
Macet adalah salah satu kata yang paling tidak disukai oleh banyak orang. Harus terjebak di dalam banyak kendaraan dan menunggu lama.
Begitulah juga yang sedang dialami oleh gadis yang bertulisan nama Dokter Jiai di bagian pengenalan nama itu. Gadis itu cukup menyesal, karena dia terlambat bangun.
Kembali, gadis itu memeriksa jam tangan berwarna gold yang melingkar indah dipergelangan tangannya. Dia menggigiti bibir bawahnya khawatir sebentar lagi akan terlambat.
"Duh, gimana nih??" gumamnya didalam hati.
Tapi, tiba-tiba gadis itu tak sengaja menoleh ke sisi kiri dan matanya terpaku, ketika melihat pria dengan setelan jas berwarna hitam. Dia memandang takjub kepada laki-laki yang hanya bisa dia lihat dari samping itu. Sungguh tampan. Begitulah yang terlintas dibenaknya.
Walaupun gadis itu hanya bisa melihat dari sisi kanannya saja, tapi aura laki-laki itu sangat kuat. Siapakah dia? Sungguh baru pertama kali ini gadis itu melihat pria setampan dengan aura yang sekuat itu.
Tapi, tiba-tiba.
Tinnn! Tinnn! Tinnn!
Kendaraan dibelakangnya mengklaksonnya dengan nyaring, hingga membuat acara tatap menatap gadis itu terhenti. Sial sekali.
Gadis itu 'pun segera melajukan kendaraannya. Bisa-bisa diamuk dia dengan pengendara lainnya.
"Siapa pria itu? sungguh tampan sekali auranya juga sangat kuat, nanti kalau misalnya aku bertemu lagi dengannya akan ku' rebut hatinya ." Gumam gadis itu dalam hati, walaupun dirinya tidak yakin kalau suatu saat nanti akan bertemu lagi dengan pria itu. Sangat mustahil!
Setelah memarkirkan kendaraannya di parkiran. Gadis itu buru-buru keluar dari mobilnya dia sudah terlambat sekitar 15 menit dari ketentuan rumah sakit dimana tempat dia bekerja.
Tapi, tiba-tiba seorang Suster nampak tergesa-gesa datang ke arahnya.
"Ada apa?" Tanya Jiai pada seorang Suster yang nampak tergesa menghampirinya itu.
"Syukurlah Dokter telah sampai. Tolong Dok ada pasien kritis gara-gara menabrak pohon," jelas Suster itu dengan air muka yang panik.
Apa? Baru sekitar 15 menit saja dirinya terlambat, tapi sudah sampai sebegininya. Apakah tidak ada dokter lain sebagai pengganti dirinya? Pikir Jiai yang juga sudah mulai panik.
"Apa? Baiklah saya akan kesana," Jiai dan Suster itu buru-buru pergi ke ruangan UGD. Dimana pasien kritis itu diletakan.
Setelah sampai di ruangan UGD betapa terkejutnya dirinya karena pasien yang sedang kritis dengan wajah yang berlumuran darah itu itu. Adalah pria tampan yang tidak sengaja dia ketemu di jalanan macet tadi.
"Apa? laki-laki ini?"
Sungguh Jiai tidak menyangka dirinya akan bertemu lagi dengan laki-laki tampan itu dengan keadaan seperti ini.
Jujur saja perasaan Jiai juga ikut kritis, ketika mengetahui kalau pasien yang kritis itu adalah laki-laki yang tak sengaja dia temui tadi.
"Tolong siapkan perawatan medis kita akan mengobati pasien ini dengan sekuat tenaga." seru Jiai kepada seluruh Suster yang bertugas.
"Baiklah Dokter." jawab Suster itu serentak.
Hampir 2 jam lebih Jiai dan para Suster mengobati pria itu dengan sekuat tenaga. Pria itu hampir kehilangan nyawa karena benturan dibagian kepala yang sangat keras.
Beruntung Dokter Jiai dan para Suster berhasil menyelamatkan pria yang belum diketahui identitasnya itu.
"Apa identitas korban itu?" Tanya Jiai yang baru saja memasuki ruangan UGD lagi. Jiai tadi keluar sebentar untuk membeli makanan karena tadi pagi dirinya belum sarapan sama sekali akibat dari keterlambatannya bangun.
"Kami belum mengetahui identitas apa-apa dok dari korban kecelakaan tunggal ini," jawab Suster yang sedang membereskan peralatan-peralatan medis itu.
"Oh baiklah kalau begitu," ujar Jiai, lalu pergi dari ruangan UGD itu lagi.
Jiai berinisiatif untuk membelikan pasien itu bubur entah mengapa tiba-tiba dirinya ingin membelikan pasien itu bubur. Padahal rumah sakit telah menyediakan makanan untuk para pasiennya.
Jiai ingin sekali menyuapi pasien itu makan, walaupun dia tidak tau pasien itu akan menerima suapan bubur itu darinya atau tidak. Yah mungkin pasien itu akan menganggap Jiai aneh, tapi Jiai tidak peduli itu.
__ADS_1
Tidak apa-apa 'kan dia usaha?
Sepulangnya Jiai dari membeli bubur Jiai segera kembali ke ruangan UGD lagi, tapi ternyata pasien itu belum sadar juga.
Ini pasti akibat dari luka benturan yang ada di kepalanya mungkin butuh waktu sehari semalam. Agar pasien tampan itu sadar.
Jiai menghela napas pelan bagaimana mungkin dia lupa akan hal itu, padahal dia adalah seorang Dokter?
Dirinya segera mengambil kursi dan duduk di sebelah pasien tampan yang belum sadarkan diri itu.
"Siapa dirimu mengapa tidak ada satu anggota keluarga pun yang menjenguk "mu?" Jiai membatin. Dia merasa kasihan dengan pasien yang terbaring lemah dihadapannya itu Karena tidak ada satupun anggota keluarga yang menjenguknya.
Keesokan harinya Jiai kembali Memeriksa keadaan pria tampan itu lagi.
Jiai melihat pria itu menyenderkan kepalanya pada penyangga tempat para pasien berbaring.
Dirinya segera mengambil stetoskop dan menghampiri pria itu untuk memeriksa detak jantungnya. Tapi, sepertinya pria itu merasa tidak nyaman dengan kehadiran dirinya.
Padahal dirinya adalah Dokter disini. Mengapa pria itu merasa tidak nyaman dengan kehadiran dirinya?
"Kau sudah sadar rupanya," ujar Jiai seraya tersenyum membuka pembicaraan duluan. Dirinya tidak suka dengan keadaan saling diam begini.
Pria itu tetap diam saja tak menggubris perkataan Jiai.
"Aku tadi membelikan bubur untukmu. Kau harus makan dulu, agar kondisimu cepat pulih." Ujar Jiai lagi sambil menyiapkan bubur itu di atas piring dengan senyuman yang menghias di bibir tipisnya senyum itu tak pernah luntur dari bibirnya.
Dirinya akan melakukan segala cara agar pasien menyukai dirinya. Baru kali ini ada pasien yang merasa tidak nyaman kepada dirinya.
Karena biasanya para pasien yang pernah dia obati selama ini akan merasa langsung nyaman, ketika dirinya mengobati atau hanya sekedar menyapa.
Tapi, kali ini berbeda?
"Ini dimakan dulu." Seru Jiai sambil memegang sendok yang sudah ada bubur di atasnya itu.
Jiai terkejut dengan penuturan pria itu, sekaligus bingung.
"Ta-ta-pi ke-kenapa?" Tanya Jiai disertai rasa sedikit takut pria itu menatap tajam ke arahnya. Apa yang salah? Mengapa dirinya terlihat sangat marah? Jiai sangat bingung sekarang.
"Aku tidak lapar!" Tegas pria itu sekali lagi.
Jiai memberanikan diri untuk menatap pria itu lagi, walaupun perasaan sedikit takut itu masih bersarang di dalam dirinya.
"Tapi, kau harus makan agar kondisimu cepat pulih. Apa kau tidak kasihan pada keluargamu yang mengkhawatirkanmu?" Ujar Jiai dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya.
Tapi, pria itu hanya diam saja tak menggubris perkataan Jiai satupun.
Jiai menelan salivahnya dengan susah payah. Apa dirinya tidak salah bicara? Pikir Jiai.
Jiai kembali menghela napas pelan. Mengapa pria ini sangat aneh? Pikir Jiai lagi.
"Aku letakkan bubur ini disini siapa tau nanti kau akan berubah pikiran." Ujar Jiai pasrah rasanya tidak ada pilihan lain selain ini percuma saja dia memaksa pria itu untuk makan, kalau pria itu tetap saja menolaknya.
Dan dirinya lebih memilih untuk pergi dari ruangan ini sepertinya pria itu sedang butuh sendiri. Jiai peka akan hal itu.
Setelah kepergian Dokter itu tadi pria itu menaikkan salah satu bibirnya tersenyum sinis.
"Tau apa dia tentang keluargaku? bahkan keluargaku saja tak menganggap 'ku ada." Gumam Bagas. Dirinya akan sangat bersyukur kalau keluarganya mengkhawatirkannya, tapi ini menganggap dirinya keluarga saja tidak.
Iya, pria ini bernama Bagas. Laki-laki tampan yang memiliki sifat yang sangat dingin bahkan melebihi kutub Utara. Setiap kata-kata yang dikeluarkannya juga sangat tajam.
__ADS_1
Bagas berprofesi sebagai Pengacara. Dan kerap dijuluki sebagai pengacara es!
Sifat dinginnya ini bukan tanpa sebab, melainkan akibat dari keluarganya sendiri yang tidak pernah menganggap dirinya ada.
Flashback On
Hari ini Bagas ingin menemui kedua orang tuanya lagi. Dirinya ingin memberitahu kepada kedua orang tuanya, kalau dirinya sudah sangat sukses sekarang.
Impiannya untuk menjadi Pengacara telah terwujud. Sebenarnya telah lama Bagas menjadi seorang Pengacara. Tapi, baru kali inilah dia memiliki keberanian untuk menemui kedua orang tuanya lagi, tapi seakan tak punya hati kedua orang tua Bagas malah memanggil satpam untuk mengusir dirinya.
Hati Bagas serasa hancur seketika. Tiba-tiba kebahagiannya lenyap seketika, terganti dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya.
Kedua lutut kakinya terasa lemas kala itu. Dunia ini rasanya berhenti berputar dan gelap.
Sebegitu bencikah keluarganya hingga mengusir dirinya yang telah sukses ini. Bagas merasa dirinya sangat hina.
Apakah dirinya ini tidak pantas untuk mendapatkan kasih sayang dari keluarganya sendiri? Bahkan sudah bertahun-tahun Bagas tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarganya.
Akibat dari itu Bagas tidak konsen berkendara karena perasaan sesak dan sakit yang merasuk ke dalam dirinya. Hingga akhirnya dia mengalami kecelakaan tunggal dan menabrak pohon. Orang-orang 'pun ramai berdatangan.
Flashback Of
Jiai duduk di ruangannya sambil menopang dagu. Dia memikirkan tentang pria tampan itu.
Pupus sudah harapannya untuk menyuapi pria tampan itu makan, ternyata pria itu sangat dingin dan perkataannya juga sedikit tidak mengenakan. Jiai tidak menyangka akan jadi begini?
Huft sepertinya dirinya harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati pria kutub Utara itu sangat dingin dan tak tersentuh. Begitulah pikir Jiai.
Tiba-tiba Suster Susi mengetuk pintu ruangannya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk saja pintunya tidak dikunci kok." Seru Jiai kepada Suster Susi.
Suster Susi pun membuka pintu ruangan Dokter Jiai dan menghampiri Dokter Jiai.
"Ada yang ingin menemuimu Dok," ujar Suster Susi memberitahu.
"Siapa?" Tanya Jiai.
"Laki-laki kemarin," jawab Suster Susi.
Jiai merasa sangat kesal, ketika mendengar ucapan laki-laki kemarin itu karena sudah dipastikan itu adalah si playboy Danur yang selalu mengejar-ngejar dirinya, padahal sudah dirinya tolak berkali-kali.
Tapi, tetap saja laki-laki keras kepala itu mengejarnya. Sungguh rasanya sangat memuakan Jiai memijit pelipis kepalanya merasa pening.
"Bilang saja saya lagi sibuk sus," ujar Jiai.
"Tapi Dok-"
"Sudah lakukan saja!"
"I-i-ya Dok."
Suster Susi buru-buru keluar dari ruangan Dokter Jiai sepertinya Dokter Jiai sangat kesal hari ini. Pikir Suster Susi.
"Mana Dokter Jiai nya?" Tanya Danur tak sabaran.
__ADS_1
"Dokter Jiai sedang sangat sibuk mungkin lain kali, jika anda ingin menemuinya," jawab Suster Susi kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkan Danur yang masih berdiam diri.
"Sial! Kenapa Jiai selalu menghindar dari gue? padahal gue ini sempurna tidak ada kurangnya bahkan banyak perempuan yang berlomba-lomba ingin bersama gue!" Gumam Danur merasa kesal karena Jiai yang selalu menghindarinya, bahkan menolaknya secara mentah-mentah.