
Setelah 2 Minggu dirawat, akhirnya Bagas telah dibolehkan untuk pulang hari ini Bagas sedang bersiap-siap untuk pulang sekarang.
"Obat ini diminum 3 kali sehari, fungsinya adalah untuk mengobati rasa pusing di kepalamu, jika sewaktu-waktu datang kembali." Jelas Jiai, sambil mempersiapkan obat itu untuk Bagas bawa pulang.
"Iya." Balas Bagas singkat tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jiai. Dirinya masih sibuk untuk bersiap-siap pulang.
Dan inilah waktunya Jiai harus memberanikan diri untuk meminta no handphone Bagas, karena dia ragu akan bertemu dengan Bagas lagi nantinya atau tidak.
Kalau Jiai tidak mendapatkan nomor Bagas, entah bagaimana nasib percintaan antara dirinya dan Bagas.
Bukan. Bukan nasib percintaan antara dirinya dan Bagas, melainkan nasib cintanya seorang.
Jiai ragu namun dirinya harus tetap mencoba. Banyak orang yang berkata kalau jodoh tidak akan kemana.
Namun, berbeda menurut Jiai dirinya berprinsip, kalau jodoh itu harus diusahakan dan didoakan.
Bukan dengan cara ditunggu dan percaya, kalau jodoh itu tidak akan kemana.
Jiai yang telah selesai menyiapkan obat-obatan untuk Bagas bawa pulang 'pun, segera menghampiri Bagas dan berdiri tepat disamping Bagas.
Dirinya merasa canggung. Sungguh! Ditambah lagi detak jantungnya yang tak beraturan.
"Hem, Bagas," panggil Jiai pelan, tapi sepertinya Bagas tidak mendengar dirinya berucap.
"Bagas," panggil Jiai lagi akhirnya Bagas menoleh ke arahnya.
"Apa?" Tanya Bagas datar.
Mengapa dirinya terlihat begitu? Ah susah dijelaskan diri Bagas terlihat sangat cuek dan datar.
Jiai rasa harga dirinya nanti akan hancur seketika. Seorang wanita yang meminta no handphone pria duluan? Arghhh rasanya itu agak bagaimana.
Karena banyak orang di luaran sana yang berpendapat. Kalau perempuan itu tidak boleh mengejar laki-laki duluan, karena kodrat perempuan itu menunggu.
Jiai sedikit gengsi untuk meminta no handphone Bagas duluan, tapi dia buang segala rasa gengsi itu.
Mengapa tidak? Siti Khadijah saja datang duluan untuk melamar nabi Muhammad diumur nya yang ke 40 tahun.
Mengapa dirinya tidak bisa?
"Apa aku boleh meminta no handphone 'mu?" Ucap Jiai dengan satu tarikan. Dirinya sangat gugup, karena baru pertama kali ini dirinya meminta no handphone kepada laki-laki.
Bagas hanya diam saja tak merespon ucapan Jiai. Dia memandang datar ke arah Jiai.
Jiai menunduk dirinya tak kuasa melihat ekspresi Bagas, setelah dirinya meminta no handphone.
"Tidak boleh," jawab Bagas singkat dengan pandangan yang sangat datar.
Huft sudah Jiai kira, pasti Bagas tidak akan memberikan no handphone kepada dirinya.
"Tapi, kenapa? Aku hanya ingin meminta no handphone mu. Aku janji tidak akan menghubungimu setiap saat," pinta Jiai lagi. Pokoknya harus dapat tidak bisa tidak!
__ADS_1
Bagas sangat malas untuk memberikan nomornya kepada siapa-siapa, jika itu tidak begitu penting dan mendesak.
"Aku tidak ingin memberikan nomorku kepadamu karena itu tidak ada gunanya. Aku malas melakukan hal-hal yang tidak penting dan membuang waktuku," jelas Bagas tanpa berekspresi. Wajah datarnya itu semakin tegas, ketika mengatakannya.
"Jadi, berbicara denganku sekarang. Tidak membuang-buang waktu?"
"Aku berbicara kepadamu, kerena terpaksa dan karena kau duluan yang mulai berbicara kepadaku."
"Sama saja tidak ada bedanya kau juga membuang waktu berharga mu dengan berbicara kepadaku," ucap Jiai tak mau kalah.
"Baiklah, kalau begitu. Aku mau pulang, jadi berhenti berbicara kepadaku," ucap Bagas kemudian berlalu dari hadapan Jiai.
Sepertinya Jiai salah bicara. Dirinya tadi hanya ingin berbicara kepada Bagas lebih lama bukannya mengusir Bagas. Tapi, keadaannya malah berbalik.
Jiai 'pun segera mengejar Bagas.
"Tunggu, bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin mengobrol lebih lama dengamu," ungkap Jiai berusaha untuk menyamakan langkahnya dengan Bagas.
Jiai berdiam diri dan berhenti mengikuti Bagas, ketika Bagas menghampiri resepsionis itu untuk melakukan urusan pembayaran sebelum pulang.
Kemudian mengejar Bagas lagi, sampai ke luar rumah sakit. Banyak orang-orang yang menatap aneh ke arah Jiai dan Bagas, karena Jiai yang terus saja memanggil-manggil nama Bagas.
Tapi, Jiai tidak menghiraukan tatapan itu dirinya terus mengejar Bagas. Ah, Jiai rasa harga dirinya sudah jatuh sejatuh-jatuhnya.
Ah, mungkin tidak masalah kali ini saja.
Salah sendiri, mengapa cinta telah datang?
"Tidak mau."
"Aku mohon, aku tidak akan menghubungimu setiap saat," paksa Jiai lagi. Kali ini dengan tatapan memohon dan memelas.
Oh, mengapa? Apa Dokter ini sudah kehilangan akal? Mengejar Bagas sampai ke luar rumah sakit hanya untuk meminta no handphone. Dasar aneh dan tidak tau malu! Pikir Bagas yang sudah mulai jengah.
"Aku tidak akan berhenti untuk mengikuti 'mu, sebelum kau memberikan no handphone 'mu kepadaku," Ancam Jiai.
Tatapan mata Bagas berubah menjadi tajam dirinya sudah mulai merasa kesal sekarang. Sial sekali nasibnya, harus dipertemukan oleh Dokter aneh dan gila seperti ini.
Bagas mengacak-ngacak rambutnya frustasi terpaksa dia harus memberikan nomornya kepada Dokter gila ini, daripada dirinya terus diikuti.
"Baiklah aku akan memberikan nomorku kepadamu," Bagas berkata dengan terpaksa.
Senyuman sumringah langsung tampak di wajah cantik Jiai, dia langsung memberikan handphone nya kepada Bagas.
Bagas melotot apa-apaan ini? Sudah bersyukur Bagas mau memberikan nomor handphone nya. Dan ini Bagas juga disuruh untuk mengetikan nomornya pada handphone Dokter gila ini?
Apa ini yang dinamakan dikasih hati, minta jantung?
"Ketik sendiri!"
Jiai tersentak kaget senyuman sumringah itu langsung hilang seketika di wajah Jiai. Dia merutuki kebodohan dirinya sendiri. Mengapa malah Bagas yang dia suruh untuk mengetik nomor Di handphon nya? Pikir Jiai.
__ADS_1
"Ma-maaf," lirih Jiai. Kemudian mulai bersiap untuk mengetikan nomor Bagas.
Bagas langsung menyebutkan angka-angka nomornya kepada Jiai.
"Tunggu apalagi? Pergi dari hadapanku!" Usir Bagas setelah menyebutkan angka-angka nomornya, tapi Jiai hanya berdiri dihadapan Bagas.
"Terimakasih sebelumnya, tapi. Kau pulang naik apa?" Ucap Jiai rasanya dia tidak ingin meninggalkan Bagas sekarang.
"Bukan urusanmu, sekarang kau pergi dari hadapanku!" Usir Bagas lagi, entah mengapa dia merasa sangat kesal sekarang.
"Ba-baiklah," Jiai pasrah untuk pergi dari hadapan Bagas. Dirinya dapat merasakan perasaan kesal dari diri Bagas yang begitu besar.
"Ah tidak apa-apa disuruh Bagas pergi yang penting aku berhasil mendapatkan nomornya," gumam Jiai, setelah meninggalkan Bagas. Dirinya sangat senang kini karena berhasil mendapatkan nomor Bagas.
Disepanjang jalan Jiai memandangi nomor yang Bagas berikan itu. Senyuman Jiai juga tidak pernah luntur.
Yah, walaupun Bagas terpaksa memberikan nomornya kepada Jiai, tapi Jiai tidak peduli itu karena perjuangannya baru dimulai sekarang. Dan ini adalah awal yang sedikit bagus.
"Huft dingin dan datar sekali, untung cinta." Gumam Jiai dalam hati. Cinta telah datang mungkin...
Tapi, tiba-tiba Jiai melihat Danur yang datang berlawanan arah kepadanya Danur datang dengan membawa bunga dan coklat. Hello bunga dan coklat itu sangat membosankan Jiai memutar kedua bola matanya malas.
"Hai," sapa Danur dengan senyuman memikat. Siapapun yang melihat senyuman memikat Danur pasti akan langsung jatuh cinta.
Tapi, tidak dengan Jiai. Dirinya sudah tau bagaimana watak dan sifat Danur. Danur adalah playboy yang suka sekali bergonta-ganti pasangan dan mempermainkannya.
Sudah banyak yang menjadi korban dari sifat Danur yang playboy itu.
Okelah, untuk urusan fisik dan harta. Danur tidak ada tandingannya, tapi kalau urusan setia, baik hati, goodboy? Ah jangan diharapkan dari seorang Danur.
Jiai hanya memandang datar, ketika Danur berjalan ke arahnya. Oh demi dewa Neptunus yang ada di kartun Spongebob. Sudah dipastikan, kalau Danur akan berjalan ke arahnya.
"Aku membawakan bunga dan coklat untukmu sayang," Danur tersenyum lebar, ala senyum pepsodent, kemudian menyerahkan bunga dan coklat itu kepada Jiai.
Sementara Jiai hanya bergidik ngeri ketika Dipanggil sayang, oleh Danur hello! Sejak kapan Danur dan Jiai berpacaran sungguh Jiai tidak sudi!
"Aku tidak ingin bunga dan coklat itu!" Tolak Jiai secara tegas.
"Kenapa? Aku membelikan bunga dan coklat itu khusus untukmu sayang," ucap Danur yang sudah mulai menggila.
"Sudahlah aku sangat sibuk, tolong jangan ganggu aku," Jiai berlalu meninggalkan Danur, tapi tangannya langsung dicekal oleh Danur.
Jiai meringis ketika cekalan tangan Danur yang mulai menguat, sepertinya pergelangan tangan Jiai sudah memerah kini.
"Aw, lepaskan! Sakit Danur!" Jiai memberontak, tapi Danur tetap tidak melepaskan cekalan tangannya. Danur sangat sakit hati karena penolakan yang selalu Jiai lontarkan kepadanya.
"Lepaskan! Atau aku akan memanggil satpam dan berteriak disini!" Ancam Jiai hingga akhirnya Danur melepas cekalan tangannya. Dia tidak ingin habis babak belur di rumah sakit ini.
Jiai yang ketakutan, kalau Danur akan kembali mencekal tangannya 'pun langsung berlari meninggalkan Danur sendirian.
"Arghhh sial!" Kesal Danur setelah kepergian Jiai, tidak seharusnya dia berbuat kasar seperti tadi.
__ADS_1
Danur pun segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah sakit ini, perasaannya campur aduk sekarang.