I Love You Pengacara Es!

I Love You Pengacara Es!
13. Masuk Rumah Sakit Lagi


__ADS_3

Pesan itu sudah terkirim lebih dari satu jam tadi, tapi tak ada tanda-tanda akan dibalas. Sepertinya dia benar-benar sakit hati mendengar kata-kata murahan itu.


"Maaf aku telah mengatai 'mu wanita murahan, aku menyesal telah mengatakan itu."


Bagas kembali melihat pesan yang ia kirimkan tadi ternyata hanya di read saja ia menghela napas pelan. Jujur saja Bagas merasa bersalah pada Dokter itu telah melontarkan kata-kata menyakitkan.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengataimu murahan."


---


Semudah itu seseorang meminta maaf atas kesalahan yang mereka perbuat. Apakah mereka pikir maaf itu bisa mengobati luka pada hati yang telah meradang? Tentu tidak!


Rasa sakit yang Jiai rasakan akibat dari insiden memalukan itu masih sangat berbekas sampai sekarang, walaupun itu sudah seminggu yang lalu semenjak kejadian.


Notif-notif pesan permintaan maaf dari Bagas hanya dia read saja.


Dorrr!!!


Seseorang mengejutkan Jiai dari belakang membuat dirinya tersentak kaget jantungnya nyaris copot, hingga perasaan deg-degan seperti jatuh cinta itu tiba-tiba menghinggapi dadanya.


Oh tuhan apa lagi ini?!!


"Ngelamun aja kerjaannya. Hayoo ngelamunin apa?" Abi datang dengan tampang tengilnya yang sok ganteng.


Bacok teman sendiri dosa enggak yah?


"Ih Abi mau aku bunuh kamu? Kaget tau!!" Rasanya Jiai kesal setengah mati.


"Bunuh aja dan belah dadaku disitu terukir namamu yang indah," Abi berlagak seperti pria te' romantis di dunia ini.


Sebilah pisau medis telah Jiai pegang ditangannya dan siap ia layangkan pada Abi.


"Serius minta dibunuh? Sini aku bunuh dan belah dada kamu," Jiai menyeringai dengan tatapan yang ia buat se' mengerikan mungkin.


Abi meneguk salivah 'nya berat, tapi detik kemudian dia?


"Kabur!!!" Abi lari terbirit-birit dari ruangan ini sementara Jiai sudah sakit perut tertawa melihat ekspresi konyol Abi


"Ini yang namanya lucu Bi." Gumam Jiai kemudian melanjutkan tawa.


---


"Papa?" Bagas terkejut melihat sosok laki-laki parubaya yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya ini.


"Dimana kamu sembunyikan uang saya? Pasti kamu kan yang mencuri uang saya?" Tanyanya dengan rahang yang mengeras menahan marah.


"Apa mencuri uang? Mencuri uang apa Pa?" Tanya Bagas yang tak paham dirinya sama sekali tidak mencuri uang milik Papanya itu.


Lelaki itu menarik salah satu sudut bibirnya menciptakan senyuman sinis. "Tidak usah sok polos kamu! Pasti kamu 'kan yang mencuri uang saya? Kamu dendam karena dari dulu saya selalu membenci kamu iya kan?!!" Ujar lelaki parubaya itu dengan lantang.


"Tidak Pa-"


Bugh!!


Belum sempat Bagas berkata-kata bogeman mentah lebih dulu menyentuh sudut bibirnya. Ia menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan darah sedikit itu.


Kembali laki-laki itu menarik kerah baju Bagas dan melayangkan bogeman mentah.


Bugh!


Bugh!!


Bugh!!


Tepat pada bogeman terakhir Bagas terjatuh dengan kepala yang terbentur di lantai rumahnya.

__ADS_1


Satpam penjaga rumah Bagas memang sedang pulang kampung untuk menjenguk keluarganya yang sakit, alhasil tidak ada penjagaan di rumahnya.


Melihat kondisi Bagas yang tidak sadarkan diri itu membuat laki-laki itu tersenyum senang. Detik kemudian dia berlari tanpa rasa bersalah sedikitpun. Miris!


"Tuan! Tuan kenapa?!" Seorang pembantu Bagas histeris, ketika tak sengaja melihat Bagas yang tergeletak di lantai dalam keadaan seperti itu. Ia segera menghubungi ambulance.


---


Sayup-sayup Bagas mencoba untuk membuka mata. Kepalanya terasa sangat pening.


Saat telah membuka mata Bagas melihat sosok Dokter cantik yang merawatnya dulu akibat kecelakaan tunggal.


"Hei kau sudah sadar rupanya." Jiai tersenyum formal seperti biasa. Mungkin bukan sebuah senyuman suka atau cinta lagi, melainkan senyuman biasa dari seorang dokter yang mengobati pasiennya.


Bagas tetap diam saja tak menggubris perkataan Jiai.  Mengapa perasaan bersalah ini semakin besar ketika mengetahui kalau Jiai 'lah yang merawat dirinya kembali?


Jiai beralih tatap pada luka perban di kepala Bagas dan membetulkan sedikit perban yang sedikit turun itu.


Bagas masih diam tak bergeming melihat wanita ini sedang memperbaiki perban di kepalanya, entah mengapa tiba-tiba perasaannya menghangat. Seakan dirinya tau kalau wanita ini benar-benar tulus.


Jiai tersenyum ramah setelah membetulkan perban di kepala Bagas detik berikutnya ia permisi untuk keluar.


"Tunggu!" Panggil Bagas ketika Jiai hampir ingin keluar dari ambang pintu.


"Iya? Kenapa?" Jiai berbalik arah kembali menatap ke arah Bagas.


"Aku-"


"Permisi dok ada yang ingin menemui mu." Kata-kata Bagas terpotong karena tiba-tiba saja ada suster yang memanggilnya.


"Siapa?"


"Laki-laki kemarin yang sering ingin menemui dok," jelas sang Suster.


"Bilang saya lagi sibuk Sus."


"Tapi, Dok katanya tadi penting," beritahu Suster itu.


"Aku benar-benar lagi sibuk Dok, tolong katakan kepadanya." Jelas Jiai lagi.


Suster itu menghela napas pelan rasanya tak ada pilihan lain selain pasrah.


"Baik Dok." Ucapnya kemudian berlalu pergi.


Jiai kembali menghadap ke arah Bagas, entah mengapa setiap melihat Bagas dirinya selalu teringat akan kata-kata yang Bagas lontarkan waktu itu.


"Ada apa?" Jiai mengulangi pertanyaannya itu.


"Aku- aku," aghhh sial mengapa dirinya terlihat gugup? "Aku mau minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu. Aku mengatakan itu karena perasaanku sedang kacau kemarin," jelas Bagas apa adanya ia memang merasa sangat kacau kemarin.


"Iya, aku memaafkan 'mu," Ketika mendengar penjelasan Bagas Jiai dapat memaklumi itu ia juga pernah ada diposisi Bagas. Bayangkan saja jika perasaan kalian sedang kacau, lalu datang seseorang yang paling tidak kalian sukai menabrak kalian?


Kedua sudut bibir Bagas tertarik ke atas antara senang dan lega menjadi satu, akhirnya dirinya bisa tenang juga sekarang.


Oh god! Tampan sekali!


Jiai yang baru pertama kali melihat Bagas tersenyum menjerit dalam hati. Senyuman itu sangat manis kadar ketampanan Bagas menjadi berkali-kali lipat!


Membuat pertahanan kaum hawa runtuh saja!


Huft dengan melihat Bagas senyum seperti ini saja dapat membuat jantungnya berdegup lebih kencang.


Entah mengapa ia juga ikut tersenyum aura Bagas sangat kuat.


Tak lama setelah adegan senyum-senyum itu Abi datang secara tiba-tiba, entah datangnya darimana.

__ADS_1


Ingin rasanya Jiai memenggal kepala Abi yang telah merusak suasana.


"Abi ketuk dulu kek, main masuk nyelonong aja tanpa permisi." Kesal Jiai sudah merusak suasana datang tanpa permisi.


"Oh ada orang rupanya." Kata Abi seperti orang bodoh.


Jiai memutar kedua bola matanya malas, "Pura-pura enggak lihat."


"Hehe." Abi cengengesan sambil menggaruk tekuk nya yang tak gatal.


"To the point Bi. Ada apa?" Tanya Jiai malas bertele-tele.


"Makan siang yuk, aku tadi bawa bekal untuk kita berdua," ajak Abi.


"Tapi?" Jiai melihat ke arah Bagas.


"Udah enggak apa-apa 'kan ada Suster yang jagain," ucap Abi kemudian langsung menarik tangan Jiai untuk pergi dari sini.


Bagas termenung melihat kedekatan Jiai dengan Abi tadi. Satu hal Bagas yang Bagas pikirkan. Laki-laki itu siapanya Jiai? Tapi, Bagas langsung menepis pikiran itu mengapa dirinya jadi memikirkan hal-hal yang tak berguna?


---


"Tumben bawain aku makanan," ucap Jiai sambil membuka rantang makanan itu satu persatu dan disinilah mereka sekarang didalam ruangan Abi.


"Lagi pengen aja," ucap Abi kemudian meraih rantang makanan yang baru saja Jiai genggam.


"Ih, Abi kok diambil sih? Itu punya aku!" Jiai tak terima rantang yang ia pilih tadi direbut langsung oleh Abi.


"Ck bagi dikit pelit banget sih, lagian aku yang bawa juga."


"Oh, jadi kamu enggak ikhlas bawain makanannya?" Jiai mendelik kesal.


"Yah, bukan gitu juga Ai aku ikhlas kok, bawain kamu makanan," sungguh Abi ikhlas membawakan Jiai bekal, bahkan ia rela bangun jam setengah empat pagi hanya untuk memasak.


"Terus kenapa diambil lagi?"


"Aku 'kan cuma minta dikit Ai."


"Yah, enggak gitu juga main nge rebut aja."


"Aku enggak ngerebut Ai cuman minta dikit."


"Tadi ngerebut."


"Enggak ngerebut."


"Ngerebut!"


"Enggak!"


"Ngerebut!"


"Enggak!"


"Dah lah malas!" Jiai bangkit dari tempat duduknya dan hendak pergi. Ia kesal sendiri berdebat dengan Abi.


"Eh, kemana?" Tanya Abi yang terkejut melihat Jiai yang tiba-tiba hendak pergi.


"Pergi dan nemuin cinta abadi," jawab Jiai tanpa berbalik.


"Terus makanannya bagaimana?" Tanya Abi sedikit berteriak. Dia tidak mampu untuk menghabisi makanan ini sendirian.


"Makan aja sendiri," jawab Jiai.


Dasar cancimen!

__ADS_1


__ADS_2