
Waktu pun terus berlalu, dan masa yang dinanti-nantikan pun tiba, pertemuan antara keluarga Crystal dan Lian tinggal menghitung angka saking sudah dekatnya waktu itu.
Tidak hanya Crystal dan orangtuanya, saudara Crystal kecuali Kifra ikut sebagai keluarga inti.
"Crystal kamu sangat cantik," puji mama.
"Kau jarang pake dress, jadi keliatan sedikit 'cewek' dikit," entah itu sindiran atau pujian yang dikatakan Daniel, Crystal bahkan tidak melirik Daniel sama sekali.
'Idih ... padahal aku berusaha muji dia, kenapa dia gak suka banget dipuji," kesal karena pujian nya tidak digubris oleh adik kesayangan nya.
"Kakak cantik, kalian semua hati-hati ya!" entah ini yang kedua kalinya atau bukan, Crystal merasa aneh dengan sifat si bungsu yang lebih berekspresif.
"Kamu bisa juga muji kakak mu," ujar Crystal dengan wajah datar.
'Apa dia ketularan Daniel ya, jadi cringe gitu,' batin Crystal.
"Betul kata Kifra, kamu cantik banget yuk foto," ujar Yoona istri Daniel.
"Ahk kak Yoona aku gak bisa," ujar Crystal terbata-bata.
"Ayolah ... senyum dikit, keburu lambat," Yoona menyodorkan handphone nya.
"Hai wanita-wanita cantik ku, aku ikutan," Amara.
"Kak Amara," Crystal kaget melihat kakak pertamanya.
"Yoi udah lengkap," ujar Yoona dengan semangat.
Kami mengambil beberapa foto, setelah supir keluarga kami datang, kami pun menghentikan sesi foto-foto an dan berangkat menuju tujuan.
30 menit kemudian....
Kami pun sampai, sudah ada Lian dan keluarganya disana, Aku juga bisa melihat saudara Lian. Kurasa Lian punya satu saudara perempuan.
"Selamat datang," sambut ayah Lian. "Silakan duduk!" pinta ibu Lian.
"Terimakasih," ujar ayah dan ibu Crystal.
Entah apa ini perasaanku saja, aku berniat melihat semua anggota keluarga Lian, tapi mungkin aku keduluan, semua anggota keluarga Lian, ayah nya, ibunya, saudaranya, bahkan Lian pun menatap ke arahku. Aku hanya bisa terdiam kikuk.
__ADS_1
'Ahk Crystal gugup, anggota keluarga ku terlalu antusias melihat nya,' kekah batin Lian.
Akhirnya Crystal berhenti gugup saat ayah Crystal mulai berbicara.
"Jadi ini Lian ozama???" tanya ayah sambil melirik ke arah Lian. Aku bisa melihat Lian tersenyum kikuk saat ditatap oleh ayahku.
"Yah ini anak kedua kami, anak pertama kami tidak bisa datang maafkan kami," ujar ayah Lian.
"Tidak apa-apa asalkan, kedua calon Sama-sama datang saja itu sudah bagus," ujar ibu Crystal.
Crystal masih tersenyum kikuk, sedangkan Lian tersenyum hangat pada Crystal.
'Dasar ... kayak namanya, Crystal bener-bener gak bisa senyum anggun dikit apa,' celetuk batin Daniel.
'Uhk jadi ini tipe nya Crystal yang punya julukan gadis es disekolah, apa bisa dia???" celetuk batin Daniel lagi.
"kalau ada yang belum tahu ini anak terakhir namanya, Viona dia baru masuk kuliah," ibu Lian memperkenalkan adik Lian.
"Salam, saya kesini ingin melihat calon istri nya ka Lian, kakak sangat cantik kalau aku pria ... mungkin aku akan jatuh hati pada kakak," Viona mengatakan itu dengan blak-blakan dan sedikit malu.
Dua keluarga itu langsung memekik kaget, bahkan Lian kini menatap tajam sang adik dengan tatapan layaknya singa yang marah. Sementara Crystal dia bingung harus menjawab bagaimana, dia hanya bisa memasang muka datar seperti biasa.
"Tenang kakak, kamu harus bersyukur aku terlahir dengan gender perempuan setidaknya kamu dapat adik yang manis," kata-kata Viona tidak membuat Lian berhenti menatap adiknya tajam, adiknya pun mengehentikan candaannya.
"Maksudku kak ... aku punya pacar kok," akhirnya jawaban itu sedikit membuat tenang Lian.
Uniknya pertengkaran kedua adik kakak itu tidak dihentikan dan malah ditonton dengan tenang oleh kedua keluarga itu.
"Tapi aku jujur soal kata-kata ku barusan," celetuk kembali Viona sambil tersenyum licik, Lian kembali mengeluarkan tatapan tajamnya.
'Kau pikir aku takut hah? Andai ini dirumah aku tidak akan menahan kata-kata mutiara ku, ku colok mata mu juga kakak bajingan," ucap batin Viona.
'Andai ini dirumah, aku pasti sudah membungkus kepala mu dengan keresek hitam, lalu menyiram mu dengan tong sampah dapur, tenang....tenang.... Lian kamu harus sabar ada keluarga Crystal," ujar batin Lian.
Kini keluarga pun tidak tinggal diam dan langsung menghentikan perdebatan adik kakak yang dari tadi tidak berhenti.
"SUDAH ... SUDAH!!!" ujar ayah Lian. Viona dan Lian pun berhenti bertengkar, sebenar-nya lebih ke menghentikan Viona karena Lian tidak meladeni Viona dari tadi.
"Ahaha maafkan anak-anak, mereka selalu bertengkar, " ujar ibu Lian.
__ADS_1
"Tidak apa-apa ... bisa kita lanjut, takut kemalaman," pinta mamaku.
"Untuk acaranya kita tidak perlu mengadakan pertunangan, anggap saja kalian sudah bertunangan sekarang ... dan saya berpendapat bagaimana acaranya dilaksanakan 2 minggu lagi," Ayah Lian sudah memikirkan itu dari lama.
"Saya setuju, untuk tempat dll apa ada yang bisa saya bantu???" tanya ayahku.
"Kami bisa menyediakan nya, tapi saya takut kalau itu tidak sesuai dengan keinginan lawan keluarga terutama sang mempelai perempuan," ayah Lian tersenyum hangat pada Crystal, Crystal berusaha membalas senyuman ayah Lian dengan santai.
"Bagaimana Crystal, keluarga Lian bisa siapkan, dan kamu tinggal melihat dan mencoba, atau ... kamu ingin melakukanya sendiri???" tanya mamaku.
"Ahk kalau bagusnya gimana, saya tidak keberatan yang mana saja," ujarku.
"Ahk ... tolong beri izin, biarkan keluarga mempelai wanita saja yang memilih untuk tempat dan lain-lain, kami juga akan meminta pendapat kalian juga," pinta mamaku. Ayah hanya terdiam dan pasti setuju.
"Ahk baiklah ... kalau begitu hari H nya dua minggu dimulai dari sekarang, untuk info undangan biar saya saja, anda tinggal beri pesan untuk tamu undangan dari pihak anda," ujar ayah Lian.
"siap," jawab ayahku.
Setelah itu percakapan pun selesai, setelah itu kami makan malam bersama, lalu ... pulang.
"Ahk terimakasih untuk makanannya,"
"Syukurlah anda menyukai makanan nya," ujar ayah Lian.
Entah apa ini kebiasaan keluarga Lian, mereka selalu memesan makanan duluan jika ada makan bersama, untung keluargaku tidak pilih-pilih masalah makanan.
Kami pun saling berpamitan setelah berbincang sebentar, keluarga Lian terlihat ramah pada ku, aku bisa melihat mereka tak berhenti tersenyum melihatku. Aku harus sedikit bersyukur meskipun rada risih terus ditatap oleh keluarga Lian.
Saat semua berpamitan dan bersalaman, aku melihat Lian mendekatiku dahulu.
"Selamat malam, kita belum ngobrol sama sekali, aku gak bisa ngobrol lama-lama sekarang, maaf ... tapi," Lian lalu membisikkan sesuatu ke telinga Crystal.
"Mimpi yang indah tunangan ku ... atau calon istri ...," bisik Lian ke telinga gadis pujaannya. Lian sadar Crystal memekik kaget dan tersenyum melihat tingkah gadisnya.
"Aku pengen lihat wajah kamu yang malu-malu, tapi aku harus pergi, aku juga belum salaman dengan keluarga lain, dah...," Lian meninggalkan Crystal yang wajah nya merah padam.
"Huh ... apa aku biasanya kayak gini,"
" 'Calon istri' itu ... geli,"
__ADS_1