
Danur tak mendengarkan perkataan Jiai. Tangan kanannya beralih mengukung Jiai yang sudah tersudut di dinding itu.
Kini jarak antara dirinya dan Jiai hanya tinggal sejengkal saja.
"Jangan, kumohon," lirih Jiai masih dengan tangisnya. Badannya semakin melemas ketika wajah Danur yang sudah semakin dekat dengan wajahnya.
"Kalau ingin bercinta jangan di rumah kosong ini."
Ucap seseorang tiba-tiba dan sontak saja Jiai dan Danur mengalihkan pandangan ke asal suara itu.
"Kau siapa? Tolong jangan ikut campur dengan urusanku. Pergilah!" Usir Danur secara tegas.
"Baiklah." ucap seseorang itu kemudian hendak pergi. Untuk apa dia ikut campur dengan urusan pria yang tidak dia kenali ini sedangkan masalah hidupnya saja sudah sangat berat, tapi tiba-tiba...
"Bagas to-long aku di-a ingin hiks menya-kitiku." panggil Jiai sesegukan masih dengan air mata yang mengalir deras.
Bagas berhenti melangkahkan kaki, ketika mendengar suara seseorang yang cukup dia kenali itu. Dirinya berbalik arah lagi untuk menghampiri siapa perempuan itu.
Seluruh tubuh Jiai memang tertutup oleh badan Danur, jadi Bagas tidak bisa melihat dengan jelas siapa perempuan yang berada dibawah kukungan pria yang tidak dia kenali ini.
"Kenapa kau berbalik? Kubilang pergi! Jangan ikut campur dengan urusanku!" Usir Danur lagi.
Bagas tak mendengarkan perkataan Danur dirinya segera menghampiri perempuan yang dia kenali ini kemudian menggenggam tangannya. Menuntun perempuan itu untuk pergi dari sini.
Degup jantung Jiai mulai berdetak dua kali lipat, ketika tangannya digenggam oleh Bagas.
Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas menciptakan senyum tipis. Perasaan bahagia itu membuncah dihatinya.
Andai situasinya sedang tidak begini. Pasti Jiai sudah menjerit kegirangan.
"Sudah kubilang jangan ikut campur dengan urusanku! Kau ini tuli atau bagaimana?!" Emosi Danur sudah berada di atas ubun-ubun.
Tapi, Bagas tetap menghiraukan perkataan Danur. Dirinya terus menggenggam tangan Jiai Menuntun Jiai untuk pergi dari sini.
Danur mengepalkan kedua tangannya pertanda emosi. Berani-beraninya pria itu menghiraukan dirinya.
Danur segera mengejar Bagas yang masih bergenggaman tangan dengan Jiai itu. Dirinya langsung menarik pakaian Bagas dari belakang.
Hingga membuat Bagas sedikit terhuyung kebelakang. Tanpa aba-aba lagi Danur langsung menonjok wajah Bagas.
Bugh!
"Bagas!" Teriak Jiai histeris, ketika Danur meninju pipi Bagas dengan sangat keras hingga Bagas tersungkur ke tanah.
__ADS_1
Bagas langsung bangun dari jatuhnya. Dirinya tidak terima kekalahan. Bagas langsung membalas tinjuan dari Danur dengan yang lebih keras.
Bugh!!!
Bugh!
Bugh!
Tepat pada pukulan terakhir Danur langsung tersungkur ke tanah. Dirinya tak berani melawan lagi karena kehabisan tenaga.
Bagas langsung menarik tangan Jiai lagi untuk pergi dari sini.
Bagas tak melepaskan tangan Jiai dirinya terus menggenggam tangan itu, hingga memasuki mobil.
Sedangkan degup jantung Jiai terus meronta-ronta, ketika tangannya yang terus digenggam oleh Bagas.
Goresan-goresan rasa sakit dipergelangan tangannya tadi tidak terasa lagi yang ada hanyalah perasaan bahagia dan hangat.
"Terimakasih Bagas, kalau kau tidak datang tadi aku tidak tau bagaimana nasibku," ucap Jiai ketika telah memasuki mobil sedangkan Bagas hanya diam saja. Bagas tetap fokus ke depan mengendarai mobilnya itu.
Dirinya melirik sekilas pada luka dipergelangan tangan Jiai, kemudian memberhentikan mobilnya tepat disebuah taman.
Jiai terheran-heran mengapa Bagas memberhentikan mobilnya disebuah taman?
"Kenapa berhenti?" Tanya Jiai yang heran.
"Apa? ta-ta-pi kenapa?" Tanya Jiai gugup sekaligus bingung jangan katakan kalau Bagas mengusirnya disini. Ini tidak lucu sama sekali baru saja dirinya bahagia tadi dan sekarang?
Bagas hanya menghela napas kesal kemudian keluar dari mobilnya untuk membukakan pintu mobil Jiai.
"Turun! Apa kau tidak mengerti bahasa manusia?" suruh Bagas lagi seakan tak ingin dibantah.
"I-ya," seakan tak ada pilihan lain, akhirnya Jiai turun dari mobil Bagas dirinya benar-benar merasa terhempas sekarang. Bagai terbang ke pelangi yang indah kemudian dijatuhkan dengan sangat keras.
"Mau kemana?"
Jiai menoleh kepada Bagas lagi dirinya benar-benar dibuat bingung sekarang. Bukannya Bagas tadi mengusirnya, lantas mengapa bertanya seperti itu? Jujur saja Jiai seperti dipermainkan disini.
"Pergi." jawab Jiai.
"Kenapa?" Tanya Bagas yang bingung.
"Bukannya kau mengusirku tadi?" Jiai tambah dibuat bingung sekarang. Sulit sekali menebak jalan pikiran Bagas ini.
__ADS_1
Bagas hanya menghela napas pelan, kemudian mengambil kotak P3K nya di dalam bagasi mobil.
Sedangkan Jiai hanya termenung, ketika melihat Bagas mengambil sesuatu dari bagasi mobilnya itu.
"Ini, kau obati dulu lukamu itu." Titah Bagas sambil menyerahkan kotak P3K itu kepada Jiai.
"I-i-ya." Jiai mengambil kotak P3K itu dari tangan Bagas dirinya telah salah sangka tadi ternyata Bagas tidak mengusirnya. Bagas memberhentikan mobilnya hanya untuk mengobati luka dipergelangan tangannya.
Jiai merasa tersanjung dengan sikap Bagas ini kepadanya. Perasaannya seperti ditarik ulur saja.
Bagas dan Jiai akhirnya duduk dikursi kayu panjang yang ada di taman ini.
Jangan pikir, kalau Bagas sendiri yang akan mengobati luka dipergelangan tangan Jiai seperti yang ada di novel-novel.
Nyatanya Jiai sendiri yang mengoleskan alkohol itu kepergelangan tangannya.
Sementara Bagas dirinya hanya melihat saja.
Setelah mengobati luka dipergelangan tangannya. Jiai mendongak sedikit menatap memar yang ada di pipi Bagas.
"Kau tidak ingin mengobati memar di pipimu juga?" Tanya Jiai kepada Bagas yang hanya diam saja sejak tadi.
"Tidak perlu," jawab Bagas singkat.
"Kenapa?" Tanya Jiai yang heran.
"Malas," Balas Bagas acuh kemudian mengalihkan pandangannya ke hamparan taman yang luas ini.
Baru kali ini Jiai menemukan spesies seperti Bagas yang tidak ingin mengobati lukanya sendiri hanya karena rasa malas. Aneh, begitulah yang Jiai pikirkan.
Entah dapat ide dan keberanian darimana Jiai mengoleskan alkohol itu ke pipi kanan Bagas tanpa sepengetahuannya. Membuat Bagas tersentak kaget kemudian merasakan perih di pipinya.
Bagas langsung menoleh ke arah Jiai dengan pandangan yang tajam sedangkan Jiai sedang mati-matian menahan gugup, dengan detak jantung yang tak beraturan karena jarak diantara keduanya yang hanya tinggal sejengkal saja.
"Sudah kubilang tidak perlu! Kau ini kenapa?!" Bagas menatap tajam Jiai membuat Jiai menghentikan gerakan tangannya. Jiai gemetaran melihat ekspresi marah Bagas.
"Ma-ma-af," Jiai menundukkan pandangannya tak kuasa melihat ekspresi marah Bagas.
Bagas menghela napas berusaha untuk tidak emosi.
"Ayo, akan ku antar kau pulang." Ajak Bagas.
Jiai yang menundukkan kepalanya tadi langsung melihat ke arah Bagas lagi.
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf Bagas. Aku hanya ingin mengobati luka memar yang ada di pipimu bukan bermaksud lain," Jiai merasa tidak enak hati kepada Bagas.
"Lupakan," jawab Bagas kemudian berjalan pergi ke arah mobilnya Jiai terdiam sesaat, kemudian mengejar langkah Bagas dengan cepat karena sedikit tertinggal.