
Di pagi hari yang cerah ini Jiai berinisiatif untuk mengajak Bagas untuk jalan-jalan disekitaran taman ini.
Jangan tanya bagaimana reaksi Bagas sudah pasti dia menolak, Tapi bukan Dokter Jiai namanya Kalau dirinya menyerah begitu saja.
Jiai terus saja menjelaskan kepada Bagas, kalau jalan-jalan disekitaran taman itu dapat menenangkan pikiran-pikiran yang kacau.
Sebenarnya Jiai sedikit takut dan segan tadinya, tapi dia buang segala rasa takut dan segannya itu digantikannya dengan rasa berani.
"Apa kau ingin bunga itu?" Tanya Jiai seperti orang bodoh dia memberanikan diri untuk membuka pembicaraan duluan.
"Tolong tinggalkan saya disini sendirian," pinta Bagas lesu.
"Ha? Ta-ta-pi kenapa?" Jiai bingung mengapa tiba-tiba Bagas memintanya untuk pergi. Apa dirinya melakukan kesalahan? Tapi rasanya tidak.
"Saya mohon saya sedang ingin sendirian," pinta Bagas lagi dengan tatapan memohon.
Seakan tak ada pilihan lain, akhirnya Jiai pasrah menuruti keinginan Bagas.
"Baiklah saya akan pergi. Tapi, setelah 20 menit nanti saya akan kembali untuk mengantarmu ke ruangan mu lagi," ujar Jiai, kemudian berlalu pergi dari hadapan Bagas.
"Mengapa dia begitu yah? Apa aku ada salah bicara?" Gumam Jiai di dalam hati. Dia sangat bingung sekarang." Huft, dingin sekali untung cinta." gumamnya lagi di dalam hati.
"Eh," Jiai menutup mulutnya tanpa sadar dirinya mengatakan itu didalam hati. Apa ini pertanda kalau dirinya sudah benar-benar jatuh cinta kepada Bagas, walaupun pada pandangan pertama?
---
Merasa hidup tak berguna, hancur, hina, dan menyedihkan. Itulah yang Bagas rasakan saat ini rasanya jatuh dari gedung tidak sebanding dengan apa yang dia rasakan saat ini.
Ingin rasanya Bagas berteriak kencang di depan orang tuanya dengan mengatakan. Mengapa kalian sangat membenciku?!! Apa kesalahan yang telah ku' perbuat ?!!
Tapi, itu hanya bisa dia katakan didalam hati orang tuanya saja enggan untuk menemui dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa berteriak seperti itu?
Bagas menghela napas lelah buliran bening air matanya itu luruh seketika. Ini benar-benar menyesakan sampai kapan dia harus begini?
---
Setelah berdiam diri duduk di bangku taman sendirian. Jiai merasa kerongkongannya kering dan harus segera dialiri oleh air. Akhirnya dia memutuskan untuk membeli minuman air mineral di luar.
Setelah membeli minuman Jiai kembali duduk di bangku taman sembari menunggu waktu 10 menit lagi. Untuk mengantar Bagas ke kamar pasien lagi.
Sangat menyegarkan, ketika air mineral itu jatuh ke dalam rongga tenggorokannya.
Minum disaat haus adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Jiai. Karena minum diwaktu sangat haus itu dirinya akan benar-benar merasakan nikmatnya air mineral itu sendiri.
Setelah meminum air mineralnya. Jiai kembali berpikir.
"Huft, gimana yah caranya meluluhkan hati pria dingin itu?" Gumam Jiai sambil berpikir.
"Maksud kamu pria berhati dingin itu saya?" Bagas datang secara tiba-tiba di belakang Jiai.
Jiai sangat terkejut dan segera membalikan badannya menoleh ke sumber suara itu.
Jantungnya mulai berdetak dua kali lebih cepat. Antara rasa terkejut, malu, dan tidak menyangka kalau kata-katanya tadi tak sengaja didengar oleh Bagas. agrhh mau taruh dimana mukaku? Begitulah isi pikiran Jiai sekarang.
Jiai menelan salivah 'nya berat dia mencoba memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Bagas itu.
"Maksud sa-"
"Maaf sebelumnya," Bagas memotong kata-kata Jiai, "Jangan mencoba untuk meluluhkan hati saya dan coba untuk mencintai saya, karena itu hanya akan membuat anda terluka dan sengsara." Jelas Bagas, kemudian berlalu pergi dari hadapan Jiai mendorong kursi rodanya sendiri.
__ADS_1
Jiai terdiam mencoba mencerna kata-kata Bagas tadi, "Apa katanya tadi? Terluka? Sengsara?" Jiai menyeringai," Itu adalah tantangan yang bagus. Dia pikir saya akan menyerah? Oh tentu tidak."
Jiai segera mengejar Bagas tadi yang sudah agak menjauh diri dirinya. Dirinya coba untuk memberanikan diri dan bertekad untuk mengambil hati Bagas. Bagaimana 'pun caranya.
"Bagas! Tunggu dulu!" Teriak Jiai mengejar Bagas. Dirinya pun berhenti di hadapan kursi roda Bagas.
Entah dia dapat keberanian dari mana untuk menghadang kursi Bagas.
"Ada apa lagi?" Tanya Bagas sedikit malas.
"Biar aku saja yang menghantarkanmu untuk memasuki kamarmu lagi." Pinta Jiai berani.
"Tidak usah biar saya sa-"
"Tidak ada penolakan aku yang bertugas untuk merawat 'mu." Jiai memotong kata-kata Bagas dan segera menyambar kursi roda Bagas.
Sedangkan Bagas hanya menghela napas pasrah sepertinya tidak ada pilihan lain selain menurut kepada Dokter ini.
"Hem, apa keluargamu sangat sibuk sampai-sampai tidak ada yang menjenguk 'mu satupun?" tanya Jiai hati-hati karena takut bicara.
Sekarang dirinya sudah tidak terlalu takut kepada Bagas, entah mengapa keberaniannya sudah jauh lebih meningkat.
Bagas tersentak kaget ketika Jiai bertanya soal itu matanya langsung menajam. Beruntungnya Jiai tidak melihat itu Karena posisinya yang sedang membawa Bagas dengan kursi roda.
"Apapun itu bukan urusan anda, jangan ikut campur dengan kehidupan saya," jawab Bagas dingin.
Jiai terdiam, tapi sedetik kemudian dia menjawab perkataan Bagas tadi.
"A-aku ti-dak ber-maksud untuk ikut campur de-ngan uru-san-mu," ah sial mengapa dirinya sangat gugup. Jiai pun berusaha untuk tidak gugup lagi.
"Tapi, ada baiknya kau ceritakan masalahmu kepada orang-orang yang benar-benar kau percayai, Karena itu semua bisa meringankan bebanmu Kau juga bisa meminta saran dari mereka atas masalahmu ini. Menyimpan masalah sendirian itu tidak baik karena psikis mu bisa terganggu nanti," saran Jiai panjang lebar.
"Tidak ada manusia yang bisa kupercayai di dunia ini termasuk keluargaku sendiri," jawab Bagas dingin dan datar.
"Sudahlah aku lelah dan ingin istirahat. Bisakah kau untuk diam dan keluar dari ruangan ku sekarang?" Usir Bagas tajam sedangkan Jiai hanya mengelus dadanya. Berusaha untuk sabar dari perkataan Bagas yang tajam itu.
"Baiklah aku akan pergi, tapi kalau kau berubah pikiran dan mulai terbuka kau boleh menghubungiku dan menceritakan masalahmu kepadaku," ujar Jiai, tapi tidak ada jawaban dari Bagas. Bagas hanya diam.
Sadar akan hal itu Jiai pun memilih untuk keluar dari ruangan Bagas. Dia seakan pasrah sepertinya Bagas tidak akan mau bercerita dengannya.
Jiai kembali ke ruangannya dia mulai merogoh benda pipih di saku bajunya. Dan mulai menghubungi sahabatnya Clara.
Clara adalah sahabat Jiai tempat dimana dia sering curhat dan berbagi masalah.
Jiai sudah bersahabat kepada Clara sejak masa kuliah dulu.
"Hallo Clar apa kamu ada waktu sekarang?"
"Iya ada kebetulan juga aku lagi cuti Ai."
"Oh begitu apa kamu mau ke caffe sekarang?"
"ke caffe? Tumben kamu ngajak aku pergi ke caffe di jam-jam sekarang ai?"
"Hem enggak kok aku cuman ingin cerita."
"Oh begitu, memangnya sepenting apa sih ceritanya?"
"Penting banget yaudah Kamu ke Caffe yah sekarang."
"Oke kita ketemuan sekitar 20 menit lagi yah."
__ADS_1
"Yes, im waiting you."
Jiai mematikan sambungan teleponnya dan bersiap-siap untuk pergi ke Caffe.
---
Jiai tiba di caffe lebih dulu dia menunggu sahabatnya Clara sambil bermain handphone. Kebiasaan Clara, kalau janjian suka sekali ngaret.
Berbeda dengan Jiai kalau dia sudah ada janji. Maka dia akan cepat-cepat bersiap untuk menepati janji itu.
"Udah lama nunggu Ai?" Tanya Clara, kemudian duduk di kursi yang ada dihadapan Jiai.
"Kebiasaan banget sih ngeret," gerutu Jiai sambil memajukan bibirnya sedikit kesal.
"Duh jangan ngambek dong yaudah deh aku minta maaf," ujar Clara.
"Traktir ice cream dulu yah. Baru dimaafin," pinta Jiai dengan cengiran khasnya.
"Yehh, itukan mau kamu," Clara hanya geleng-geleng kepala.
"Ayo dong," pinta Jiai lagi.
"Hem yaudah deh aku traktir ice cream. Tapi kamu cerita dulu ke aku. Apa sih yang mau kamu ceritakan? Kayaknya penting banget," Clara sangat kepo sekarang. Tidak biasa-biasanya Jiai mengajaknya ketemuan hanya untuk bercerita.
"Janji setelah aku bercerita, kamu traktir ice cream?"
"Iya janji," balas Clara.
"Jadi, gini tadi pagi aku itu enggak sengaja ketemu sama cowok. Dia itu sangattt tampannn, dengan aura yang sangat kuat," Jiai mulai bercerita, sedangkan Clara hanya menyimaknya saja.
"Terus?"
"Kayaknya aku suka deh sama dia," jujur Jiai.
"Terus?"
"Tapi, kayaknya dia enggak suka sama aku karena sifatnya itu yang sangat dingin," Jiai menghela napas pelan, ketika mengingat bagaimana sifat Bagas tadi.
"Memangnya sedingin apa sih? Sampai-sampai kamu kayak gitu? 'kan biasanya cowok yang sering ngejar-ngejar kamu," Clara sangat penasaran dengan cowok yang diceritakan oleh Jiai itu.
"Yah gitu deh pokoknya dingin gitu, terus kata-katanya juga tajam," Jiai tampak antusias menceritakan Bagas di depan sosok sahabatnya itu.
"Terus, kamu mau nyerah. Buat dapetin dia?" Tanya Clara.
"Yah enggaklah. Aku enggak bakalan nyerah untuk mendapatkan hati pria dingin itu," ujar Jiai yakin dengan semangat 45 nya.
"Nama cowok itu siapa?"
"Bagas."
"Oh, Bagas."
Clara hanya ber'oh' ria saja.
"Kamu enggak boleh nyerah buat dapetin dia Ai dan harus tetap semangat! Karena kata orang cinta itu tumbuh karena terbiasa, jadi kamu harus terus berusaha untuk naklukin hati dia. Jangan nyerah!" Clara coba untuk memberi semangat kepada Jiai.
"Iya Clar Kamu benar aku harus semangat buat dapetin hati dia!" Ujar Jiai yang juga ikut-ikutan menyemangati dirinya sendiri.
"Semangat!" Ucap Clara.
"Iya semangat!" Ucap Jiai juga tak kalah kencang.
__ADS_1
Kemudian mereka berdua tertawa, entah apa yang lucu, tapi tingkah konyol mereka berdua lah yang membuat hari-hari persahabatan mereka lebih berwarna.