
...Jika, menjadi feminim tidak bisa mendapatkan hatimu. Maka, akan aku coba dengan caraku sendiri. Tunggu nanti! Kau akan kubuat bertekuk lutut oleh cintaku!...
.........
Pagi hari yang terlalu biasa untuk seorang Bagas. Kepalanya masih pusing, akibat terlalu banyak minum alkohol kemarin.
"Ini den, sarapannya dimakan." Bi Surti menyerahkan sarapan itu di atas meja Bagas.
Berbeda dengan orang kaya lainnya yang menghidangkan makanan penuh satu meja. Bagas lebih memilih untuk menghidangkan satu piring saja, karena tidak ingin membuang-buang makanan.
"Terimakasih Bi."
"Iya den," ucap Bi Surti kemudian berbalik badan hendak ke dapur lagi.
"Oh, yah Bi. Saya ingin bertanya siapa yang sudah membawa saya ke rumah kemarin?" Tanya Bagas. Bi Surti langsung menghentikan langkahnya kemudian menghadap ke arah Bagas lagi.
"Saya enggak tau den, tapi katanya kemarin teman Aden. Orangnya kayak sepantaran gitu sama Aden," jelas Bi Surti.
Bagas hanya mengangguk saja. Sebenarnya dia ingin tau dan ingin berterimakasih kepada orang itu, tapi dia urungkan dulu keinginannya karena masih banyak pekerjaan diluar sana yang menanti.
"Assalamualaikum Bagas, aku bawakan makanan untukmu."
"Nah, ini dia orangnya den." Tunjuk Bi Surti pada Jiai yang entah datangnya darimana.
"Kamu? Kenapa kamu bisa ada di rumah saya?" Bagas terkejut dengan kehadiran Jiai yang tiba-tiba.
"Aku. Aku mau memberi kamu bekal," ucap Jiai dengan kedua tangan yang masih setia memegangi bekal itu.
"Saya tidak butuh bekal itu, saya bisa membeli makanan diluar," ucap Bagas dingin.
"Iya, tapi makanan diluar itu tidak sehat lebih baik membawa bekal sendiri," ucap Jiai.
"Saya tidak peduli, pergilah dari rumahku aku ingin pergi kerja sekarang. Tidak ada waktu untuk melayani 'mu." Bagas bangkit dari tempat duduk dan berjalan pergi.
"Eh Bagas, tunggu dulu. Ini enak lho aku pintar masak orangnya, jadi dijamin ini enak," Jiai segera mengejar langkah Bagas dan berusaha untuk menyamakan langkah kakinya.
Apa-apaan ini! Bagas tidak punya waktu untuk melayani Dokter gila ini.
Jiai terus mengejar langkah Bagas, hingga tiba-tiba dia tidak sengaja menabrak Bagas yang berjalan didepannya.
"Aduh!"
Bagas segera berbalik kearah Jiai dan pandangannya langsung menajam, tapi sesaat kemudian pandangannya datar kembali. Bagas berusaha untuk mengontrol emosinya, agar tidak mengatakan kata-kata kasar dan menyakiti hati Dokter gila ini.
Bagaimanapun juga Dokter gila itu yang telah mengantarnya pulang kemarin, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada dirinya.
Bagas memegang kedua pundak Jiai, kemudian tersenyum tipis.
__ADS_1
Degup jantung Jiai rasanya seperti ingin meledak, susah payah ia meneguk ludahnya sendiri.
"Terimakasih, telah membawaku pulang kemarin disaat aku tidak sadar," ucap Bagas, "Sini bekalnya aku terima," Bagas mengambil bekal itu dari tangan Jiai, kemudian pergi begitu saja.
Tapi, belum sampai lima langkah Bagas membalikan badannya.
"Pipimu merah, mukamu juga keringatan," ucap Bagas kemudian melanjutkan langkahnya.
Ingin rasanya Jiai menjerit sekarang juga, tapi dia tahan. Degup jantungnya juga belum normal ia memegangi dadanya itu untuk menormalkan kembali detak jantungnya
"Bagas tadi megang pundak aku," Jiai tersenyum tak percaya, kalau Bagas tadi memang benar-benar memegang pundaknya.
---
Bagas membuka bekal yang Jiai berikan pagi tadi, kemudian ingin memakannya. Tapi, belum sampai tertelan tiba-tiba ada yang mengejutkan dirinya.
"Bagas! Tumben kamu bawa bekal!"
Uhuk! Uhuk!
Bagas segera membuka botol air mineral dan meminumnya.
Arghhh sial!
"Kamu ini! Ketuk dulu, kalau mau masuk!" Bagas berdecak kesal gadis ini sungguh tidak sopan sekali.
"Aku udah punya makanan." Ucap Bagas tak minat, kemudian melanjutkan makan kembali.
"Ih, Bagas aku udah capek-capek masakin kamu makanan, masa enggak dimakan," gerutu Threlya.
"Aku enggak minta, salah sendiri kenapa mau capek-capek masak buat aku," ucap Bagas masih memakan makanan yang Jiai berikan itu.
"Ih, Bagas kamu tega yah!"
Bagas seakan Tak mendengar ia terus melanjutkan makannya tanpa memperdulikan Threlya yang sudah semakin kesal, karena tidak dipedulikan.
Dengan perasaan yang semakin kesal Threlya melirik ke arah bekal makanan yang Bagas makan itu kemudian mengambilnya.
"Makanan ini harus dibuang," ucap Threlya kemudian hendak membuang bekal itu ke tong sampah.
Tapi, tangannya langsung dicekal oleh Bagas, ketika bekal itu hampir jatuh ke tong sampah.
"Berikan bekal itu kepadaku," ucap Bagas dengan suara dingin.
"Enggak mau! Bekal ini harus dibuang! Supaya kamu mau makan bekal dari aku!" Ucap Threlya kekeh.
"Berikan bekal itu kepadaku kamu tidak boleh membuang-buang makanan itu namanya mubazir!" Ucap Bagas.
__ADS_1
"Ih, enggak mau! Bekal ini tuh harus dibuang supaya kamu makan bekal dari aku!"
"Baik aku akan makan bekal kamu juga, tapi sini berikan bekal itu kepadaku," pinta Bagas lagi ia tidak suka membuang-buang makanan, karena di luaran sana masih banyak orang yang kurang mampu. Seharusnya kita lebih bersyukur diberikan oleh Allah makanan yang cukup.
Threlya tersenyum senang, tapi entah sengaja atau tidak Threlya menjatuhkan bekal itu kedalam tong sampah hingga makanan itu tumpah berserakan. Bekal itu sudah tidak bisa dimakan lagi.
Bagas mengepalkan kedua tangannya, ketika melihat bekal makanan itu yang sudah tidak bisa dimakan lagi.
"A-a-ku tidak sengaja," gugup Threlya, ketika melihat ekspresi Bagas yang seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Keluar dari ruangan 'ku!" Usir Bagas, hawa dari ruangan ini mendadak panas seketika.
"Tapi ak-"
"Keluar!"
Threlya cepat-cepat keluar dari ruangan ini dengan perasaan takut. Bisa-bisa dirinya benar-benar dikuliti oleh Bagas.
Bagas menghela napas dalam-dalam, kemudian melihat kembali bekal makanan yang sudah tidak bisa dimakan itu.
"Maaf," Bagas bergumam lirih, sambil menatap nanar bekal makanan itu.
---
"Bi, nanti kita singgah sebentar yah ke kantor Bagas," ucap Jiai sambil melirik Abi yang tengah fokus menyetir mobil itu. Jiai tadi mengikuti Bagas diam-diam untuk mengetahui dimana kantor Bagas.
Abi menoleh ke arah Jiai yang tengah tersenyum tidak jelas itu. Seharian ini Abi melihat Jiai yang senyam-senyum tidak jelas.
"Mau ngapain?" Tanya Abi malas.
"Ada deh, kamu enggak perlu tau," ucap Jiai dengan senyuman yang terus mengembang.
"Aku capek Ai, besok aja yah. Hari ini aku banyak banget ngobatin pasien aku di klinik," ucap Abi.
"Yahhhh," Jiai mendesah kecewa, padahal dia ingin sekali menemui Bagas di kantor hari ini.
Melihat ekspresi kecewa dari Jiai, entah mengapa perasaan Abi mendadak sedih. Abi menghela napas pelan.
"Ya udah, kita ke sana sekarang," ucap Abi dengan terpaksa.
"Beneran Bi?" Senyuman Jiai langsung mengembang kembali. Ekspresi Jiai kembali ceria seperti tadi.
"Iya."
"Makasih Bi," entah terbawa suasana atau apa, tapi Jiai langsung memeluk Abi membuat Abi terdiam seketika. Kedua sudut bibir Abi terangkat.
"Sama-sama," jawab Abi
__ADS_1