I Love You Pengacara Es!

I Love You Pengacara Es!
14. Curhat


__ADS_3

Jiai berjalan disetiap koridor rumah sakit ini menyebalkan sekali Abi! Ia tidak jadi makan siang karena Abi.


Ia pun memilih berjalan keluar dari rumah sakit ini untuk membeli bakso di luaran sana.


"Mang! Baksonya satu makan sini yah." Pesan Jiai.


"Oke, tunggu sebentar yah neng."


Jiai beralih duduk untuk menunggu pesanannya.


"Bagus yah aku udah capek-capek masakin kamu makanan subuh tadi, malah makan disini." Abi melipat kedua tangannya didepan dada.


"Eh," Jiai mendongakkan kepala sedikit untuk melihat sosok Abi ia sedikit terkejut apa Abi mengikutinya?


"Abi kok kamu bisa ada disini? Kamu ngikutin aku yah?" Tanya Jiai dengan tatapan curiga.


"Ya iyalah," jawab Abi enteng, kemudian beralih duduk di sebelah Jiai.


"Mau ngapain?" Tanya Jiai heran.


"Mau pesan bakso 'lah, terus apalagi? Mau nengok kegantengan mamang bakso?" Ujar Abi asal.


"Terus makanan tadi, gimana?"


"Udah aku kasih sama orang," jawab Abi.


"Lho, kok dikasih sama orang kamu enggak makan?"


"Banyak tanya, mending diam."


"Ih, Abi-"


"Ini neng pesanannya." Ucapan Jiai terpotong karena pesanan baksonya sudah datang.


"Waduh, mamang bakso ganteng banget sih." celetuk Abi kepada mamang berkepala botak yang berumur sekitar 45 tahun itu.


"Nih, ada salam dari teman saya." Abi menunjuk Jiai.


Uhuk! Uhuk!


Jiai tersedak bakso yang baru saja ingin dia telan kemudian menatap tajam Abi.


Tapi, bukannya takut Abi malah terkekeh pelan dibuatnya.


"Waduhhh gimana yah? Bukannya apa, tapi Abang udah punya isteri neng," ucap mamang itu dengan sedikit nada bercanda.


"Biasa 'lah mang teman saya ini suka bercanda," ucap Jiai dengan perasaan tak karuan.


"Tapi, kalau memang Eneng mau jadi yang kedua. Abang mau kok selingkuhin istri Abang," ucap mamang berkepala botak itu kemudian mengedipkan sebelah mata dengan genitnya.


Abi menahan tawa dengan sekuat tenaga. Menjahili Jiai adalah hal terindah yang ada di dunia ini.

__ADS_1


Jiai tersenyum canggung perasaannya menjadi tidak karuan dirinya memang tidak biasa bercanda seperti ini.


Detik berikutnya tawa mamang bakso itu meledak.


"Hahaha mamang cuman bercanda neng, enggak usah bawa serius," ucap mamang itu kemudian pergi untuk melayani pelanggan lainnya.


Setelah kepergian mamang bakso tadi Jiai langsung mencubit pinggang Abi dengan sangat keras.


"Aduhhhh duhh duhh sakit Ai ampun-ampun."


"Kamu tuh yah nyebelin banget!" Jiai menghentikan cubitannya, lalu memandang Abi cemberut.


"Hahaha tapi tadi sumpah lucu banget, tuh mamang bakso kayaknya memang naksir sama kamu. Buktinya kata dia tadi rela nyelingkuhin istrinya sendiri," Abi kembali tertawa mengingat bagaimana dengan genitnya mamang bakso tadi mengedipkan mata kepada Jiai.


Jiai kembali mencubit pinggang Abi dengan keras.


"Ampunnnnn ampunnnnn iya-iya aku minta maaf," cubitan Jiai ini rasanya seperti digigit oleh ikan piranha. Sakit sekali!


Jiai menghentikan cubitannya, lalu melanjutkan makan bakso.


"Kamu enggak jadi pesan bakso?" Tanya Jiai yang heran karena dari tadi Abi hanya memandanginya saja.


"Enggak jadi, aku udah kenyang lihatin kamu makan," Abi menatap Jiai dengan intens, sedangkan Jiai hanya bersikap acuh.


"Beneran?"


"Iya."


"Ya udah."


Jiai bergidik jijik dengan permintaan Abi ini apa katanya tadi? Disuapin?


"Ih, apaan suapin-suapin jijik aku dengarnya kamu bukan anak kecil lagi Abi!" Ucap Jiai kemudian melanjutkan makan kembali.


Kedua sudut bibir Abi tertarik ke atas ia sangat suka dengan wajah cemberut Jiai.


---


Setelah makan bakso tadi Jiai dan Abi buru-buru untuk ke rumah sakit lagi.


"Ai yang kamu rawat itu orang yang kamu bilang suka waktu itu kan?" Tanya Abi karena penasaran.


"Iya, kenapa emang?"


"Enggak sih, cuman nanya aja."


"Ya udah."


Abi kembali ke ruangannya sementara Jiai kembali ke ruangan Bagas untuk memeriksa kembali bagaimana keadaannya.


"Masih pusing?" Tanya Jiai pada Bagas yang masih terbaring itu.

__ADS_1


"Sedikit," jawab Bagas.


"Kamu lapar?" Tanya Jiai lagi.


"Sedikit," jawab Bagas jujur.


"Aku suapin makan mau?" Jiai ingin menggutuk mulutnya sendiri yang tidak bisa dikontrol ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya.


"Hem," jawab Bagas sedikit mengangguk.


Oh god akhirnya!


Degup jantungnya berdetak lebih keras, padahal hanya ingin menyuapi Bagas makan.


Jiai mengambil mangkuk bubur yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit itu, kemudian langsung duduk di kursi sebelah Bagas berbaring ia membantu Bagas agar bersandar di penyangganya.


Jiai terus menatap Bagas dengan intens ganteng sekali ciptaan mu ini yaallah. Ia sedikit gugup untuk menyuapi Bagas makan karena baru pertama kali ini ia menyuapi pria makan Bagas yang pertama.


Ditambah detak jantungnya ini yang tidak bisa dikontrol.


"Aku tidak suka ditatap terlalu intens," ucap Bagas datar entah mengapa dirinya merasa tidak nyaman ditatap sedemikian rupa seperti itu.


"Ma-ma-af," gugup Jiai merasa tidak enak dan sedikit malu karena ketahuan menatap Bagas dengan sangat intens.


"Tidak apa-apa aku tau kau pasti baru pertama kali melihat orang tampan sepertiku," ucap Bagas, tapi tak ada nada bercandanya malah tatapan Bagas seperti seseorang yang hancur.


Jiai sedikit tak percaya mendengar perkataan Bagas barusan ternyata si kutub Utara, dan si cuek Bagas adalah sosok yang punya percaya diri tinggi sama seperti sahabatnya sendiri yaitu (Abi😏)


"Kau tahu?" Bagas mengalihkan pembicaraan.


"Apa?"


"Karena apa aku sakit begini?" Ujar Bagas ia kembali mengingat bagaimana kelakuan papanya sendiri, yang tega memukuli dirinya hingga sampai masuk rumah sakit.


Jiai hanya menggeleng tidak tau.


Bagas menghela napas dalam kemudian tersenyum hancur penuh luka.


"Papaku sendiri," ucap Bagas berat, seketika itu juga Jiai berekspresi terkejut dan hampir tak percaya.


"Apa kau serius? Ta-tapi karena apa?" Tanya Jiai yang tak habis pikir bagaimana mungkin sang ayah tega memukuli anaknya sendiri, hingga dilarikan ke rumah sakit. Apa Bagas telah melakukan suatu hal yang fatal, hingga ayahnya sendiri tega memukulinya sampai begini?


"Dia menuduhku mencuri uangnya sejumlah satu miliyar, padahal aku tidak mengambil uang itu sama sekali," jawab Bagas, entah mengapa dirinya menjadi curhat begini semuanya mengalir begitu saja.


"Papamu salah paham berarti, apa kau tak menjelaskan kepadanya kalau bukan kau yang mencurinya?"


"Percuma saja menjelaskan itu kepada papa. Papa tidak akan percaya kepadaku," Bagas terdiam sejenak, "Aku tidak pernah diakui anak oleh kedua orang tuaku."


Jiai menutup mulutnya menggunakan kedua tangan sangking terkejutnya. Pantas saja ketika Bagas dirawat di rumah sakit tidak ada satu anggota keluarga 'pun yang menjenguknya.


Terus apakah karakter dingin Bagas ini disebabkan oleh keluarganya juga?

__ADS_1


"Aku-" Bagas tak melanjutkan kata-katanya ini sudah terlalu jauh, mengapa tiba-tiba dirinya jadi curhat seperti ini?


Bagas mengutuk dirinya sendiri bodoh sekali! Dia yang kuat sekarang terlihat begitu lemah dihadapan Dokter ini.


__ADS_2