IMPERFECT HUSBAND [REVISI]

IMPERFECT HUSBAND [REVISI]
#2 :


__ADS_3

Yuriko merangkul tubuh sahabatnya, bermaksud untuk menenangkan batinnya. Saat inilah, Raisa menangis sejadi-jadinya.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menangis seperti ini?" tanyanya dengan tangan yang setia mengusap rambut panjang gadis malang itu, layaknya seorang ibu kepada anaknya.


"Malam ini aku harus makan malam dengan keluarga Zhou. Aku akan bertunangan dengannya malam ini."


"Ini semua diluar kendaliku. Bagaimana bisa mama bertindak seegois ini dengan anaknya sendiri?" sambungnya mengutarakan kekecewaan didalam hatinya.


"Hah?! Maksudmu CEO pemilik perusahaan Zhou yang terkenal itu?" Sahabatnya tersentak kaget mendengar cerita Raisa.


"Iya, aku tidak terlalu kenal dengannya. Bahkan, terakhir pertemuan kami itu di sebuah pemakaman sewaktuku kecil," katanya seraya mengusap genangan air mata di pipinya.


Yuriko tidak habis pikir dengan ibu dari sahabatnya. Ia tega menjual putrinya untuk balas budi, serta mempertahankan fasilitas yang dimilikinya saat ini.


"Aku akan coba komunikasikan lagi dengan Tante Carmilla. Aku pasti bantu kamu sebisa mungkin, tetap tenang ya," ujarnya sambil terus mendekap tubuh sahabatnya yang tengah runtuh.


"Aku paham perasaanmu, jujur aku juga sedih mengetahui kau akan bertunangan dan kemudian, menikah secara terpaksa,"sambung Yuriko.


...----------------...


Hari pun petang, mama Yohan sedang merias penampilan anaknya agar terlihat sempurna di depan calon istrinya nanti malam.


"Nah, anak mama semakin tampan kalau penampilannya lebih rapi seperti ini," sanjungan dilontarkan kepada putranya sembari merapikan kerah kemeja putih yang dikenakan Yohan.


"Cih, berlebihan banget!" cela Yohan.


"Ini semua demi kebaikan masa depanmu dan juga perusahan Zhou! Tolonglah lebih mengerti untuk acara pertunanganmu malam ini," titah mamanya.


"Pertunangan? Pertunangan siapa?" Yohan tampak tidak peduli dengan acaranya malam ini. Ia pun merasa seperti dijual.


"Rasanya aku seperti barang, yang kau jual untuk mendapatkan aset yang lebih! Penjilat uang!" Yohan mengeluarkan caci maki hatinya terhadap mamanya.


"Cukup kau merusak mentalku! Intinya Raisa adalah calon tunanganmu, tugasmu adalah membuatnya sangat nyaman dengan kehadiranmu."


"Oh, pasti wanita rendahan ya?" Yohan terus membual kesal. Tampak dirinya ingin menyudahi agenda berlebihan hari ini.


"CUKUP! Kau tidak ingat Raisa? Gadis kecil yang hadir di pemakaman mendiang papamu dulu. Dia seorang wanita terpelajar dan waras untuk kegilaanmu!" hujat mamanya.


Yohan hanya berdeham dan menghela nafasnya kasar.


...----------------...


Yuriko tinggal bersama di rumah keluarga Raisa. Gadis berambut sebahu berwarna coklat itu sudah seperti saudari bagi Raisa. Mereka sudah sangat dekat semenjak SMA dahulu.


Raisa tidak berhenti menangis, hingga sahabatnya menjadi kerepotan untuk memperbaiki riasannya.


"Tenanglah sedikit, aku rasa pertunangan ini tidak akan terlalu menakutkan. Coba kamu kenali saja dulu sifat pasanganmu, Yohan." Yuriko membujuk Raisa sahabatnya. Sebab, ia telah berusaha membujuk mama Raisa. Namun, tabiatnya yang keras membuat Carmilla berdiri pada pendiriannya.

__ADS_1


"Mungkin ini yang dinamakan takdir." Raisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Yuriko pun mengusap punggung Raisa, ia pun memberi semangat dengan tersenyum pada sahabatnya.


"Raisa yang kukenal itu selalu tersenyum, aku sedih kalau kamu menangis seperti ini. Aku minta maaf, tidak bisa berbuat lebih untuk ini."


"Tidak masalah, terimakasih telah menyemangatiku. Kau memang terbaik, tidak pernah berubah." Gadis berparas cantik itu tersenyum tipis diatas kesedihannya. Ia tidak tega melihat Yuriko yang harus ikut merasakan kesedihannya.


Setelah mematikan panggilan tersebut, gadis paruh baya itu mendelik ke arah Yuriko sedang berdiri menunggunya selesai berkomunikasi.


"Yur, sejak kapan kau di sini?" sapa Carmila ramah.


"Belum lama kok, Tan. Ah iya, Raisa sudah siap untuk acaranya nanti."


Mama Raisa tampak bahagia saat melihat putrinya tampil anggun untuk acara pertunangan yang telah ia rencanakan dengan Viola, mama Yohan.


"Aku harap acara ini dapat berjalan dengan lancar dan sempurna. Semoga cinta bisa mengubah keduanya untuk bersatu." Harapannya sangat tinggi terhadap putrinya.


...----------------...


Malam pun tiba, para tamu telah ramai menghadiri acara pertunangan Yohan dan Lita. Acara telah disiapkan sejak siang dan memberikan hasil yang sempurna.


"Wah meriah sekali ya, nyonya besar keluarga Zhou." Sanjung salah satu teman dari wanita tersebut.


"Tentu, acara ini harus sempurna dan menjadi paling istimewa, karena ini adalah langkah baru untuk rumah tangga putra tunggalku." Katanya kepada lawan bicaranya itu.


"Jelas, dia gadis pemilik perusahaan Lin," Balasnya sambil tersenyum mengagumi calon menantu keluarga Zhou.


"Wah, cocok sekali. Gadis itu sangat cantik dan pandai. Ia juga sangat manis, tak lupa pula dengan keramahannya."


"Idaman sekali ya, andai saja aku memiliki menantu seperti itu." Timpalnya.


"Nona, bisa saja deh. Telinga saya terasa terbang mendengarnya.


(***)


Sesampainya di tempat tujuan tersebut, Lita masih terus merasakan sedih. Akan tetapi, ia berusaha untuk melawan rasa susah hatinya itu.


"Udah dong, jangan sedih terus, nanti make upmu luntur." Yuriko merangkul pundak sahabatnya itu dan sambil mengusap perlahan air matanya dengan selembar tisu.


"Aku takut, aku gak siap," keluhnya terucap dari bibir manis Lita.


"Tenang ya, kalian pasti akan berkenalan. Maaf ya aku tidak bisa membantumu dalam konteks ini. Tapi, aku yakin dia akan menjadi yang terbaik untuk sahabatku ini," Jawabnya menenangkan Lita sambil tersenyum.


Lita pun kemudian, mencoba percaya diri dan berjalan masuk ke dalan bersama Yuriko dan mamanya dengan menebarkan senyumanya kepada para tamu.


"Wah, cantik banget dan juga berprestasi perusahaannya, semoga hubungan mereka langgeng terus,"

__ADS_1


"Semoga mereka bahagia dan lancar sampai pernikahan,"


"Pasangan yang serasi." Banyak para tamu dan hadirin yang memuji kehadiran Lita dan keluarganya.


Doa dan harapan memenuhi seisi tempat tersebut. Mereka memiliki harapan baik kepada pasangan tersebut.


(***)


Mereka terus melangkah maju, hingga mereka bertiga tiba di depan Mama Yohan. Wanita tersebut menyambut kehadiran mereka dengan sangat hangat dan ramah.


"Hai, jeng. Akhirnya, malam yang kita nantikan tiba juga." Sapanya dan mereka saling menempelkan pipi.


"Halo dua nona manis. Tunggu, di sebelah kiri ini siapa ya?" Wanita tersebut menunjuk Yuriko yang mendampingi Lita di sebelah kiri.


"Saya Yuriko, Tante. Saya sahabat dekat Lita, calon tunangan anak tante." Katanya dan mereka juga saling berjabat tangan.


"Kamu tak kalah cantik juga dengan Lita. Kalian berdua sangat luar biasa." Pujinya yang sangat akrab kepada mereka berdua. Sedangkan, Yuriko hanya membalas dengan senyuman.


"Ngomong-ngomong, Yohan ada dimana? Dari tadi, aku tidak melihatnya." katanya menanyakan keberadaan Yohan.


"Dia ada di dalam. Mari Lita, kamu berkenalan dulu dengan anak Tante. Supaya kalian semakin akrab ya." Ajaknya dan menarik lengan Lita.


***


Mereka semua mengikuti langkah kedua wanita yang telah berjalan di depannya. Lita merasa sangat gugup dan ia merasa timbul keraguan, saat hendak bertemu pasangannya.


Wajah Lita tertunduk dan sesampainya gadis itu di tempat mereka akan duduk bersama. Lita melihat sepatu berwarna hitam yang pastinya mahal dikenakan oleh seseorang.


Perlahan Lita mengangkat wajah cantiknya dan ia melihat seorang pria tampan di depannya. Pupilnya membesar dan ia terpesona dengan ketampanan Yohan. Begitu pula dengan Yohan yang terpesona dengan penampilan dan kecantikan Lita.


Kedua tatapan tersebut bertemu dan menyatu selama beberapa detik, hingga akhirnya, mama Yohan memecahkan suasana canggung mereka.


"Yohan, ini Lita, gadis yang akan bertunangan denganmu. Lita, ini anak Tante, Yohan namanya." Wanita tersebut mengenalkan keduanya.


Mama Lita dan Yuriko tersenyum melihat kedua insan itu bertemu. Mereka berdua mengharapkan sesuatu baik yang terjadi pada hubungan keduanya.


"Manis sekali." Kemam mamanya yang merasa senang. Begitu pula dengan Yuriko.


***


Tatapan Yohan sangat tajam, ketika mereka diminta untuk duduk berdampingan. Smirk khas Yohan pun terukir pada wajah tampannya.


"Cih, gadis seperti ini rupanya." Gemam batinnya.


"Dasar ******!" Celetuknya sambil berbisik di telinga Lita. Mata Lita terbuka lebar, hatinya terasa patah,setelah mendengar dua kalimat kasar dari Yohan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2