IMPERFECT HUSBAND [REVISI]

IMPERFECT HUSBAND [REVISI]
BAB 13 : Kecurigaan


__ADS_3


Gadis yang sedang sedih tersebut mengangkat wajah cantik miliknya yang terbenam. Ia menatap atasannya, pria tampan pujaan hatinya.


"Tidak, hanya saja." Ucapannya sedikit ragu dan perlahan.


Jiang yang penasaran semakin menggali informasi, "Hanya saja apa?"


"Aku itu yatim piatu. Kedua orangtuaku sudah lama meninggal. Aku dibesarkan dan disekolahkan oleh ibu panti dan beliau kini sudah wafat." Jawabnya dan mengusap air mata yang masih menggenang di sekitar matanya.


Pria lawan bicaranya itu dengan perlahan mengusap air mata, gadis yang dibuatnya menangis.


"Sekali lagi, aku minta maaf. Aku gak bermaksud menyakiti perasaanmu. Aku sedang terbawa emosi." Ucapnya selagi membelai rambut gadis itu.


Yuriko hanya terdiam dan meletakkan senyum tipis di bibir yang berwarna soft pink. Ia tak menyangka bahwa ia akan dilamar dengan pria pujaan hatinya.


"Tenang saja, aku paham kok." Jawabnya sambil menyeka air matanya yang berlinang di area sekitar kelopak matanya.


Senyumannya membuat damai hati Jiang. Pria itu secara reflek memeluk tubuh mungil Yuriko. Rasanya seperti tak ingin kehilangan gadis itu lagi.


"Aku berjanji pada alam yang menjadi saksi, aku takkan membuatmu menangis lagi serta aku gak akan berlaku kasar denganmu." Ucapnya dan membelai rambut Yuriko yang mulai bertambah panjang.


Gadis tersebut dengan senang hati membalas pelukan calon suaminya yang secara spontan langsung melamarnya.


Yuriko menggapai wajah tampan pria itu, "Apa kau mau menerimaku apa adanya?"


"Tentu, kenapa tidak? Rasa itu sudah tertanam dan esok yang semakin banyak takkan pernah bisa menguranginya." Ujarnya mantap.


Gadis itu tersenyum dan kembali memeluk atasannya. Setelah itu mereka menuju parkiran untuk pergi makan siang bersama.


***


Berbeda halnya dengan Lita, ia merasa telah diduakan. Rasa curiga yang semakin berapi dalam hatinya.


Hari itu adalah siang dimana Yohan harus pergi mengunjungi kantornya dan mengontrol keadaan di sana.


Ia membuka pintu kamar, dimana di dalamnya terdapat sang istri yang sedang membaca majalah fashion.


"Sayang, hari ini aku mau periksa keadaan kantor kita dulu ya. Kamu gak masalahkan, kalau aku tinggal sebentar?" Pria itu muncul dengan penampilan yang sudah rapi.


Lita sebenarnya sedikit ragu, namun ia tak berhak mengekang suaminya untuk pergi. Akhirnya, ia membuang rasa curiganya dan mengizinkan suaminya pergi.


"Tentu saja bukan masalah, hati-hati ya di jalan." Jawabnya dan pria tersebut mendekati istrinya. Lalu, ia mengecup lembut kening mulus Lita.


Sang istri hanya membalasnya dengan senyuman tanpa kecurigaan. Dirinya semakin merasa bersalah dengan perbuatannya tempo hari.


"Senyumanmu membuatku semakin sadar dengan kesalahanku." Dari balik pintu batinnya berkata demikian.

__ADS_1


***


Selang beberapa menit, Lita bangkit dari ranjangnya dan hendak mengambil segelas air mineral.


Sungguh siang yang begitu panas, dirinya sangat haus. Saat ia berjalan melewati sebuah meja, ia melihat sesuatu.


"Lho, inikan dokumen punya Yohan. Pasti dia buru-buru dan ketinggalan. Yaudah deh, aku mampir aja."


Akhirnya, setelah selesai meneguk segelas air. Ia berkemas dan segera pergi menuju kantornya dengan lokasi Yohan sekarang.


Ia pergi dengan mengendarai mobil miliknya. Gadis tersebut melihat restoran yang baru buka dan ia sempat mampir untuk membeli serta membawakan pada suaminya sebagai bekal makan siang.


***


Setelah selesai melakukan transaksi dengan penjual, Lita kembali meneruskan perjalanannya menuju kantor suaminya.


"Semoga Yohan gak kebingungan karena berkasnya ketinggalan." Harapan Lita.


Suasana siang itu sangat terik, peluhnya membasahi kening Lita yang cantik dan mulus itu. Namun, ia tak menghiraukan demi mengantarkan berkas tersebut.


Gadis tersebut memegang door handle ruangan yang dimaksud, ia membuka dan matanya terbuka ketika melihat Yohan sedang menggenggam tangan sekretarisnya.


"Apakah cek itu gak cukup untukmu? Intinya ini bukan tanggung jawabku lagi!" Hadriknya kepada gadis yang sedang mengandung anaknya di luar nikah itu.


Letta menangis mendengar kata yang diucapkan Yohan. Ia merasa bodoh karena telah memberikan mahkota yang telah ia jaga selama belasan tahun.


Yohan dan Letta menoleh ke arah sumber suara tersebut. Jantung Yohan berdegup tak karuan, saat melihat istrinya menyaksikan pertengkaran mereka dari ambang pintu.


"Se-sejak kapan kau di sini?" Tanya Yohan terbata-bata.


Lita tersenyum dan berjalan masuk menghampiri mereka, "Sejak tadi saat kalian bertengkar. Ada masalah apa?"


Yohan masih berusaha menutupi kesalahannya dan mengecam Letta, sekretarisnya dengan tatapan tajam.


"Tidak ada, hanya membahas soal pembelanjaan perusahaan bulan lalu."


"Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku?" Lita merasa janggal dengan suaminya yang semakin hari bertingkah aneh.


Yohan berusaha mengurangi kecurigaan Lita, "Aku baru mau cerita sama kamu. Tapi, aku menunggu saat yang tepat."


"Apakah ini bisa membuatku percaya?" Lita masih meyakinkan Yohan.


"Tentu saja bisa." Pria berperawakan gagah itu berusaha tampil elegan meskipun ia sedang dihantui rasa bersalah yang hebat.


Sekretarisnya yang sejak tadi diam, ketika melihat kehadiran istri atasannya segeralah ia pamit untuk keluar dan melanjutkan pekerjaan lainnya.


"Maaf Tuan dan Nyonya, saya permisi untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain." Pamitnya sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Lita yang sejak awal sudah curiga, "Siapa namamu?" Tanyanya untuk Mengintograsi gadis di depannya.


"Nama saya Letta, Nyonya." Balasnya. Peluhnya mengalir deras, layaknya bendungan yang menampung jutaan air.


"Baiklah, setelah itu ikut makan siang bersamaku." Ajak Lita dengan sinis.


Gadis itupun mengangguk dan siap tak siap, ia harus mengikuti permintaan istri atasannya, tuan Yohan.


***


Setelah ruangan kembali sunyi dan sepi, Yohan menutup pintu dan menanyakan sesuatu kepada Lita. Ia bertanya, "Kenapa kamu tiba-tiba ke sini?"


"Salah ya, kalau seorang istri datang ke kantor suaminya?" Lita bertanya kembali kepada suaminya.


Yohan merangkul pundak Lita yang sedang hamil dan mengajaknya untuk berbicara di sofa agar lebih tenang serta nyaman. "Tidak kok, tidak ada yang salah."


Lita mendelik mata sang suami, akan tetapi, Yohan yang biasanya sangat lama menatap mata indah Lita justru malah segera mengalihkan pandangan.


Hal ini seakan menunjukkan bahwa ia tak ingin eye contact dengan istrinya, "Bahkan untuk menatapku dalam 1 menit kau sudah berubah, Han." Gumam Lita dalam hati.


Lita mengeluarkan berkas yang tertinggal dari tasnya dan juga mengeluarkan sebuah kemasan makan siang, "Aku mau antar berkasmu yang tertinggal dan ini aku bawakan bekal makan siangmu."


Yohan menatap kagum istrinya yang sedang dalam keadaan hamil. Seorang wanita yang rela keluar di bawah teriknya sinar matahari demi mengantarkan sesuatu yang diperlukan suaminya. Tak lupa juga membawakan bekal makan siang.


Yohan menggenggam salah satu tangan Lita dan mengusap jemarinya yang manis dan putih itu, "Terimakasih ya, sayang sudah peduli denganku."


Istrinya hanya tersenyum menyambut genggaman hangat tangan suaminya. Ia juga segera beranjak dari sofa tempat Yohan duduk.


Yohan menegur istrinya dan menanyakan, "Kamu mau jemana, sayang?"


"Aku masih ada urusan sebentar. Maaf ya, aku gak bisa menemanimu makan siang. Mungkin nanti malam sebagai gantinya." Balasnya sambil meminta maaf, walaupun hatinya sedang merasa sangat cemburu melihat kejadian yang ia lihat.


Yohan bangkit dari sofanya dan segeralah ia merangkul pundak istrinya lagi yang sedang melipat tangannya, "Sayang, kamu mau ketemu sama Letta ya? Kamu jangan galak-galak ya."


"Oh ceritanya kamu mau belain dia?" Jawab Lita. Saat itu, gadis itu sangat sensitif.


"Bukan begitu maksudku. Tapi, jangan marah-marah saja. Kasian, calon bayi yang ada di rahimmu." Yohan berusaha meredakan emosi istrinya.


Akan tetapi, Lita malah menepis sang suami yang bermaksud meredam emosinya serta berusaha menghalangi langkahnya, "Ck!"


Akhirnya, Lita beranjak tanpa memperdulikan sang suami. Yohan pun akhirnya memutuskan untuk diam di ruangannya dan membiarkan istrinya.


Kejadian itu disaksikan oleh Letta dari kejauhan, "Karena kehadiranku, rumah tangga tuan Yohan dan nyonya Lita jadi bertengkar."


Lita yang penuh rasa kecewa dan cemburu bagaikan kobaran api, berdialog dalam hati, "Kalau benar ada hubungan diantara mereka, aku takkan segan menghabisinya!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2