
"Maaf," lirih Jiai sambil tertunduk.
Sementara Abi dan Clara hanya diam saja sambil memperhatikan pembicaraan antara Bagas dan Jiai. Mereka tidak ingin ikut campur.
Bagas pergi tanpa menoleh sedikitpun. Mengapa dirinya mau repot-repot mengembalikan dompet kepada Dokter gila dan menyebalkan itu?
Dan mengapa dirinya selalu dipertemukan dengan cara yang merepotkan seperti ini?
Agrhh!
Terkutuk lah Dokter gila dan menyebalkan itu!
"Dia siapa Ai? Ganteng banget," puji Clara setelah kepergian Bagas. Matanya berbinar pertanda kagum dengan ketampanan Bagas sedangkan Jiai masih tertunduk.
"Cih, ganteng-ganteng, tapi kok kasar banget perkataannya." Abi berdecih dia sedikit tidak suka dengan pria yang dikatakan tampan oleh Clara tadi.
Clara membenarkan perkataan Abi tadi dia tidak bodoh Clara juga tau kalau pria itu sedikit kasar perkataannya tadi. Yah, walaupun sangat tampan.
"Itu pria yang aku ceritain kemarin dia pria yang aku bilang sangat datar dan dingin itu," jawab Jiai kini dia sudah tidak tertunduk lagi.
"Ohhh diaaa memang sih kelihatan dari sikapnya tadi. Dingin sama datar banget," Clara hanya mengangguk-nganggukan kepalanya pertanda paham.
Sementara Abi hanya mendengar pembicaraan antara Jiai dan Clara. Dia mengernyit bingung memangnya siapa pria itu?
"Memangnya dia siapa?" Tanya Abi karena rasa penasarannya.
"Itu pria yang Jiai ceritain kemarin sama aku," jawab Clara.
Sungguh itu tidak mengobati rasa penasaran Abi sama sekali. Abi juga sudah tau kalau Jiai dan Clara membicarakan pria itu kemarin.
Yang Abi tanyakan itu pria itu siapanya Jiai.
"Kalau itu aku juga tau yang aku tanya itu pria itu siapanya Jiai?" Tanya Abi lagi dengan perasaan sedikit kesal.
"Itu pria yang Jiai sukai," jawab Clara lagi.
"Oh," balas Abi singkat. Abi berekspresi datar, tapi sedetik kemudian dia menormalkan kembali wajah datarnya itu.
"Kok bisa sih kamu suka sama pria seperti itu?" Tanya Abi yang tak habis pikir dengan jalan pikir Jiai.
"Yah, gimana yah enggak tau juga sih sulit untuk dijelaskan," balas Jiai dirinya tidak tau mengapa bisa jatuh cinta kepada Bagas.
Padahal sejak pertama kali bertemu dengan Bagas dia hanya merasakan perasaan suka. Suka karena ketampanan Bagas. Jiai ingin merebut hati Bagas waktu itu hanyalah sebatas rasa suka saja.
Tapi lama-kelamaan perasaan cinta itu mulai tumbuh ketika dirinya merawat Bagas di rumah sakit selama dua Minggu waktu itu.
Cinta itu tumbuh berproses gidak bisa tumbuh begitu saja, jika kau merasakan cinta pada pandangan pertama percayalah itu hanyalah suka semata.
Semuanya itu butuh proses tidak ada yang instan. Mi instan saja perlu proses dalam pembuatannya.
"Namanya juga cinta sulit untuk diterka kapan datangnya cinta itu juga buta, jadi yah wajar-wajar aja kalau Jiai bingung kenapa dia bisa cinta sama Bagas," celetuk Clara berpendapat.
"Hem, iya juga sih," balas Abi. Dia paham apa yang dimaksud oleh Clara.
"Udahlah, bahas Bagas nya. Lebih baik kita cerita-cerita tentang masa perkuliahan dulu, sama gimana rasanya tinggal di luar negeri 'kan Abi udah lama tuh tinggal di luar negeri," Jiai mengalihkan pembicaraan karena dia sangat rindu dengan masa-masa persahabatan mereka dulu.
__ADS_1
Hingga satu jam lebih mereka bercerita, bersenda gurau dan saling tertawa. Sepertinya mereka sangat merindukan momen-momen ketika mereka masih bersama.
---
Bagas menatap nanar ke arah anak kecil yang sedang meminta dibelikan mainan kepada ayah dan ibunya itu.
"Ayah, ibu. Aku mau beli mainan itu," Pinta anak kecil itu sedikit merengek.
"Mainan yang mana sayang?" Tanya sang ayah dengan lembut.
"Yang itu," jawab anak kecil itu sambil menunjuk mainan helikopter yang dijual oleh pedagang mainan diseberang sana.
Sang ayah pun langsung beranjak dari bangku taman yang dia duduki bersama istri dan anaknya itu, dan segera membelikan mainan helikopter itu untuk anaknya.
Tanpa menunggu lama sang ayah telah kembali dari membelikan mainan helikopter itu. Sesuai dengan permintaan anaknya tadi.
"Ini sayang," ujar sang ayah menyerahkan mainan itu, disertai dengan senyuman tulus.
"Terimakasih ayah," Ucap sang anak dengan gembiranya, lalu beralih memeluk ayahnya, "Ayah yang terbaik." Ucapnya lagi sambil mengeratkan pelukannya.
"Sama-sama," balas sang ayah membalas pelukan anaknya.
"Kok, ayah doang sih? Ibu enggak dipeluk nih?" Tanya sang ibu berpura-pura cemberut karena tidak ikut dipeluk juga.
"Oh iya lupa," anak kecil itu langsung beralih memeluk ibunya juga.
Dan terlihatlah adegan saling berpelukan antara ayah, ibu dan anak. Rasanya itu benar-benar hangat Dimata Bagas.
"Beruntung sekali anak kecil itu." Gumam Bagas didalam hati. Tanpa dia sadari bulir bening itu turun ke pipinya merambat hingga jatuh ke tanah.
Bagas tidak pernah mendapatkan cinta kasih dari kedua orang tuanya. Bagas juga tidak pernah dibelikan mainan oleh kedua orang tuanya.
Jangankan mainan makan saja Bagas tidak disuruh sampai kenyang oleh kedua orang tuanya, hingga terkadang Bagas hanya diberi makanan sisa.
Sedari dulu Bagas tidak mengerti mengapa kedua orang tuanya selalu membenci dirinya Bagas ingin bertanya, tapi pertanyaan itu selalu dia simpan di dalam hatinya.
Bagas tidak kuasa untuk bertanya, karena dia terlalu takut untuk bertanya. Orang tuanya terlalu mengerikan Dimata Bagas hingga Bagas urungkan untuk bertanya.
"Ibu, ayah lihat deh Om itu nangis," anak kecil itu menunjuk telunjuknya ke arah bangku taman yang Bagas duduki.
"Om yang mana?" Tanya sang ibu sambil mengalihkan pandangannya ke arah telunjuk sang anak.
"Om yang itu Bu," tunjuk anak kecil itu lagi.
Sang ayah juga mengalihkan pandangannya pada telunjuk sang anak, dan nampak olehnya seorang pemuda yang sedang melamun sambil menangis.
"Yaudah kamu samperin gih Om yang nangis itu. Hibur Om yang sedang menangis itu," suruh sang ayah lembut.
"Ih ayah itu orang asing kita enggak kenal, nanti anak kita diapa-apain lagi sama pria itu," sang ibu khawatir karena tidak mengenal pria itu sama sekali.
"Memangnya ada tampang-tampang dia orang jahat?" Tanya sang ayah yang tidak habis pikir dengan istrinya ini. Apa ini tidak terlalu berlebihan?
"Ayah zaman sekarang ini kita itu jangan mudah percaya hanya sekedar dari melihat tampangnya saja. Bisa jadikan orang yang terlihat baik itu ternyata orang jahat," jelas sang ibu panjang lebar.
"Percaya ayah dia tidak mungkin orang jahat," sang ayah coba untuk meyakinkan istrinya yang terlalu berlebihan ini, lagipula kalau anaknya di culik 'kan bisa kelihatan dari sini.
__ADS_1
Seakan pasrah akhirnya sang ibu membiarkan anaknya itu, untuk menghampiri pria asing itu.
"Om, Om kenapa nangis?" Panggil anak kecil itu kepada Bagas.
Bagas yang menyadari kehadiran anak kecil itu sedikit terkejut karena dia tidak menyadari sejak kapan anak kecil ini menghampiri dirinya.
Bagas langsung menghapus kasar bulir bening itu, kemudian tersenyum kecil menghadap ke arah anak kecil itu lagi.
"Om enggak nangis kok tadi Om cuman
kelilipan," bohong Bagas.
"Bohong Om tadi pasti nangis kan?"
Bagas hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan anak kecil itu.
"Enggak Om enggak nangis buktinya Om senyum sekarang," Bagas mencoba untuk kuat. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan anak kecil ini.
"Tapi, tadi Om nangis 'kan?" Tanya anak kecil itu lagi.
Sepertinya anak kecil ini sangat sulit untuk dibohongi. Perasaannya sangat peka.
"Iya tadi, tapi sekarang udah enggak lagi," Bagas memilih untuk pasrah. Rasanya percuma dirinya terus mengelak.
"Yaudah Om jangan nangis lagi yah," Pinta anak kecil itu dengan lembut." Nanti digigit harimau lho," Bukan maksud anak kecil itu untuk menakut-nakuti Bagas, hanya saja dirinya tak ingin melihat Bagas menangis itu saja.
Bagas hanya tersenyum tipis menanggapi gurauan anak kecil itu ternyata masih ada orang yang peduli kepadanya. Selain dari dokter gi...
Ah, lupakan Bagas tidak ingin mengingat-ngingat orang itu.
"Om Bagas mau main helikopter sama aku?" Tanya anak kecil itu penuh harap.
"Enggak bisa, Om Bagas masih banyak urusan di luar sana," Bagas berujar dengan terpaksa.
"Oh, iya Om lain kali aja yah kalau aku sama Om ketemu lagi," anak kecil itu tetap tersenyum.
"Iya, Om Bagas pergi dulu yah?" Pamit Bagas, sedangkan anak kecil itu hanya mengangguk saja.
"Hati-hati Om," ujar anak kecil itu, ketika Bagas sudah agak menjauh.
Bagas membalikan badannya, lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Iya."
---
Setelah puas bercerita tadi akhirnya Jiai, Abi, dan Clara memutuskan untuk pulang.
"Kamu pulang sendiri Ai?" Tanya Abi kepada Jiai yang hendak berdiri pergi.
"Iya memangnya kenapa?"
"Aku nebeng yah soalnya mobil aku lagi diservis Bengkel," Pinta Abi sedikit memelas Abi sebenarnya malu, tapi tidak ada pilihan lain daripada dirinya harus naik taxsi. Dengan menyebrang jalanan aspal yang luas itu.
"Enggak mau!"
__ADS_1
"Ha?!!"