
Hiks~hiks~
Terdengar suara tangisan yang menghentikan susana yang cangung, mereka semua fokus pada sumber suara.
"Lion, kamu udah bangun nak," ibu Lion berlari kecil menghampiri Lion.
"Terimakasih sekali lagi ya nak, tapi saya tidak akan melupakan jasa anda, jika anda perlu bantuan datanglah," ujar ayah Lion mengusap kepala Crystal. Seperti biasa Crystal hanya memasang wajah datar.
"Sekali lagi aku juga ingin mengucapkan terimakasih hehe," tiba-tiba Lian jadi sok akrab.
"Satu kali aja cukup, Lian" ujar Crystal tiba-tiba tersenyum tipis.
"Kamu bisa tersenyum kupikir kamu gak bisa tersenyum," celetuk Lian dengan raut wajah menatap Crystal dengan wajah yang penuh kagum.
"Kamu polos banget, kamu nganggap aku apa? Robot?" tanya Crystal dengan wajah datar.
"Tuh kamu tiba-tiba wajah nya gitu lagi," Lian sambil meniru wajah khas Crystal.
"Apa aku terlihat seperti itu, apa kamu takut?" tanya Crystal.
"Ya kamu selalu memasang wajah seperti itu, tapi aku gak takut, kamu ... cantik hehe tapi lebih cantik pas senyum kayak tadi! Walaupun sebentar aku bisa liat kamu tersenyum manis....banget," girang Lian.
"Haha," Crystal tersenyum tipis.
"Nah kayak gitu hehe," ujar Lian berusaha menyembunyikan sifat salah tingkahnya.
'Ahk jantung ku kok tiba-tiba berdebar, apa ini namanya perasaan kalau lagi senang ya,' ujar batin Crystal.
'Wajah Lian tiba-tiba jadi merah, mungkin tadi ke papar matahari kali ya karena kulitnya putih,'
Crystal berhenti berurusan dengan pikiranya dan fokus pada Lian yang wajahnya memerah .
"Kamu gak papa? Wajah kamu merah apa kamu alergi matahari? Mumpung di UKS mungkin aku bisa bantu kamu," tanya Crystal.
"Ahaha, aku gak papa, mungkin tadi kepanasan jadi muka ku merah," jawab Lian dengan terbata-bata.
Mereka gak sadar kalau masih ada tiga orang yang sedang memperhatikan mereka diam-diam dengan wajah serius.
"Apa Lian selalu keliatan begitu, wajahnya memerah karena gadis itu," ujar ibu Lion sambil berbisik-bisik pada suaminya.
"Haha Lion suka gadis itu mungkin," jawab ayah Lion.
"Woah, Lian ku sudah besar, dia juga memilih wanita yang tepat," girang ibunya.
__ADS_1
"Haha tapi mereka masih kecil bu," ujar ayah Lion.
"Siapa ya nama anak itu, kita bisa jodohin kan, gak peduli status keluarga nya," tiba-tiba ibu Lion mendekati Crystal.
"Aduh lihat ibu mu ini Lion, bagaimana kalau gadis itu merasa terbebani?" ayah Lion mengerenyit kan dahinya melihat tingkah laku istrinya. Tapi ayah Lion tiba-tiba menatap kaget Lion.
Ayah Lion bisa melihat Lion menatap kearah Crystal Lian dan ibunya, mungkin karena kejelian ayah Lion, ayah Lion bisa tahu kalau Lion hanya menatap Crystal saja.
'Kurasa Lion juga suka gadis itu,' ujar batin ayah Lion.
Lalu tiba-tiba Lion berbicara.
"Ayah... Gadis cantik itu yang menyelamatkan ku... kupikir dia adalah malaikat yang akan mencabut nyawaku," Lion tersenyum ditengah-tengah bicaranya, ayah Lion bisa melihat senyum Lion yang terlihat sendu.
'Oh tuhan ... terimakasih karena sudah mendatangkan anak baik untuk menyelamatkan anak saya,' ujar batin ayah Lion.
"Dia memang malaikat kan? Malaikat bumi," lirih ayah Lion memandang gadis yang sedang ia bicarakan.
Lion menatap tak sangka dengan kata-kata ayahnya, lalu kembali menatap Crystal.
"Iya ayah benar," ujar Lion sambil tersenyum.
Dua orang sibuk menatap ke arah Crystal, sedangkan tiga orang lagi sedang asik sendiri, terutama ibunya Lian yang tiba-tiba datang mendekati Crystal dan Lian yang tengah menikmati musim seminya.
"Halo nak, ibu ingin bertanya boleh kan?"
"Ahk yah silakan,"
"Nama kamu siapa? Ibu ingin mengingat nama kamu yang sudah menolong anak saya, benar gak Lian," ujar ibu Lian, dan Lian hanya mengangguk sambil cemberut.
'Kenapa dia cemberut?' tanya batin Crystal.
"Nak"
Crystal pun berhenti memikirkan pikirannya tentang Lian dan menjawab pertanyaan ibu Lian.
"Ahk maaf ... nama saya Crystal," ujar Crystal terbata-bata.
"Nama panjangnya?" tanya ibu Lian penasaran.
"Crystal theodor lavina odelia," ujar Crystal dengan raut wajah yang tampak risih dan merasa keberatan.
Jujur Crystal merasa risih jika harus memberi tahu nama panjang nya, karena mereka akan tahu kalau Crystal dari anak yang punya status tinggi dan berkelas.
__ADS_1
'Ahk kurasa dia merasa risih jika ditanya tentang keluarganya, dia anak orang penting, dia sangat unik,' ujar batin Crystal.
"Ahk jangan dipikirkan perkataan ibu ya Crystal, Crystal nama yang cantik," ujar ibu Crystal memegang pundak Crystal.
'Ahk berbeda'
Biasanya jika seseorang sudah tahu Crystal dari keluarga kalangan kelas atas, orang itu akan banyak bertanya bahkan berpura-pura memuji Crystal. Juga kadang selalu ada yang memanfaatkan Crystal agar dekat dengan ayahnya.
"Terimakasih ibu nya Lian, anda sangat baik," celetuk Crystal.
Ibu Lian yang mengerti arah bicara Crystal mengangguk dan tersenyum pada Crystal.
'Sangat dewasa, dia juga pintar,' ujar batin Crystal yang terkagum-kagum dengan sikap Crystal.
***
Setelah kejadian yang lumayan panjang dan sudah berakhir itu, semua murid-murid kembali sekolah dengan normal dan tenang, tapi .... tidak dengan pelaku penganiayaan pada Lion.
Orang tua Lion tidak sebodoh itu, polisi memeriksa tempat dimana Lion ditemukan, dan terdapat mesin tato yang ditinggalkan pelaku, ditambah polisi sudah mengidentifikasi sidik jari di mesin tato itu dan sudah tahu siapa pemilik mesin tato itu.
Murid-murid yang dicurigai se-bagai tersangka pun di kumpulkan dan dibawa oleh polisi terutama Randy kecuali kakak kelas yang kabur itu.
Kini murid-murid tersebut dipenjarakan dahulu, Lion mengalami trauma berat dan divonis punya penyakit kecemasan. Dia belum berani bercerita tentang kejadiannya membuat polisi semakin lama memproses hukum.
"Ayah ... ayah tidak perlu menghukumnya aku sudah memaafkan mereka," lirih Lion.
"Nak... Kamu jangan terlalu baik! Apa kamu mau kalau misalnya temanmu dan kakak-kakak kelas itu tidak jera dan malah terus menggangu mu, itu misalkan ... tapi jika itu benar bagaimana ?" nasihat Ayah Lion.
Lion hanya diam terpaku.
"Jangan terlalu baik nak... ayah ngerti kok setelah apa yang udah kamu ceritakan, kamu anak baik ayah salut mendengar kamu memaafkan anak-anak nakal itu, tapi sekarang urusannya dengan ayah, kamu ... diam dan istirahat oke!" ujar ayah Lion.
Lion tahu perkataan ayahnya serius.
"Jangan terlalu keras ayah," ujar Lion membuang muka.
Ayah Lion tersenyum miris melihat anaknya mengatakan hal itu.
'Siapa yang harusnya sangat marah disini?'
"Ayah akan berusaha mengabulkan permintaan mu, istirahat yang benar ya, kami semua sayang kamu," ujar ayah Lion yang kini pergi meninggalkan Lion sendirian.
"Huh, aku ingin mati, boleh yah?"
__ADS_1
***
Makasih udah mau baca, jangan lupa suport ya!