
"Hem, Bi. Menurut kamu bagus yang ini apa yang ini?" Jiai tak mengalihkan pandangannya dari handphone.
"Apaan?" Tanya Abi yang belum tau. Ia mengalihkan pandangan pada handphone Jiai, kemudian Mendekat ke arah pandang Jiai tapi tak sengaja kepalanya mengenai kepala Jiai, hingga terbentur sedikit.
"Aduh!" Ringis Jiai dan Abi bersamaan.
"Ih, Abi! Hati-hati dong! Nanti, kalau aku geger otak gimana?" Jiai mengelus kepalanya pelan.
"Yah, mangapppp. Enggak sengaja," ucap Abi, kemudian tertawa kecil. Ada-ada saja memangnya terbentur sedikit bisa sampai geger otak?
"Enggak lucu Bi! Enggak lucu!" Jiai kesal sendiri. Apa yang selalu Abi tertawakan itu tidak ada yang lucu menurutnya.
"Iya, memang enggak lucu yang lucunya itu kamu karena mirip sama anak kucing," Abi terkekeh kecil.
"Iya jelaslah aku 'kanĀ imut," Ucap Jiai dengan Pe'De 'nya.
"Bukan."
"Terus?"
"Suka berak sembarangan!" Sembur Abi kemudian tertawa kencang, Abi tak kuasa untuk tidak tertawa kencang. Ini lucu sekali menurutnya, bahkan sudut matanya sampai berair.
Pletak!!!
Jiai menjitak kepala Abi dengan keras, hingga Abi meringis kesakitan dan berhenti tertawa.
"Wah KDRT namanya Ai. Sakit banget asli," ucap Abi sambil mengelus pelan kepalanya yang di' jitak oleh Jiai tadi.
"Rasain, memang enak?!!"
"Enak kok, asal kamu yang jitak," Abi nyengir sambil menaikkan turunkan alisnya ia semakin gencar untuk menggoda Jiai. Menurutnya wajah kesal Jiai adalah hal yang terindah sekaligus hal terlucu di dunia ini.
"Oke, mau di jitak lagi?" Jiai sudah siap mengepalkan tangannya dan hendak men' jitak Abi lagi, tapi sahabat ter' enggak ada akhlaknya itu sudah lari duluan.
Sial!
Abi mau bermain-main dengan dirinya ternyata. Oke, Jiai akan mengejar Abi.
Jiai tidak perduli lagi dengan pandangan orang-orang di caffe ini. Yang jelas dirinya kini benar-benar ingin men' jitak kepala sahabat ter'enggak ada akhlaknya itu.
Bruk!!!
Tanpa sengaja ia menabrak seseorang, hingga membuat ia terjatuh sendiri. Sedangkan orang itu tidak terjatuh dan tetap berdiri.
"Aduh," ringis Jiai, ketika bokongnya menyentuh lantai caffe. Jangan tanya bagaimana reaksi para penghuni caffe ini sudah pasti tertawa kencang menertawai Jiai sang dokter umum. Miris sekali dan memalukan. Sakitnya tak seberapa tapi malunya yang luar biasa.
__ADS_1
Jiai mendongakkan kepalanya dan menatap seseorang yang baru saja dia tabrak tadi. Ia sangat terkejut dan malu sekali ternyata dia adalah.
"Bagas?"
Bagas sedikit terkejut melihat orang yang baru saja menabrak dirinya. Tapi sesaat kemudian dia berekspresi datar kembali.
"Dasar ceroboh!" Cetusnya kemudian melanjutkan langkah kaki.
"Astaghfirullah malu banget! Awas kamu Abi!" Jiai Membatin.
Ia segera berdiri bangkit walaupun rasa sakit di pantat masih sangat terasa.
"Tunggu Bagas!" Jiai mengejar Bagas dan menyamakan langkah kakinya. "Maaf aku tidak sengaja menabrakmu." Cetusnya ia tidak peduli dengan tatapan-tatapan orang caffe yang menatapnya aneh, bahkan ada yang mengejek.
Sedangkan Bagas tetap melanjutkan jalannya ia tetap menghiraukan panggilan-panggilan dari Jiai.
"Tunggu Bagas aku minta maaf!!" Jiai menghadang jalan Bagas dengan merentangkan kedua tangannya.
Jalan Bagas terhenti, "apa-apaan dokter gila ini?" Batinnya Ia sedikit tersentak kaget.
"Minggir!" Perintah Bagas dingin dengan tatapan mematikan.
"Tidak akan sebelum kau memaafkanku."
"Kubilang sekali lagi minggir!!" Bagas menaikan suaranya menjadi satu oktaf.
"Apa kau tak mengerti bahasa manusia? Aku bilang minggir yah minggir! Dasar tidak tau malu wanita murahan!!" Cetus Bagas mengalir pedas dan menyakitkan.
Jiai terdiam mendengar perkataan Bagas barusan. Dadanya serasa tertusuk oleh ribuan paku, hingga rasa sesak itu seakan menghantam dadanya begitu keras. Tanpa ia sadari air mata itu jatuh merembes hingga ke pipi dan mengalir deras.
Semua orang di Caffe ini tampak heboh menyaksikan tontonan gratis seperti ini, layaknya di bioskop.
Plak!!!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Bagas. Bagas sedikit terkejut dengan tamparan yang baru saja dia peroleh.
"Jaga bicara anda! Apa mulut anda tidak disekolahkan? Saya bukan wanita murahan niat saya baik hanya untuk meminta maaf, tapi sepertinya tidak ada gunanya meminta maaf kepada orang yang tak memiliki hati seperti anda!" Jiai berbalik dan hendak pergi, tapi ia kembali menoleh, "Dan satu hal lagi saya menyesal telah jatuh cinta pada orang yang tidak memiliki hati seperti anda." Jiai segera berlari dari kerumunan orang Caffe ini.
Bagas hanya diam ketika dimaki-maki oleh Jiai dia menatap nanar, ketika punggung itu yang telah menghilang dari pandangannya.
Apa hati ini telah mati?
"Apa yang kalian lihat? Bubar semua!" Titah Kibo asisten kepercayaan Bagas. Semua orang pun bubar.
"Bos, apa Bos tidak apa-apa?" Tanya Kibo panik.
__ADS_1
"Jangan ganggu saya sekarang." Ucap Bagas dingin kepalanya terasa pening.
---
"Lah Ai kok kamu nangis?" Tanya Abi bingung sekaligus khawatir melihat Jiai yang datang dalam keadaan menangis seperti ini.
Jiai langsung memeluk tubuh Abi dengan tangisannya yang tumpah.
"Sakit Bi hiks," tangis Jiai dengan sesegukan rasanya begitu menyesakkan, ketika mendengar perkataan menyakitkan dari orang yang kita cintai.
Kedua tangan Abi membalas pelukan Jiai dan mengusap-usap punggung itu berusaha untuk menenangkan.
"Iya sakit, tapi sakit kenapa?" Tanya Abi lagi.
"Di-dia jahat hiks," ujar Jiai lagi masih sesegukan entah mengapa rasanya sangat menyakitkan.
"Iya siapa yang jahat Ai?" Abi frustasi sendiri sungguh ia tidak tega melihat keadaan sahabatnya ini yang menangis.
Jiai diam dan hanya menangis sesenggukan rasanya dia tidak sanggup untuk bercerita. Dadanya merasakan sesak luar biasa.
Paham akan hal itu sepertinya Jiai sedang tidak ingin bercerita.
"Yaudah kalau kamu belum mau cerita. Kita masuk ke mobil yah?" Ajak Abi lembut yang dibalas anggukan oleh Jiai.
---
Pikiran-pikiran Abi kini dibuat bingung dan khawatir. Apa sebenarnya yang membuat Jiai menangis?
Dan lihatlah sekarang dia hanya melamun seperti mayat hidup yang tak bernyawa.
"Ai kamu kenapa? Jangan buat aku khawatir. Siapa yang udah buat kamu nangis?" Entah sudah berapa kali Abi bertanya seperti itu, tapi tak ada jawaban dari Jiai.
"Ai." Panggil Abi lagi, tapi tetap tak ada jawaban. Abi hanya menghembuskan napas pelan.
Setelah sampai di depan rumah Jiai dirinya tetap diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Abi kembali menghembuskan napas pelan. Pikiran-pikiran bingung itu memenuhi dirinya kini.
Jiai membuka pintu mobil Abi, tapi tangannya langsung dicekal oleh Abi.
"Kamu kenapa Ai?"
Jiai langsung melepas cekalan tangan Abi, "Aku lagi pengen sendiri Bi," Pinta Jiai lemah.
"Iya Ai, tapi kalau kamu mau cerita. Cerita yah siapa tau aku bisa bantu masalah kamu," ujar Abi lembut dan hanya dibalas anggukan oleh Jiai.
Abi menatap punggung Jiai hingga menghilang dari pandangannya. Lalu, menghembuskan napas pelan.
__ADS_1
"Aku akan selalu menjaga dan melindungi mu Ai."