I Love You Pengacara Es!

I Love You Pengacara Es!
20. Depan Warung Bakso


__ADS_3

"Enggak ada ditemenin! Ai kamu balik sama aku!"


"Abi?!"


"Ayo, kita balik Ai," ajak Abi.


"Duluan aja Bi. Aku mau nemenin Bagas makan bakso dulu," ucap Jiai.


"Aku bilang tadi apa? Enggak boleh kan? Berarti kamu balik sekarang Ai," Abi menarik tangan Jiai.


"Ih! Apaan sih Bi! Aku mau nemenin Bagas makan bakso dulu!" Jiai menaikan satu oktaf suaranya.


"Enggak, untuk apa sih, ditemenin. Dia itu bukan anak kecil lagi!" Abi terus menarik tangan Jiai.


"Biii," Jiai memelas dengan frustasi. Mengapa Abi tidak membiarkannya menemani Bagas makan? Dan mengapa Abi selalu melarang-larang nya? Ini sangat menyebalkan menurutnya.


"Aiiii kita pulang yah?" Ajak Abi lagi, tapi kini dengan nada lemah.


"Biiii."


"Aiiiiii."


"Biiii"


"Aiiiiii"


"Biiii"


"Aiiiiii"


"Biiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii."


"Aiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii"


"Biiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii."


"Aiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii."


[Yaampun, gitu aja, sampek Babang Cha Eun Woo nembak author:) ups!🤭🤭🤭]


"Biii aku cuman mau nemenin Bagas makan bakso, udah sebentar aja enggak lama. Lagian, kamu kenapa sih  larang-larang aku terus kalau menyangkut dengan urusan Bagas?" Tanya Jiai yang heran.


"Memangnya anda siapanya dia?" Celetuk Bagas yang terheran-heran, karena cowok ini selalu ada di samping Jiai dimana pun berada.


"Dia sahabatku Gas," ucap Jiai menjawab pertanyaan Bagas duluan.


"Ohhh iya, saya kira kalian pacaran," ucap Bagas.


"Calon pacar," ucap Abi dan sontak saja kedua bola mata Jiai membulat besar. Ia langsung menepuk pundak Abi dengan sangat keras membuat Abi meringis kesakitan.

__ADS_1


"Apaan sih Bi! Kita itu cuman sahabat enggak lebih!" Ucap Jiai tak terima.


"Becanda," ucap Abi sambil cengengesan.


"Enggak lucu!"


"Memang enggak lucu! Siapa yang bilang lucu!?"


"Kamu!"


"Enggak aku enggak bilang lucu!"


"Tadi, kamu bilang."


"Apa?"


"Ih, mending kamu balik duluan aja Bi!" Usir Jiai dengan perasaan yang kesal, bahkan kekesalannya itu sudah hampir menjalar ke seluruh tubuhnya dan jika dilihat dari kartun anak-anak yang sering kalian tonton otak Jiai sudah mengeluarkan asap.


"Enggak mau aku mau nemenin kamu disini, nanti kalau kamu naksir sama om-om duda disini gimana? Kamu kan mata keranjang," ucap Abi dengan muka sok imut. Iwww🤣


"Kepala otak kamu Bi! Kamu aja sana yang naksir sama tante-tante girang terus nikah sama Tante-tente girang," ucap Jiai.


Bagas mati-matian menahan tawa melihat perdebatan mereka. Ternyata, dua orang yang sudah dewasa ini tidak cukup dewasa untuk umur mereka.


"Ehem," Bagas berdehem, karena merasa diabaikan dengan perdebatan dua orang dewasa yang ada dihadapannya ini.


"Ehem!" Sekali lagi Bagas berdehem, tapi masih tak ada sahutan.


"Pergi ajalah kamu Bi! Dari dunia ini, enggak guna orang nyebelin kayak kamu hidup di dunia ini."


"Kamu aja yang pergi ninggalin dunia ini biar enggak ada yang godain om-om lagi."


Ingin rasanya Jiai memutilasi Abi sekarang juga dan menyiksanya sampai menjadi butiran debu yang tak bersisa. Serem amat!!!


"Jaga bicara kamu yah Bi! Aku enggak pernah godain om-om!" Ucap Jiai yang mulai kesal dengan perkataan Abi. Godain om-om? Hello! Bahkan memandang om-om saja dirinya tidak sudi! Cihhh!


"Aku pergi, silahkan lanjutkan debat kalian," pamit Bagas, karena merasa tidak dipedulikan kehadirannya.


"Eh tunggu Gas, kamu jangan pergi! Biar dia aja nih yang pergi!" Jiai menunjuk tangan telunjuknya mengarah ke Abi.


Giliran Bagas ingin pergi, baru Jiai merespon kata-kata Bagas.


"Kamu enggak dibolehin tuh, nemenin saya sama sahabat kamu. Yasudah, saya pergi saja lain kali mungkin kalau ada kesempatan," ucap Bagas kemudian melangkahkan kakinya lagi.


"Tunggu! Bagas! Enggak papa aku mau nemenin kamu makan. Abi orangnya memang ngeselin!" Jiai berteriak memanggil Bagas yang sudah setengah menjauh itu, tapi sepertinya Bagas menulikan pendengarannya. Ia tak menghiraukan panggilan Jiai sedikit pun.


"Lihat tuh! Bagas pergi gara-gara kamu!" Jiai menatap kesal Abi, sedangkan Abi dia tidak merasa bersalah sedikit pun. Malah, itu bagus menurutkan, karena Jiai tidak jadi makan bersama Bagas.


"Bagus dong," ucap Abi tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


Jiai mengelus dadanya beberapa kali, sembari merapalkan surah-surah Yasin, eh salah deng maksudnya merapalkan doa-doa agar dirinya nanti tidak khilaf dengan membacok Abi.


"Yuk balik." Ajak Abi.


"Enggak mau aku mau pesan taxsi aja," jawab Jiai.


"Ya udah," ucap Abi acuh, kemudian pergi mengendarai mobilnya. Meninggalkan Jiai dengan segala sumpah serapahnya.


Jiai mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan kesal setengah mati.


Sial sekali hari ini. Tidak jadi makan bakso bersama Bagas, dan harus pulang sendiri karena Abi yang meninggalkannya di warung bakso ini.


Jiai menunggu taxsi disekitaran pinggir jalan sini, tapi tidak ada satupun taxsi yang lewat. Ia menyesal dan merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia tidak balik bersama Abi saja tadi? Dan mengapa ia malah menolak ajakan Abi untuk pulang?


Memang penyesalan selalu datang diakhir, bukan diawal.


"Ayo naik ke mobilku saja, taxsi enggak lewat-lewatkan?"


Ucap seseorang tiba-tiba dan sontak saja Jiai menghadap ke belakang dia sangat terkejut, karena ternyata itu adalah Bagas.


Terkadang, dunia memang penuh dengan kejutan. Dan dunia ini penuh dengan misteri.


"Bagas? Kok kamu disini lagi?" Tanya Jiai dengan ekspresi terkejut, sekaligus heran.


"Aku enggak sengaja lewat sini lagi," ucap Bagas. Tentu saja ia berbohong, karena sedari tadi ia tidak pulang karena penasaran dengan kelanjutan debat antara Jiai dan Abi.


Ia tentu saja Bagas tidak mengakui itu, karena harga dirinya yang tinggi. Notabene Bagas adalah yang sering dikejar-kejar oleh cewek dan selamanya akan tetap begitu!


"Duh, nyambungnya kemana sih Gas?" Tanya Author.


"Kalau enggak nyambung, yah dinyambung-nyambungin aja," jawab Bagas-_


"Terserah," author.


"Oh, begitu. Beneran Gas kamu mau nebengin aku?" Tanya Jiai sekali lagi bermaksud memastikan, ia takut nanti kalau dirinya hanya salah sangka kepada Bagas yang ingin menebenginya pulang.


"Iya, ayo masuk." Ajak Bagas lagi, "Nanti aku berubah pikiran."


Jiai cepat-cepat masuk ke mobil Bagas, bisa gawat kalau Bagas memang berubah pikiran.


Hening tidak ada pembicaraan antara Jiai dan Bagas, mereka hanya larut ke dalam pikiran masing-masing.


"Kamu?-"


"Belok ke kanan Gas," Jiai memotong kata-kata yang Bagas hendak ucapkan.


"Oke," Bagas menjadi tidak konsen, hanya karena ingin menanyakan soal itu.


Kembali suasananya hening, Jiai sangat kebingungan untuk memulai pembicaraan dengan apa. Sedangkan Bagas ragu ingin menanyakan soal ini atau tidak, karena dia takut nanti membuat Dokter gila ini ge er.

__ADS_1


__ADS_2