
"Ehem! Betulkan seperti itu?!"
Chat dari Bagas tersebut memecah kelamunan Jiai, ia baru sadar kalau sedari tadi pesan-pesan Bagas itu hanya dia read saja.
"Iya."😅
Read.
Abintang-bintang superstar halu.
"Ingin hidup sehat? ingin hidup bugar? ayo! Minum Baygon sekarang! Dijamin hidup anda tidak akan sakit-sakitan lagi, karena cinta yang ditolak dan dijamin anda akan abadi selamanya di alam bakar. Ayo!!! Tunggu apalagi beli dan minum Baygon sekarang!!! Stok terbatas!!!"
"Dimana ada jualannya Bi?"
"Di warung banyak:v"
"Oh, oke nanti aku beli:)"
"Jangan beli nanti sekarang aja belinya Ai."
"Oke OTW."
"Tapi bohong."😜
"🙄🙄🙄😏😏😏."
Jiai langsung menutup ponselnya dan segera bergegas untuk tidur, karena besok banyak pekerjaaan yang menantinya.
---
Keesokan harinya matahari terbit seperti biasa, berwarna jingga seperti biasa dan semuanya serba biasa. Termasuk Jiai gadis itu melakukan kegiatannya seperti biasa.
Ets! Tapi, ada yang tidak biasa ini adalah hari kedua dirinya pergi ke rumah Bagas untuk membawakan bekal makanan.
Yah, sebenarnya untuk apa dirinya susah-susah membawakan Bagas bekal, toh banyak pembantunya juga yang bisa memasakan Bagas bekal.
Tapi, apa salahnya dia usaha?
Senyuman itu tak pernah luntur menghiasi bibir tipisnya.
Membuat Abi bergidik ngeri.
"Gila yah? Kalau gila pergi aja sana ke rumah sakit jiwa. Mobil aku enggak bisa nampung orang gila," ucap Abi dengan nada menyebalkan.
Jiai tak menggubris perkataan Abi meskipun itu terdengar menyebalkan di telinganya, toh tidak ada gunanya ia melayani perkataan Abi. Itu hanya membuat dirinya dan Abi berdebat saja dan ujung-ujungnya otaknya sendiri yang semakin panas berdebat dengan Abi.
"Kita singgah ke rumah Bagas sebentar yah Bi," ucap Jiai dengan senyuman yang tak pernah luntur dibibir itu.
__ADS_1
Abi mendengus kesal, "Enggak ada Ai. Kita udah telat."
Jiai mendelik kesal, kemudian membuang pandangannya pada Abi.
"Telat dari Hongkong! Jelas-jelas ini masih jam setengah tujuh Bi, dan kita dinasnya jam setengah delapan itu berarti masih ada waktu satu jam lagi kan? Telat darimana?" Sanggah Jiai.
"Ya udah, turun aja kamu di sini, kalau mau ke rumah Bagas lagi. Aku enggak mau," ucap Abi dia yakin seratus persen, kalau Jiai tidak akan turun dan lebih mendengarkan perkataannya untuk tidak ke rumah Bagas.
"Oke," jawab Jiai seakan tak ada beban.
"Apa?! Serius kamu mau turun?" Abi tak percaya, kalau Jiai benar-benar ingin turun dari mobilnya, padahal ia yakin tadi kalau Jiai tidak akan berani turun dari mobilnya hanya sekedar untuk pergi ke rumah Bagas.
"Iya! Turunin aku disini!"
"Kamu lebih milih Bagas Ai? Daripada sahabat kamu sendiri?" Tanya Abi dengan tatapan sedikit memelas.
Jiai terdiam ia jadi serba salah jadinya. Haruskah dia turun dari mobil Abi dan membawakan bekal Bagas, atau lebih memilih disini bersama Abi?
"Ya udah, aku disini," Jiai tidak bisa untuk memilih Bagas, karena bagaimana pun juga Abi adalah sahabatnya. Sahabatnya dari masa kuliah dulu. Orang yang lebih dulu ia temui.
Jiai sebenarnya sedih tidak jadi mengantarkan Bagas makanan, tapi apa boleh buat sahabat lebih penting menurutnya daripada cinta.
---
Bagas melirik ke arah jam dinding dan sekarang sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
"Apa Dokter gila itu tidak jadi membawakanku bekal?" Bagas membatin.
"Bi, apa tadi ada Dokter kemarin yang nitipin bekal?" Tanya Bagas.
Bi Surti menggelengkan kepala, "Enggak dan Den."
Seperti ada perasaan mencelus di hati Bagas. Apa Dokter gila itu ingkar janji, atau lupa?
"Oh, iya Bi, kalau begitu. Saya berangkat dulu yah," pamit Bagas.
"Iya, Den. Hati-hati yah Den," peringat Bi Surti dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Bagas.
Pikiran Bagas tak menentu. Ia masih kepikiran yang tadi. Apa Dokter gila itu benar-benar lupa? Atau Dokter gila itu sudah tidak menyukainya lagi?
Memikirkan itu membuat ia semakin pusing saja.
---
"Mau tambah baksonya Ai?" Tanya Abi pada Jiai yang hanya diam saja sejak tadi.
"Enggak, Bi. Udah cukup aku udah kenyang," jawab Jiai tak bersemangat. Ia tadi sangat ingin membawakan Bagas bekal, karena ia sudah mati-matian belajar resep untuk membuat rendang terenak dari internet, tapi sialnya bekalnya tadi habis dimakan oleh Abi.
__ADS_1
"Kamu marah bekalnya tadi aku makan?" Tanya Abi yang tepat sasaran sebenarnya bukan marah, hanya dirinya sedikit kesal dan tak bersemangat untuk sekarang.
"Enggak Bi. Siapa yang marah, lagian ngapain aku marah. Kamu kan sahabat aku. Jadi, wajar kan kamu makan masakan aku," ucap Jiai berbohong.
Abi tau sebenarnya Jiai berbohong, tapi ia lebih memilih untuk berpura-pura tidak tau mengenai itu. Katakan dia egois, tapi perasaan Abi sesak ketika baru pertama kali mendengar kalau Jiai menyukai orang lain diri Abi seperti tidak terimah.
Awalnya Abi tidak memperdulikan tentang perasaan sesaknya ini, tapi lama-kelamaan perasaan sesak itu semakin menjadi-jadi. Dan kini ia baru menyadari, kalau sebenarnya perasaan sesak itu adalah karena dia cemburu dan telah jatuh cinta pada Jiai.
"Yuk pulang," ajak Jiai.
"Oke, tunggu sebentar aku bayar dulu baksonya yah?" Ujar Abi dan hanya dibalas anggukan oleh Jiai.
Tapi, pandangan Jiai tak sengaja melihat Bagas yang seperti berjalan ke arahnya. Jiai segera menepis pikirannya yang sudah tidak waras lagi. Mana mungkin itu Bagas?
"Kau? Kau sedang apa disini?" Tanya Bagas kepada Jiai yang memandanginya tak berkedip.
"Hei! Kau sedang apa disini?!" Tanya Bagas lagi karena tidak ada sahutan.
"Ha? Iya? Apa?" Tanya Jiai tersadar dari kelamunannya, ini ternyata nyata bukan khayalannya semata.
"A-a-ku habis makan Bakso," jawab Jiai gugup.
Arghhh sial mengapa detak jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan, padahal ia hanya berhadapan dengan Bagas. Tapi, aneh rasanya seperti ada kupu-kupu yang mengelilingi perutnya.
"Oh, kau sudah selesai makan baksonya?" Tanya Bagas lagi.
"Iya, hehe. Kamu mau makan bakso juga disini?" Tanya Jiai balik.
"Iya, aku mau, tapi sayang enggak ada yang nemenin. Jadi, enggak jadi. Ya udah, aku pamit balik yah?" Pamit Bagas.
"Tunggu!"
Bagas berbalik lagi ke arah Jiai.
"Iya?"
"Kalau kau tidak keberatan. Aku mau nemenin kamu makan bakso," ucap Jiai. Semoga saja Bagas mau!
"Benarkah?" Tanya Bagas sambil menaikkan alis sebelah kanan.
"Iya!" Entah terlalu bersemangat atau apa, tapi kata-kata Jiai tadi seperti ngegas.
"Em, maksudku--- iya aku mau," Jiai bersuara dengan nada lemah lembut, tapi terkesan seperti dibuat-buat.
Bagas tersenyum samar dia nyaris ingin tertawa mendengar ucapan Jiai itu yang seperti dibuat buat, tapi masih dapat dia tahan.
"Ternyata Dokter gila ini lucu juga," batin Bagas.
__ADS_1
"Enggak ada ditemani! Ai kamu balik sekarang sama aku!"
"Abi?!"