I Love You Pengacara Es!

I Love You Pengacara Es!
15. Kesedihan


__ADS_3

...Aku tidak pernah ingin dilahirkan ke dunia ini, jika kalian membenci kelahiran 'ku, maka kembalikan aku pada Tuhan....


.........


Bagas hari ini berencana untuk menemui kedua orang tuanya lagi, ia ingin menjelaskan kalau dirinya tidak mencuri uang 1 miliyar itu.


Perasaannya tak karuan bagaimana nanti, kalau kedua orang tuanya malah mengusir? Atau yang lebih parahnya lagi ia habis babak belur dan dilarikan ke rumah sakit lagi.


Bagas menghentikan mobilnya tepat didepan rumah kedua orang tuanya. Berkali-kali Bagas meyakinkan dirinya kalau tidak akan terjadi apa-apa, tapi tetap saja dirinya merasa takut dan trauma.


Ia mulai memencet bel, hingga menampilkan seorang Satpam menghampiri dirinya.


"Eh, ada den Bagas ada apa den?" Tanya Pak Broto ramah.


"Papa sama mama ada didalam?" Tanya Bagas dengan perasaan tak karuan antara gugup, takut berpadu menjadi satu.


"Eum, den memangnya ada apa?" Tanya pak Broto heran bukannya apa pak Broto tau kalau kedua orang tua Bagas selalu membenci Bagas. Kemarin waktu itu Bagas juga pernah diusir oleh kedua orang tuanya dan yang disuruh mengusir adalah dirinya sendiri.


"Ada keperluan penting pak." Jawab Bagas.


"Oke, den silahkan masuk." Pak Broto membukakan pintu gerbang dan membiarkan Bagas masuk.


"Mau dipanggi 'lin atau panggil sendiri den?" Tanya pak Broto.


"Panggil sendiri aja pak." Ucap Bagas, kemudian langsung mengetuk pintu rumah ini dan yang pertama muncul adalah Wilona, adik kandung Bagas yang umurnya lebih lebih muda 2 tahun darinya.


"Ngapain kakak kesini?" Tanya Wilona sinis dengan pandangan tak suka. Wilona juga ikut membenci Bagas karena terpengaruh oleh kedua orang tuanya.


"Papa sama Mama ada?" Tanya Bagas.


"Enggak ada! Lebih baik kakak pergi!" Usir Wilona keras.


"Tapi, kakak ada urusan penting ada yang kakak mau omongin," jelas Bagas.


"Enggak peduli mau penting kek mau enggak kek itu bukan urusan aku, lagian penting menurut kakak 'kan itu enggak penting menurut aku!" Ucap Wilona.


"Kakak mohon sebentar aja ini penting," pinta Bagas sekali lagi ia mencoba untuk sabar.


"Ih, enggak mau!" Wilona mendorong kasar dada Bagas, hingga membuat Bagas sedikit terdorong di teras rumah ini.


"Ada apa berisik-berisik?"

__ADS_1


Tiba-tiba muncul kedua orang tua Bagas dari atas tangga, hingga menuruni anak tangga itu satu persatu.


Pandangan keduanya langsung me' najam mendapati Bagas yang ada di depan pintu rumahnya ini.


"Ada apa kau kesini anak pembawa sial?!" Tanya Bram papa Bagas dengan menaikan satu oktaf suaranya.


Bagas yang memang sudah terbiasa dipanggil seperti itu tidak keberatan dipanggil anak pembawa sial.


"Kau anak pembawa sial yang tidak pantas untuk menginjakan kaki di rumah ini!" Tambah Erina mama Bagas.


Satu hal yang Bagas rasakan saat ini yaitu sesak, walaupun sering kali ia mendengar lontaran kalimat-kalimat kasar, tapi tetap saja itu menyesakan.


"Bagas cuman mau bilang, kalau Bagas enggak nyuri uang papa sama mama. Bagas enggak ada niat sedikitpun untuk mencuri uang papa sama mama. Percaya sama Bagas," ucap Bagas.


Bram menatap Bagas dengan penuh kebencian tak terkecuali juga Erina dan Wilona. Semua keluarga ini membencinya, padahal Bagas tidak pernah tau kesalahan apa yang telah ia perbuat, hingga dirinya begitu dibenci disini.


"Mana ada maling yang mau ngaku," ucap Erina sinis.


"Ma, percaya sama Bagas. Bagas enggak nyuri uang ma," Bagas menatap Erina dengan penuh harap.


Erina berjalan menghampiri Bagas, karena jarak mereka  sekitar 3 meter.


Satu tamparan keras mendarat mulus ke pipi Bagas, rasa sakit dari tamparan di' pipi itu tidak seberapa. Tapi perasaan sakit yang Bagas rasakan melebihi rasanya dimutilasi.


"Jangan panggil saya dengan sebutan mama oleh mulut kotor 'mu itu. Anak pembawa sial sepertimu tidak pantas memanggil saya dengan sebutan mama," ucap Erina dengan pandangan yang penuh kebencian.


"Pergi kau anak pembawa sial!" Pekik Erina yang sudah mulai geram melihat Bagas.


"Kenapa Ma? kenapa Pa? Kenapa kalian selalu membenci Bagas? Bagas salah apa? Apa yang pernah Bagas perbuat? Hingga kalian sebenci ini dengan Bagas. Bagas tidak pernah ingin lahir ke dunia ini Ma Pa, jika kalian benci dengan kelahiran Bagas. Kembalikan Bagas kepada Tuhan," ucap Bagas, entah sejak kapan air matanya mengalir deras. Dadanya bergemuruh kencang menahan segala gejolak pada dirinya.


"Baguslah, jika kamu ingin kembali pada Tuhan karena dari sejak awal kami memang tidak pernah mengharapkan kehadiran kamu," ucap Bram sementara Wilona hanya diam saja, melihat drama dalam kehidupan ini, kalau boleh jujur ia benci dengan drama!


"Aku juga tidak sudi! Mengeluarkan kamu dari rahim 'ku, pergi kau anak pembawa sial! Dan jangan datangi rumah ini lagi!" Usir Erina lagi dengan memekik kencang.


Bagas menghela napas dalam. "Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Bagas akan pergi dan Bagas tidak akan menampakan diri lagi didepan kalian. Semoga kalian puas dan senang." Bagas tersenyum paksa kemudian melangkahkan kakinya pergi.


---


"Mbak, apa aku iki. Iki kurang ganteng, iki kurang kaya, iki kurang pintar toh mbak."


"Berisik Bi! Berisik!" Jiai menutup kedua kupingnya menggunakan tangan.

__ADS_1


Sudah berkali-kali Abi menyanyikan lagu itu dan liriknya tak berubah-ubah, hanya lirik itu saja yang dia ulangi berkali-kali.


Kepala Jiai rasanya ingin pecah mendengar Abi menyanyikan lagu itu.


"Apa Ai merdu, minta diulangi lagi? Oke."


"Mbak-" nyanyian Abi yang fenomenal itu harus terpotong, karena Jiai baru saja me' nyumpal mulut itu dengan kaos kakinya.


Mata Abi membulat sempurna ia segera memuntahkan kaos kaki itu, prediksinya kaos kaki itu sudah tidak dicuci selama berbulan-bulan.


"Gila kamu Ai!" Pekik Abi, sedangkan Jiai tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi kesal Abi. Ini lucu sekali menurutnya perutnya terasa menggelitik.


Pletak!!!


Abi menjitak kepala Jiai dengan keras, membuat sang empu kepala menghentikan tawanya.


"Gila! Bau banget tuh kaos kaki, kayak enggak dicuci selama berbulan-bulan," Ucap Abi.


"Memang enggak dicuci selama berbulan-bulan, itukan kaos kaki lama yang enggak kepakai lagi," ucap Jiai.


"Jorok!" Abi kembali menoyor kepala Jiai membuat sang empu meringis kesakitan.


"Aw, sakit Bi!" Jiai mengelus kepalanya pelan.


"Rasain! Makannya jangan jorok!"


"Kayak kamu enggak aja."


"Sejorok-joroknya aku, aku enggak pernah tuh, enggak nyuci kaos kaki selama berbulan-bulan."


"Iya, yang rajin nyuci kaos kaki, tapi dulu pas kuliahan pernah enggak mandi gara-gara takut telat," Jiai kembali mengungkit masa lalu Abi, "Terus yang parahnya lagi sampai-sampai enggak nyuci muka, terus ilernya sampai kemana-mana," Tambah Jiai sambil menahan tawanya.


"Hussss, itu aib Ai," Abi buru-buru menutup mulut Jiai, "Entar, kalau yang baca tau gimana?"


Mendengar ucapan Abi yang semakin gila Jiai segera beranjak dari tempat duduknya dan memilih untuk masuk kedalam rumahnya.


"Kok aku ditinggal sih?"


Blam!


Jiai menutup pintunya dengan keras, membuat Abi terkejut seketika.

__ADS_1


__ADS_2