
"Kenapa kau tidak membawakan 'ku bekal tadi pagi?" Dan karena rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Bagas menanyakan soal itu. Sesekali membuang ego dan gengsi tidak apakan?
"Aku- a-aku-"
"Kau gugup?" Tanya Bagas sambil menaikkan alisnya sebelah.
Jiai menghela napas.
"A-a-ku lupa," gugup Jiai.
"Hemmm," balas Bagas.
"Kenapa? Kamu sedih yah? Aku tidak membawakan 'mu bekal?" Tanya Jiai.
Nah kan! Apa Bagas bilang. Dokter gila ini punya tingkat kepedean yang luar biasa tinggi, kalau begini jadinya Bagas menyesal telah bertanya soal itu tadi.
"Tidak usah terlalu kepedean. Saya bertanya seperti itu, bukan berarti saya ingin dibawakan bekal olehmu setiap hari," ucap Bagas datar.
Huft! Kata-kata Bagas itu sungguh menyakiti hati Jiai.
Jiai hanya menghela napas pelanΒ ternyata Bagas masih bersifat datar dan cuek kepadanya.
---
"Terimakasih," ucap Jiai ketika telah keluar dari mobil Bagas.
"Sama-sama," balas Bagas kemudian melajukan kendaraannya pergi.
---
Abintang-bintang superstar halu gila!
"Dasar sahabat enggak ada akhlak!"
"Apaan sih Ai?"π
"Tega yah kamu Bi! Ninggalin aku sendirian, di warung bakso tadi. Hiks."π€§π’
"Kan kamu yang minta."π²
"Dasar yah Bi! Kamu ini sahabat yang enggak peka! Harusnya kalau Sahabatnya marah itu dibujuk bukan malah ditinggal!!!" π‘π‘π‘π€¬π€¬π€¬
"Ya udah deh, aku minta maaf. Memang kaum betina itu selalu benar."
Read.
Jiai menutup ponsel dan meletakkannya di atas Nakas. Ia menghela napas panjang kemudian melengkungkan senyuman kecil dibibir tipisnya.
Yang ada dipikirannya sekarang ini adalah, kalau Bagas sudah mulai menyukainya.
Author : "Pede banget Ai!"
Jiai : "Iri bilang bossss."
Author : "Remahan rengginang."
:V
---
__ADS_1
Pagi harinya. Jiai tidak pergi bersama dengan Abi, ia pergi menggunakan kendaraan mobilnya sendiri.
Hingga tibalah Jiai kini didepan rumah Bagas. Senyuman itu terus mengembang entah dari kapan.
"Bagas!" Panggil Jiai ketika Bagas baru saja keluar dari pintu rumahnya.
Bagas terpelonjak kaget, hingga dadanya dipenuhi dengan detak jantung yang keras. Bukan detak jantung orang yang jatuh cinta, melainkan terkejut.
"Mau apa?" Tanya Bagas to the point.
"Ini bekal makanannya. Aku masaknya spesial untuk kamu," Jiai menyerahkan kotak bekal itu dihadapan Bagas.
Bagas tertegun sejenak, kemudian menghela napas pelan.
Tangannya terulur untuk menerima bekal tersebut, "Terimakasih tapi lain kali tidak perlu repot-repot membawakan ku bekal." Bagas berujar dengan nada serius.
"Aku akan bawakan kamu bekal setiap hari, dan aku tidak kerepotan sedikitpun," ucap Jiai disertai dengan senyuman tulus.
"Terserah," balas Bagas kemudian berjalan pergi.
Jiai segera mengejar Bagas dari belakang dan berjalan dibelakang Bagas.
Ia akan memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya hari ini juga dan detik ini juga.
"Bagas, aku cinta sama kamu dan kamu pasti udah mulai cinta kan dengan aku? Iya kan? Jujur aja enggak usah malu-malu aku enggak papa kok kalau kamu udah mulai cinta sama aku, jadi intinya kamu mau enggak memiliki hubungan yang serius sama aku?" Ucap Jiai yang pedenya setara dengan tingginya menara tower. Entah kerasukan jin apa, ia dengan beraninya mengatakan itu. Memang terkadang cinta dapat merubah segalanya dalam waktu sekejap.
"Berisik!" Ucap Bagas yang sudah mulai terganggu dengan kata-kata Jiai yang seakan tidak ada remnya itu.
"Jadi, bagaimana? Kamu mau?"
"Tidak akan! Sampai kapanpun tidak akan!" Jawab Bagas cepat.
Bukan ini yang Jiai harapkan, yang ia harapkan adalah Bagas menerima cintanya. Tapi, malah jadi seperti ini.
"Kau gila?! Kita ini belum satu bulan kenal, tapi kau sudah mau memulai hubungan serius denganku?" Bagas menghela napas tak percaya.
"Kenapa tidak? Lebih cepat lebih baikan?"
"Dasar gila! Enggak! Saya enggak mau!"
"Enggak mau nolakkan maksudnya?"
"Enggak mau berhubungan serius sama kamu!"
Jiai menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan perasaan kesal, harusnya tidak begini jadinya.
"Tapi, kenapa?!"
Bagas tidak menjawab, ia melangkahkan kakinya lebih cepat, Jiai kewalahan mengimbangi langkah kaki Bagas.
"Bagas tunggu! Aku belum selesai bicara!"
"Pergilah!" Usir Bagas dengan nada yang mengerikan siapapun yang mendengarnya pasti akan langsung merinding ketakutan.
Jiai cemberut dengan wajah yang ditekuk.
"Ditolak lagi?"
Jiai mengalihkan pandangannya pada orang yang baru saja berbicara tersebut. Dia adalah Abi.
__ADS_1
"Iya," Jiai menganggukan kepalanya dengan tidak semangat.
"Kasihan!"
"Miris sekali nasibku Bi."
"Anda benar!"
"Bagas kenapa yah? Enggak mau sama aku Bi?"
"Karena anda jelek, miskin, dan berotak bodoh mungkin?"
Jiai terkejut dengan pernyataan Abi barusan, ia langsung memukul kepala Abi dengan sangat kencang. Membuat Abi meringis kesakitan.
"Aku gak gitu yah Bi!" Jiai tak terima dikatakan seperti itu.
"Sok kaya, sok cantik, sok pintar!" Ucap Abi dengan nada yang menyebalkan.
"Itu semua memang benar aku Abi!"
"Janganlah kamu sombong. Nak, nak!"
"Apaan sih Bi! Enggak jelas!" Jiai melangkahkan kakinya pergi dari sini.
Sementara Abi tertawa kencang selepas kepergian Jiai. Ia merasa puas, karena berhasil meledek Jiai.
---
Dokter itu semakin membuat Bagas ilfeel saja. Belum sampai kenal 1 bulan, tapi sudah meminta berhubungan serius.
Dipikirnya hubungan adalah suatu hal yang main-main?
Lagipula, Bagas trauma dengan masa lalu dan keluarganya. Bagas begitu sulit untuk percaya kepada seseorang, Bagas juga tidak percaya kalau cinta sejati itu ada.
Kalau misalnya memang cinta sejati itu ada. Mengapa ada perceraian? Mengapa kita harus menikah sampai berkali-kali, akibat dari ketidak cocokan? Dan mengapa ada perselingkuhan?
Bagas belajar dari pengalaman para pekerjanya yang ada di caffe. Semuanya begitu, cerita mereka semuanya sama. Dan Bagas terkadang merasa lelah, ketika para pegawainya kembali menceritakan tentang pernikahannya itu.
Bukan pegawai caffe Bagas yang bercerita kepadanya, tapi ia sering tak sengaja mendengar cerita dari para pegawai caffe nya.
Tok! Tok! tok!
"Masuk!" Titah Bagas kepada seseorang yang ada dibalik pintu tersebut.
Seorang wanita mulai menghampiri Bagas dan kembali menyerahkan kotak bekalnya.
"Kamu tadi tidak menerima bekal dariku kan siang tadi? Kamu melupakannya," ucap Jiai.
Oh tuhan! Izinkan Bagas untuk mengubur wanita ini hidup-hidup, semakin ia berbuat baik kepada wanita ini. Semakin gencar juga wanita ini mendekati dirinya.
Ingin rasanya berkata kasar!
"Iya memang tidak, kenapa?" Bagas berusaha untuk sabar.
"Ini aku bawakan makan sore untukmu," Jiai menaruh makanan itu ke atas meja Bagas.
"Aku tidak makan sore, aku makan malam," ucap Bagas dingin sedingin kutub Utara.
"Ya sudah makanannya disimpan dulu, nanti malam baru dimakan."
__ADS_1
"Nanti malam sudah tidak enak lagi, jadi lebih baik kau bawa pulang makanan itu!"