I Love You Pengacara Es!

I Love You Pengacara Es!
18. Soal Jebakan


__ADS_3

Jiai terlihat gugup, karena baru pertama kali ia menginjakan kaki di kantor Bagas ini.


"Eum, mbak. Apa saya bisa bertemu dengan Pengacara Bagas?" Tanya Jiai pada seorang yang ia yakini juga seorang Pengacara itu


"Maaf mbak, tapi apa mbak sudah menentukan janji pertemuan sebelumnya?"


"Em belum sih mbak. Tapi, saya ada urusan dengan Bagas," ucap Jiai sedikit berbohong tidak apa-apalah.


"Ya sudah mbak, mari saya antar." Ajak Pengacara wanita tersebut, sedangkan Jiai hanya mengikutinya dari belakang.


Setelah mengantarkan Jiai ke ruangan Bagas. Pengacara wanita itu pergi.


Jiai nampak ragu untuk mengetuk pintu ruangan Bagas itu. Ia takut, kalau nanti dirinya malah diusir oleh Bagas.


"Ketuk enggak yah?" Jiai menggigiti bibir bawahnya antara ingin dan tidak.


Sudah tiga kali lebih Jiai menghentikan tangannya untuk mengetuk pintu ruangan Bagas. Hingga, dia coba untuk memberanikan diri.


"Yaudah, ketuk aja deh."


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" Ucap dari seseorang dari balik pintu ini. Jiai sangat mengenali suara itu. Dia adalah Bagas.


Huft!


Perlahan Jiai membuka pintu ruangan ini, menampilkan sosok Bagas yang pertama kali ia lihat.


Bagas nampak terkejut dengan kehadiran Jiai kembali. Tadi rumah dan sekarang kantor? Apa Dokter gila sedang mengepreng dirinya?


"Kau lagi? Darimana kau tau kantorku? Dan sedang apa kau disini?" Tanya Bagas tak habis pikir.


"Aku-aku mengikuti 'mu pagi tadi sampai ke kantor," Jiai meremas ujung bajunya dengan perasaan gugup.


"Mau apa kau datang ke kantorku?" Tanya Bagas to the point.


Arghh mendadak otak Jiai jadi limit. Sial dirinya tidak bisa menjawab pertanyaan Bagas.


"Aku-" Jiai terdiam sebentar sembari mencari alasan yang tepat. Ah ia mengapa tidak mengatakan, kalau dirinya ingin mengambil kotak bekalnya saja, "Aku ingin mengambil kotak bekalku tadi, agar besok bisa membawakan 'mu bekal lagi," ujar Jiai berusaha untuk tidak gugup.


Bagas tertegun sebentar harus apakah dia? Apa dia bilang saja, kalau kotak bekal itu sudah ada di dalam tong sampah? Tapi, apa itu tidak melukai perasaan perempuan?


"Kenapa kau mau mengambil kotak bekal itu? Kau perhitungan?" Tanya Bagas datar berusaha untuk menutupi fakta, kalau bekal pemberian dari Jiai tadi sudah berada didalam tong sampah, akibat dari ulah Threlya.


"Bu-bukan se-seperti itu tapi tap-"


"Tapi apa?" Bagas berusaha mati-matian untuk tidak tertawa melihat ekspresi gugup dari Jiai, entah mengapa melihat ekspresi gugup dari Jiai itu rasanya ia ingin tertawa.


"Hem, yasudah kalau begitu aku tidak jadi mengambil kotak bekal makanan itu. Aku pergi besok akan ku' bawakan bekal lagi." Jiai berbalik hendak pergi.

__ADS_1


"Tunggu." Panggil Bagas, ketika Jiai baru saja melangkahkan kakinya dua langkah.


Jiai berbalik menghadap Bagas lagi, "Ke-kenapa?" Tanya Jiai masih sama, yaitu gugup. Sial! Kenapa dirinya jadi gugup seperti ini?


"Besok-besok tidak usah membawakan 'ku bekal lagi, itu sangat merepotkan," ucap Bagas. Bukan apa, tapi Bagas takut kalau bekal itu nanti dibuang lagi oleh Threlya.


Jiai menggeleng dengan cepat, "Tidak! Aku tidak kerepotan membawakan 'mu bekal, malah aku senang," entah datang keajaiban darimana rasa gugup Jiai hilang seketika.


"Terserah." ucap Bagas kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali. Sepertinya tidak ada gunanya melarang Dokter gila ini untuk tidak membawakannya bekal lagi.


"Iya, aku pergi." Pamit Jiai kemudian menutup pintu ruangan Bagas secara perlahan.


Bagas menghela napas panjang setelah kepergian Dokter gila itu tadi. Ia merasa sedikit bersalah telah membohongi Dokter gila itu.


 ---


"Gimana tadi?" Tanya Abi pada Jiai yang hanya diam saja sejak tadi.


"Yah gitu," jawab Jiai.


"Yah gitu nya tuh gimana?" Tanya Abi lagi.


"Kepo!"


"Aku bukan kepo, cuman pengen tau aja."


"Ohhh," Abi mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tapi, udah enggak sedingin dulu lagi. Bagas udah berubah sedikit," ujar Jiai lagi.


"Ohhh," jawab Abi lagi, sambil mengangguk-anggukan kepalanya kembali.


"Apaan sih, Bi. Ohhh, ohhh, ohhhh," Jiai menatap Abi dengan malas.


"Yah, terus aku harus jawab apa?"


"Yah, kasih solusi kek. Sebagai sahabat yang baik 'kan kamu cowok, pasti paham sama sesama perasaan cowok," ujar Jiai.


Abi hanya mengendikan bahunya acuh.


"Bi, kalau misalnya ada cewek yang tiba-tiba ngejar kamu. Gimana reaksi kamu?" Tanya Jiai untuk memastikan bagaimana perasaan Bagas, setelah ia kejar-kejar.


"Aku bunuh dengan cara mutilasi," jawab Abi sekenanya.


"Ih, Abi! Aku serius!" Jiai merasa kesal sekarang. Abi tidak pernah serius, jika ia bertanya.


"Ia aku serius seribu kali rius malahan," jawab Abi acuh.


Ingin rasanya Jiai menggampar wajah Abi yang sok serius itu. Apa-apaan ini?

__ADS_1


"Huft sabar-sabar orang sabar disayang Cha Eun Woo."


Batin Jiai.


Jiai keluar dan menutup pintu mobil Abi dengan sangat keras. Ia masih kesal dengan jawaban Abi tadi yang katanya 'dibunuh dengan cara dimutilasi' kalau memang seperti itu pasti Jiai sudah mati sekarang, tapi buktinya ia masih hidup sampai sekarang.


Sementara Abi tersenyum didalam mobil. Ia pergi tanpa mengatakan sepatah katapun pada Jiai.


"Ih Abi resek yah!" Teriak Jiai, ketika mobil Abi sudah sedikit menjauh. Abi masih bisa mendengar perkataan Jiai barusan. Ia hanya tersenyum menanggapinya.


 ---


Jiai masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan diri di atas kasur.


Ia membuka aplikasi whatsApp dan mulai mencari nama Bagas di dalamnya.


Calon Masa Depan😍😍😍


"Bagas aku tanya yah, kalau kamu memang pintar. KG + N \= berapa? Kalau kamu bisa jawab yah😂"


"Massa (m) dalam satuan KG dijadikan berat (w) dalam satuan Newton dengan diklaikan dengan kecepatan gravitasi sebesar 10/³


Misalnya 5 KG setara dengan besar sebesar:


W \= M G


  \= 5 × 10 \= 5 n


Seperti itu?"


Bagas dapat mengerjakan soal itu bahkan kurang dari 1 menit. Membuat Jiai ternganga ia dibuat takjub oleh kepintaran Bagas.


"Apa dia lihat mbah google yah?" Batin Jiai tak percaya, tapi Jiai melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau memang betul-betul Bagas sendiri yang mengetik itu.


Sebenarnya Jiai kesal dalam hati, karena bukan itu tujuannya. Ia ingin menjebak Bagas, tapi malah seperti ini jadinya.


Beginilah nasibnya, kalau memiliki gebetan yang pintarnya mengalahkan Albert Einstein. Jiai jadi kesal sendiri jadinya.


"Aku tau apa sebenarnya maksudmu. Kau ingin mengatakan ini kan?


KG + N \= kangen


Itukan maksudmu?"


Ah, ternyata Bagas sudah tau rupanya. Tapi, tau darimana? Apakah Bagas sudah sering digombali oleh cewek-cewek lain yang suka kepadanya?


Yah, itu memang wajar sih, secara Bagas itu 'kan ganteng kaya lagi. Siapa coba yang tidak suka kepada Bagas.


"Ehem! Betulkan seperti itu?!"

__ADS_1


__ADS_2