
"Kenapa Ai? Masih kurang nyengir kayak orang gilanya?"
"Bukan itu!"
"Lah, terus apaan?"
"Dompet aku Bi. Tinggal di mobil kamu."
"Kebiasaan."
"Hehe," cengir Jiai menunjukan deretan-deretan gigi putihnya.
"Ya udah ambil sana," perintah Abi.
"Temenin," pinta Jiai sedikit memelas karena dia tidak ingin pergi sendiri ke tempat mobil Abi.
"Manja! Sendirian sana!"
"Temenin Bi. Aku enggak mau sendirian."
"Gak!"
"Tuh kan gitu giliran aku lagi butuh aja, kamu enggak pernah mau dengar permintaan aku!" Jiai cemberut kebiasaan Abi selalu berubah-ubah sikapnya. Tadi soplak sekarang tiba-tiba cuek dan dingin.
"Bilang dulu Abi ganteng yang gentengnya melebihi Cha Eun Woo," Abi tersenyum licik sambil menaik-turunkan alis tebalnya itu.
"Iya-iya Abi ganteng yang gantengnya melebihi Cha Eun Woo," Jiai memutar kedua bola matanya malas dia bergidik jijik mengatakan itu tadi. Oh, demi penduduk bikini battom Jiai terpaksa mengatakan itu. Sungguh!
"Nah, gitu dong. Sekali-kali bikin orang senang."
"Ya udah ayok temenin aku ngambil dompet!" Jiai langsung menarik tangan Abi, karena malas membuang-buang waktu.
---
Satu koper penuh yang berisikan uang kertas disodorkan dimeja Bagas. Bisa Bagas pastikan, kalau jumlah uang yang ada dihadapannya itu bernilai triliunan rupiah.
Seorang pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam lengkap dengan kaca mata hitam tengah duduk santai dihadapan Bagas setelah menyodorkan koper itu di meja Bagas.
"Maksudnya apa pak? Bapak menyodorkan koper yang berisikan uang itu kepada saya?" Tanya Bagas bingung. Pria yang berumur sekitar 40 tahunan ini tiba-tiba saja datang ke ruangannya dan menyodorkan koper berisikan uang tersebut.
"Saya akan menyerahkan uang itu kepadamu, jika kamu mau membersihkan nama baik saya atas kasus penyuapan," ujarnya kemudian mematikan korek api dan menghidupkan rokok. Pria itu menempelkan rokok itu dikedua bibirnya kemudian mengeluarkan asapnya ke arah Bagas.
Sedangkan Bagas langsung menutup hidungnya menggunakan tangan sebelah kanan. Dirinya merasa tidak nyaman dengan asap rokok pria ini.
Sungguh tidak sopan sekali datang ke ruangan seseorang tanpa permisi dan mengetuk pintu, kemudian menyalakan rokok yang asapnya sampai mengenai wajah Bagas.
__ADS_1
"Membersihkan nama baik?" Tanya Bagas yang belum paham kemana arah pembicaraan pria ini.
"Iya, nama baik. Ini berkasnya." Pria itu menyerahkan berkas-berkas itu kepada Bagas.
Bagas menggelengkan kepalanya tak percaya ketika membaca isi-isi berkas itu.
"Bagaimana? Kamu mau 'kan? Saya bisa memberikan kamu uang yang lebih dari ini, jika berhasil membersihkan nama baik saya anggap saja ini uang pembukanya karena kamu mau menangani kasus saya, sisanya nanti akan saya berikan jika kamu berhasil memenangkan kasus ini." Ucap pria berumur itu dengan angkuhnya.
"Maaf Pak, saya tidak ditugaskan untuk menipu," tolak Bagas secara halus. Ia memandang datar ke arah pria yang telah berumur itu.
Pria itu menaikkan salah satu sudut bibirnya. Menciptakan senyuman sinis.
"Tidak usah sok suci kamu," ucapnya, kemudian menajamkan pandangan.
"Saya bukan manusia yang sok suci, tapi saya tidak ingin melakukan tindakan kebohongan dan menipu orang-orang, jika bapak datang ke ruangan saya hanya untuk membersihkan nama baik bapak dengan cara menipu orang-orang. Saya persilahkan untuk keluar," usir Bagas santai, tapi tak menghilangkan raut wajah datarnya.
Ada-ada saja membersihkan nama baik dengan kasus per suapan, tapi sudah terbukti melakukan itu.
Bagas memang seorang pengacara terkenal yang tidak pernah kalah memenangkan kasus, tapi untuk kali ini dirinya rasa tidak ada yang perlu dibela lagi. Laki-laki berumur ini memang terbukti bersalah.
"Manusia munafik! Oke, sepertinya uang ini kurang saya akan menambahkan satu koper lagi, asal kamu mau menangani kasus saya," pria itu tidak menyerah dia tetap saja membujuk Bagas agar mau menangani kasusnya.
"Tidak semua hal bisa dibeli dengan uang pak. Jangan menambah dosa lagi untuk diri bapak, bapak itu sudah tua," Bagas mencoba untuk menasehati. Jujur saja dirinya sedikit tergiur untuk mengambil uang yang bernilai triliunan rupiah itu. Bagas tergiur karena dirinya juga manusia biasa yang tidak pernah luput dari dosa.
Bagaimana nasib kaum rakyat yang kurang mampu? Jika uangnya nanti habis dimakan untuk keperluan para pemimpin yang tidak memiliki moral dan hati?
Pria itu sudah mengepalkan kedua tangannya pertanda emosi.
Brakkk!
"Tidak usah sok menasehati saya, manusia munafik!!!" Emosinya sudah tersulut berani-beraninya menasehati dirinya. Tau apa anak ingusan ini tentang dosa.
Bagas sedikit tersentak ketika pria itu mengebrak mejanya, tapi sedetik kemudian ekspresi nya kembali datar.
"Jangan mencari keributan di ruangan saya pak," ucap Bagas kemudian melirik ke arah pintu keluar," itu pintunya sudah terbuka lebar, silahkan keluar dari sini atau saya akan melaporkan bapak karena sudah membuat keributan di ruangan saya."
"Sok suci! Baiklah saya akan pergi, tapi tunggu nanti akan saya buat anda menyesal telah menolak penawaran saya," ucap Pria itu kemudian berdiri pergi hendak keluar.
Tapi, ketika dia sudah hampir keluar dari pintu...
"Tunggu pak!"
Pria itu tersenyum penuh kemenangan, pasti pengacara ini sudah berubah pikiran.
"Berkas-berkas bapak ketinggalan."
__ADS_1
Sial!
Pria itu segera berbalik arah ke meja Bagas dan mengambil berkasnya secara kasar. Bagas hanya menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan pria yang telah berumur itu.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu lagi. Siapa kali ini?
"Masuk!"
Bagas hanya mengerang kesal ketika mendapati siapa yang baru saja memasuki ruangannya ini.
"Ini sayang aku bawakan kamu makanan. Kamu pasti belum makan siang 'kan?" Ujar Threlya kemudian menaruh rantang makanan itu ke meja Bagas.
"Aku tidak lapar!" Tegas Bagas entah mengapa dirinya merasa sangat kesal, ketika ada gadis yang berusaha mendekatinya.
Threlya memajukan bibirnya beberapa senti, "ih Bagas kamu harus makan, nanti kamu sakit lho. Aku masakin ini spesial untuk kamu."
"Sekali lagi aku tegaskan, aku. Tidak. Lapar! Apa kau tidak mengerti dengan bahasa manusia?!!" Emosi Bagas sudah berada di atas ubun-ubun. Dirinya sangat mudah terpancing marah, jika itu mengenai gadis yang tidak tau malunya mengejar dirinya.
Karena menurut Bagas wanita itu kodratnya dikejar bukan mengejar.
Threlya menggerutu sebal. "Oke kalau kamu tidak mau makan. Akan aku lapor sama papa," ancam Threlya.
Thrylya hendak berdiri dan pergi dari hadapan Bagas, tapi?
"Oke-oke aku akan makan," Bagas menghela napas kemudian menarik kasar rantang makanan itu.
Threlya tersenyum senang.
"Tunggu, biar aku yang suapin," tatapan Bagas langsung berubah menjadi tajam. Sangat mengesalkan!
"Tidak usah! Aku bukan anak kecil!" Tolak Bagas.
"Ih, kan biar romantis kayak di drakor-drakor yang sering aku tonton," Threlya kembali mencebikan bibirnya.
"Tidak disuapi atau tidak dimakan sama sekali?" Final Bagas.
"Aku bilang sama papa lagi." Ancam Threlya lagi.
"Silahkan." Bagas mengendikan bahunya bersikap acuh memangnya salah apa Bagas? Cuman perkara makan yang tidak ingin disuapi. Bagas bukan anak TK lagi.
Threlya menghentak-hentakkan kakinya dengan wajah yang cemberut.
"Jangan dihentakan kaki kamu kelantai, nanti lantainya rusak." Ucap Bagas kemudian memakan makanan yang Threlya berikan. Tidak apa-apalah memakan makanan yang Threlya berikan. Ambil hikmahnya saja toh Bagas dapat makanan gratis kan?
__ADS_1