IMPERFECT HUSBAND [REVISI]

IMPERFECT HUSBAND [REVISI]
BAB 17 : Menebus Kesalahan


__ADS_3


Hari esok pun tiba, kedua pasangan suami istri itu kembali bersama dalam satu atap. Meskipun, hatinya masih terluka. Lita tetap berusaha memaafkan dan memberi kesempatan lagi kepada suaminya.


Yohan bangun sangat pagi dan ia memasakkan makanan kesukaan istrinya. Makanan itu adalah nasi goreng, ia mau berbaikan dan lebih dalam lagi dengan istrinya.


"Semoga, Lita suka dengan masakanku." Harapannya dan ia segera mengaduk nasi yang ada di dalam wajan.


Beberapa menit kemudian, nasi goreng itu matang dan siap dihidangkan. Aromanya sangat wangi dan pastinya rasa masakan itu sangat enak dan lezat.


Yohan memutuskan untuk membawanya ke kamar dan memberikan kejutan kecil untuk Lita dalam memperbaiki hubungan rumah tangganya, "Aku harus memperbaikinya dan tidak boleh mengecewakan dia lagi."


***


Sesampainya di kamar, ternyata Lita masih tertidur. Maklum saja, pagi itu sangat dingin dan embun pagi masih menempel pada tanaman di depan rumahnya.


Yohan berjalan ke arah istrinya yang masih terlelap. Ia membelai lembut rambut panjang Lita yang tergerai. Wajahnya amat cantik meskipun sedang tertidur.


"Sayang, kita sarapan yuk." Yohan membangunkannya perlahan dan mengecup keningnya.


"Hmm." Wanita tersebut masih mengantuk dan belum bersemangat untuk bangun.


Yohan membujuknya untuk bangun dengan menyebutkan makanan kesukaan istrinya tercinta, "Aku masak nasi goreng lho. Kalau kamu gak bangun, aku makan ya?" ungkapnya.


Lita mengerang dengan sangat keras sambil berkata tak jelas, "Emhh, ja-jangan."


Yohan sengaja mengecup kening Lita yang mulus dan putih bersih sekali lagi. Namun ternyata, suhu tubuh Lita sangat panas daripada biasanya.


"Eh, Lita??" Yohan meletakkan punggung tangannya di kening Lita dan hasilnya sama.


Ternyata Lita demam dan gadis itu juga mengeluarkan keringat dingin. Ia menggigil sambil kelopak matanya mengeluarkan sebuah cairan berupa air mata.


"Sayang, kamu tunggu sebentar ya... " Yohan beranjak dari kasur dan berniat untuk mengkompres istrinya yang demam.


***


Pria berperawakan gagah tersebut mengambil sebuah wadah berwarna abu-abu dan mengisinya dengan air hangat. Lalu, ia memasukkan handuk berwarna putih ke dalam air hangat tersebut.


"Kamu panas sekali, sayang.. " Yohan menjadi sedih dengan kondisi kesehatan Lita.


Lita terus menggigil dan memanggil terus-menerus nama Yohan. Matanya tetap terpejam dan peluhnya semakin membasahi ranjangnya.


"Ya Tuhan, tolong sembuhkan Lita. Aku ingin menebus kesalahanku padanya. Jagalah kesehatan dia dan anak kami... " Yohan berdoa sambil memegangi jemari manis Lita.


***


Beberapa jam kemudian, ibunya Lita datang sambil membawakan buah tangan berupa buah-buahan. Ia sangat cemas dengan kondisi anaknya yang sedang sakit.


"Han, sejak kapan dia demam?" Tanyanya mertuanya.


"Lita demam sejak tadi pagi. Dia menggigil terus dan demamnya tinggi." Jelas Yohan.


Mamanya menyibak beberapa helai rambut hitam Lita. Putrinya terbaring lemah diatas ranjangnya, semua berdoa semoga Lita cepat sembuh.

__ADS_1


***


Beberapa saat kemudian, Lita terjaga dari tidurnya dan matahari telah menyilaukan pandangannya. Tubuhnya terus mengeluarkan keringat dan demamnya juga mulai turun.


Gadis itu terkejut saat melihat mama dan suaminya berada di dalam kamarnya. Ia memanggil kedua orang tersebut, "Ma, Han?"


Yohan membuka matanya dan melihat istrinya sudah bangun. Hatinya sangat gembira, ia langsung mengecup penuh cinta jemari istrinya.


"Sayang, akhirnya kamu bangun juga." Kata Yohan seraya hatinya gembira.


Mamanya pun ikut tersenyum, ia melihat putrinya sudah bangun dan suhu tubuhnya kembali normal lagi. "Nak, kamu sarapan dulu ya?" Sambutnya.


Gadis itu semakin keheranan dan ia pun bertanya kepada mereka, "Apa yang terjadi?"


Yohan mengecup kening Lita dan gadis itu menatap ke arah suaminya, "Kamu demam tadi pagi. Sekarang, kamu makan nasi goreng buatanku dulu ya. Aku mau kondisimu semakin membaik dulu ya.. "


"Begitu ya.. " Akhirnya Lita pun menerima keinginan Yohan. Ia segera sarapan disaksikan oleh mamanya.


Yohan menyuapi istrinya dengan sangat sabar dan penuh senyuman setiap suapannya. Lita terus memperhatikan pandangan matanya dan batinnya berkata, "Dia tulus merawatku, aku juga akan berusaha menerimanya kembali."


Gadis itu kembali menaruh kepercayaannya kepada Yohan, suami tampannya dan ia pun tak akan memberikan kesempatan untuk wanita lain di luar sana.


Yohan juga kembali menatap Lita, hingga sekarang mereka sedang eye contact. Yohan tersenyum ramah dan berkata, "Ada yang salah dengankukah?"


"..... " Suasana menjadi hening dan mamanya memasang pandangan kearah keduanya secara bergantian.


"Kalian itu sangat romantis, mengingatkanku pada masa lalu saat bersama papanya Lita. Aku harap masalah kalian cepat selesai ya.."


"Amin, ma.. " Balas Yohan.


***


"Yohan.. " Panggilnya sambil membawakan secangkir teh hangat.


Yohan menoleh ke arahnya dan perasaannya senang, saat Lita memanggil dirinya. Ia merasa hubungannya akan semakin membaik.


"Iya, sayang?" Sahutnya dan tak lupa dengan senyuman di bibir merahnya.


"Kamu mau hubungan kita kembali seperti semula? Atau sebaliknya, kamu nyaman dengan jarak diantara kita?" Tanyanya yang sontak membuat Yohan terkejut.


"Tentu, aku ingin hubungan kita yang dulu. Hubungan yang hangat dan harmonis." Jawabnya dengan pandangan yang tak luput dari mata indah milik Lita.


"Baiklah, aku akan ajukan satu permintaan untuk kamu. Tapi, kamu janji akan turuti semua permintaanku?" Tanyanya sebelum menyebutkan keinginannya.


"Aku janji, apapun itu akan kuturuti agar hubungan kita bisa seperti dulu lagi." Balasnya menyanggupi.


"Baiklah, kalau seperti itu. Gugurkan kandungan Letta, pasangan gelapmu." Pinta Lita dan tatapan Yohan menjadi kosong.


"........ "


Suasana menjadi hening, ketika permintaan Lita terucap. Perasaan iba menghantui pikiran Yohan, karena ia harus membunuh nyawa janin yang tak berdosa itu. Di sisi lain, ia juga ingin kembali bersama Lita, istrinya.


Pikirannya kacau dan bercabang, "... Bagaimana bisa aku membunuh nyawa tak berdosa itu..?" Jawab Yohan ragu dan takut.

__ADS_1


"Oh, berarti kau ingin perpisahan dari kita. Baiklah, kalau kau tidak mau. Aku tidak memaksa."


Yohan yang tak ingin kehilangan Lita untuk kedua kalinya, terpaksa ia menyanggupi apa yang diminta istrinya. Pria itu berdiri dan mengambil kunci mobil yang ada diatas meja.


"Baik, a-aku akan melakukannya untukmu.." Yohan merasa tak tega, karena ia harus membunuh janin yang merupakan calon anak biologisnya.


"Bagus, selama janin itu masih ada di rahim Letta perasaanku semakin tidak nyaman. Aku ingin dia merasa kehilangan seperti aku. Aku juga mau dia hancur, merasa rapuh dan sakit, seperti dia merebut kamu dariku.." Balas Lita dan ia pun ikut bersama suaminya.


Mereka pun berangkat menuju kantor dan menjumpai gadis yang sedang mengandung anak di luar nikah.


***


Sesampainya di lobi kantor, mereka segera bergegas melangkah menuju lift dan menekan nomor lantai tujuan mereka ke ruangan kerja Letta.


Lita dan Yohan masuk lalu mengunci ruangan tersebut dengan salah satu tangan. Letta tampak panik dan kebingungan, keringat dingin mulai mengucur.


PLAK PLAK


Tamparan diberikan Lita kepada sekretaris tersebut. Gadis yang nyatanya menjadi korban pelampiasan kesepian Yohan. Lita sangat membenci wanita tersebut, ia beranggapan bahwa wanita ini merusak hubungan.


Mata Letta mengeluarkan butiran cairan dan membasahi pipinya yang terdapat beberapa bekas jerawat yang tersamarkan warnanya.


Tak tanggung pula, Yohan mengeluarkan sebungkus obat yang berisi satu kapsul obat. Ia memasukkan kapsul tersebut ke dalam segelas air putih milik Letta dan membiarkannya larut.


"Cepat minum sekarang!" Paksa Yohan.


Letta menggelengkan kepalanya dan menutup serapat mungkin mulutnya. Ia tahu kalau itu adalah sebuah obat yang dapat meluruhkan rahimnya.


Lita tersenyum sadis dan ia mencengkram keras dagu gadis yang menjadi korban pasangan suami-istri tersebut. Tatapan Lita tak bisa lepas dari Letta.


"Kau juga harus merasakan sakit hati sepertiku! Harus!" Ungkap Lita dengan emosi marah yang meledak-ledak.


"Buka mulutmu dan minum air itu sekarang!" Bentaknya, akan tetapi Letta bersikeras tak membuka mulutnya.


"Kau mau cara kasar ya?" Tanya Lita dan kemudian ia menarik kasar rambut Letta, hingga helai demi helai rontok. Yohan hanya menyaksikan perbuatan tanpa melarang Lita, yang sudah melakukan penganiayaan.


***


Waktu berjalan sangat lama dan akhirnya Letta kelelahan dan lemas. Ia segera diikat oleh Yohan dan Lita meminumkan air tersebut ke dalam mulut Letta.


Letta terus menangis dan hidungnya mengeluarkan cairan berwarna merah kental. Ia berserah diri kepada Tuhan, karena Tuhan yang menentukan hidup dan matinya.


"Nyonya... Tuan... Maafkan saya... " Ucapnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya.


Lita menaikkan wajah gadis yang tertunduk tersebut, "Maaf katamu? Kau sudah membohongiku dan anak yang ada di rahimmu itu adalah darah daging suamiku! Aku gak mau dimadu!!"


"Tapi, semua rasa sakitku telah berakhir dan aku bangga dapat melakukannya. Kita tunggu saja, kapan kau akan keguguran."


Betul saja, dalam hitungan beberapa menit perut Letta mengalami kontraksi dan cairan darah kental mulai mengalir mengenai kakinya. Ruangan itu mulai dibasahi cairan darah.


"... Aw... " Sekretaris itu mengerang kesakitan dan Lita tertawa puas.


"Tuntas sudah, terimakasih atas waktunya.. " Ungkap Lita dan tanpa disadari aksi mereka terekam oleh CCTV kantor.

__ADS_1


Bagaimanakah kelanjutannya? Akankah mereka berakhir di dalam jeruji besi keadilan?


Bersambung...


__ADS_2