
"Jadi, kamu ditugaskan di rumah sakit ini juga?" Tanya Jiai kepada sahabat lamanya itu. Yaitu, Abi.
Abi adalah salah satu sahabatnya juga pada masa perkuliahan dulu. Mereka satu jurusan.
"Iya aku ditugaskan di rumah sakit ini juga," jawab lawan bicara Jiai.
"Enggak nyangka deh kita bisa bareng-bareng lagi setelah lulus dari kuliahan," Jiai senang karena bisa bertemu lagi dengan sahabat lamanya itu.
Dulu Jiai dan Abi berpisah setelah kelulusan kuliah Abi melanjutkan kuliahnya S2 di luar negeri karena kemauan dari orang tuanya. Orang tuanya Abi pindah dan tinggal ke luar negeri oleh sebab itulah orang tuanya Abi ingin Abi melanjutkan pendidikannya di luar negeri bersama mereka.
Sementara Jiai dirinya langsung menjadi Dokter setelah lulus dari sekolah kedokteran. Jiai juga memiliki otak yang cerdas, jadi tak heran kalau dirinya langsung diangkat menjadi seorang Dokter.
"Aku juga enggak nyangka bisa ketemu sama kamu lagi satu tempat kerja lagi jangan-jangan kita jodoh," canda Abi dengan cengiran khasnya.
"Ihh, apaan sih dari dulu enggak pernah berubah masih aja suka gombal," Jiai tak pernah menganggap serius candaan dari Abi.
Abi ini adalah salah satu spesies yang langkah di dunia ini sifatnya ini sangat sulit untuk ditebak. Kadang hangat, kadang dingin, kadang humoris, kadang pendiam, dan kadang jutek.
Tidak ada yang tau bagaimana karakter asli dari diri Abi kemudian dia dan tuhan.
Satu hal yang Jiai tau bagaimana karakter Abi, yaitu sangat suka menggombali dirinya. Meskipun tak pernah dirinya anggap serius.
"Clara masih suka telat yah kalau misalnya ada janji?" Tanya Abi mengalihkan pembicaraan karena dari tadi Clara belum datang-datang juga.
"Yah iyalah. Tuh anak telat mulu kalau misalnya ada janji dari dulu enggak pernah berubah," jawab Jiai menggebu-gebu.
"Hai, udah lama nungguin aku?" Clara datang tiba-tiba dengan senyuman kecil yang terbit dibibir 'nya.
"Kebiasaan banget sih ngaret terus. Lihat nih ice cream aku udah habis. Sangking kan lamanya nunggu kamu," Jiai cemberut rasanya stok kesabarannya sudah habis.
Bagaimana tidak Clara itu selalu terlambat jika ada janji ataupun hanya sekedar nongkrong ke ke caffe.
Sementara Abi hanya menahan tawa ketika melihat wajah Jiai yang cemberut itu.
Ternyata kedua sahabatnya ini sama sekali tidak berubah sejak dulu. Semuanya masih sama.
"Yah, maaf," Clara merasa tidak enak dengan Jiai diapun beralih duduk ke kursi Caffe.
"Kapan balik ke Indonesia Bi?" Tanya Clara kepada Abi yang hanya diam saja sejak tadi. Mengabaikan wajah Jiai yang cemberut.
__ADS_1
"Dua Minggu yang lalu," jawab Abi kemudian menyeruputi jus jeruknya yang hanya tinggal setengah itu.
"Oh, kok enggak ngasih tau aku sih?" Heran Clara padahal dirinya 'kan sahabat Abi.
"Enggak ada waktu soalnya aku sibuk nyari kerja setelah pindah ke Indonesia ini. Ini juga aku ketemu sama Jiai karena enggak sengaja gara-gara satu tempat kerja aku sama Jiai ditugaskan di rumah sakit yang sama," jelas Abi, sedangkan Clara hanya ber'oh' ria saja.
"Kok aku merasa kayak diabaikan yah?" Ujar Jiai karena melihat Abi dan Clara yang hanya sibuk ngobrol berdua.
"Ikut ngobrol juga lah Ai," seru Clara.
"Ngobrolin apa? Kan kalian lagi sibuk ngobrol berdua," jawab Jiai sedikit kesal.
Sementara Abi hanya diam saja dia bingung ingin bicara apa hingga dia punya ide agar dapat mencairkan suasana.
"Aku pernah koma tujuh hari tujuh malam di luar negri," celetuk Abi dan sontak saja itu menarik perhatian Jiai dan Clara mereka langsung menatap ke arah Abi.
"Serius? Koma gara-gara apa?" Tanya Jiai terkejut sekaligus tak percaya hal apakah itu yang membuat sahabat lelaki satu-satunya ini koma.
"Yah, koma gara-gara apa?" Tanya Clara yang juga ikut penasaran dan tak percaya.
"Pengen tau aja atau pengen tau banget?" Abi nyengir kuda sambil menaik-turunkan alisnya.
"Keseleding semut, koma tujuh hari tujuh malam," jawab Abi kemudian tertawa nyaring.
Krik.
Krik.
Krik.
Krik.
Jiai dan Clara terdiam mendengar candaan Abi itu.
"Bercandanya enggak lucu Abi!" Kesal Jiai karena sudah dibohongi padahal dirinya tadi sudah sangat penasaran dan tidak percaya, kalau Abi pernah koma tujuh hari tujuh malam di luar negri.
Sementara Clara dia juga ikut tertawa bersama Abi setelah mendengar humor receh dari Abi itu.
Jiai hanya diam saja sambil memandangi kedua sahabatnya yang tertawa itu.
__ADS_1
Hei! Tidak ada yang lucu disini mengapa mereka berdua tertawa seperti itu dan nyaris tertawa seperti orang gila. Ini tidak lucu sama sekali Jiai merasa telah dibohongi oleh Abi.
Dan bolehkah Jiai merasa malu memiliki sahabat seperti mereka? Yang tertawa seperti orang gila, tanpa memperhatikan orang sekitar caffe yang sudah melihati mereka dengan tatapan yang aneh.
"Kalian berdua bisa diam enggak sih? Enggak malu apa dilihatin sama orang-orang?" Ujar Jiai sambil memperhatikan orang-orang sekitar caffe ini yang terus saja melihat ke arah mereka, bahkan ada yang merasa terganggu dengan tawa mereka.
Oh tuhan bolehkah Jiai menenggelamkan dirinya ke lautan Eropa sekarang? Sangat memalukan.
Bayangkan saja diri kalian yang di tatapi oleh orang-orang sekitar dengan tatapan yang aneh bahkan ada yang sudah merasa jengkel, karena sahabat kalian yang tertawa sangat kencang hingga terdengar ke atas langit.
Ingatkan Jiai untuk menghabisi mereka nanti.
Abi dan Clara pun menghentikan tertawanya mereka beralih menatap ke arah Jiai dengan muka yang ditekuk itu. Oh ayolah Jiai masih menahan malunya, akibat dari ditatap oleh banyak orang tadi.
"Udah ketawanya?" Tanya Jiai dengan nada yang mengintimidasi.
"Udah, udah," balas mereka serentak sedangkan Jiai hanya mengelus dadanya berkali-kali. Mencoba untuk sabar menghadapi kedua sahabatnya ini yang tidak tau malu.
Benar kata orang sahabat itu adalah orang yang suka malu-maluin.
"Ini punya anda kan?" Tanya seseorang tiba-tiba, sedangkan Jiai hanya menatap tak percaya kepada orang itu.
Lagi?
"I-ya," gugup Jiai. Oh demi kaum jantan yang tidak pernah peka dengan perasaan kaum betina. Apakah ini pertanda, kalau dirinya dan Bagas berjodoh?
Iya dia Bagas, masa es batu. Ups. Bercanda deng.
Mengapa dirinya dan Bagas selalu dipertemukan dalam ketidaksengajaan seperti ini?
Rasanya Jiai seperti berada di dalam film Korea yang sering dia tonton dan berada di dalam dunia Novel yang sering dia baca.
Bahagia? Senang? Berbunga-bunga? Oh, tentu saja!
Jiai langsung menerima dompetnya yang Bagas serahkan kepada dirinya. Ternyata dompet Jiai tertinggal di mobil Bagas.
"Aku enggak percaya kamu mau balikin dompet aku. Terimakasih." Ujar Jiai dengan senyuman terbaiknya rasanya dirinya sangat senang kini dan hampir tak percaya, kalau Bagas mau repot-repot mengembalikan dompetnya.
"Lain kali jangan coroboh dasar menyusahkan saja kerjaannya!" Sentak Bagas senyuman terbaik dari Jiai langsung pudar seketika. Yah, Bagas tetaplah Bagas si es batu yang tak tersentuh hatinya.
__ADS_1