I Love You Pengacara Es!

I Love You Pengacara Es!
5. Gombalan Receh


__ADS_3

"Di atas langit masih ada langit."


Jiai tersenyum setelah mengirimkan pesan itu Sementara di seberang sana, entah kebetulan atau bagaimana.


Ternyata Bagas sedang membuka aplikasi chatting nya juga. Dirinya mengernyit bingung dengan notifikasi yang baru saja dikirim oleh seseorang.


Yah, siapa lagi kalau bukan Dokter gila itu.


"Apa maksudnya dia mengirimiku pesan seperti ini?" Tanya Bagas dalam hati.


"Itu memang benar, kenapa?"


Tanpa menunggu lama, akhirnya Bagas membalas pesan Dokter gila itu.


Sedangkan Jiai hanya tersenyum tipis melihat balasan dari pesan Bagas itu dia pun langsung membalas pesan Bagas.


"Karena kalau dibawah langit, masih ada aku yang tulus mencintaimu."


Jiai tersenyum senang setelah mengirimkan gombalan receh yang dia pelajari dari internet itu.


"Ha?" Bagas berdecak ketika melihat pesan itu. Ck, apa-apaan Dokter gila itu mengiriminya pesan seperti ini?


Bagas langsung mematikan data handphone nya dan pesan itu hanya dia read saja. Sungguh sangat menyebalkan di mata Bagas.


Lagi-lagi hanya di read saja. Mood Jiai tiba-tiba memburuk padahal dirinya sudah bersusah payah mencari gombalan yang paling jitu di internet.


"Huft, yasudah lah mungkin dia sedang sibuk," gumam Jiai dia coba untuk berpikiran positif.


 ---


Siang berganti menjadi malam. Rasanya waktu itu berjalan dengan sangat cepat.


Setiap jam, setiap menit, dan setiap detik itu tanpa terasa cepat berlalu.


Waktu adalah emas. Yah, ungkapan dari kata pepatah itu benar.


Pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya, jika tidak ingin merugi nantinya.


Jiai tidak akan menyerah hanya karena Bagas yang selalu mengabaikan pesannya. Buktinya sekarang dirinya mulai mengirimi Bagas pesan lagi.


Tapi, kali ini yang anti menstrim. Rasanya Jiai tidak sabar dengan respons Bagas nantinya.


"Dasar Bagas jelek enggak ada akhlak, apa? Mau marah?


"I love you!"


Jiai sebelumnya mengumpulkan segala keberaniannya untuk mengombali Bagas dengan cara seperti itu. Yah, sekali-sekali tidak apalah dengan cara seperti itu.


Anti menstrim!


handphone yang berada di atas nakas tiba-tiba berbunyi. Bagas buru-buru untuk menghampiri handphone nya itu.


Siapa tau ada yang penting 'kan? Pikir Bagas.


Setelah membuka isi pesan dari chat yang dikirimkan oleh seseorang itu. Bagas langsung ternganga.


Tapi, ekspresinya langsung berubah menjadi datar kembali setelah melihat dari isi keseluruhan pesan itu.


"Kau ini kenapa? Dasar gila!"


Bagas merasa terkejut sekaligus kesal dengan pesan yang dikirim oleh Jiai.


Jiai langsung cemberut dengan muka yang ditekuk ketika melihat balasan pesan dari Bagas. Sungguh tidak sesuai dengan ekspektasi nya.


Tak ingin membuat Bagas menunggu lama akhirnya Jiai buru-buru mengetikan pesan untuk membalas pesan Bagas itu.


"Jangan marah-marah, nanti gantengnya hilang lho."


Emosi Bagas sudah berada di ubun-ubun ketika melihat balasan pesan dari Dokter yang dianggapnya gila itu.


Mengapa Dokter ini sangat mengesalkan?


Tapi, Bagas coba untuk tidak emosi. Dia menghela napas dalam mencoba untuk meredam emosinya yang siap untuk meledak.

__ADS_1


"Mengapa kau selalu menghubungiku? Bukannya kau pernah bilang tidak akan menghubungiku setiap saat?"


Bagas mencoba untuk melunak.


Jiai gelagapan dia bingung harus membalas pesan Bagas itu apa seharusnya dia tidak berbicara seperti itu kemarin. Ah Jiai sungguh menyesal telah mengatakan itu.


"Maaf aku tidak bermaksud untuk menganggumu, tapi apa kau benar-benar sibuk sekarang?"


"Iya, aku benar-benar sibuk sekarang."


"Oh, begitu. Maaf yah aku telah menganggumu."


"Jangan pernah kirimi aku chat yang aneh-aneh lagi!"


"Tidak bisa!"


"Apa?!!"


 ---


Jiai tampak fokus dalam mengendarai mobilnya matanya terus menatap ke arah jalanan, tapi tiba-tiba dirinya merasa aneh.


Sepertinya ada yang tidak beres dengan mobilnya merasa ada yang tidak beres akhirnya Jiai segera menepikan mobilnya ke pinggir jalan Bisa bahaya, kalau terus dikendarai.


Jiai segera memeriksa mobilnya dan ternyata ban mobilnya kempes.


"Duh, kenapa harus sekarang sih?" Jiai menggerutu dalam hati mengapa ban mobilnya harus kempes diwaktu dirinya ingin berangkat kerja?


Jiai menatap ke sekeliling nya berharap ada bengkel. Tapi, nihil tidak ada bengkel satupun.


Ah malang sekali nasibnya hari ini. Dirinya sempat berpikir untuk meminta tolong kepada para pejalan kaki saja, tapi tidak berani.


Jalanan disini juga cukup sepi sangat jarang dikunjungi oleh taxsi.


Dan dirinya hanya berharap ada seorang pejalan kaki atau pengendara baik hati yang bisa menolongnya.


"Perlu bantuan?"


Suara bariton dari laki-laki yang cukup Jiai kenali tiba-tiba terdengar. Dirinya pun menoleh ke asal suara tersebut.


Seulas senyuman kecil terbit dibibir Jiai. dia merasa sangat bahagia, ketika dipertemukan lagi oleh pria yang dia sukai ini.


"Ban mobilku kempes," ucap Jiai sembari menatap nanar ke arah ban mobilnya itu.


"Ayo, naik ke mobilku saja," ajak Bagas.


Dan apa katanya tadi?


Apa fungsi pendengaran Jiai terganggu? Fungsi pendengarannya baik-baik saja kan? Dirinya tidak salah dengarkan?


Bagas mengajak dirinya untuk pergi bersama? Jiai masih tidak percaya dengan ini.


Bolehkah Jiai untuk merasa bahagia sekarang?


Debaran didalam dada Jiai yang halus tadi berubah menjadi sangat kencang.


Dan tanpa basa basi lagi Jiai langsung berjalan ke arah mobil Bagas dan membuat Bagas tercengang seketika.


"Ha, cepat sekali. Dasar!" Bagas membatin.


Jiai sangat senang hingga dia langsung saja berjalan ke arah mobil Bagas.


Bagas menatap ngeri ke arah Jiai ketika melihatnya yang senyum-senyum tidak jelas.


Bolehkah Bagas menyesal telah berbaik hati kepada Dokter gila ini?


Sebenarnya Bagas tadi terpaksa menghampiri Jiai karena dirinya merasa iba kepada Jiai yang nampak termenung sambil memperhatikan kendaraan nya itu.


Keadaan jalan juga cukup sepi karena hari yang masih pagi.


Ego Bagas tadi sempat menolak keras, tapi hatinya berkata lain. Yah, sisi manusia Bagas tergugah.


Ingat! Bagas hanya merasa kasihan kepada Jiai karena sisi manusianya yang tergugah. Tidak lebih!

__ADS_1


"Tidak usah Ge'er saya membantumu hanya karena merasa kasihan. Sisi manusia saya tergugah," jujur Bagas apa adanya.


Senyuman dibibir Jiai berhenti seketika. Yah, seharusnya dirinya berpikir seperti itu Bagas menolongnya hanya sebatas rasa kasihan tidak lebih.


Oh ayolah apa yang Jiai harapkan dari Bagas dirinya salah besar telah berharap lebih kepada Bagas.


Terkadang cinta membuat kita buta, hingga hal-hal biasa yang kita dapatkan dari seseorang itu terlihat luar biasa dimata kita.


Padahal apa yang kita rasakan itu hanyalah semu semata.


Bagas yang menyadari perubahan dari raut wajah Jiai yang terlihat sedih itu hanya bisa diam.


Dirinya hanya fokus berkendara memperhatikan jalanan yang ada dihadapannya.


Jiai tak mampu berkata-kata lagi, setelah Bagas mengucapkan kata-kata itu kepada dirinya.


Ah mengapa Jiai jadi selemah ini? Dirinya tidak tau mengapa tiba-tiba hatinya jadi se' sensitif ini.


Tidak, tidak boleh! Dirinya tidak boleh jadi begini. Dirinya harus tetap semangat untuk menghangatkan hati Bagas yang beku.


Dan harusnya Jiai tetap bersyukur karena Bagas mau membantunya dengan memberikan tumpangan.


Keadaannya benar-benar hening tidak ada pembicaraan lagi, antara Bagas dan Jiai mereka hanya sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Pikiran Jiai terfokus kepada Bagas sementara pikiran Bagas terfokus pada kedua orang tuanya.


Kedua insan yang berbeda pikiran yang satu memikirkan satu sama lain dan yang satu tidak memikirkan satu sama lain sedikitpun.


 ---


"Terimakasih Bagas," ucap Jiai dengan senyuman melengkung yang menghiasi bibirnya.


Bagas hanya bersikap acuh dirinya tak minat untuk menjawab ucapan Jiai hingga Jiai telah keluar dari mobilnya. Ekspresi Bagas masih tetap sama. Datar.


Bagas pergi melajukan mobilnya tanpa sepatah katapun membuat Jiai mengelus dada beberapa kali.


Bagini 'lah nasibnya, jika mengejar cinta seseorang yang tidak mengharapkan kehadirannya. Menyakitkan.


Jiai segera melangkahkan kakinya menuju ke gerbang rumah sakit, tapi dirinya tak sengaja melihat seorang ibu dan anaknya yang sedang mendorong gerobak.


Pakaian ibu dan anak itu sama-sama lusuh dan... Kotor.


Jiai merasa iba hingga dirinya memutuskan untuk menghampiri ibu dan anak itu.


"Hai, Bu." Sapa Jiai ramah dengan seulas senyuman tipis.


"Eh, iya. Kenapa?" Tanya Ibu-ibu itu bingung, ketika melihat Jiai yang tiba-tiba menyapanya.


"Aku punya sedikit rezeki Bu, mohon diterima," Jiai mengeluarkan uang ratusan rupiah dari saku bajunya dan segera dia berikan kepada Ibu-ibu itu.


"Kamu pikir saya pengemis?" Ibu-ibu itu tidak terima diberi uang begitu saja dirinya merasa tersinggung.


Mengapa orang-orang berpikiran kalau seseorang yang membawa gerobak sampah itu adalah pengemis.


Padahal seseorang yang membawa gerobak sampah itu bukan pengemis. Mereka hanya mencari barang bekas untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.


Yah, walaupun tidak seberapa. Bahkan terkadang tidak cukup.


Bukan maksud ibu-ibu itu untuk menolak uang pemberian dari Jiai, tapi rasanya itu adalah sebuah penghinaan.


Katakanlah dia terlalu sombong sebagai seorang pencari barang bekas. Tapi, prinsip orang-orang itu tidak sama.


Jiai terkejut dia tidak menyangka kalau Ibu-ibu itu akan berkata seperti itu. Padahal niatnya tadi baik.


"Bu-bukan begitu Bu maksud saya. Saya hanya ing-"


"Tidak perlu memberi saya uang anda. Saya tidak butuh," Ibu itu memotong perkataan Jiai dan pergi begitu saja mendorong gerobaknya.


Jiai termenung dia masih tidak menyangka dengan kejadian yang barusan dia alami. Ternyata ada orang yang seperti itu.


"Apa aku tadi telah menyinggung perasaan ibu-ibu tadi?" Jiai membatin dirinya kini merasa bersalah.


"Hei, Jiai kamu ngapain ngelamun disini?" Seseorang tiba-tiba saja datang dan mengagetkan Jiai.

__ADS_1


"Eh." Jiai tersentak kaget, lalu menoleh ke belakang.


"Kamu?"


__ADS_2