![IMPERFECT HUSBAND [REVISI]](https://asset.asean.biz.id/imperfect-husband--revisi-.webp)
Hari terus berlalu dan 3 bulan telah berjalan. Gadis berambut kecoklatan itu bekerja di perusahaan milik tuan muda Jiang.
Suatu pagi, tuan muda Jiang sedang kurang enak badan karena pekerjaan yang terlalu padat di kantornya itu.
Yuriko yang kebetulan melintas menuju ruangannya untuk mengantarkan beberapa berkas penting, ia dimintai tolong untuk membuatkan minuman.
"Yur, apakah kamu sedang sibuk?"
"Tidak, tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong buatkan teh manis hangat, gulanya 25% saja ya."
Yuriko menjadi kebingungan dengan permintaan atasannya itu. Ia hanya menganggukkan kepalanya untuk menyanggupi hal tersebut.
"Kau pahamkan?" Tanya pemuda itu lagi.
"Um, i-iya." Gadis itu menganggukkan kepalanya.
Jiang tersenyum manis di depan gadis tersebut, "Baiklah, terimakasih atas bantuannya."
"Maaf, Tuan. Ini adalah beberapa berkas penting yang harus tuan tanda tangani." Yuriko pun segera meletakkan berkas tersebut diatas meja CEO Jiang.
"Baiklah." Jawabnya profesional. Kemudian, ia segera melangkahkan kakinya menuju dapur kantor tersebut.
***
Sesampainya di dapur, bukannya langsung mengerjakan perintah atasannya. Namun Yuriko malah bingung.
"25% bagaimana caranya?" Tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba, Yuriko teringat sahabatnya yang mulai membaik kondisinya dan ia berniat untuk menemuinya nanti selepas kerja selesai.
"Lebih baik kubuat dulu teh manis ini." Ujarnya dan segera membuat teh manisnya.
***
Keadaan Lita mulai membaik, ia sudah bisa pulih dan kembali berbicara seperti sedia kala. Ia mendekati suaminya yang sedang menonton acara televisi.
"Sayang, aku ingin sekali makan pizza buatanmu." Pintanya sambil mengusap perutnya yang bertambah besar.
"Pesan instant saja, aku sedang lelah." Tolak Yohan yang membuat Lita tersinggung.
Lita hanya terdiam dan membelakangi Yohan, ia berkata, "Kenapa belakangan ini kamu cuek? Kamu sudah bosan denganku?"
__ADS_1
Yohan yang mendengar, terkejut karena ia melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Peristiwa malam itu menyelimuti pikirannya, "Lita sayang, maaf ya, sekarang kamu tunggu di sini, biar kubuatkan pizza yang kamu pinta."
Pria tampan itu berusaha menutupi kebelangannya malam itu. Ia berjalan menuju dapur dengan perasaan bersalah, "Lita, maafkan aku. Aku telah mengkhianatimu."
***
Lita merasa ada sebuah tembok pemisah cintanya dengan Yohan. Suaminya berubah menjadi pendiam melebihi biasanya, cuek dan lebih sering melamun.
"Sebenarnya ada apa dengan kamu, Han?" Lita bertanya dalam hati dan tanpa sadar air matanya telah menetes.
***
Setelah selesai membuatkan masakan yang diidamkan Lita, pria tersebut duduk di samping Lita.
Pria itu membelai rambut Lita dan ia mencoba untuk menebus kesalahan kepada istrinya. Rasa bersalahanya itu semakin menghantui.
Batinnya berkata, "Ingin sekali rasanya jujur. Tapi, aku gak mau Lita drop lagi karena kejujuranku. Kurasa ini bukan waktu yang tepat."
Lita menatap ke arah suaminya yang tiba-tiba menjadi sangat manis dan lembut.
"Sebenarnya ada apa? Aku merasakan ada sesuatu yang sedang kamu simpan dariku." Insting Lita sebagai seorang istri itu kuat.
Yohan mencoba mempercayai istrinya dengan senyuman lugu yang terpancar dari bibir merahnya, " Apakah aku salah dengan sikap manisku ini?"
***
Berbeda halnya dengan Yuriko. Waktu menegangkan pun tiba. Yuriko mengantarkan teh manis yang diminta oleh atasannya.
Kulitnya menjadi pucat pasi dan peluh bercucuran. Hatinya gelisah dan tak tenang, seperti akan menghadapi ujian.
"Tuan, ini tehnya." Yuriko meletakkan secangkir teh manis hangat tersebut dengan tangannya yang bergemetar.
Pemuda dari grup Jiang itu mulai mengambil cangkir tersebut dan menegguk cairan di dalamnya.
Jantung Yuriko berdegup cepat. Rasanya bercampur aduk antara perasaan kagum melihat penampilan elegan dari Tuan Muda Jiang saat meminum teh dan sebuah kesalahan yang mungkin akan terjadi.
"Yuriko, pesanku tadi adalah buatkan aku teh hangat dengan takaran gula 25% dan kau tau rasa manis pada teh ini mencapai 50%." Pria itu menjelaskan kembali perintahnya.
Tatapannya begitu tajam dan siap meledakkan emosinya. Ia bangkit dari kursi kebesarannya dan betul saja hal yang tak diinginkan pun terjadi, "Kau itu wanita! Kenapa kau gak bisa bikin teh dengan gula 25% saja!?"
Yuriko sangat ketakutan dan ia hanya menunduk mendengar kemarahan dari atasannya yang ternyata galak. Akan tetapi seperti ada yang salah dengan diri gadis muda itu, ia telah jatuh cinta dengan CEO galak itu.
"Ma-----" belum selesai ia mengatakan ungkapan bersalahnya itu, ia sudah mendapat hujatan pedas dari Jiang.
__ADS_1
Jiang menghantam tangannya diatas sebuah meja kaca yang cukup mahal harganya. Sungguh hari yang menyebalkan baginya, "Keluar!" Titahnya.
Yuriko terdiam seperti patung mendengar hujatan dari pria tampan itu. Yuriko menggerutu dalam hatinya, "Ternyata aslinya itu begini. Hmph! Topeng!"
Jiang menatapnya kesal karena Yuriko tak segera beranjak dari ruangan kantornya dan ia kembali marah, "Kau punya telinga kan?!" Sindirnya.
Tanpa sadar, ucapan yang terlontar dari bibir Jiang membuat luka perasaan Yuriko. Gadis tersebut melangkahkan kakinya keluar dari ruangan mewah tersebut.
Jiang tiba-tiba tersadar dari emosinya. Ia melihat tubuh mungil gadis tersebut sudah tidak ada di depannya.
Jiang merasa bersalah, "Apa yang udah kukatakan? Astaga, aku membuatnya menangis..."
***
Pria tersebut berlari keluar menuju ruangan kerja milik Yuriko. Namun, ia tak mendapati gadis tersebut.
"Dimana dia? Ck, kenapa sikap bodohku keluar!?" Pria tersebut mengetuk kepalanya sendiri.
Ia berlari dan melihat sekeliling parkiran mobil. Jiang melihat mobil yang dipakai Yuriko untuk bekerja masih terparkir di area tersebut.
"Kalau mobilnya masih diparkir, lantas dia masih di sekitar kantor ini. Mana mungkin, ia pergi berjalan menyusuri kota seluas ini." Benaknya hanya terdapat Yuriko. Pria itu merasa sangat cemas.
Kemudian, ia memutuskan untuk menuju lantai paling atas. Betul saja, ia mendapati Yuriko sedang menangis tersedu-sedu.
Hatinya tergores oleh sebuah perkataan yang teramat menusuk baginya. Ia merasa dirinya bodoh.
Ia membenamkan wajahnya diatas lututnya yang tertutupi oleh bahan kain berwarna hitam. Seluruh tubuhnya bergetar hebat dalam sedihnya.
Tiba-tiba, ia merasakan ada sesosok tangan yang diletakkan diatas pundaknya. Aroma parfum yang sudah tak asing baginya.
Saat ia menoleh, ia melihat seorang pria tampan pujaan hatinya yang memberikannya sapu tangan berwarna biru tua.
Bukannya menerima, namun kembali membenamkan kepalanya. Ia masih menangis tersedu-sedu layaknya seorang gadis kecil.
"Yur, maafkan perkataanku. Aku gak bermaksud menghujatmu." Ucapnya sambil mengusap punggung Yuriko.
Yuriko dengan mata berkaca-kaca, "Terlalu tajam dan sulit dimengerti."
"Maaf, bagaimana kalau kita makan siang bareng?" Tanyanya.
"Terimakasih Tuan Jiang." Tolaknya secara lembut.
"Bagaimana kalau aku bertemu dengan kedua orangtuamu? Aku mau seriuskan hubungan kita." Jiang berniat melamar Yuriko. Namun, kesalahan kata terjadi.
Yuriko kembali menangis, "Eh apakah aku salah bicara?"
__ADS_1
Gadis itu tetap diam dan menangis semakin kencang, "Yu, aku salah bicara?"
Bersambung...