
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS πβ€οΈπΉ
π HAPPY READING π
Sesampainya di depan kantor, Xander menepikan mobil Ryn untuk menurunkan wanita itu. "Nanti siang aku jemput ya." Ucap Xander sebelum dia meninggalkan Ryn.
"Tidak perlu, aku akan pergi ke sana sendiri dengan naik Taksi." Jawab Ryn dengan tenang.
Xander sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi jika Ryn sudah mengatakan hal demikian.
Dia hanya bisa melihat Ryn turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kantornya sebelum akhirnya dia melajukan mobilnya pergi.
"Ryn." Tegur seseorang tiba - tiba, di saat dia sedang berdiri di depan pintu lift.
Ryn yang tadinya asik bermain ponsel langsung menoleh dan melihat sosok Dante yang berdiri di belakangnya.
"Sedang apa kamu di sini?!" Tanya Ryn dengan ketus, sembari memencet - mencet tombol agar Lift itu segera terbuka.
Dante yang mendengar jawaban Itu langsung tersenyum dan menunjukan kartu tanda pengenalnya pada Ryn.
"Perhari ini, aku resmi menjadi Pengcara Mitra di Firma hukum ini, yang otomatis kamu adalah bawahanku."
"Jadi aku harap kamu bisa jaga sikapmu untuk menghormati seniormu." Dante menjawab dengan lugas, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
Dante masuk lebih dulu dan melihat Ryn yang masih berdiri di depan sana. "Apakah kamu tidak mau masuk?" Tanyanya, dan mau tidak mau Ryn ikut melangkahkan kakinya masuk.
Dia sudah terlambat untuk menghadiri rapat penting. Jadi dia memilih untuk membuang egonya sedikit untuk segera masuk ke dalam lift.
Sejujurnya Ryn sangat kesal, dia marah karena harusnya yang menduduki posisi Pengacara Mitra itu adalah dirinya, bukan Dante.
^^
__ADS_1
Sesampainya di Lantai 11, tempat rapat penting di mulai, Ryn langsung masuk dan mengeluarkan semua berkas yang sudah dia siapkan dari malam.
Dia mulai menjelaskan semua strategy sekaligus penjelasan bagaimana bobroknya perusahaan lawan.
"Apakah kamu sudah mendengarnya?" Tanya Demian pada pria utusan Papahnya yang duduk di sebelahnya.
"Kalau perusahaan ini terbukti melakukkan banyak penipuan, apakah si tua bangka itu masih mau melanjutkan kerja samanya?" Tanyanya lagi.
Seto yang mendengar itu, terdiam untuk sejenak. "Saya sudah memberitahu pada Tuan Cain, dan beliau mengatakan untuk memberhentikan proses ini dan segera kembali ke Rusia." Sahutnya, memberitahu perintah yang di berikan oleh Papah Demian.
Namun, pria itu sepertinya tidak mendengarkan apa yang Seto katakan, Demian malah terlihat hanya senyum dan memperhatikan Ryn dengan lekat.
"Apakah wanita ini ikut?" Tanya Demian pada Seto, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tentu saja Tuan," jawab Seto dengan menganggukan kepalanya pelan.
Ryn membulatkan matanya besar, dia menggelengkan kepalanya menandakan dia tidak ingin ikut.
"Apakah kamu sudah mendengarnya?" Tanya Demian pada Ryn.
"Perusahaanku sudah rugi ratusan juta karena gagalnya kerja sama ini."
"Jadi kamu harus memberikan alasan yang jelas pada pemimpin agar dia mau mengerti alasan apa yang membuat kerja sama ini Gagal." Tegas Demian, tidak ingin di batah oleh Ryn.
Namun, bukannya takut ataupun khawatir, Ryn malah tersenyum dan meletakan pena yang sejak tadi dia pegang.
"Saya hanya menjelaskan, untuk keputusan batal atau tidaknya kerja sama kalian, itu bukan urusan saya, apa lagi tanggung jawab saya."
"Sebagai Pengacara sekaligus Negosiator kalian, saya hanya memberi saran saja. Sisanya semua ada di tangan Anda." Ryn mengeluarkan kalimatnya, membuat senyum yang tadi ada di wajah Demian kini menghilang dan di gantikan raut wajah kesal.
Dia bahkan langsung berdiri dan meninggalkan ruang rapat. Ryn hanya melihat langkahnya yang kian menghilang sebelum akhirnya dia berdecit kesal.
__ADS_1
"Kamu salah pilih lawan." Lirihnya pelan, lalu dia membuka ponselnya mengirimkan pesan pada Xander kalau dia akan segera pergi ke kantor sipil.
Ryn bangkit membereskan barang - barangnya, dia berulang kali menarik nafasnya agar suasana hatinya bisa kembali normal.
"Apakah rapatmu sudah selesai?" Tanya seseorang yang suaranya sangat di kenal.
Ryn enggan menjawab, dia bahkan mempercepat gerakannya. "Ryn, aku sedang berbicara denganmu, Ryn." Panggil Dante dengan sedikit memaksa.
"Aku tidak ingin berbicara denganmu! Apakah sudah jelas?!" Ryn bersuara dengan ketus, lalu bergegas pergi meninggalkan Dante.
Pria itu menyeritkan keningnya bingung melihat sikap Ryn yang sepertinya sangat membencinya.
Dante tidak tinggal diam, dia berusaha mengejar Ryn untuk meminta penjelasan.
"Ryn." Panggil Dante, namun Ryn malah berlari turun ke bawah.
Pria itu merasa lelah dan akhirnya membiarkan saja Ryn pergi, toh masih ada waktu lain yang akan dia pastikan mendapatkan jawaban atas sikap dingin Ryn pada dirinya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*
__ADS_1