![IMPERFECT HUSBAND [REVISI]](https://asset.asean.biz.id/imperfect-husband--revisi-.webp)
Malam pun tiba, Yohan tak kunjung datang menemui istrinya. Yuriko ditemani mama mertua Lita sedang menjaga gadis yang terbaring lemah itu.
"Lita, tolong maafkan kesalahan Yohan denganmu. Aku sadar, seharusnya aku mengajarkannya sopan santun pada anak itu." Gumam kesal sang ibu mertua.
Lita hanya menatap kosong dan wajahnya semakin pucat pasi. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita yang sedang mengandung muda tersebut.
"Ta, kamu jangan takut, masih ada kami di sisimu. Kalau Yohan berani macam-macam, kami tak akan tinggal diam." Yuriko mencoba menyemangati sahabatnya itu.
Lita hanya menatap lurus pandangannya tanpa bisa berbuat. Ia merasa bahwa hidupnya sudah tidak akan lama lagi.
Lita yang melamun dan terbaring bagaikan mayat hidup, tiba-tiba menitikkan air mata dan mengalir membasahi pipinya.
"Han, sebenarnya kamu ada dimana? Apakah kamu tidak merindukanku?" Rindunya bagaikan sebuah sentuhan yang dibutuhkan dirinya.
***
Selang beberapa menit, pintu ruang rawat tersebut dibuka oleh Yohan, suami Lita. Lita tersenyum melihat kehadiran insan yang ditunggunya.
Akan tetapi, hal menyakitkan pun terjadi. Suaminya seolah lupa dengan istrinya yang telah siuman. Ia tak melirik Lita sedikitpun.
"Ma, bolehkah malam ini aku istirahat di rumah? Hari ini terlalu melelahkan." Izinnya kepada wanita paruh baya tersebut.
"Tidak! Sudah cukup, kau buat dia sampai begini!!" Bentak mamanya.
Akhirnya, Yohan teringat akan istrinya. Ia melihat ke arah Lita dan gadis itu pun kembali tersenyum.
"Ma, Yu, Lita kenapa diam terus? Dia kan sudah siuman?" Tanyanya kebingungan.
"....." Suasana mendadak hening dengan hal yang ditanyakan oleh Yohan.
Yohan semakin dibabibuta oleh rasa penasarannya, "Katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi dengan istriku??"
Dengan berat hati dan perasaan terpukul, akhirnya Yuriko mengatakan hal sebenarnya tentang Lita, "Lita sulit untuk berbicara seperti dulu, karena ada beberapa saraf yang terganggu."
Suaminya yang mendengar berita sedih itu, langsung mendekati tubuh istrinya yang terbaring lemah.
"Sayang, maafin aku ya. Ini semua salahku, andai saja aku gak kasar sama kamu malam itu. Pasti hal buruk ini gak akan menimpa kamu.." Gumamnya sambil mengusap dan mengecup kening sang istri.
Lita yang menatapnya, hanya bisa berkata dengan batinnya dan mungkin hanya dirinya serta Tuhan yang tau.
"Ini semua sudah terjadi. Jadi, jangan salahkan dirimu terlalu banyak lagi."
Yohan yang sudah sangat lelah, akhirnya berpamitan pulang untuk istirahat di rumah, "Aku pulang dulu, besok pagi, aku akan datang menjumpai Lita lagi."
"Baiklah, tapi ingat jangan ada alasan untuk tidak kemari." Tegas mamanya.
__ADS_1
"Baiklah," Jawabnya dan Yohan segera melangkahkan kaki untuk keluar dari ruang rawat Lita.
***
Di tengah perjalanan, Yohan melihat seorang wanita yang tak asing lagi baginya. Gadis dengan tubuhnya yang tinggi dan warna khas irisnya berwarna ungu.
Yohan pulang menuju rumah dengan mengendarai mobil miliknya. Cuaca malam itu buruk, karena sedang terjadi hujan badai.
Yohan mengemudi dengan kecepatan yang rendah untuk menghindari kecelakaan lalu-lintas. Namun, ia melihat sesosok wanita yang tak asing baginya.
"Itukan Letta." Pandangan Yohan sedikit kurang jelas karena air hujan yang membasahi kaca jendela mobilnya.
Yohan pun dengan sigap menepi dan keluar dari mobil sambil membawa payung untuk menawarkan tumpangan kepada sekretarisnya.
"Letta!" Panggilnya dari kejauhan dan gadis itu memutar sedikit kepalanya. Ia melihat itu adalah Yohan.
"Tuan Yohan?" Ia mengusap kelopak matanya yang basah karena air hujan.
Yohan pun mendekati sambil membawa payung. Akan tetapi, saat memayungi Letta, angin bertiup kencang ke arahnya.
Payung tersebut terbang dan menyisakan tubuh kedua insan tersebut yang diguyur jutaan titik air hujan.
Suasana dingin menusuk kulit keduanya. Yohan menggenggam tangan Letta dan membawanya berlari untuk masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di dalam mobil, "Kamu kedinginan?" Tanyanya lembut bagai seorang malaikat.
Letta menganggukan kepalanya yang mengisyaratkan pernyataan yang betul dari atasannya.
***
Perjalanan di kota itu sedikit macet dan rawan kecelakaan saat hujan badai melanda. Banyak kendaraan yang terhenti.
Di dalam mobil hanya ada mereka berdua. Letta yang lupa membawa minyak angin merasa kedinginan dan bajunya basah sekali.
Yohan yang melihatnya merasa iba. Entah apa yang terjadi, semenjak Lita koma di rumah sakit, dirinya menjadi sangat ramah dengan wanita. Apakah ia sedang kesepian?
Yohan memeluk sekretarisnya yang kedinginan itu sekilas dengan tujuan untuk menghangatkannya. Tetapi, iblis muncul di dalam mobil tersebut.
Suasana berubah dan kedua insan tersebut terbawa suasana. Keduanya berpindah ke tempat duduk bagian belakang.
Pria berdada bidang dengan tubuh yang sempurna layaknya roti sobek mulai melepaskan kancing kemeja Letta.
Letta menjadi kebingungan. Jantungnya berdegup kencang dan bingung dengan apa yang harus dilakukannya.
"Tuan, anda mau apa??"
Yohan meletakkan jarinya diatas bibir manis sekretarisnya. Ia mulai menandai leher gadis tersebut dengan sebuah kecupan.
__ADS_1
"Tuan sa-----" Belum selesai berbicara, gadis itu sadar kini, ia hanya mengenakan rok hitam mininya.
"Diamlah, kamu begitu cantik malam ini. Aku membutuhkanmu, rasanya aku rindu hal ini, namun tak bisa kulampiaskan." Yohan merasakan sepi pada dirinya semenjak istrinya koma.
Akhirnya, mereka melakukan hubungan terlarang itu di dalam mobil di kala badai malam itu. Keduanya terbawa suasana dan mereka tersadar keesokan harinya.
***
Letta merintih kesakitan dengan tubuh tanpa sehelai benang yang melekat dan dirinya melepaskan mahkota yang ia jaga bertahun-tahun kepada atasannya yang jelas-jelas sudah memiliki istri.
Gadis itu menangis tersedu-sedu dengan hal bodoh yang dilakukan oleh mereka sepanjang malam di dalam mobil Yohan.
Yohan terkejut melihat dirinya telah melakukan pengkhianatan dengan sekretarisnya sendiri. Matanya terbuka lebar.
"Apa yang telah kulakukan?!" Tanyanya panik dan kebingungan.
"Tuan harus bertanggungjawab dengan perbuatan Tuan semalam!!" Letta menangis tersedu-sedu dan menutupi tubuhnya dengan dipenuhi bekas merah.
"Tidak!!" Penyakit mental Yohan kembali kambuh.
Keduanya bertengkar di dalam mobil, "Kau telah melecehkanku! Kau mengambil keperawananku!!"
Yohan sangat panik dan akhirnya, ia memutuskan untuk memberikan cek sebesar 200 juta rupiah kepada Letta.
"Ambilah ini dan lupakan malam itu!" Pinta Yohan sambil melempar cek tersebut.
"Tapi, ini tidak sebanding de----" Yohan melemparnya selembar cek lagi yang bertuliskan 600 juta rupiah.
"Apakah masih kurang?" Tanya Yohan dengan santai.
Gadis itu hanya terdiam dan tertunduk, "Sekarang cepat, pakai bajumu dan tinggalkan mobilku!!"
Gadis itupun menuruti hal yang dipinta Yohan dan segeralah ia pergi dengan langkah yang sedikit pincang akibat hubungan gelapnya dengan atasannya sendiri.
"Aku wanita berdosa, kenapa aku mau melakukannya diatas perjuangan istrinya untuk sembuh...?" Gumamnya sedih penuh penyesalan.
***
Sesampainya di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat Lita. Pria tersebut bersisipan dengan Yuriko. Tatapannya tak seperti biasanya pada Yuriko.
"Eh? Yohan kenapa ketakutan gitu ya?" Gumamnya gadis berambut kecoklatan itu.
Yuriko juga menghirup wangi parfum wanita lain, ketika Yohan melintas di sampingnya dan pakaian semalam yang dikenakannya.
"Lho, kok kamu pakai kemeja yang kemarin?" Yuriko bertanya dengan penuh kecurigaan.
"Aku tertidur di dalam mobil, karena semalam badai terlalu kencang." Balasnya dan kemudian, melangkah begitu cepat.
__ADS_1
"Aku merasa ada yang tidak beres. Perlu diselidiki..." Gumam Yuriko dalam hati.
Bersambung...