan Ryn.
"Apakah kamu tidak menyadari, jik angka pemasukan lebih banyak dari pada angka pengeluaran."
"Sedangkan, investasi yang mereka tawarkan sempat terhenti dalam beberapa bulan di tahun 2022." Tunjuknya pada berkas itu.
"Kalau saran aku, kamu hubungi klienmu dan beritahu mereka jika pending dulu urusan kerja sama ini." Ucap Xander lagi memberikan saran yang baik untuk Ryn dan juga kliennya.
Namun Ryn malah terlihat menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, tidak bisa dengan semudah itu, aku meminta mereka untuk melakukkan pendingan kerja sama."
"Setidaknya aku harus memiliki bukti yang otentik agar mereka percaya." Tolak Ryn, yang lagi - lagi hanya di respon dengn senyum oleh Xander.
"Berita tahu mereka, bahwa besok kamu akan memberikan bukti - bukti itu." Tungkas Xander, sambil mengambil alih laptop yang ada di pangkuan Ryn.
Tak lupa dia juga memberikan kode agar Ryn cepat melakukkan apa yang dia suruhkan barusan.
"Apakah kamu yakin?" Ryn sepertinya masih meragukan kemampuan otak Xander.
"Kamu tidak percaya sama aku?" Tanya Xander balik.
__ADS_1
"Aku bukan tidak percaya, tapi aku ragu Xander."
"Ini adalah masalah kerja sama dalam perusahaan Rusia dan juga perusahaan Indonesia, lalu kamu suruh aku bilang ke mereka untuk pending,"
"Dan kalau aku sudah memberitahu mereka, lalu kamu tidak bisa membantu aku untuk memberikannya besok pagi, maka karirku yang akan di pertaruhkan di sini." Ryn berbicar dengan tegas pada Xander.
Wanita itu menatap tajam Xander, mengisyaratkan bahwa ini bukanlah masalah yang bisa di jadikan permainan untuk membuktikan apakah dia bisa atau tidak.
Xander menarik nafasnya dengan dalam, lalu balik menatap Ryn, namun jika Ryn menatapnya dengan pandangan yang tegas dan mengintimidasi, Xander balik menatapnya dengan pandangan yang lembut.
"Percayalah, aku tidak akan merusak namamu dan membuat karirmu rusak," ucapnya lembut namun menyiratkan banyak arti.
Mereka kini saling menatap satu sama lain, yang akhirnya membuat Ryn mengalah dan mengikuti perkataan Xander.
"Baiklah, aku akan telpon mereka sekarang, tapi kamu akan bertnggung jawab jika bukti yang di dapatkan ini tidak kuat!"
"Siap."
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*
__ADS_1