
Ketika mendengar pernyataan Dean yang begitu sombong melebihi dirinya sendiri, kapten Maddog tidak bisa menahan rasa kagetnya lalu terdiam ditempat sejenak.
"Naga raksasa?." Gumam kapten maddog secara tidak sadar. Ia merasa sangat aneh saat ini, baru kali ini ia bertemu dengan pemuda yang lebih arogan daripada dirinya sendiri.
"""Bwahahahaha!"""
Setiap prajurit maddog tidak bisa menahan diri, lalu mulai tertawa keras. Namun berbeda situasi untuk kapten maddog, wajahnya dipenuhi ekspresi kekesalan saat ini. Ia mulai melotot tajam kearah Dean.
Mengepalkan tangannya dengan keras Kapten maddog mulai berbicara. "Naga raksasa katamu!!." Ia berteriak keras kearah Dean dan Irene yang bersembunyi dibelakang kakaknya.
Sedikit seringai mengejek muncul di mulut Dean. "Kenapa, tidak dengar?. Sebaiknya kau pergi ke dokter spesialis THT untuk membuang kotoran telinga bau milikmu!." Balas Dean sambil memperagakan postur mengorek telinganya sendiri menggunakan jari.
"Sialan kau bocah, beraninya kau menghina kapten!!." Salah satu prajurit tidak bisa menahan diri mulai meneriaki Dean. Tanpa peringatan ia mulai melancarkan serangan kearah Dean.
Bang!!
Tendangan samping yang tajam melesat kearah kepala Dean.
Sangat cepat!!. kata Dean dalam benaknya.
Whoosh!!
Clang!!
Dean terlempar kesamping menabrak kaca depan toko peliharaan.
"Urgh!." Dean terhuyung ke lantai toko, lalu memuntahkan seteguk darah.
"Hahaha..ternyata kau begitu lemah!." Prajurit yang menyerang Dean, tertawa mengejek lalu mencibir kearahnya.
"Aku terkejut tugas kali ini begitu mudah, apakah panglima tidak salah memberikan misi?." Sambung prajurit lainnya, yang mulai ragu dengan misi yang merek terima.
Irene terdiam sesaat setelah Dean diserang. "Kakak!!." Teriak Irene yang terkesiap. Hendak ingin berlari menuju Dean, tiba-tiba salah satu prajurit menghalangi jalannya.
"Jangan halangi aku!!!."Teriak Irene yang terhenti ketika dihalangi salah satu prajurit.
"Hehehe..adik kecil kamu sangat cantik. Apakah mau menjadi pacar kakak!." Kata prajurit tersebut memasang tampang cabul ke arah Irene.
"Hoi...hoi..apakah kompleks loliconnya kumat?."Kata salah satu prajurit dengan tidak berdaya kepada rekan disebelahnya.
"Hah..sepertinya begitu!." Balas prajurit lainnya mengangkat bahu tidak berdaya.
"Pergi kau, dasar cabul aneh!!." Teriak Irene yang mulai merasa tidak nyaman dengan sikap aneh prajurit yang menghalanginya.
"Hehe..galak sekali, tapi kakak menyukainya kamu sangat imut!!." Balas prajurit cabul tersebut yang tidak bisa menahan diri lagi.
"Sialan kau!." Bentak Irene lalu mulai melancarkan tamparan wajah ke prajurit yang menghalanginya.
Grab!!
Namun Irene tak berdaya, tangannya yang hendak menampar di tangkap dengan mudah oleh sang prajurit.
__ADS_1
"Oh...tangan kecil yang sangat halus!!." Prajurit cabul tersebut tidak bisa menahan diri untuk berteriak senang, lalu tanpa sengaja mengeluarkan air liur menjijikkan disekitar mulutnya.
"LEPASKAN AKU!!!." Bentak Irene keras penuh amarah.
"Hehehe...bahkan saat marah pun kamu sangat imut!." Kata prajurit cabul yang tetap memegang tangan Irene dengan erat.
Sementara itu Dean masih terduduk dilantai, merasakan lengan kirinya yang mati rasa akibat menahan tendangan keras dadi prajurit sebelumnya.
"Sial, fisikku masih lebih lemah dibanding prajurit khusus yang terlatih!." Gumam Dean pelan yang merasa sedikit kesal.
"Oh iya, Irene!!." Teringat adik perempuannya. Dean mulai melihat sekelilingnya mencari keberadaan Irene.
"Apa-apaan ini!?. Beraninya kau menyentuh adikku." Dean berteriak marah melihat Irene yang mulai meneteskan air mata. Pergelangan tangannya dipegang erat oleh salah satu prajurit dengan ekspresi yang begitu cabul dan menyeramkan.
"Oh...naga raksasa telah sadar ya!?. Hahaha..daripada naga kau lebih pantas disebut sebagai cacing kepanasan!." Kapten maddog yang mulanya kesal, kembali ke ekspresinya yang sombong dan arogan, lalu mencibir tajam kearah Dean.
"""Hahahaha!!."""
Seluruh prajurit maddog tertawa keras mendengar hinaan kapten mereka.
"IRENEE!!. Pejamkan matamu!!." Teriak Dean keras kearah Irene yang terlihat menangis kesal.
Spontan Irene memejamkan matanya setelah mendengar perkataan kakaknya. Ia tidak pernah ragu sedikitpun dengan perkataan Dean.
"Hah..memejamkan mata!?. Memangnya apa yang bisa kau laku..."
Shiing!!
Belum selesai berbicara. Tiba-tiba serangan panah es merah, menembus bahu kanan prajurit yang menahan Irene.
"Ahhh!!!." Teriak kesakitan prajurit yang menahan Irene.
Irene terbebas dari genggaman, mulai membuka matanya. Lalu spontan berlari ke arah Dean.
"Kakak!!." Teriak Irene lalu jatuh kepelukan Dean.
"Maafkan kakak Irene. Kakak sedikit lengah barusan." Balas Dean prihatin sambil mengelus kepala Irene dengan lembut di pelukannya.
"Hoh..sepertinya informasi itu benar. Kau pengguna kekuatan Elemen es merah ya?!." Kapten Maddog sedikit terkesan dan bertanya dengan nada arogan.
"Yah, memang benar aku pengguna kekuatan elemen es merah. Daripada membahas hal itu, apa kepentingan kalian sampai-sampai ingin menangkapku?." Balas Dean ringan lalu menatap tajam kearah Kapten Maddog.
"huh, kau tidak perlu tahu!. Sekali anjing tetaplah anjing, sebaiknya kau patuh kepada majikannmu!." Kata kapten maddog dengan nada sombong dan sok.
"Ha, sudah kubilang aku adalah naga raksasa!. Untuk serangan prajurit mu tadi hanyalah bentuk pengetesan buat kalian!. Setelah kupertimbangkan kembali sepertinya kalian sedikit layak dihadapi!." Balas Dean dengan lantang tidak mau kalah dari kearoganan lawan.
Sialan. Aku benar-benar benci orang sombong dan arogan seperti ini. Sepertinya aku harus menunjukkan beberapa warna kepada mereka!!.
Dean bergumul kesal dibenaknya.
Ice hardening armament!.
__ADS_1
Whoosh!
Cling!
Tanpa berpikir lebih panjang, Dean mengkondensasi teknik pengerasan es merah di kedua tangan dan kakinya.
Infinite ice jet thruster!.
Whoosh!
Udara dingin yang terkompresi secara terus-menerus tanpa batas, mulai melapisi semua bagian kaki dan tangan yang dikeraskan oleh es merah.
Stream!!
flash!
Tiba-tiba Dean melesat kencang kearah prajurit yang terluka bahunya akibat serangan sebelumnya.
Untuk sesaat prajurit tersebut tidak bisa bereaksi tepat waktu. Dan akhirnya.
BANGG!!!
shoosh!!
Menggunakan tinju es disertai gerakan yang sangat cepat. Dean memukul prajurit tersebut dengan sangat keras yang mengakibatkan ia terlempar beberapa meter jauhnya kebelakang.
"URGHHH!!." Teriak kesakitan sang prajurit lalu memuntahkan beberapa utas darah segar.
BOOM!!
Prajurit yang terlempar, menabrak dinding bangunan dengan sangat berat. Perlahan ia mulai tidak sadarkan diri lalu berbaring dengan postur aneh di tanah.
Dean berdiri ditempat prajurit yang terhempas sebelumnya. Ia menatap dengan mata rendah kearah prajurit yang tidak sadarkan diri. "Arogansi dan kesombongan boleh saja, tapi itu harus disertai dengan modal yang cukup!!." Kata Dean dengan nada rendah, menghadap ke arah prajurit yang tergeletak ditanah.
"Hah...jangan senang dulu!!." Teriak salah satu prajurit lainnya. Mereka mulai emosi dan meluapkan amarahnya, melancarkan serangan sengit kearah Dean.
Roooaar!!!.
Salah satu prajurit pemilik kekuatan tipe mutator singa, langsung berubah ke mode hybrid perpaduan dari tubuh manusia dengan perubahan fisik singa.
Whoosh!
Ia berlari kencang menuju Dean. Melayangkan cakar tajamnya diudara.
Shiiing!!!
Dean menyambut serangan cakar singa, ia melakukan serangan balasan dengan tendangan lurus kedepan. Bersentuhan langsung dengan serangan cakar yang sengit.
Boom!!
Kedua serangan saling bentrok dan mengeluarkan suara ledakan yang menggema.
__ADS_1
Bersambung.