![IMPERFECT HUSBAND [REVISI]](https://asset.asean.biz.id/imperfect-husband--revisi-.webp)
Bangunan yang tinggi tampak menjulang di sekolah Yohan, yaitu Blue School, New York. Sekolah terbaik pada masanya di kota tersebut.
Yohan kini berusia 11 tahun, ia duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Harinya sepi dan kosong, ia memandang teman-teman sepantarannya yang begitu ceria menjalani hari kanak-kanaknya.
Dirinya kerap kali diejek bahkan dihina, karena memiliki wajah tertampan dan siswa terpandai di sekolah.
"Eh, lihat tuh ada singa di sekolah ini," ejek Mike, teman sekelasnya yang selalu membuat keonaran didalam kelas.
"Iya betul, jangan dekat-dekat nanti singanya marah dan kita diterkam, hahaha," Mike dan Brayn menertawakan Yohan yang sedang melamun.
Yohan dengan tubuhnya yang berukuran sedang itu dijuluki sebagai singa, karena ia pernah memukul temannya hingga patah tulang.
...----------------...
Hari terus berganti, Yohan selalu mendapat perlakuan tidak adil dimanapun ia menempatkan diri. Hal tersebut membuatnya harus beradaptasi lebih dalam dengan sekitarnya.
Saat ini, remaja laki-laki tersebut duduk di bangku SMA. Ia menjadi sangat pendiam dibanding dengan anak-anak lain yang aktif.
Hingga suatu ketika, tepat hari Kamis siang. Seorang guru dengan parasnya yang manis memintanya untuk mengambil tumpukkan buku di meja kantornya.
"Yohan, tolong ambilkan setumpuk buku di meja kerja ibu ya," titah bu Lidia, guru wali kelasnya.
Tanpa banyak bicara, Yohan segera beranjak dari bangkunya, "Dasar wanita, menyusahkan saja!"
Lalu, ia pun mengambilkan buku tersebut, dan kembali duduk di kursi kelasnya. Baru saja, ia hendak mengambil buku Matematika. Tiba-tiba, bukunya telah lenyap, entah kemana perginya.
"Sial, dimana bukuku?" Yohan tampak gelisah dan mencari buku mata pelajaran tersebut.
Pelajaran berlangsung dengan suasana kelas yang tenang dan cahaya matahari tidak terlampau terik. Keringat dingin membasahi seragam sekolahnya.
Beberapa menit kemudian, suara wanita yang tengah mengajar di depan bertanya kepada seisi kelas tersebut, "Apakah kalian sudah paham materi ini?"
"Sudah bu." Semuanya menjawab dengan serempak dan hanya Yohan yang diam membisu di tengah sahutan teman sekelasnya.
Ternyata, guru tersebut memperhatikan dirinya. Bu Lidia dengan kemeja berwarna biru muda dan rok hitam yang kontras berjalan menghampirinya, "Yohan, saya perhatikan kamu sedang sibuk pada sesuatu sampai kamu tidak fokus. Apa yang sedang kau cari?"
Yohan mendelik ke arah gurunya, lalu menjawab pertanyaan tersebut, "Saya sedang mencari buku saya, Bu."
"Kau tidak membawa buku mata pelajaran saya?" tanyanya dengan wajah curiga.
"Saya membawanya, tapi buku itu hilang setelah saya kembali dari ruang guru," ungkapnya jujur.
"Tapi, Kamu paham materi hari ini?"
"Saya paham bu," jawabnya dan ia kembali memeriksa tas berwarna hitam kesayangannya.
Salah satu remaja pria yang merupakan ketua kelas di kelasnya pun angkat suara untuk menghakimi Yohan. Ia sangat berharap, teman sekelasnya itu mendapat masalah. Ia adalah Vincent.
"Halah, alasan saja. Kau pasti tidak bawa buku matematika hari ini kan?" sangkalnya sambil tertawa terbahak-bahak, diikuti suara siswa dan siswi lainnya.
"Sudah-sudah! Jangan berisik di kelas!" pinta Bu Lidia untuk mengembalikan ketenangan di kelas itu.
Tiba-tiba, Yohan beranjak dan kesabarannya habis. Ia yakin ketua kelas yang menjahilinya. Ia berjalan mendekati Vincent.
BRUGG!!
Kepalan tangan Yohan mendarat pada wajah mulus Vincent. Kulit putih kepunyaannya menjadi memerah dan hidungnya mengeluarkan cairan darah.
Yohan mencengkram seragam Vincent. Suasana menjadi tidak terkendali, pengajarnya berusaha melerai perkelahian keduanya.
Akan tetapi, hal itu tak lagi dihiraukan oleh Yohan. Ia menambah sebanyak dua kali pukulan yang sangat keras untuk meninju wajah tampan remaja malang tersebut.
Vincent terkulai lemah dengan hidungnya yang semakin banyak mengeluarkan darah. Gurunya tampak kebingungan, sebab pergulatan antara kedua siswanya semakin sengit.
"Cepat katakan, dimana buku pelajaranku!?" gertak Yohan.
Ia belum juga mau mengakui perbuatannya dan remaja laki-laki itu mengatakan dusta, "Ti-tidak ada! Aku ti-tidak tahu!!"
BRUGG!!
Pukulan yang lebih keras dari sebelumnya kembali mendarat di dada Vincent. Peluh membasahi pelipisnya dan mengatakan dengan tegas sekali lagi, "Katakan dengan jujur, dimana buku saya? Atau aku akan membuat nyawamu melayang?"
Akhirnya, Vincent mengakui kebohongan dirinya, akibat desakan yang diberikan oleh Yohan kepadanya.
"I-ini bu-buku milikmu... " ucapnya terbata-bata seraya menyerahkan buku matematika dari dalam tas miliknya.
"Membuang tenaga saja." Yohan menghempaskan cengkraman tangannya dari kerah seragam ketua kelas, hingga ia tersungkur diatas lantai.
__ADS_1
Semuanya hening dan tiada suara sedikitpun. Yohan kembali duduk di kursinya dan ia segera menyalin catatan di papan tulis kelasnya. Bu Lidia hanya bisa terdiam melihat kekerasan tersebut.
...----------------...
Saatnya pulang sekolah pun tiba. Yohan diminta untuk ke ruang BK untuk membahas kasus kekerasan fisik yang baru saja dilakukannya.
Beberapa menit kemudian, guru BK tersebut memberikan surat peringatan kepadanya, "Pokoknya hari ini juga, orangtuamu harus hadir!"
"Hm," Yohan hanya berdeham dan mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu menghubungi mamanya.
"Ma, datanglah ke sekolah. Ada yang mencarimu," pintanya dan ia langsung mengakhiri panggilan tersebut begitu saja.
"Sudah, tunggu saja." Jawabnya santai, seakan tak terjadi sesuatu.
...----------------...
Dalam hitungan jam, wanita paruh baya itu datang dan segera menuju ruang BK. Guru BK tersebut berbincang-bincang dengan mama dari Yohan sangat panjang.
"Maafkan anak saya, bu. Saya kurang mendidiknya, tapi saya berjanji akan mengajarinya untuk menahan diri," Permohonannya sambil mempertemukan kedua telapak tangan di depan dadanya.
Sesampainya di rumah, Yohan langsung diseret ke dalam gudang dan dicambuk oleh mamanya. Wanita itu sangat naik pitam, "Kau membuatku malu saja!!"
Putranya hanya tertunduk diam, ia hanya mendengarkan kata demi kata menyakitkan yang terucap dari bibir mamanya. Hal itulah yang membuat Yohan semakin depresi.
...----------------...
1 Dasawarsa kemudian, Yohan tumbuh dengan sangat cepat. Ia sangat mirip seperti almarhum ayahnya. Tampan wajahnya dengan tubuh yang atletis.
Tiada lagi tangis dan kesedihan, tatapannya sangat tajam. Kehidupan sangat dikagumi oleh banyak orang di kalangan umum.
Suatu hari, ia pergi ke mall di kota New York tersebut. Ia membeli sebuah kemeja dan celana berwarna hitam.
"Mama selalu saja memaksakan kehendakku! Menyebalkan!" Yohan menggerutu.
Lalu, ia pun mengantri di kasir dan membayar barang belanjaannya itu dengan black card miliknya. Langkah kakinya begitu santai, ia masih kesal dengan permintaan mamanya itu.
Banyak wanita, pengunjung mall tersebut melihatnya dengan penuh harapan untuk bersanding bersamanya.
"Tampan sekali dia, kira-kira siapa ya namanya?"
"Iya, aku juga mau kenalan sama dia. Semoga dia mau berkenalan dengan kita,"
"Halo?" Sapa salah satu dari mereka. Yohan hanya terdiam menatap sinis wanita tersebut.
"Cih, wanita," gumamnya dengan kesan tak tertarik.
"Boleh kami kenalan dengan tuan tampan ini? Kami mendengar tuan ini pemilik perusahaan Zhou, tapi kami belum mengenal nama Tuan." Pintanya untuk bermaksud berkenalan.
Salah satu gadis tersebut, mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Harapan manis terbayang dalam pikiran kedua gadis tersebut harus kandas dengan penolakan mentah dari Yohan.
Yohan langsung menepis tangan salah satu gadis tersebut dan berkata kasar, "Jangan terlalu percaya diri, tangan ini pun tak sudi berkenalan dengan wanita kotor seperti kalian!"
Gadis berambut sebahu itu menitikan air mata di pipinya, karena mendengar perkataan Yohan yang sangat tajam dan menusuk hatinya.
Temannya itu merangkul pundak gadis tersebut, untuk menenangkan hatinya yang luka dan sedih itu.
...----------------...
Setelah kejadian tersebut, Yohan masuk dalam topik panas berita utama. Ia dikenal sebagai CEO yang dingin dan kejam, menurut isu yang beredar.
Berita itu sampai di telinga, gadis pemimpin perusahaan Ling. Gadis itu adalah Raisa Ling, gadis yang sangat ramah dan terkenal dengan kelembutan dan kecantikannya.
Rambutnya yang amat panjang tergerai, membuatnya tampak cantik dan banyak digemari para pria masa itu.
Namun sangat disayangkan, sifatnya yang pekerja keras dan profesional, membuatnya tak memikirkan hubungan asmara atau pasangan hidup.
"Sa, sudah banyak lho, pria yang mendekatimu," kata Yuriko, sahabat terdekat Raisa.
"Terus, aku harus apa?" jawabnya tidak peka.
"Ya, kau gak ada minat buat menjadi pasangan dari salah satunya?" tanya Yuriko kembali.
"Tidak, prinsipku sekarang adalah fokus pada karirku dulu, pasangan itu urusan terakhir."
"Hmm, kau itu sudah berhasil berkarir. Kau hebat, sedangkan aku, belum bisa mendapatkan pekerjaan sampai sekarang." Yuriko tampak membandingkan kekurangannya.
"Pasangan saja aku gak punya, terkadang aku iri denganmu," sambungnya.
__ADS_1
"Aku yakin kau akan mencapai semuanya, cuma mungkin ini belum waktunya," Raisa mencoba menyemangati Yuriko dengan merangkul pundak gadis tersebut.
"Hmm, aku tau tapi sampai kapan?" ungkapnya putus asa.
"Bersabar saja, pasti akan ada waktunya." Gadis itu hanya menjawab demikian.
Raisa sangat yakin, pada saat yang tepat sahabat satu-satunya ini pasti akan mendapatkan jodoh yang terbaik.
...----------------...
Kemudian, Yuriko membantu Raisa menyelesaikan pekerjaan di perusahaan Ling tersebut. Dari hal tersebut, ia dapat belajar menjadi seorang pekerja handal dan profesional di perusahaan besar suatu hari nanti.
"Oia Yu, tolong bantu aku salin file yang ada di flashdisk ini, sekaligus buat laporan transparan tentang pengeluaran dan pemasukkan bulan lalu dan sekarang," pinta Raisa kepada Yuriko.
"Hmm baiklah, akan kubuatkan." Yuriko langsung mengerjakan tugas dari Raisa.
Saat mereka sedang bekerja, tiba-tiba ponsel milik Raisa berdering. Ternyata ibu Raisa menghubunginya.
"Sebentar ya, aku angkat dulu."
"Oh iya, silahkan." Yuriko pun mempersilahkannya, lalu ia melanjutkan pekerjaannya.
...----------------...
Gadis berambut panjang tersebut, berjalan mendekati sofa dan mengangkat telfon dari mamanya.
"Halo sayang mama, kamu lagi sibukah?" Terdengar suara lembut seorang wanita paruh baya tersebut.
"Gak terlalu padat, ma. Ada apa?" tanyanya polos.
"Baiklah, intinya malam ini, kita harus menghadiri makan malam ya," ujar wanita paruh baya tersebut.
"Ma, sudah berapa kali kubilang? Aku tidak mau dijodohkan dengan pria manapun. Aku ini bukan anak-anak lagi, Raisa sudah dewasa!" Raisa sekali lagi mempertegas keinginannya.
"Kau ingat, bagaimana perusahaan kita bisa maju? Ini semua berkat bantuan Almarhum papa Yohan, pemilik perusahaan Zhou!" Mamanya bersikeras agar putrinya mau menerima ajakannya.
"Ma, apakah bantuan ini perlu dibayar dengan mengorbankan kebahagiaanku?" tanyanya sambil menghela nafas panjang.
"Ini bukan soal kebahagiaan, tapi ini soal hutang budi yang sudah mama ceritakan padamu!" tekan mamanya.
"Ma, ta-tapi..." Gadis belia itu tampak keberatan menerima permintaan mamanya.
"Gak ada banyak alasan lagi, nanti malam adalah acara makan malam dengan keluarga Zhou dan Ling, sekaligus pertunanganmu dengan putra keluarga Zhou."
panggilan tersebut terputus, Raisa belum sempat menyatakan sanggahannya lagi. Namun, hasilnya pasti akan nihil dengan sifat keras sang ibu.
"Manusia penggila harta. Bagaimana bisa aku jatuh cinta dengan orang yang sama sekali tidak kukenal?" gerutunya.
...----------------...
Hari semakin siang, tampak mami Yohan sedang mengerahkan para pelayan untuk mendekorasi taman milik keluarga mereka.
"Mejanya sedikit digeser ke tengah, ya!" titahnya kepada para pekerja pria yang sedang mengatur posisi meja.
"Baik nyonya," sahutnya dan meletakan meja seperti keinginan majikannya itu.
Wanita tersebut berjalan keluar dan tampak raut wajahnya gusar, karena karangan bunga belum datang juga.
Tepat di lokasi tersebut, banyak pengawal yang berjaga, salah satunya adalah Jordan, tangan kanan majikannya itu.
"Haduh, karangan bunga belum sampaikah?" Tanyanya sambil melihat sekeliling.
"Sebentar lagi sampai, nyonya," ucapnya.
"Oke, kalau sudah sampai tolong diletakkan di sebelah sini ya."
"Baik, nyonya," jawabnya dan kembali bertugas menjaga keamanan sekitar.
...----------------...
Setelah dihubungi oleh mamanya, Raisa kembali ke dalam ruangan kerjanya. Yuriko tampak sibuk memandang laptop kantor tersebut.
"Lho, kamu kenapa, Sa?" tegur Yuriko. Ia melihat perubahan raut wajah sahabatnya menjadi sedih.
Gadis itu duduk di kursi kerjanya sambil memijat ringan hidungnya, pikirannya menjadi rumit dan hancur perasaannya.
Raisa menatap wajah sahabatnya dengan air mata yang mulai berlinang di matanya. Perasaan sedih dan kacau terpancar langsung dari bola matanya.
__ADS_1
"Eh??" Yuriko semakin bingung dengan situasi yang menjadi tidak karuan.