
Jiai menoleh sedikit ke arah Bagas yang sedang fokus menyetir itu, kemudian melihat ke arah depan lagi. Jalanan sangat sepi karena hari yang sudah malam.
Bagas itu orangnya datar, cuek, sedikit kasar perkataannya, dingin, dan tak tersentuh, tapi Jiai suka.
Hening...
Tidak ada pembicaraan antara mereka berdua.
Bagas yang memang malas untuk bicara dan Jiai yang bingung untuk memulai pembicaraan dengan apa.
"Setelah ini belok kemana lagi?" Tanya Bagas karena memang dirinya tidak tau jalan untuk ke rumah Jiai.
"Kiri," jawab Jiai tanpa menoleh sedikitpun ke arah Bagas.
Bagas segera berbelok arah ke kiri.
Hingga tibalah mereka ke perumahan Pancanaka green garden.
Bagas menghentikan mobilnya.
"Terimakasih Bagas untuk tumpangannya dan terimakasih banyak telah menyelamatkanku tadi," ucap Jiai sambil tersenyum tulus, sedangkan Bagas hanya diam tak menanggapinya.
Sadar akan Bagas yang tak menanggapi, akhirnya Jiai keluar dari mobil.
"Hati-hati dan terimakasih banyak," ucap Jiai lagi sementara Bagas masih tetap diam saja.
Jiai menghela napas, ketika mobil Bagas yang sudah menghilang dari pandangannya. Bagas tidak menjawab ucapannya sepatah katapun.
Jiai segera memasuki rumahnya.
"Darimana kamu Ai? Kok baru pulang sekarang?" Tanya Hellen mama Jiai sambil berdiri di ruang tamu. Matanya menatap dengan penuh selidik disertai perasaan khawatir tentunya.
"Aku da-dari. Hem dari rumah sakit lah ma," bohong Jiai dirinya tidak mau membuat sang mama khawatir.
"Kok baru pulang jam segini?" Tanya Hellen lagi.
"Itu ta-tadi kerjaan Jiai lagi banyak ma."
"Beneran? Kamu enggak bohongin mama kan?" Hellen menatap dengan penuh curiga.
"Iya ma Jiai ke kamar dulu yah," pamit Jiai sedangkan Hellen hanya menggelengkan kepala. Belum selesai dirinya berbicara main langsung pergi saja.
"Nih anak, belum selesai orang tua ngomong udah nyelonong pergi aja." Gumam Helena kemudian beranjak ke dapur untuk minum.
Jiai merebahkan tubuh di atas kasur ukuran king size miliknya kemudian membuka ponsel.
Abintang-bintang superstar halu.
...
...
"Dah malam ngapain belum tidur? nanti digigit belatung lho, eh salah maksudnya hantu."๐๐น๐ป๐ป
Jiai hanya menggelengkan kepalanya pelan, melihat gambar yang Abi kirimkan itu.
"Enggak takut tuh, sama gambar yang kamu kirim."
"Ya udah๐ dompet kamu tadi udah ketemu?"
Ingin rasanya Jiai memusnahkan Abi dari muka bumi ini. Kemana Abi disaat dirinya bertanya hal yang penting tadi?
"Y."
"Marah nih ceritanya?"
__ADS_1
"Sahabat macam apa kamu? Aku mau nanya yang penting tadi bukannya jawab malah tiba-tiba cuek. Dasar sahabat enggak ada akhlak.๐พ๐พ๐พ"
"Ya udah aku minta maaf deh, tadi itu aku ada keperluan mendadak. Maafkanlah sahabat mu yang paling tampan sedunia ini."
"Hem."
"Masih marah?"
"G."
"๐๐๐Andai aku bisa berenang๐๐๐."
"Maksudnya?"
"Maksud aku. aku ingin menyelamatkan ikan-ikan yang tenggelam.๐"
"Dasar Abi gila, enggak waras!๐พ๐พ๐พ"
"wkwkwkwk๐คฃ๐คฃ๐คฃ ngakak๐คฃ๐คฃ๐คฃ"
Jiai langsung menutup ponselnya. Malas melayani Abi yang soplak plus bobrok. Ia segera beranjak ke kamar mandi untuk menyelesaikan ritual mandi badannya serasa lengket semua.
Selesai mandi Jiai langsung merebahkan tubuhnya lagi. Sangat melelahkan hari ini.
Dirinya masih memikirkan kejadian tadi untung saja Bagas datang, kalau tidak dirinya tidak tau apa yang akan terjadi.
Tanpa ia sadari bibir tipis itu mengembangkan senyuman kecil. Teringat Bagas yang menggenggam tangannya tadi ingin rasanya menjerit sekarang tapi ditahan.
Jiai membanting-bantingkan bantal.
"Kyaaaa!" Jeritnya menyalurkan perasaan senang kemudian menutup wajahnya dengan bantal.
Aneh padahal bukan anak ABG lagi, tapi rasanya sangat membahagiakan dirinya terus tersenyum membayangkan perlakuan Bagas tadi, kemudian menatap tangannya yang digenggam oleh Bagas.
"Bagas itu dingin dan cuek, tapi manis." Gumam Jiai seraya tersenyum seperti orang gila.
Jiai mengetuk-ngetuk dagunya pelan menggunakan jari telunjuk, seraya memikirkan hal apa yang akan dia lakukan untuk membalas perbuatan baik Bagas tadi.
"Apa aku bikinin nasi goreng aja yah besok?" Terdiam sejenak." Duh, tapi 'kan aku enggak tau rumah sama kantor Bagas," Jiai memukul pelan kepalanya sendiri, "******?"
"Apa aku chat aja? arghhh nanti cuman diread saja."
Jiai jadi serba salah.
Dan Jiai tidak tidur semalaman hanya karena memikirkan bagaimana cara mengambil hati Bagas.
ย ---
Abintang-bintang superstar halu
Bangun!
Bangun!
Bangun!
Udah subuh!
Kamu enggak shalat subuh?
Bangun!
Bangun!
Woi bangun!!!
Ck Dasar!
__ADS_1
Bangun!
Mau jadi apa negara ini, kalau ibu Dokternya aja malas bangun kayak kamu!
Bangun!
Bangun!
Negara ini butuh sosok Dokter yang disiplin
"Siapa sih jam empat pagi udah nyepam chat aja?" Jiai mengambil ponselnya setelah selesai mandi. Baru saja dirinya mengambil mukenah untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Tapi, Handphon yang dari tadi terus berisik menghentikan aktivitas nya untuk mengambil mukenah. Ia cepat-cepat menghampiri ponsel itu
Setelah membuka nofikasi yang dikirim oleh seseorang itu. Yah, siapa lagi kalau bukan Abi dirinya memutar kedua bola mata malas dan dengan ogah-ogahan membalas pesan Abi itu.
"Berisik Bi!"
"Wkwkwkwk๐ makannya bangun."
"Udah lama aku bangun Lagian tumben banget sih kamu bangunin aku sepagi ini biasanya aja, kalau dulu pas jaman kuliahan kamu selalu terlambat ke kuliahan karena malas bangun.๐"
Dulu Abi memang selalu terlambat ke kuliahan ketika ada kelas pagi. Bukan terlambat lebih tepatnya sebelum dosen datang 2 menit lagi Abi langsung duduk di kursi belajarnya.
"Bangun pagi salah bangun siang salah, emang paling bener bangun rumah tangga sama kamu.๐ค"
"Yang paling bener itu enggak usah bangun Bi. Tidur aja selamanya:)"
"Kamu nyumpahin aku mati?"
"Iya!๐ "
"Jahat banget sih sama sahabat sendiri.๐"
"Biarin kamu suka bikin aku kesal!๐ค"
"Kumenangisss membayangkan betapa kejamnya dirimu atas hidupku.๐ญ"
"Yaallah Bi, kok lama-lama kamu tambah soplak sih?"
"๐๐๐."
Allahuakbar Allahuakbar.
Tak lama setelah itu azan berkumandang. Menghentikan aktivitas Jiai dan Abi yang saling menge chat itu.
"Udahlah Bi udah azan aku mau shalat subuh dulu."
"Oke, nanti aku jemput yah!"
"Enggak usah Bi aku pergi naik mobil aku aja."
"Enggak ada penolakan!"
Jiai hanya menghela napas pasrah tidak ada gunanya berdebat dengan Abi. Laki-laki itu terlalu pintar untuk mematahkan argumen dirinya.
ย ----
Sesekali Abi melirik ke arah Jiai yang tengah tersenyum seperti orang gila itu. Ia mengernyit bingung ada apa dengan Jiai?
"Kamu kenapa cengar-cengir dari tadi, setres yah?" Tanya Abi sambil mengernyit bingung.
Jiai menoleh ke arah Abi. "Kepo!" Ucapnya, kemudian melanjutkan cengiran tadi.
Setelah sampai di depan rumah sakit Abi dan Jiai segera turun dari mobil.
"Tunggu sebentar Bi." Saat akan memasuki rumah sakit tiba-tiba Jiai melupakan sesuatu. Dompet, iya dompet. Dompetnya tertinggal di mobil Abi tadi.
__ADS_1