![IMPERFECT HUSBAND [REVISI]](https://asset.asean.biz.id/imperfect-husband--revisi-.webp)
The Rossevelt Hotel, New York
06.45 A.M
Cahaya fajar menyilaukan pandangan Lita, matanya masih mengantuk karena malam yang sungguh tak akan pernah ia lupakan.
Dirinya masih menangis, diatas ranjang yang sangat berantakan dan kedua tubuh tersebut hanya tertutupi oleh selimut.
Yohan terbangun mendengar tangisan istrinya di malam pertama, ia menghadap ke arah istrinya, "Sayang, kenapa kau masih menangis?"
"Kau tanya kenapa?! Kau mengambil kesucianku!" Jawabnya yang masih kesal.
"Ini sudah harus kamu lakukan denganku, ingat kamu itu istriku." Yohan merasa sangat senang, bisa merasakan keperawanan seorang wanita malam itu.
"Bagaimana bisa kau berhubungan dengan wanita yang jelas-jelas kau benci?" Jawab Lita sambil berbalik arah dan matanya terus mengeluarkan buliran air mata.
Wanita yang baru saja menikah itu menangis tersedu-sedu dan berkata, "Kau ingat bahwa ini terjadi karena hutang-piutang. Aku dijual dan dipersunting olehmu, jadi hubungan kita ini sebatas kesalahan."
Yohan langsung membalikan tubuh mungil istrinya yang tertutupi selimut tebal. Pria berkulit putih itu mengecup lembut kening Lita. Pria itu meletakkan jarinya yang panjang di bibir manis Lita.
Lita terkejut dengan sesuatu yang baru saja dilakukan oleh Yohan suaminya, bulu romanya berdiri dan pipinya memerah merona.
"Kau menyukaiku?" Tanya Yohan dengan ketampanannya yang sangat menggoda.
Lita terkejut mendengar perkataan Yohan, wanita tersebut membuang pandangannya dari wajah tampan Yohan.
"Te-tentu saja tidak!!" Jawab Lita yang mulai jatuh cinta dengan suaminya itu dan ia sangat gugup.
"Bohong." Yohan kembali membalikkan tubuh Lita dan menahan kedua tangan kecil Lita.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan?!!" Istrinya sangat panik dan wajahnya kembali memerah.
"Melakukan kegiatan di malam pertama kita untuk kedua kalinya." Yohan langsung menyentuh bibir manis Lita, layaknya serigala lapar.
Jantung wanita berambut panjang itu berdegup semakin cepat dan ia menikmati hal yang dilakukan suaminya.
"Uhh." Leguhan Lita terdengar di telinga Yohan. Nafasnya memburu karena perbuatan Yohan.
"Sungguh, kau benar-benar berbohong. Aku juga mencintaimu, istriku." Ucapan yang terlontar dari bibir Yohan membuat mata Lita terbuka dan terkejut.
Baru saja Lita akan berkata, Yohan pun meletakkan jarinya di bibir Lita, "Aku tidak menerima penolakan."
"Aku akan membuatmu jatuh cinta lebih padaku dalam 1 hari ini." Yohan merasa sangat bahagia hari itu.
Ia memeluk tubuh Lita yang tidak menggunakan sehelai benang apapun. Tubuhnya tampak manis dan indah, Yohan telah hafal dengan setiap lekukannya.
"Tapi, ada satu hal yang harus kamu tau.." Raut wajah Yohan berubah menjadi sedih secara drastis.
__ADS_1
"Han? Kamu kenapa sedih begitu?" Tanya Lita peduli kepada suaminya.
Yohan menatap wajah Lita dengan sangat tajam dan menarik nafas panjang, "Apakah kau akan tetap menerimaku nanti? Aku takut kau pergi karena tau rahasia diriku.."
"Bagaimana juga aku ini istrimu, aku akan terima kekuranganmu," Lita tersenyum menatap Yohan dan mengusap pundaknya.
"Baiklah, aku ini menderita gangguan mental. Aku bisa tiba-tiba marah dan bahagia berlebihan." Yohan masih tertunduk dan ia berpindah posisi menjadi duduk di tepi ranjang.
Lita dengan sigap memeluk tubuh suaminya dari belakang. Yohan yang merasakan hangat pelukan dari Lita, matanya terbuka dan berkata dalam hati, "Kenapa aku pernah menghinanya dulu? Istri yang sebaik ini.."
"Han, bagaimana pun keadaanmu, aku akan selalu ada di sisimu dan setia. Ingat, susahnya suami, susah istri juga." Balas Lita menegarkan perasaan suaminya.
"Aku bisa membahayakan keselamatanmu.." Yohan masih tak bisa mempercayai kenyataan yang ia terima.
"Han, aku yakin kamu bisa sembuh dan aku percaya kamu tidak akan membahayakan keselamatanku.." Lita memegang jemari Yohan.
"Tapi kalau aku menyakitimu gimana?" Tanyanya lagi.
"Aku tak masalah, tapi kamu harus berjanji mau ikut terapi ya?" Pinta Lita.
"Gak, itu hanya sia-sia. Buktinya, aku gak sembuh?" Yohan menaikan sebelah alisnya.
"Kamu harus jalani dengan ikhlas dan sepenuh hati. Aku yakin kamu akan sembuh, satu hal yang terpenting adalah berdoalah kepada Tuhan." Lita tersenyum hangat kepada suaminya.
Yohan menatap wajah istrinya dan sangat percaya sepenuhnya pada Lita sepenuhnya.
"Senyumanmu indah dan hangat," Sanjung Lita.
"Se-senyum?" Tanya Yohan terbata-bata karena tak percaya.
"Yeah, kamu manis banget dan menenangkan perasaanku." Sambung Lita yang mengagumi senyum Yohan.
"Mungkin, ini akan lucu bagimu. Ini kali pertamanya aku tersenyum." Katanya dan tanpa sadar air matanya keluar dari kelopak mata akibat terharu.
"Kamu berhasil tersenyum untukku, kamu hebat. Aku berharap setiap hari, aku bisa melihat senyuman indahmu." Lita mengalungkan tangannya pada leher suaminya.
"Terimakasih karena kau menjadi titik terang bagiku, aku sangat bahagia denganmu." Balasnya dan langsung membaringkan tubuh Lita diatas ranjang dengan lembut.
"Semoga bulan depan kau terlambat datang bulan." Yohan meraba lembut perut Lita dan wajah Lita memerah.
"Semoga ya," Lita tersenyum dan melakukan hubungan itu sekali lagi dengan Yohan di pagi hari.
***
08.30 A.M
Mama dari Lita dan Yohan, serta Nana sudah menunggu kedua pasangan baru itu di meja makan pesanan mereka untuk sarapan bersama.
"Lama sekali Lita dan Yohan, ini sudah cukup terlambat untuk sarapan." Mama Lita memiringkan tangannya dan melihat arlojinya yang menunjukan pukul setengah sembilan pagi.
__ADS_1
"Mungkin mereka kelelahan, akibat efek obat yang kuberikan pada Yohan." Mama Yohan tersenyum-senyum membayangkan apa yang dilakukan Yohan dengan Lita semalam.
"Obat?!" Yuriko dan Mama Lita terkejut mendengar ucapan Mama Yohan.
"Ups, aku kelepasan. Kalian akan tau hasil obat itu bulan depan." Mama Yohan membalasnya dengan senyuman.
"Hal ini membuatku penasaran." Ucap Yuriko yang tak paham dengan hal yang dibicarakan mama mertua sahabatnya.
"Supaya rasa penasaranmu hilang, apakah gak sebaiknya kamu mencari pasangan hidupmu?" Goda mama Lita.
Wajah Yuriko memerah dan salah satu tangannya menutup mulutnya. Ia tertawa ringan karena lelucon tersebut, "Pfft,"
"Suatu saat, Tan. Tapi, entahlah kapan?" Jawab Yuriko sambil mengangkat kedua bahunya.
Lalu, kedua wanita lawan bicaranya itu ikut tertawa melihat ekspresi Yuriko yang malu dan pipinya memerah.
(***)
15 menit kemudian, tampaklah dari kejauhan Yohan dan Lita yang hadir menuju meja pesanan mereka sambil menggendong Lita.
Para tamu yang sedang menikmati dan menyantap hidangan restoran tersebut melihat kemesraan pasangan yang baru menikah tersebut.
"Tante, lihat itu Lita dan Yohan!" Yuriko menujuk ke arah pasangan yang semakin mendekat itu.
"Akhirnya datang juga, aku sudah lapar tau." Gerutu mama Yohan.
"Sudahlah, yang terpenting mereka sudah datang. Ini momen bahagia bagi kita semua." Ucap mama Lita.
"Aku ikut bahagia, melihat mereka bahagia." Kata Yuriko yang ikut senang.
***
Sesampainya pasangan tersebut di meja tujuan, Yohan langsung mendudukan Lita di kursi sebelah Yuriko.
"Sudah ya sayang, gak boleh capek-capek yaa. Kasian nanti calon janinnya." Yohan mengelus rambut Lita dengan manja.
Kedua wanita paruh baya tersebut terkejut dengan ucapan Yohan yang ingin segera punya momongan.
"Janin? Kau sudah mau jadi ayah?!!" Tanya mereka semua terkejut dan gembira.
"Eh, tunggu. Lita kenapa lehermu banyak bekas merah-merah begitu???" Sela Yuriko polos kepada sahabatnya.
Yohan dan Lita saling bertatapan, "....?!"
Kedua pasangan tersebut sangat tabu, ketika ditanya hal yang berkaitan dengan malam pertama mereka.
Apakah jawaban dari pertanyaan Yuriko untuk mencairkan suasana beku di meja tersebut?
Bersambung...
__ADS_1