
Zrrrrtttt!!
Desisan listrik bertegangan tinggi mengaliri seluruh tubuh Death lion. Seketika tubuhnya berubah kaku lalu terjatuh ketanah.
"Berhenti!!!."
Seorang wanita berseragam polisi khusus, datang menghentikan pertarungan. Diikuti puluhan polisi khusus lainnya, yang sudah memakai peralatan exoskeleton tempur.
Bip...bip..bip
Suara mekanis elektronik bergema disekitar Dean. Tampaknya polisi khusus melakukan pengepungan untuk mengunci pergerakannya.
"Jangan bergerak!!." Salah satu polisi khusus yang mengepung, berteriak memberi peringatan lalu membidik laser senjatanya ke kepala Dean.
Dean tidak terlalu peduli dengan segerombolan polisi khusus ini. Tetapi melihat badan kota begitu hancur ia sedikit merasa bersalah. Berkat sistem keamanan kota yang mumpuni, warga sipil dapat di evakuasi dengan cepat mengosongkan wilayah pertarungan.
"Jangan tembak kakak ku!!!." Irene berlari menuju Dean, lalu berdiri mengalangi pantulan laser senjata yang membidik Dean.
Melihat gerakan mendadak Irene, para polisi khusus secara refleks mengangkat senjata mereka. Setiap polisi khusus yang mengepung Dean menjadi waspada membidik kearah Irene.
Namun hal yang tak terduga terjadi pada detik berikutnya.
Ice blood domain!!
Ice dagger!!
Domain es merah terbentuk disekitar para polisi khusus. Waktu berikutnya, puluhan belati es merah mulai terbentuk lalu melayang kesetiap polisi khusus.
Whoosh!!
Stream!
Setiap polisi khusus disandera dengan belati es merah, yang diarahkan tepat ke bagian leher mereka.
"Apa ini!!."
"Sial..ini mengarah ke leherku!."
"Belati es ini sangat tajam. semuanya berhati-hati!!."
Para polisi khusus menjadi sangat panik serta ketakutan saat ini.
"Beraninya kau mengarahkan senjatamu pada adikku!!!." Teriak Dean dengan nada yang mengancam.
"Ku hitung dari 1 sampai 5, kalian harus menjatuhkan setiap senjata ke tanah. Jika kalian tidak mematuhinya, maka hitungan berikutnya kepala kalian yang akan terjatuh ke tanah!." Sambung Dean dengan nada yang sengit serta mendominasi.
__ADS_1
"1!!!."
Mendengar hitungan sudah dimulai, para polisi khusus mulai berkeringat deras saat ini. Mereka Bimbang dan ragu-ragu untuk sesaat.
"2!! "
Belati es mulai mendekat ke setiap leher para polisi khusus.
"Hiiii!". Salah satu polisi khusus memekik ketakutan.
Awalnya, para polisi khusus mulai patuh lalu hendak ingin menjatuhkan senjata mereka ketika hitungan kedua. Namun terhenti ketika salah satu polisi khusus menentang dengan keras kepala.
"Jangan dengarkan apa yang dikatakanya!!. Dia hanyalah ******* sialan. Jika kita menjatuhkan senjata, bukankah kita semua akan dengan mudah diserang tanpa perlawanan sama sekali." Teriak salah satu polisi khusus dengan meyakinkan.
"Ya, itu benar!!."
"Jangan terkecoh semuanya!!."
Para polisi khusus saling menenangkan, mencoba berdiri teguh pada keyakinan mereka. Tapi sayangnya Dean bukanlah makhluk vegetarian yang berbelas kasih kepada suatu ancaman.
"Huh, benar-benar keras kepala!." Kata Dean yang mulai kesal.
"3!!."
Slurrt!!
"Kalian pikir belati es merah itu mainan!?." Sambung Dean berkata dengan ekspresi acuh tak acuh.
"Hentikan semuanya!!!." Tiba-tiba wanita polisi khusus cantik yang menahan Death lion, berteriak keras kepada para polisi khusus yang melakukan pengepungan. Lalu ia segera berlari menuju Dean.
Boing...boing!!(sfx: memantul).
Gawat..tak kusangka wanita ini memiliki senjata penghancur yang sangat kuat!!.
Dean sedikit lengah saat ini, ia tidak bisa menahan diri saat melihat gunung kembar memantul secara berirama saat polisi wanita cantik tersebut berlari.
"Tolong hentikan, saya akan memerintahkan bawahan saya untuk menurunkan senjata!." Setelah mendekat ke lokasi, wanita tersebut berkata dengan sopan kepada Dean. Ia sangat berhati-hati saat berbicara, takut jika Dean tidak bisa menahan diri melukai bawahannya.
Akan tetapi Dean tidak mendengarkan sama sekali. Saat ini ia sedang terperangah menatap dua puncak kembar wanita tersebut.
Melihat Dean tidak merespons polisi wanita menjadi sangat khawatir. Namun ketika melihat arah pandangan mata Dean, segera ekspresinya berubah menjadi suram. "Dasar cabul!!. perhatikan matamu!." Polisi wanita menjerit marah dan segera menutupi area dadanya.
"Ah...oh.maaf..maaf!!." Dean tersadar lalu membalas dengan tergagap.
Irene yang melihat kakaknya begitu terpesona dengan bukit kembar yang tinggi, hanya bisa menghela nafas pasrah sambil memegang dadanya.
__ADS_1
"ehem...pokoknya tolong kendalikan diri anda!!." Berdehem lembut polisi wanita membalas dengan malu.
Setelah beberapa saat polisi khusus wanita tersebut kembali memasang ekspresi serius lalu berkata. " Semuanya, letakkan senjata kalian secara perlahan ketanah!!." Teriaknya memberi perintah.
clack...clack!!.
Satu persatu polisi khusus menjatuhkan senjata mereka ke tanah, sementara itu belati es merah masih mengunci leher mereka dengan ketat.
Melihat semua senjata telah dijatuhkan, Dean segera mengerahkan kekuatan elemen es nya lalu membekukan setiap senjata.
Crack...crack....crack!!.
"hah..sangat melelahkan, aku benar-benar tidak ada beristirahat sampai sekarang!!." Dean menghela nafas berat, ia benar-benar kesal karena selalu saja ada gangguan yang menghalanginya.
"Permisi, bisakah anda menetralisir belati es merahnya?." Polisi khusus wanita bertanya dengan khawatir.
"Oh, tentu saja." Balas Dean ringan.
Whoosh!!!
Setiap belati es merah seketika berubah menjadi kabut merah, lalu menghilang tanpa jejak ke udara.
""hah, sangat menegangkan!."" Para polisi khusus menghela nafas lega karena bisa keluar dari masa krisis.
Dean tidak terlalu memperdulikan para polisi khusus. Setelah melirik sedikit kearah wanita polisi yang mengecek kondisi anggotanya, ia berjalan menuju kapten maddog yang masih berdiri dengan linglung mengawasi death lion yang dalam keadaan terikat tidak sadarkan diri.
"Kenapa?..kenapa kau melakukannya Death lion!?." Tanya kapten maddog yang terlihat sangat lesu.
Dean yang tidak sengaja mendengar perkataan kapten maddog, tidak bisa menahan ekspresi lucu diwajahnya. Ia sangat ingin tertawa lepas saat ini juga, tetapi ia hanya bisa menahan diri untuk memasang wajah tenang agar terlihat meyakinkan.
"Hah...melukai teman sendiri, bahkan tidak segan berniat membunuh mereka. Benar-benar tragis!!." Kata Dean memberikan sindiran terbuka kepada kapten maddog.
"Hah..aku tidak berminat menaggapi provokasi mu saat ini." Jawab sang kapten maddog.
Dean sedikit terkejut dengan respons yang ia terima.
*Kenapa orang ini tiba-tiba menjadi tenang, tadi dia sangat arogan dan sombong. Apakah dia terpukul dengan pengkhianatan temannya.
Hehe.., jika ia tahu temannya kukendalikan, mungkin reaksinya akan sangat besar bukan*?.
Pikir Dean dibenaknya sambil menyeringai lucu.
Karena dorongan ingin cepat pulang dan tidur. Dean tidak mau membuang waktu lagi lalu langsung bertanya tujuan sebenarnya dari pasukan ini. "Jadi apa tujuanmu ingin membawaku?. Seingatku aku tidak pernah menyinggung militer?." Tanya Dean menunjukkan wajah serius.
"Aku, tidak tahu detailnya tapi markas militer angkatan darat ibukota berniat mengundangmu!!." Balas kapten maddog yang terlihat sangat lesu.
__ADS_1
"Markas militer angkatan darat ibukota!??." Dean memgerutkan alisnya jatuh kedalam pemikiran yang dalam.
Bersambung.