IMPERFECT HUSBAND [REVISI]

IMPERFECT HUSBAND [REVISI]
BAB 9 : Sambutan Pahit


__ADS_3


Malam itu udara berhembus sangat dingin, hingga menusuk ke dalam tulang. Ketiga wanita yang ada di ruangan tersebut mengenakan sweeter miliknya masing-masing.


Lita sangat senang hari itu. Wajahnya memancarkan aura kebahagiaan. Ia merias dirinya secantik mungkin untuk menyambut suaminya dan makan malam bersama.


Wanita yang sedang hamil muda itu tersenyum-senyum sendiri, "Aku gak sabar menunggu Yohan pulang."


"Kamu udah gak sabar mau kasih tau nih, Ta. Pasti, Yohan senang banget karena sebentar lagi, dia akan memiliki anak." Ucap Yuriko sambil tersenyum.


"Nona, selamat ya atas kehamilannya. Semoga, nona dan bayinya sehat selalu sampai persalinan nanti." Harapan Qien kepada majikannya.


"Iya, terimakasih ya." Balas Lita tersenyum kepada Qien.


Yuriko berharap agar Lita selalu tersenyum seperti yang dilihatnya hari ini, ia berkata, " Sebentar lagi lengkap nih. Semoga kalian menjadi keluarga bahagia dan selalu akur ya."


"Amin, terimakasih ya. Kalian semua sudah membantuku mempersiapkan semua ini." Ucapnya dan merangkul penuh kasih sayang pada ketiga kepala wanita cantik di samping kiri dan kanannya.


***


Jarum jam dinding terus berputar, tiada yang berbalik arah. Satu jam telah berlalu begitu saja. Yohan suaminya tak kunjung datang juga.


"Sudah hampir jam setengah 9 malam. Kenapa Yohan belum datang juga ya?" Tanyanya risau.


"Mungkin dia sedang on the way ke rumah." Pikir Yuriko.


"Hmm, kurasa iya. Yasudah, kita tunggu saja." Akhirnya mereka semua, memutuskan untuk tetap menunggu kedatangan Yohan.


***


Wajah Lita mulai lesu dan matanya sangat sayu. Ia telah lelah seharian dengan aktivitas. Namun, gadis itu tetap menunggu dengan penuh kesabaran.


"Apakah Yohan lagi sibuk ya?" Tanya Lita. Firasatnya mengatakan bahwa kemungkinan Yohan pulang lebih awal itu kecil.


"Sabar ya, dia pasti akan pulang." Yuriko mencoba menghilangkan rasa pesimis sahabatnya.


Lita pun menarik nafas panjang dan membaringkan kepalanya di atas meja makan yang sedikit lega itu.


"Kamu tidak seperti biasanya lama seperti ini. Sebenarnya kamu dimana?" Tanya Lita pada hatinya.


***


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang diparkirkan ke dalam garasi mobil dan setelah itu, terdengar suara pintu depan rumah yang dibuka.


Lita yang mengantuk kembali bersemangat. Wanita tersebut beranjak dari kursi makan, tempat ia duduk.


Ia segera berlari menyambut kedatangan suami tercintanya. Yuriko dan Qien terkejut dengan hal yang dilakukan Lita.


"EH?!? NONA LITA!!" Teriak sahabat dan asistennya secara bersamaan. Namun, Lita tak memperdulikannya dan ia segera mendekati suaminya.

__ADS_1


Sesampainya di ruang tamu, bukannya mendapat sambutan hangat dari suaminya, ia malah ditampar sangat kencang.


PLAKKK


Wajah Yohan amat merah menahan rasa kesal melihat Lita yang terlalu bising baginya malam itu.


"Kau tau ini sudah jam berapa?! Berisik!" Tegurnya ketus kepada Lita, istrinya.


Yuriko dan Qien yang ikut mengejar Lita hanya bisa terdiam melihat gadis berambut panjang tersebut tertampar.


"....." Wajah Lita memerah dan matanya pun ikut berkaca-kaca.


"Kau mau menggoda pria lain, hah?!" Yohan terbawa emosi juga saat melihat Lita tampil dengan sangat manis.


"Han, aku hanya mau mengajakmu dinner..." Jawab Lita sambil menahan rasa perih bekas tamparan tangan Yohan.


"Tidak! Aku sudah kenyang. Buang saja makanan itu, kalau kau tak mampu menghabisinya!" Ucapan Yohan sangat menyakiti perasaan Lita dan gadis tersebut memegangi perutnya.


"....Aku itu hanya benalu ya dalam hidupmu? Pasti anak ini juga akan menjadi benalu dalam hidupmu..." Lita menitikkan air mata sambil mengusap perutnya.


Yuriko dan Qien dengan sigap menghampiri Lita yang merasa sangat terpukul perasaannya malam itu.


"Lita, mungkin Yohan sedang lelah. Kamu istirahat ya ke kamar..?" Ajak Yuriko.


Lita langsung beranjak dan menatap tajam sahabatnya itu. Wanita tersebut berlari menuju kamarnya, ia sudah tak ingat lagi dengan janinnya.


"Huh, dasar wanita." Jawab Yohan sepele.


"Han! Cukup, dia seperti ini demi menyiapkan makan malam bersamamu!" Tegur Yuriko dengan intonasi yang meninggi.


"Makan malam? Sudah tau aku sibuk, aku lelah." Jawabnya tanpa ingin mengetahui alasan.


Yuriko yang kehilangan kesadaran, akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya, "Lita sedang mengandung anakmu dan dia mau menjadikan ini sebuah kejutan!"


Yohan terkejut dan terdiam. Wajahnya menjadi sangat takut dan dihantui rasa bersalah karena telah bermain tangan dengan istrinya.


"....."


"Kenapa kau hanya diam? Kau menyesal? Telat!" Yuriko sangat marah dengan perbuatan Yohan tadi.


Yohan langsung segera mengejar Lita yang berlari ke kamarnya, setelah ia mengetahui alasannya dari Yuriko, sahabat terbaik Lita.


Sesampainya di depan pintu kamar, suaminya itu mengetuk pintu kamarnya dan memanggil berulang kali nama Lita.


Terdengar suara tangisan Lita yang tersedu-sedu di dalam kamarnya. Rasa sakit itu teramat mendalam dan terasa pedih bak terhujam dari sebuah gedung pencakar langit.


"Kalau memang sudah gak ada artinya, lebih baik aku mati. Selamat tinggal semuanya..." Ucap Lita yang sudah kehilangan akal sehat.


Lita memutar tutup botol parfum tersebut dan meneguknya hingga seperempat botol. Wajahnya tersenyum, tepat setelah Yohan mendobrak pintu kamar tersebut.

__ADS_1


"Selamat tinggal suamiku..." Katanya dan tubuhnya mulai melemas, reaksi kimia dari parfum tersebut mulai bekerja dalam dirinya.


Yohan melihat ke arah botol parfum yang telah diminum Lita dan langsung menundukkan tengkuk istrinya.


"Muntahkan sekarang! Muntahkan!!" Pintanya dengan sangat paksa.


Dalam hitungan detik, wanita tersebut pingsan dalam keadaan tersenyum. Sungguh menyakitkan hal yang dipandang Yohan.


"Lita! Bangun sayang!! Jangan tinggalkan aku!!" Gumamnya sambil mengguncangkan tubuh lemah itu.


Yuriko menyaksikan sahabatnya sekarat dengan mata kepalanya sendiri, "Han!! Ini sudah percuma untuk ditangisi!! Cepat bawa dia ke rumah sakit!!! Kalau sampai dia kenapa-kenapa, nyawamulah targetku!!!"


Yohan langsung menggendong tubuh mungil istrinya itu. Bibir Lita mulai mengeluarkan busa, akibat parfum yang ditelannya itu.


Yohan dan Yuriko segera masuk ke dalam mobil dengan kecepatan tinggi. Ia membawa Lita menuju rumah sakit.


Pikirannya menjadi sangat kacau. Ia melihat istrinya sekarat dan hampir meregang nyawa karena perbuatan kasarnya.


Ia berkata dalam hati, "Sayangku, jangan pergi tinggalkan aku. Aku gak siap kehilangan kamu dan calon anak kita.."


"Aku minta maaf, bila kata-kataku sangat melukai perasaanmu dan perbuatanku terlalu kasar.."


"Lita sayang, bertahanlah. Aku akan tebus kesalahanku padamu dan anak kita. Aku menyesal.." Yohan terus memikirkan Lita yang tersenyum seraya mengucapkan, 'Selamat Tinggal.'


Yuriko tak henti-henti menyeka bibir Lita yang terus mengeluarkan busa dan ia mendekap kepala Lita dengan sangat sedih perasaannya.


"Ta, kamu jangan tinggalin aku. Kamu harus bertahan demi anak yang kamu kandung. Aku gak bisa sendiri, kau itu teman terbaikku." Ucapnya kepada Lita dengan air mata yang membasahi wajah cantik Lita.


***


Sesampainya di rumah sakit, Lita segera dibaringkan dan ditangani oleh seorang dokter.


Yohan dan Yuriko sangat pusing serta panik melanda pikiran dan perasaan mereka. Mereka terus berdoa demi keselamatan Lita.


"Lita, bertahanlah demi kami semua. Kami sangat menyayangimu..."


Tak lama kemudian, dokter yang menangani istrinya keluar dan mengatakan, "Tuan, apakah Tuan sudah tau, kalau Nona Lita sedang mengandung?"


"Saya sudah mengetahuinya. Lalu, gimana keadaan istri saya sekarang??" Tanyanya sangat panik.


"Gimana keadaan sahabat saya, dok? Dia baik-baik saja kan?" Tambah Yuriko.


"Beruntung cepat dibawa ke rumah sakit dan dapat ditangani secepatnya. Bayinya masih dapat diselamatkan, sedangkan Nona Lita...."


"Lita kenapa dok?!!" Tanya Alex panik.


"Nona Lita sekarang mengalami......"


Apakah yang dialami oleh Lita, setelah ia melakukan aksi nekatnya meminum racun?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2