![IMPERFECT HUSBAND [REVISI]](https://asset.asean.biz.id/imperfect-husband--revisi-.webp)
Matanya membuka dan ia mendapati dirinya berdiri di sebuah taman yang rindang pepohonan. Taman itu sangat asri dan sempurna kenampakannya.
Hatinya terasa tenang berada di taman itu. Taman yang membuatnya terlena dan sangat melekat.
"Pemandangan seindah ini yang baru pertama kali kulihat. Tapi aku dimana?" Tanya kepada batinnya.
Ia menunduk dan melihat pakaian yang dikenakan, dress putih bersih yang melekat pada tubuh mungilnya.
Matanya tertuju pada sebuah bunga warna-warni yang tumbuh bermekaran di sekitarnya. Wanita itu juga melihat banyak sekali anak-anak bermain di taman seindah itu.
"Nampaknya, ini terasa janggal. Kenapa tiada orang dewasa di sini, selain diriku?" Lita tampak kebingungan. Ia merasa dirinya seperti berada di alam mimpi.
Salah seorang anak laki-laki mendekatinya dan tersenyum sambil memberikan sekuntum bunga mawar merah yang harum.
"Mama, jangan menangis lagi. Aku sedih merasakannya." Titahnya kepada wanitta tersebut.
Gadis itu melihat sekelilingnya, langit tampak cerah dan ia memukul wajah manisnya sendiri dengan sangat keras.
"Aw!" Lita menjerit kesakitan karena pukulannya sendiri.
"Ternyata ini kenyataan, aku tidak sedang bermimpi." Lita meraba pipinya yang masih terasa sakit.
"Mama, tolong jaga dan rawat diriku. Aku ingin menikmati kehidupan bahagia di dunia bersama kalian berdua." Pintanya sambil memegang kedua tangan Lita.
"Mama? Kamu siapa? Aku belum memiliki anak." Lita merasa kebingungan dengan hal yang diucapkan anak laki-laki tersebut.
Anak laki-laki itu membalasnya dengan senyuman manis, "Aku akan datang, jika mama mau ikut aku menuju pintu taman di sana."
"Pintu? Sebenarnya siapa namamu?" Tanya Lita yang semakin penasaran.
Lagi-lagi anak laki-laki manis itu memberikan jawaban misterius berupa sebuah senyuman, "Mama tidak akan pernah bisa mencernanya dengan akal dan logika. Tapi, apakah mama tega dan tak ingin melihatku ke dunia?"
"Kumohon, ikutlah bersamaku. Aku ingin papa dan mama tersenyum kembali. Papa menantimu, ma." Kata anak laki-laki yang ada tepat di depannya.
Lita terdiam membatu dan isak tangis terdengar di taman itu, "Tapi, perasaanku sakit. Aku takut, aku tak bisa mengerti. Apakah hubungan ini dapat dilanjutkan?"
"Apa yang sudah dipersatukan, tidak baik untuk dipisahkan." Ucap anak laki-laki tersebut sambil menggenggam jemari Lita.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan ikut bersamamu, Nak." Lita pun melangkahkan kakinya dan mengikuti anak tersebut.
***
Hari ini sudah genap sebulan, Lita telah tertidur sangat lama. Wanita tersebut ditemani oleh Yohan dan Yuriko, serta kedua orangtua mereka.
"Sayang, bangunlah. Aku rindu mendengar suara dan melihat senyummu yang begitu manis." Yohan terus memegangi jemari istrinya.
Yuriko masih menatap kesal Yohan, "Ini semua salahmu.." Ucapnya sedih dengan keadaan Lita yang masih terbaring lemah.
Yohan yang mendengarnya semakin merasa bersalah. Suara setiap orang yang mengatakan itu terngiang-ngiang di dalam telinganya.
"Maaf..." Hanya satu kata itu yang terucap dari bibir Yohan.
"Terlambat! Kalau besok Lita gak sadar juga, aku akan kehilangan sahabatku selamanya!!" Emosi Yuriko meledak-ledak ketika ia mengingat kejadian pahit itu.
"Kau akan kutuntut!!" Sambungnya dengan tegas.
Mama Lita memeluk Yuriko, ia sedang sangat naik pitam dengan Yohan. Gadis itu menangis karena emosionalnya.
"Sudahlah, Yur. Lita itu anak yang kuat, dia pasti bisa sembuh kembali." Mama Lita mengusap rambut berwarna kecoklatan milik Yuriko.
Mama Yohan menatap anaknya dengan sangat tajam dan berkata, "Dimana pikiranmu? Kau lihat, karena perbuatanmu, Lita sekarang koma!"
"Beruntung calon anak kalian tidak kenapa-kenapa!" Sentak mamanya, sedangkan Yohan hanya terdiam dan masih merenungi kesalahannya.
Di tengah perdebatan itu, munculah seorang wanita dengan mengenakan kemeja yang sedikit terbuka dan rok putih mini.
"Selamat pagi, Tuan Yohan dan Nona. Saya mau mengantarkan beberapa file penting untuk ditanda tangani oleh Tuan Yohan." Kata gadis tersebut dengan keanggunanya.
Yuriko bergidik ngeri dan menaruh rasa curiga pada Yohan, "Sebenarnya ada hubungan apa Yohan sama sekretaris ini?" Gumamnya dalam hati.
"Aku akan ke kantor sekarang." Yohan dengan mudahnya mengikuti ajakan sekretaris itu.
Yuriko menghentikan langkah Yohan dengan menahan lengannya yang indah itu, "Kau mau meninggalkan Lita yang sedang berjuang untuk sembuh?"
"Aku akan kembali dalam beberapa jam." Gumamnya singkat dan meneruskan langkahnya.
"Sebenarnya kau itu sayang gak sih, sama Lita?" Tanyanya dalam hati.
__ADS_1
***
Beberapa jam kemudian, gadis tersebut terjaga dari komanya yang cukup memakan waktu dan lama sekali.
Yuriko yang sedang mengawasinya, kembali bersemangat melihat sahabatnya kembali sadar, "Ta, kamu sudah bangun, Ta?"
Lita berusaha untuk menggerakan jarinya dan pandangannya menunjuk ke arah segelas air mineral.
"Kamu haus?" Tanyanya kepada Lita.
Namun, gadis cantik tersebut tak bisa mengatakannya kepada Yuriko. Ia hanya mengedipkan kedua matanya.
"Ta, kamu kenapa?" Mata Yuriko mulai berkaca-kaca kembali.
".... " Pandangannya sangat kosong dan air matanya membasahi wajahnya.
"Aku panggilkan dokter ya." Yuriko segera menekan tombol diatas ranjang pasien untuk memanggil seorang dokter.
***
Dalam waktu singkat, Dokter tersebut muncul. Lita hanya bisa menatapnya tanpa mengatakan sepatah kata, atas kesadarannya.
Yuriko sangat kebingungan dengan apa yang terjadi pada sahabatnya setelah melewati masa koma yang sangat lama.
"Dokter, apa yang terjadi?" Tanyanya penasaran dan penuh emosional.
"Terjadi beberapa kerusakan saraf pada Nona Lita, yang mengakibatkan dirinya sulit untuk berbicara." jawab Sang dokter.
"Oleh karena hal itu, Nona Lita perlu menjalani serangkaian pengobatan, berupa terapi." Jelas dokter tersebut.
"..... " Tubuh Yuriko kaku dan merasa sedih melihat kejadian buruk yang menimpa Lita.
"Terimakasih dokter" Sahutnya kepada dokter di depannya dan segera pria dengan jas berwarna putih keluar meninggalkan ruangan pasien Lita.
"Kenapa hal ini harus terjadi??" Yuriko terus mengusap air matanya yang sedaritadi mengalir. Ia berusaha tersenyum di depan sahabatnya.
Ia menggenggam jemari sahabatnya, jemari itu terasa sangat dingin dan pucat. Air mata semakin tak bisa ditahannya.
"Ta, kamu jangan menyerah ya. Kamu itu wanita hebat, kamu harus berjuang demi bayimu." Ungkapnya memberikan semangat pada Lita.
__ADS_1
Bersambung...