I Love You Pengacara Es!

I Love You Pengacara Es!
4. Sebuah Notif Pesan


__ADS_3

Bagas merebahkan tubuhnya di atas kasur king size miliknya sendiri. Dirinya memiliki hunian rumah yang tidak bisa dibilang tidak mewah.


Bahkan terbilang sangat mewah. Rumah Bagas bertingkat 2, memiliki bagasi mobil yang luas, kolam renang serta halaman rumah yang luas.


Dan jangan lupakan taman yang selalu dirawat dengan teliti oleh Petugas Kebun yang digaji oleh Bagas.


Bagas memiliki semuanya dia sempurna hanya satu kekurangannya yaitu keluarga.


Bagas tidak memiliki keluarga satu 'pun ah lebih tepatnya bukan tidak memiliki keluarga. Tapi, tidak diakui oleh keluarganya sendiri.


Menyedihkan bukan? Tidak diakui oleh keluarga sendiri.


Bagas menghela napas lelah dia memejamkan matanya tak terasa air matanya luruh seketika, "Sampai kapan kalian akan membenciku?" Rasanya begitu menyesakkan.


Tiba-tiba handphone Bagas yang ada di Nakas berbunyi menghentikan kelamunanya.


Bagas 'pun menghapus air matanya secara kasar dan segera mengambil ponselnya. Siapa yang meneleponnya malam-malam begini? Pikir Bagas.


"Hallo, ini siapa yah?"


"I-ni a-ku Dokter Jiai."


Bagas menghela napas kesal mood nya yang sedang buruk bertambah buruk lagi.


Entah mengapa dirinya begitu kesal, Jika itu berhubungan dengan Dokter aneh dan gila itu.


"Ada apa?"


"Save Back yah."


"Iya."


Bagas langsung mematikan teleponnya secara sepihak. Mengapa Dokter itu selalu mengganggunya? Pikir Bagas.


 ---


Sebenarnya Jiai tadi takut untuk menghubungi Bagas duluan, tapi dia coba untuk memberanikan diri.


Dan, akhirnya? Ah sudahlah Jiai tetap bersyukur nomornya sudah disimpan oleh Bagas.


Jiai masih tidak menyerah dia kembali menghubungi Bagas. Tapi, kali ini bukan dengan cara menelepon melainkan hanya sekedar chat saja.


"Apa kamu sudah tidur? Kalau sudah tidur mimpi indah yah."


Begitulah isi Chat yang Jiai kirimkan terdengar membosankan memang, tapi Jiai bingung ingin mengirimi Bagas pesan apa.


Jiai menunggu, tapi tidak dibalas-balas oleh Bagas dan ternyata hanya di read saja.


Sakit, tapi tidak berdarah begitulah yang dirasakan oleh Jiai ketika pesannya hanya di read saja.

__ADS_1


Jiai berhenti untuk mengirimi Bagas pesan lagi entah mengapa dia kehilangan semangat setelah pesannya tadi yang hanya di read saja.


Terdengar lebay memang, tapi begitulah yang Jiai rasakan saat ini.


Jiai kembali menguatkan hatinya. Dirinya tidak boleh menyerah hanya gara-gara pesannya yang hanya di read saja ini baru permulaan. Semangat!


Setelah mengirim chat kepada Bagas tadi dirinya segera melanjutkan membaca novel yang sempat tertunda.


 ---


Keesokan harinya matahari yang berwarna jingga turun secara perlahan cahayanya juga mulai tampak secara perlahan.


Bagas telah siap dengan setelan jas pengacaranya dan siap untuk pergi bekerja.


Tapi dirinya menyempatkan untuk mampir ke caffe miliknya sebentar sebelum pergi ke tempat kerjanya.


"Pagi pak." sapa karyawan itu ramah.


"Pagi." balas Bagas datar tak membalas senyuman karyawan itu.


Para karyawan Bagas disini telah biasa dengan sifat dingin dari Bos nya itu, jadinya mereka tidak heran lagi.


Tapi, dibalik dari sifat dinginnya Bagas itu terdapat sisi lain yang mungkin tidak diketahui oleh sebagian banyak orang.


Semua karyawan Bagas disini adalah pengangguran dan kebanyakan orang yang tidak mampu. Bagas 'lah yang melatih mereka agar mereka bisa bekerja di caffe miliknya.


Sampai caffe milik Bagas telah sukses sekarang. Caffe milik Bagas ini disukai banyak orang.


Tetapi, orang dewasa, anak-anak, bahkan kakek- nenek pun semua menyukai caffe milik Bagas ini.


Yah, itu berkat dari kreativitas Bagas yang tinggi hingga dia bisa menghasilkan caffe yang unik dan disukai oleh banyak orang. Caffe bukan diperuntukan untuk anak muda saja.


Bagas segera menghampiri Karyawan kepercayaannya yaitu Kibo.


"Mungkin akhir-akhir ini saya akan lebih sibuk, jadi saya percayakan caffe ini kepadamu," beritahu Bagas.


"Baik Bos Saya akan mengolah caffe ini dengan segenap jiwa dan raga," Kibo berlagak seperti hormat pada tiang bendera.


"Baguslah kalau begitu saya pergi dulu yah," pamit Bagas dan hanya dibalas anggukan oleh Kibo.


Banyak yang menatap Bagas dengan tatapan takjub dan memuja karena dirinya memang terlihat tampan dan keren.


Memakai pakaian jas yang berwarna hitam seakan menambah kesan pesona tampannya.


Ditambah lagi dirinya adalah pemilik dari caffe ini semakin membuat para pengunjung di caffe ini kagum dan takjub saja.


Tapi, Bagas tak menghiraukan tatapan-tatapan memuja itu malah dirinya merasa sangat risih ditatap dengan sedemikian rupanya seperti itu.


Bagas segera pergi menggunakan kendaraan beroda empatnya untuk menuju ke tempat kerjanya.

__ADS_1


Sesampainya di tempat kerja Bagas langsung dihampiri oleh seorang wanita.


"Sayang." Threlya bergelayut manja pada lengan kanan Bagas.


Sedikit informasi Threlya adalah anak dari senior Bagas disini yang begitu Bagas hormati.


Threlya sengaja datang ke kantor dimana tempat ayahnya bekerja agar bisa menemui Bagas.


"Lepaskan, atau saya akan melakukan kekerasan!"


Reflek Threlya langsung melepaskan gelayutan manjanya dengan muka yang ditekuk.


Bagas tersenyum sinis tidak susah untuk menghindar dari Threlya cukup hanya dengan mengancamnya saja.


Lagipula Bagas tidak akan melakukan kekerasan pada Threlya dia hanya sekedar mengancamnya saja agar gadis itu tidak keterusan untuk mendekatinya.


Bagas segera memasuki kantornya dan langsung disambut hangat oleh senior Bagas yaitu Pak Budiman yang begitu Bagas hormati karena telah sangat berjasa pada kehidupannya.


"Lho Bagas kenapa kamu datang ke kantor hari ini? Bukannya kamu baru pulih dari kecelakaan?" Tanya Pak Budiman yang terkejut sekaligus heran dengan kedatangan Bagas.


"Saya sudah sembuh pak," balas Bagas datar. Memang sifat datarnya ini dia persembahkan untuk siapa saja. Sekaligus dengan orang yang begitu dia hormati.


"Apa? Benarkah?" Tanya Pak Budiman tak percaya.


"Iya Pak, buktinya saya sudah mampu untuk masuk hari ini," Bagas coba untuk meyakinkan Pak Budiman.


"Hem yasudah kalau begitu. Tapi, kamu jangan terlalu kecapekan dulu yah," saran Pak Budiman dan hanya dibalas anggukan oleh Bagas.


Bagas pun segera duduk di kursi kantornya untuk mulai bekerja mengurusi Hukum-Hukum yang terjadi di Indonesia ini.


 ---


Hari ini kegiatan Jiai sebagai seorang Dokter sangat padat banyak sekali pasien-pasien yang mengantri untuk berobat kepadanya.


Hingga dia bisa beristirahat pada pukul 12 siang sangat melelahkan memang, tapi inilah tanggung jawab dirinya sebagai seorang Dokter.


Ada perasaan bahagia, ketika dia berhasil menyembuhkan orang-orang dan mengembalikan senyuman mereka.


Disela-sela kegiatannya yang padat dirinya menyempatkan diri untuk menghubungi Bagas lagi.


Ah andai dirinya tau dimana rumah Bagas pasti dirinya akan sering-sering untuk melewati rumah Bagas. Hanya sekedar lewat tapi bukan berkunjung.


Dirinya terlalu takut untuk berkunjung mengingat bagaimana sikap Bagas kepada dirinya. Ck menyedihkan.


Tidak ada rasa gugup lagi di dalam dirinya untuk menghubungi Bagas.


Dia coba untuk memberanikan diri sampai kapan dirinya untuk terus-terusan gugup dan takut?


Kalau dirinya terus-terusan gugup dan takut berarti tidak ada kemajuan dong?

__ADS_1


Jiai bingung untuk mengirimi Bagas pesan apa, hingga pemikiran cerdas 'pun muncul diotak nya.


__ADS_2