IMPERFECT HUSBAND [REVISI]

IMPERFECT HUSBAND [REVISI]
BAB 3 : Pertunangan (2)


__ADS_3


Saat menegangkan pun dimulai, pasangan muda itu akan segera melangsungkan pertunangan yang diinginkan oleh kedua orangtua mereka.


Mereka akan bertukar cincin dan itu mengartikan bahwa keduanya akan saling terikat dan menjalin hubungan yang lebih serius, yaitu menuju jenjang pernikahan.


"Selamat malam para hadirin semua. Hari ini adalah hari paling berbahagia untuk kedua pasangan yang akan bertukar cincin, diharapkan para tamu dapat menjadi saksi dari pertunangan Tuan muda Yohan Zhou dan Nona Lita Lin." Ujar pembawa acara tersebut.


"Nah ini, momen yang paling ditunggu," kata Mama dari Lita. Wanita paruh baya itu sudah sangat menanti momen ini.


"Iya, mereka tampak serasi sekali ya." Timpalnya wanita lawan bicaranya. Mereka berdua senang akan menjalin hubungan keluarga dari pernikahan anak-anaknya nanti.


"Oia Yu, nanti kamu tolong bawakan cincin pertunangan mereka ya, saat MC menyebutkan penyerahan cincin," Pinta mama dari Lita.


"Baik Tante." Yuriko adalah gadis cantik yang baik dan penurut, sehingga ia mematuhi permintaan ibu dari sahabatnya itu.


Para camera man mengabadikan foto mereka menjelang detik-detik pertukaran cincin yang akan berlangsung. Banyak sekali wartawan yang sedang menyiarkan acara pertunangan yang mewah antara kedua pemilik perusahaan ternama tersebut.


"Baiklah, inilah saat yang tepat untuk proses penyerahan cincin kepada pasangan." Pembawa acara tersebut memberikan prosedur kepada Yuriko untuk mengantarkan cincin pertunangan.


Gadis tersebut berjalan mendekati pasangan tersebut perlahan dan memegang tempat cincin pertunangan mereka. Yuriko memasang paras adiwarna dan keanggunannya.


"Baiklah para tamu, mari kita saksikan pemasangan cincinnya." Ajak pembawa acara profesional tersebut.


Yuriko memperhatikan raut wajah Lita sedih dan gusar. Peluhnya terus mengucur dan matanya berkaca-kaca. Gadis tersebut memberikan kontak mata kepada Lita memberikan isyarat, "Tetap semangat ya, tenang, jangan khawatir."


Lita pun menganguk menyanggupi dan menarik nafas panjang yang berarti mantap. Ia pun mengulurkan jari manisnya kepada Yohan dan pria tersebut memasangkan cincinya begitu pula sebaliknya.


Kedua cincin tersebut telah melingkar di jari manis Yohan dan Lita. Bulir air mata luka kembali membasahi wajah Lita yang telah terlapisi oleh make up.


"Memalukan saja." Sindir Yohan. Pria itu tidak menyukai kehadiran wanita yang menjadi pasangannya. Namun, tidak dengan hatinya yang mulai mengagumi sosok Lita.


Lita merasa bahwa dirinya mendapatkan cobaan berat melalui pertunangan dengan Yohan. Ia merasakan sesak pada dadanya, "Kenapa ketampanannya tidak juga pada hatinya? Dia kasar dan menyakitkan."


***


"Telah kita saksikan, pasangan Tuan muda Yohan dan Nona Lita sudah bertukar cincin, itu artinya menandakan mereka telah resmi bertunangan. Sungguh serasi sekali ya," Ucap sang MC dan para tamu pun bertepuk tangan, karena telah melihat pertunangan mereka yang cukup romantis.


"Wah selamat ya, akhirnya kalian resmi bertunangan juga," Ucap Mama Yohan sambil tersenyum dan memeluk hangat calon menantunya.


"I-iya.." Jawab Lita yang masih canggung dengan Yohan.


"Dasar jal*ng!" Bentak Yohan di depan calon istri dan kedua wanita tersebut.


"Cukup! Cukup kau hina diriku serendah itu. " Bentak Lita yang tak mau kalah lagi.

__ADS_1


"Memang itu fakta kan?" Jawab Yohan dengan santai.


"Terserahmu! Jujur, aku menyesal bertunangan denganmu!" Lita pun segera menjauh dari Yohan dan ia duduk di samping Yuriko, sahabatnya.


"Memangnya kau pikir, aku sudi? Jelas saja, aku tidak sudi menikahi perempuan sepertimu." Balas Yohan dengan kata-kata yang melukai perasaan Lita.


***


Lita meninggalkan tunangannya. Ia melangkahkan kaki dan segera meletakkan bokongnya di sebuah kursi yang berada di sebelah Yuriko.


"Ta, kamu kenapa kesini, bukannya kamu seharusnya duduk di sebelah Yohan?" Tegur Yuriko dengan tindakan Lita.


"Aku boleh duduk di sini? Aku gak nyaman dekat Pria iblis itu!" Lita sangat geram dengan tunangannya itu. Ia ingin sekali berkata kasar, namun semua hanya bisa tertahan dan terpendam.


"Kau yang sabar ya, Ta. Aku yakin dia pasti akan berubah." Yuriko tersenyum untuk memberikan kelegaan kepada sahabatnya yang sedang panas hati.


"Sebenarnya aku malas berdansa dengannya, sudah menyebalkan, kata-katanya tajam juga!" Lita bersungut-sungut malam itu.


"Ululu, kamu udah tunangan sama dia, jangan marah-marah terus nanti cantiknya hilang," hibur Yuriko dengan lelucon ringannya.


"Hmm iya deh, sahabat terbaikku." Lita pun kembali tersenyum dengan ucapan Yuriko yang menghibur hatinya. Kemudian, mereka semua dan para tamu menyantap hidangan yang telah tersaji.


(***)


Setelah selesai makan malam, kedua insan tersebut pun berdansa dengan mesra. Meskipun hati Lita tak sejalan dengan tindakannya, namun ia mencoba untuk bersabar.


"Aku juga berfikir begitu, kita doakan semoga mereka akur terus sampai ke pernikahan nanti," Balas ibu Lita yang juga ikut senang.


"Amin." Sahut Mama Yohan dan Yuriko.


(***)


Setelah selesai berdansa, mereka pun diminta untuk pergi berdua ke taman yang indah, sedangkan para tamu menikmati hidangan penutup.


"Seperti film romansa, sekarang adalah waktu kalian untuk mengenal lebih dalam ya. Jadi, mama minta kalian pergi berdua ke Taman belakang," Pinta ibu dari Yohan.


Gadis tersebut hanya mengikuti instruksi yang diminta dari calon keluarganya itu dengan berat hati. Langkahnya semakin terpaksa ketika Yohan menatapnya sangat tajam.


"Aku harus menghindari kemarahan pria iblis ini." Batinnya bermonolog.


Sebenarnya, Lita mau bertunangan dengan Yohan karena ia mengalah agar mamanya dapat hidup tenang dengan kemewahan yang telah dimiliki sejak dulu.


Gadis berambut panjang itu merasa iba dengan penderitaan yang terjadi apabila, ia lebih mengedepankan sifat egoisnya itu.


"Yohan, pernikahan kalian 3 hari lagi. Mama gak mau tau, kalian harus pergi ke taman itu dan saling mengenal." Tegas mamanya dengan paksa.

__ADS_1


"Oia, kamu harus membuatnya bahagia malam ini!" Sambung wanita paruh baya tersebut.


"Ya! Ya!" Jawabnya dengan singkat dan menarik secara kasar lengan kiri Lita.


Yohan menatap tunangannya itu sekilas, "Ingat j*lang, jangan bertingkah!"


Mamanya yang mendengar ucapan Yohan, putranya itu langsung menampar pipi mulusnya dengan sangat kencang, hingga meninggalkan sebuah bekas.


"Jaga perkataanmu! Camkan itu!!" Mamanya ikut naik pitam dan juga segera meminta maaf pada keluarga Lin.


"Maafkan anakku, mom. Lita jangan dimasukkan ke hati kata-kata Yohan ya, maklum saja, setelah menikah nanti kau pasti akan tau alasannya,"


"Iya Tante, tapi tolong aku ini bukan jal*ng!" Jawab Lita dengan tegas dan melirik sinis pria yang berdiri di sampingnya.


"Sekali lagi, aku sebagai mama Yohan, minta maaf atas kesalahan ini," Ucap wanita sambil mempertemukan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda permintaan maaf.


"Han! Minta maaf sekarang!" Tegur mamanya dan memaksa anaknya yang sangat bergengsi untuk meminta maaf.


"Memangnya dia pikir dia siapa? Ratu?" Jawabnya dengan santai seakan tak memikirkan kesalahan yang baru saja diperbuatnya.


Yuriko yang melihat perlakuan calon suami sahabatnya itu hanya terdiam tanpa berbuat, sebab ia tak bisa membantu dalam konteks ini.


"Anak ini?!" Mama Yohan menjadi semakin naik darah dan ingin memukulnya sekali lagi dengan pukulan yang lebih hebat.


Saat hendak memukul, calon besannya itu menahan amarahnya dan segera merangkul pundaknya, "Sudahlah, aku paham perasaan Yohan. Dia begini pasti karena masih syok."


"Tapi anak ini seperti tidak tau sopan santun!" Emosinya masih meledak-ledak dan belum stabil.


"Tante, pasti Yohan itu memiliki keistimewaannya masing-masing. Jangan marahi dia lagi, tan! Kalau, kita mau merubah sifat buruknya itu." Tambah Yuriko dengan sabar.


"Hmm baiklah, terimakasih kalian semua sudah mengingatkanku." Ucapnya dengan emosi yang mulai menenang. Kedua wanita tersebut tersenyum kepada ibunda dari Yohan yang kini emosinya sudah stabil.


(***)


Taman belakang rumah,


45 P.M


Taman belakang rumah tersebut telah disiapkan dan tertata dengan rapi serta sangat asri kenampakannya. Malam itu sangatlah terang, dengan cahaya rembulan dan langit hitam yang dihiasi sang kejora yang jauh di angkasa.


"Pemandangannya bagus banget ya, Han," Ucap Lita memulai pembicaraan dengan Yohan.


"Kau jangan salah paham! Aku kesini hanya karena dipaksa mama bukan berarti aku sudi bersamamu, meski kau tunanganku!" Katanya dengan ketus yang menyakiti perasaan Lita lagi.


"Kamu kalau gak suka, bisakan gak usah terus-terusan menyakiti perasaanku, pria iblis?" Lita menjadi geram dan akhirnya kesabarannya pun telah habis.

__ADS_1


"Dasar jal*ng!!" Yohan juga menjadi kesal harus berdua dengan tunangannya itu.


Bersambung...


__ADS_2