IMPERFECT HUSBAND [REVISI]

IMPERFECT HUSBAND [REVISI]
BAB 15 : Pernikahan J&Y


__ADS_3


Tiga bulan telah berlalu sangat cepat. Kandungannya yang semakin membesar membuatnya sedikit kesulitan berjalan, sehingga suaminya merasa iba dan membantunya. Usia kandungannya adalah 7 bulan.


"Biar kubantu ya." Yohan membantu Lita berdiri dari kasurnya.


Lita dengan senang hati menerima bantuan dari Yohan, sang suami. Matanya sangat indah dengan warna coklat pada iris matanya, ketika ia tersenyum, "Sayang, nanti malam kita hadir ke acara pernikahan sahabatku ya, Yuriko."


Yohan tersenyum dan mengangguk yang mengartikan setuju dengan permintaan gadis belahan hatinya itu. Tangannya semakin kuat menggenggam Lita, "Jangan pernah menjauh baik itu secara tak langsung pula dariku." Sebuah kalimat yang tersirat dalam benaknya.


***


Malam hari pun tiba, Lita dan Yohan beserta keluarga mereka menghadiri acara pernikahan yang dilangsungkan secara mewah dan dihadiri para tamu penting.


Kedua mempelai duduk di pelaminan dan sangat merasa bahagia dengan hari pernikahan yang didambakan setiap pasangan telah terwujud.


Beberapa saat kemudian, beberapa orang dengan pakaian serba hijau dan menawan berjalan memasuki acara pernikahan tersebut. Mereka adalah Yohan, Lita serta kedua orangtua pasangan tersebut.


Yuriko sangat senang melihat kehadiran sahabatnya. Wanita berbadan dua itu mengingat acara penting Yuriko.


"Lita! Kukira kamu tak hadir di acaraku." Kata Yuriko gembira.


Kedua sahabat tersebut berpelukan dan tersenyum hangat, "Pastinya aku akan datang ke acara pernikahan sahabatku. Selamat menempuh hidup baru." Ucapan selamat dari gadis berambut panjang yang sangat anggun.


Yuriko membalas ucapan selamat sahabatnya, "Terimakasih ya, makin besar juga nih perutnya. Aku jadi gak sabar ingin punya momongan sepertimu." Ucapnya sambil mengusap perut Lita.


Kemudian, Yohan juga menyalami teman bisnisnya Lita. Mempelai pria di acara pernikahan tersebut, "Selamat ya, selamat menjadi nahkoda dalam rumah tangga kalian. Kudoakan yang terbaik."


"Terimakasih." Balas Jiang.


Tak lupa juga, mama Lita memeluk Yuriko yang tampil sangat menawan dengan kecantikan alami yang dimilikinya. Mama Lita mengeluarkan sebuah tas yang berisi hadiah pernikahan.


"Selamat ya, nak. Akhirnya, kamu menyusul menikah juga seperti Lita. Oia, ini ada hadiah dari kami. Semoga kamu suka dengan hadiah dari kami." Wanita paruh baya tersebut menyerahkan hadiahnya.


"Terimakasih ma, aku pasti suka hadiah dari mama." Jawabnya disertai ukiran senyum kebahagiaan.


***


Ucapan selamat membanjiri kedua pengantin baru tersebut. Hingga di akhir acara, Yuriko dan Jiang melempar bunga ke arah para hadirin.


HAP

__ADS_1


Ternyata bunga tersebut didapatkan oleh Yohan dan Lita. Mereka pun berfoto bersama dengan pengantin baru tersebut. Suasana semakin dipenuh kebahagiaan.


***


Acara pernikahan pun selesai, Yuriko dan Jiang masuk ke kamar pengantin mereka untuk beristirahat bersama. Kamar yang dihiasi bunga mawar merah menambah sedap dan keindahannya.


Jiang menggendong sang istri, lalu membaringkannya di kasur king size miliknya. Wajahnya tersenyum seperti serigala lapar malam itu. Pria di depan Yuriko mulai membelai rambutnya.


"Mulai sekarang, jangan panggil aku Tuan lagi. Meskipun itu di kantor, kamu itu istriku." Pintanya dan mengecup perlahan kening istrinya.


Yuriko pun menuruti perintah suaminya dan mereka melakukan ciuman panas malam itu. Rasa cinta yang berapi-api menjadi pelampiasan keduanya.


Beberapa jam kemudian, Yuriko mengecup kening mulus milik Jiang, "Aku mencintaimu." Keduanya tertidur dalam keadaan berpelukan dan seakan tak ingin melepaskannya lagi.


Fajar pagi pun menyingsing, cahaya menembus kain putih tipis. Kedua pengantin baru tersebut masih sangat lelah dengan kasur yang berantakan tak tersusun lagi. Yuriko bangun dan segeralah ia melangkahkan kakinya untuk membuka gorden tipis berwarna putih tersebut.


Jiang yang meraba kasur di sebelahnya tak mendapati tubuh istrinya. Matanya yang masih ingin merekat untuk terlelap pun dipaksanya untuk dibuka.


Ia melangkah perlahan dan mendekap sang istri penuh kasih sayang. Kehidupan pernikahan baru yang indah dan mesranya cinta mereka.


"Selamat pagi, sayang." Sapa suaminya dan mengecup tengkuk istrinya.


***


Berbeda halnya dengan Lita, suaminya masih tertidur dengan ponsel yang diletakkan di atas meja sebelah ranjang, tempat Yohan tidur.


Ponsel tersebut berdering dan ternyata ada sebuah pesan yang masuk ke dalamnya. Lita mendelik ke arah sumber bunyi notifikasi dari ponsel suaminya.


"Ini kesempatan langka, aku harus cari tau. Apakah Yohan mengkhianatiku?" Lita bergerak sigap dan betul saja, pesan singkat tersebut dari sekretarisnya.


Letta


'Tuan, maafkan saya. Tapi, saya harus jujur. Saya positif hamil anak Tuan karena malam itu. Saya menuntut pertanggungjawaban dari tuan.'


Betapa terkejutnya Lita membaca pesan dari sekretaris suaminya itu. Hatinya hancur dan terpukul mengetahui kenyataan pahit kisah mereka.


Gadis yang tengah hamil tua tersebut menjadi lemas, lantaran pesan singkat yang menyakitinya dan juga pengkhianatan suaminya dengan ketulusan yang telah ia berikan selama ini.


Lita yang berdiri tegap, kini menjadi rapuh tanpa fondasi lagi. Ia duduk lemas di lantai dan menangis hebat dalam diam, "Kenapa kamu tega khianati aku? Setelah semua yang kita lalui." Ungkapnya dalam hati yang sudah sangat retak.


Tiba-tiba ada panggilan masuk dari ibu mertua Lita atau mama Yohan. Gadis itu terdiam dalam tangisnya dan mengangkat telfon tersebut.

__ADS_1


"Halo?" Suara wanita paruh baya yang merupakan mertuanya mulai terdengar di telinga Lita.


"Ha-halo, ma." Lita menyahut dengan suara yang sedikit berat.


Mamanya yang menghubungi terkejut dan langsung menanyakan keadaan Lita yang seperti tak biasanya, "Nak, kamu kenapa? Kamu habis menangis ya?"


"Aku gak tau harus cerita dari mana lagi, ma." Balasnya sambil menangis tersedu-sedu.


Akhirnya, mama mertuanya memutuskan untuk bertemu dengan Lita, menantunya. "Yasudah, kita ketemuan saja. Kita ketemuan di cafe dan mama akan share location."


"... Iya, ma." Sahutnya dan panggilan tersebut segera ditutupnya." Lita segera bersiap dan bergegas untuk menjumpai mama mertuanya dengan membawa barang bukti berupa Screen shoot pesan singkat dari ponsel Yohan.


***


Satu jam kemudian, Yohan baru saja terbangun dan ia mendapati bahwa dirinya sendirian di dalam kamar. Ia tak melihat tubuh mungil istrinya pagi itu.


Batinnya bergumam, "Lita lagi di dapur ya? Tapi tumben ya, dia gak bangunin aku?" Yohan merasa janggal pagi itu.


Akhirnya, ia beranjak dan segera mencari istrinya di seluruh ruangan rumah mewah tersebut. Ia tidak juga mendapati Lita di setiap isi rumah.


"Lita sayang, kamu dimana?" Teriaknya memanggil sang istri. Namun, tak kunjung jua mendapat balasan.


Setelah beberapa kali mengelilingi setiap ruangan dan mendapatkan hasil nihil. Akhirnya, Yohan memutuskan untuk menghubungi Lita. Akan tetapi, panggilannya tak membuahkan jawaban dari kecemasannya.


"Sebenarnya ada apa sampai kamu pergi seperti ini?" Gumamnya dalam hati. Yohan belum menyadari bahwa, Lita telah membaca pesan dari Letta, sekretarisnya.


Yohan pun mulai curiga, ia pun membuka ponselnya dan mendapati pesan yang telah dibaca oleh Lita dari Letta, sekretarisnya.


"Hah!? Apa Lita baca pesan ini?" Firasat Yohan menjadi sangat tak enak dan hatinya gelisah.


Yohan segera menuju kantor dan mendapati sekretarisnya sedang bekerja. Yohan langsung naik pitam dan menarik paksa lengan Letta.


"Ada apa, Tu-tuan?" Tanyanya ketakutan.


"Aku yang harusnya tanya ada apa! Karena ulahmu, istriku jadi pergi!!" Ucapnya dengan emosi marah yang meningkat.


"Saya hanya menuntut tanggung jawab!" Letta ikut naik darah dan menampar Yohan. Hingga mereka menjadi sorotan para karyawan di kantor.


"Tapi tidak seperti ini juga!" Bentak Yohan dan nafasnya menjadi tak karuan karena emosi yang meledak itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2