
"Enggak mau nolak maksudnya. Hehe," cengir Jiai ia merasa puas karena sudah berhasil mempermainkan Abi.
Pletak!
"Ih Abi ngeselin banget sih!" Jiai berdecak kesal, ketika Abi yang berani-beraninya menjitak kepalanya.
"Terkejut Denai! Kirain tadi beneran enggak mau nebengin. Masa sahabat seganteng ini enggak ditebengin itu namanya terlalu!" Abi berlagak berbahasa Padang dan Roma Irama. Dirinya dengan PD memuji diri sendiri.
"Hueek," Jiai berlagak seperti orang yang mau muntah, "ganteng dari Hongkong!" Sanggah Jiai.
Sebenarnya Abi memang memiliki wajah yang tampan, tapi Jiai tidak ingin mengakui itu dia sangat gengsi. Bisa-bisa besar kepala Abi kalau Jiai memang mengakui ketampanan dirinya.
"Ganteng lah bahkan Cha Eun Woo aja kalah," ucap Abi dengan PD nya. Seluruh fans Cha Eun Woo pasti akan langsung menyoraki Abi, jika Abi mengatakan itu di depan mereka.
Cha Eun Woo adalah artis yang berasal dari Korea. Jiai sangat mengidolakan sosok tersebut.
Dulu Jiai sering bercerita kepada Abi tentang siapa sosok idolanya itu. Abi masih mengingat jelas dirinya hampir tak pernah lupa mengenai Jiai.
"Beda jauhhhhh," jawab Jiai memanjangkan kalimatnya. Dia mencibir dalam hati tentang kepedean Abi ini yang sudah diatas kata normal.
"Gantengan aku!"
"Gantengan Cha Eun Woo!"
"Gantengan aku!"
"Gantengan Cha Eun Woo!"
"Gantengan aku!"
"Gantengan Cha Eun Woo!"
"I love you!"
Jiai terdiam mendengar perkataan Abi barusan. Abi sudah mengeluarkan gombalannya.
"Pokoknya Cha Eun Woo paling ganteng!" Balas Jiai berpura-pura tidak mendengar perkataan Abi tadi.
"Jadi pulang enggak sih? Kok malah debat gini?" Celetuk Clara yang heran dengan kelakukan sahabat-sababatnya ini.
"Ini, Jiai yang ngajak ngobrol duluan."
"Eh, kok aku?"
"Iyalah kamu, kan kam-"
"Udah, udah sekarang kita balik yah, nanti aja dilanjutin debatnya," potong Clara cepat. Dia sudah tidak sabar lagi ingin pulang karena ingin rebahan.
Yah! Clara kaum rebahan!
Rumah Jiai dan Abi kebetulan satu arah sedangkan rumah Clara berbeda arah.
"Nih, bawa!" Jiai melempar kunci mobilnya kepada Abi dan langsung Abi tangkap.
Abi dan Jiai pun masuk ke dalam mobil sedangkan Clara sudah pulang duluan.
__ADS_1
"Di Jerman banyak cewek cantik lho." Abi membuka pembicaraan duluan.
"Enggak nanya," balas Jiai singkat. Entah mengapa dirinya selalu merasa rendah diri, kalau pembahasannya adalah tentang wanita cantik.
Jiai memang cantik, tapi dirinya selalu merasa rendah diri kalau misalnya ada yang lebih cantik dari dirinya. Bukan bermaksud untuk tidak bersyukur, tapi entahlah itulah yang dirinya rasakan.
"Tapi, kalau misalnya dilihat-lihat dari lobang pipet yah masih cantikan kamulah," Abi terkikik geli sendiri dengan perkataannya tadi.
"Bercandanya enggak lucu Abi!" Jiai melipat kedua tangannya di depan dada dengan muka yang cemberut.
Abi melihat sekilas wajah Jiai yang cemberut itu kemudian fokus mengendarai lagi. Abi melengkung kan senyuman kecil dirinya sangat merindukan hari-harinya dulu bersama Jiai.
Abi rindu dengan wajah cemberut Jiai, Abi rindu dengan kekesalan Jiai, Abi rindu menggombali Jiai dengan gombalan mautnya dan Abi rindu dengan curhatan Jiai.
Dia rindu dengan semua itu.
Setelah sampai di rumah Jiai langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan diri.
Cukup melelahkan hari ini.
Tiba-tiba Jiai ingat sesuatu. Dompet! Iya dompet dimana dia menaruh dompetnya?
Jiai mencari dompet itu disetiap sudut kamarnya, tetapi tidak ketemu.
"Duh, dimana yah aku naruh dompet tadi? apa ketinggalan di caffe yah?" Jiai membatin.
Ceroboh sekali memang!
Jiai beralih mengubungi Abi. Siapa tau Abi tadi melihat dompetnya kan?
"Bi, kamu lihat dompet aku enggak tadi? Soalnya dompet aku hilang."
"Gak!"
"Serius Bi?"
"Iya!"
"Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba cuek begitu?"
"Gak!"
"Nah itu cuek."
"Enggak!"
"Ih, Abi kamu kenapa sih? Kok jadi gini? Cuek banget!"
"Enggakkkkkkkkkkk Jiaiiiiiiiiiii apaaaaaaa akuuuuuuuu harusssssss giniiiiiiiiiiiiiiii biarrrrrrrrrrrr enggakkkkkkkkkkk dikataaaaaaa cueeeeeeeekkkkkk. Yaallah!"
"Yah, enggak gitu juga!"
Jiai cemberut mengubungi Abi ternyata tidak membantu sama sekali malah membuat dirinya kesal sendiri. Inilah diri Abi sangat sulit untuk diterka.
__ADS_1
Jiai menutup handphone nya. Dirinya bergegas untuk kembali ke caffe tadi tampak sekali raut panik dari wajah Jiai, karena didalam dompet itu banyak yang berharga. Semisal KTP, kartu ATM dan yang lainnya. Bisa repot kalau hilang.
Setelah sampai di Caffe Jiai langsung menghampiri meja tempat duduk yang iya duduki tadi dan mulai mencari dompetnya disekitar situ, tapi nihil Jiai tidak menemukannya sama sekali.
Terlihat wajah Jiai yang benar-benar panik sekarang.
"Nyari ini?" Tanya seseorang tiba-tiba.
"Eh!"
Jiai langsung membalikan badan, dan ternyata dia adalah Danur.
Jiai sedikit terkejut, mengapa dompetnya tiba-tiba ada ditangan Danur?
"Ini, aku temukan tadi di meja caffe. Kau ceroboh sekali yah," Danur menyerahkan dompet itu kepada Jiai.
"Terimakasih, aku harus pergi sekarang," Jiai ingin melangkahkan kakinya pergi setelah mengambil dompetnya dari tangan Danur, dirinya tidak ingin berlama-lama bersama Danur, tapi tiba-tiba tangannya langsung dicekal oleh Danur.
"Apa itu caramu berterimakasih?"
"Apa maksudmu Danur? Lepaskan tanganku! Apa kau tidak ikhlas mengembalikan dompetku?!" Cecar Jiai berusaha untuk melepas cekalan tangan Danur dirinya merasa kesal sekarang. Mengapa dompetnya harus ditemukan oleh Danur?
"Apakah Dokter sepertimu tidak punya adab?" Danur menjedah kalimatnya, "sayang?" Ucapnya lagi.
"Kau yang tidak ikhlas mengembalikan dompetku! Jangan main-main padaku Danur!" Jiai menaikan suaranya menjadi dua oktaf.
Danur semakin mengencangkan cekalan nya, hingga kuku tangannya sudah berhasil menggores pergelangan tangan Jiai.
"Aww, sakit Danur!" Jiai meringis kesakitan ketika cekalan tangan Danur yang semakin kencang, bahkan sampai menggores pergelangan tangannya.
"Lepaskan tanganku Danur! Ini Sakit!" Jiai terus memberontak.
"Tidak akan kau harus ikut denganku!" Tatapan Danur berubah menjadi sangat tajam. Rahangnya juga sudah mulai mengeras.
Membuat nyali Jiai ciut seketika. Jiai benar-benar ketakutan sekarang, ketika melihat tatapan tajam dari Danur itu yang seakan memukul dirinya degup jantungnya mulai memburu sangat kencang. Baru pertamakali ini Jiai melihat Danur seperti ini.
Ingin Jiai berteriak, tapi dirinya sudah ditarik duluan hingga ke luar caffe. Danur mengancam akan melukai dirinya lebih dari ini, jika berani berteriak.
Alhasil Jiai cuman bisa pasrah, ketika tangannya ditarik oleh Danur hingga ke luar caffe.
Jiai dibawa ke tempat yang sepi. Dimana jarang sekali dikunjungi oleh orang-orang.
Tubuh Jiai bergetar hebat air matanya mulai mengenang membasahi kedua pipi itu. Dirinya sangat ketakutan sekarang. Pikiran-pikiran negatif pun mulai menyerang dirinya, mengapa Danur mengajaknya ke tempat sepi ini?
"Berhenti menangis rasa sakit mu itu tidak sebanding dengan sakit hatiku, atas semua penolakan mu kepadaku." Tatapan Danur masih sama, yaitu tajam. Sudah lama dirinya menahan ini kesabarannya sudah habis sekarang.
Danur segera menarik badan Jiai hingga badan Jiai menyentuh dinding rumah kosong itu.
Kedua lutut Jiai sudah melemas, dadanya bergemuruh kencang. Rasa takut itu semakin menjadi-jadi tangis Jiai juga semakin menjadi-jadi.
"Hiks, hiks, hiks. Kau mau apa Danur? Aku mohon jangan sakiti aku hiks,"pinta Jiai disertai isak tangisnya dia memohon dengan derai air mata yang terus membasahi pipi.
Danur menaikan salah satu sudut bibirnya menciptakan senyuman sinis.
"Sebaiknya sebelum bertindak dan berkata itu dipikirkan matang-matang terlebih dahulu dulu. Apakah itu melukai perasaan orang lain atau tidak," ujar Danur sinis, seakan paling tersakiti. Padahal dirinya juga sering menyakiti hati wanita-wanita yang dia mainkan dulu, bahkan sangat parah!
__ADS_1
Dasar tidak introfeksi diri!
"Aku minta ma-af tol-ong jangan sa-kiti aku hiks," pinta Jiai lagi sambil sesegukan.