
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
π HAPPY READING π
"Tiga bulan?" Tanya Ryn pada Xander, yang akhirnya membuatnya membuka suara.
Nana memandang sinis ke arah Ryn dengan senyuman palsunya. 'Kan benar, dia sudah tidak tahan ingin bersuara, kita lihat apa yang akan kamu bicarakan sekarang,' batin Nana, masih bergumam dalam belenghu pikirannya.
Ryn menatap Xander dengan senyuman manisnya, sedangkan Xander terlihat sudah mulai hilang semangat, dia bahkan memandang ke depan tanpa ingin berbicara apapun.
Karena jika sampai Mamahnya benar - benar merestui hubungan mereka, itu akan semakin kacau.
"Bukankah Tiga bulan itu hanya akan membuang - buang waktu saja?" Tanya Ryn pada Xander, yang membuat pria yang tadinya menatap lurus ke depan itu akhirnya menoleh kembali ke arahnnya dan menatapnya dengan serius.
"Tante, semua yang Xander katakan tadi itu adalah pemikirannya sendiri, tapi bukankah Tante sebagai ibu dari Xander bisa memahami jika pemikiran itu terlalu konservatif, juga di dalam hatinya dia masih merasa sedikit takut jika Tante tidak akan menerima keputusannya." Ucap Ryn, membuat Xander kembali menatap ke depan dengan raut wajah yang menunjukan masa depan suram.
"Tapi Xander, sepertinya kamu yang lebih tidak memahami ibumu ini." Tambahnya lagi, namun kali ini kalimatnya di tujukan oleh Xander.
Dan dengan lemas Xander hanya diam melamun sambil menganggukan kepalanya pelan.
"Baiklah kalau begitu, kali ini biarkan aku yang berbicara, Dan karena Tante dan Om adalah orang tua yang berpikiran open Minded jadi aku akan memberitahukan keputusanku." Serunya, yang di sambut senyum oleh Nana.
Membuat ke duanya terlihat serius untuk mendengarkan apa yang akan di katakan oleh kekasih putra mereka itu.
__ADS_1
Dengan senyumannya Ryn menggerakan tangannya untuk menggengam tangan Xander dengan erat. "Walupun aku dan Xander baru mengenal beberapa hari ini, tapi aku rasa dia adalah sosok pria yang Dapat di percaya serta bertanggung jawab,"
"Kalian juga tahu, jika usiaku sudah tidak muda lagi, saya sudah berusia 35 tahun, jadi aku ingin sekali untuk segera menikah." Jelasnya, yang sontak merubah raut wajah Nana yang tadinya tersenyum kini perlahan mulai cemeberut.
"Selama ini, kalian sudah tinggal di rumah utama ini, meskipun kalian mempunyai banyak rumah, tapi sangat tidak pantas membuat kalian untuk keluar dari rumah yang punya banyak kenangan ini."
"Saya juga sudah memiliki Rumah pribadi yang cukup besar, ya meskipun tidak sebesar ini, hanya saja setelah menikah nanti Xander akan tinggal bersama saya, lagi pula yang punya rumah inikan kalian, dan perusahaan serta saham juga milik kalian, dan tugas saya adalah membuat Xander bangkit dan sukses atas kerja kerasnya sendiri."
"Tapi itu jika Xander ingin bekerja serius, karena bagi saya Xander tidak kerjapun juga tidak masalah, karena aku rasa gajiku juga sudah cukup untuk membiayai hidup kita berdua."
"Hanya saja, pekerjaanku sangatlah banyak, dan terkadang saya sangat sibuk, jadi mungkin setelah menikah, tugas di rumah butuh kamu yang mengurusnya, kamu yang harus memperhatikan pembantu2 yang ada di rumah dan juga berbelanja kebutuhan rumah." Ucapnya pada Xander yang menole kembali ke arahnya.
"Tunggu - tunggu, jadi maksudnya, Xander menjadi menantu yang akan masuk ke keluarga wanita, dan menjadi Bapak Rumah tangga?" Tanya Nana dengan raut wajahnya yang khawatir.
Xander mulai tersenyum lagi dan menganggukan kepalanya pelan. "Ah, mungkin bisa di pahami seperti itu tante."
"Ini -"
"Sebenarnya saya merasa pernikahaan adalah kerja sama dari dua orang," tungkasnya lagi, dan ini membuat Xander semakin menguatkan gengaman tangan mereka sambil menatap wajah Ryn dengan serius, dia ikut menganggukan kepalanya jika Ryn berbicara padanya.
"Karena saya pintar dalam bekerja dan mencari uang untuk menafkahi, sedangkan Xander menurut saya adalah orang yang sanar dan teliti, jadi aku rasa dia akan mengurus rumah dengan baik. Bukankah kita berdua ini sudah seperti pasangan yang sangat sempurna?"
Xander menanggapi itu dengan anggukan kepalanya serta demuman suaranya, sedangkan Nana menatap ke arahnya putranya dengan pandangan yang sangat - sangat khawatir.
__ADS_1
"Hemm, Ryn, Xander, bukankah pernikahaan itu adalah hal besar? Kalian sebaiknya memikirkan dulu semuanya secara matang, baru kalian bisa membuat -" lagi - lagi Kalimat Julio di hentikan oleh istrinya.
Nana tersenyum ke arah putranya. "Xander, apakah kamu juga akan sependapat dengan Pacarmu ini?" Tanya Nana dengan gemas.
"Tante, Xander akan mengikuti keinginanku." Sambar Ryn, ketika Xander baru saja akan membuka suaranya.
Lagi - lagi Xande di buat tersenyum oleh situasi ini, dia menganggukan kepalanya dengan penuh keyakinan.
Nana semakin menunjukan wajahnya yang tidak senang dengan hal ini. Bagaimana bisa putranya tunduk dan diam pada wanita ini?
Begini saja dia sudah melihat jika Ryn bisa menginjak harga diri putranya dengan menjadikan Putranya sebagai bapak rumah tangga apa lagi jika nikah nanti.
'Ahh, pintar sekali, aku mengagumimu Ryn, baru buka suara saja kamu sudah bisa menantang kekuasan Mamahku sebagai Nyonya rumah ini, kamu bahkan tahu jika Keinginan untuk mengontrol adalah titik kelemahan Mamahku.,' ucap Xander dalam hatinya, menatap Ryn dengan sorot mata kekagumannya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*