
Abi terus menggedor-gedor pintu rumah itu agar terbuka, tapi tidak ada tanda-tanda akan dibuka.
"Ai! Buka dong, masa kamu tega ngelihat sahabat kamu ini di luar?"
"Pulang aja sana Bi! Aku lagi malas lihat kamu." Teriak Jiai dari balik pintu. Ia mulai jengah sendiri melihat kelakuan Abi.
"Tapi, aku masih belum mau pulang kita jalan-jalan aja gimana?" Saran Abi.
"Oke, tapi ada syaratnya kamu harus traktir aku ice cream sepuasnya, bayarin aku makan sepuasnya, sama beliin aku novel yang aku suka." Ujar Jiai. Sesekali morotin sahabat sendiri tidak apa-apa 'kan!?
"Eh, enggak kebanyakan tuh."
"Kalo enggak mau yaud-"
"Oke-oke aku mau, tapi kamu keluar dong."
"Oke." Jiai membuka pintu rumahnya dengan senyuman sumringah.
"Tunggu sebentar yah Bi aku siap-siap sebentar." Ucap Jiai kemudian langsung pergi ke kamarnya untuk mengganti baju.
"Jangan lama-lama, kalau lama nanti aku tinggal!"
"Aman!"
---
Setelah selesai bersiap-siap Jiai pun segera menemui Abi lagi. Sekarang Abi pasti sedang marah-marah sendiri, karena Jiai yang janjinya cuman sebentar tapi malah lebih dari satu jam dia bersiap-siap.
"Lama yah Bi?" Tanya Jiai sedikit tak enak.
"Enggak, yaudah yuk kita berangkat nanti keburu sore lho."
"Tumben enggak marah?" Batin Jiai.
---
Abi dan Jiai akhirnya pergi menggunakan sepeda motor.
"Kalau kamu lagi dandan kayak gini, kok kayak iklan air mineral yah?"
"Basi!" Ujar Jiai kemudian langsung menoyor kepala Abi dengan sangat kencang membuat Abi meringis kesakitan.
"Kayak ada manis-manisnya gitu," Abi melanjutkan gombalannya tak perduli dengan toyoran yang baru saja mengenai kepalanya.
Jiai hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Eh Bi berhenti."
"Ada apa Ai? Kok berhenti?"
__ADS_1
"Berhenti sebentar!" Ucap Jiai seperti tak tenang.
Abi segera menepikan kendaraan roda duanya ke pinggir jalan.
"Ada apa sih? Kok tiba-tiba kamu minta berhenti disini?" Tanya Abi heran sekaligus bingung.
Jiai segera berjalan pergi dan mengabaikan pertanyaan Abi.
"Kenapa sih?" Batin Abi.
Jiai segera menghampiri pria yang tengah sempoyongan karena mabuk itu, pria itu berada disisi mobilnya sendiri.
Ia segera merangkul pria itu ke pundaknya.
Dia adalah Bagas.
"Bi sini bantuin!" Panggil Jiai kepada Abi yang hanya diam mematung.
Abi langsung berjalan cepat menghampiri Jiai yang tengah merangkul tubuh pria itu.
"Udah sini! Biar aku aja! Masa cewek rangkul-rangkulan sama cowok, enggak Mukhrim!" Abi segera menggantikan posisi Jiai yang merangkul tubuh Bagas.
"Kenapa kalian membenciku? Apa kesalahan yang telah ku' perbuat?"
"Nih, orang mabuk yah Ai?" Tanya Abi.
"Kayaknya," jawab Jiai entah mengapa perasaannya menjadi tak karuan begini, melihat Bagas yang tengah mabuk.
Abi menyetir mobil Bagas, sedangkan Jiai duduk dibelakang bersama Bagas yang sedang mabuk dengan sesekali mengigau.
"Aku memang anak yang enggak berguna!"
"Pantas saja kalian membenciku!"
"Aku tidak pernah ingin dilahirkan ke dunia ini!"
"Bunuh saja aku! Biar kalian senang!"
Bagas memukul dadanya sendiri menggunakan tangan.
Jiai yang melihat itu langsung meneteskan air mata. Ternyata dibalik sifat dingin dan cuek Bagas selama ini tersimpan luka yang mendalam. Ia telah salah menilai Bagas selama ini.
Jiai langsung memegangi kedua tangan Bagas, agar Bagas berhenti untuk memukuli dadanya sendiri.
Abi melirik sekilas kebelakang, kemudian fokus menyetir lagi. Baru pertama kali ini dirinya melihat Jiai menangis hanya karena seorang pria.
Setelah sampai di rumah Bagas Abi dan Jiai langsung meletakan tubuh Bagas di atas sofa.
"Ayo kita pulang, disini ada pembantunya yang menjaga," ajak Abi.
__ADS_1
"Aku enggak mau pulang Bi, kamu duluan aja kalau mau pulang aku masih mau disini," pinta Jiai serak, karena habis menangis.
"Tap-"
"Enggak Bi, kalau kamu mau pergi, pergi aja aku masih mau disini," pinta Jiai lagi.
"Ya udah aku temenin kamu disini," Abi kembali duduk di sofa.
"Kalian ini siapanya Bagas?" Tanya salah satu pembantu Bagas Bi Surti.
"Kami temennya Bagas Bi," jawab Jiai.
"Oh, iya kalau kalian mau pulang. Pulang aja ndok. Ada bibi yang jagain disini," ucap Bi Surti.
"Tapi, Bi-"
"Udah enggak apa-apa, kalian pulang yah?" Bukan maksud Bi Surti untuk mengusir, tapi karena hari yang memang sudah menjelang sore. Tidak baik anak gadis orang main ke rumah lelaki malam-malam.
"Tuh, Ai dengerin Bi Surti bilang. Kita pulang yah?" Ajak Abi lagi.
Seakan pasrah akhirnya Jiai memilih untuk pulang.
Tidak apa-apa ia disuruh pulang yang penting dirinya tau dimana rumah Bagas.
---
"Cowok itu tadi siapa namanya Ai?" Tanya Abi sambil melihat kearah Jiai. Mereka menaiki taxsi untuk mengambil kendaraan motor.
"Bagas," jawab Jiai. Sambil terus melamun memikirkan Bagas tadi. Kasihan sekali ia dibenci oleh keluarganya sendiri. Jiai tidak akan bisa membayangkan, jika dirinya menjadi Bagas.
"Kamu kenapa sih Ai ngelamun terus? Mikirin Bagas tadi?" Tanya Abi karena melihat Jiai yang sedari tadi hanya melamun saja.
"Iya, kasihan sekali dia Bi. dibenci oleh keluarganya sendiri," ujar Jiai, " Aku tidak bisa membayangkan, kalau itu adalah diriku sendiri."
"Setiap manusia itu Allah uji dengan batas kemampuannya masing-masing, jadi kau tidak boleh berpikir seperti itu. Mungkin dari sudut pandang yang kamu lihat masalah itu terlalu berat untuk dirinya, tapi Allah maha mengetahui dia tau segalanya. Allah tau kalau dirinya mampu melewati setiap ujian yang Allah berikan. Jadi, tugas kita adalah membantu dengan sekuat tenaga, atau kalau tidak bisa membantu kita bisa mendoakan kebaikan untuk dirinya lewat doa-doa yang kita panjatkan," ucap Abi panjang lebar.
Jiai terdiam hampir tak percaya dengan yang ia dengar barusan. Itu benar sahabatnya Abi kan? Atau itu jin yang memasuki tubuh Abi?
"Ini beneran Abi?" Tanya Jiai tak percaya sedangkan Abi hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Ya, iyalah ini Abi, masa penunggu laut selatan," ucap Abi malas.
"Sahabat aku kok bijak banget sih?" Mata Jiai berbinar perasannya jadi sedikit tenang mendengar kata-kata Abi barusan.
"Ya iyalah Abi. Kamu baru sadarkan? Kalau sebenarnya Abi itu bijak, ganteng, kaya, pintar lagi," ucap Abi melebih-lebihkan.
"Baru aja dipuji dikit sombongnya udah setinggi langit," Jiai jadi mendelik kesal, baru saja dirinya merasa kagum kepada Abi, tapi rasa kagumnya itu sirna seketika mendengar ucapan pede Abi tadi.
"Hehe, tapi langsung enggak sedih lagi kan mendengar kata-kata aku tadi?"
__ADS_1
Jiai tersenyum tipis, "Iya-iya," Ucapnya.