IMPERFECT HUSBAND [REVISI]

IMPERFECT HUSBAND [REVISI]
BAB 18 : Sementara


__ADS_3


Dua bulan setelah kejadian telah berlalu dan kebahagiaan sepasang suami-istri itu kembali bersemi. Hari itu telah menjadi siang yang terik, Lita sedang pergi bersama Yohan untuk memeriksa kandungannya.


Mereka berdua pergi menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan, Lita menyeka peluh yang meleleh di sekitar pelipis Yohan secara tiba-tiba. Hal itu membuat Yohan yang sedang mengemudikan mobil terkejut.


"Sayang, aku senang rasanya kita bisa seperti ini. Tiada lagi yang usik hubungan kita." Ucap Lita dan pandangannya terpaku pada Yohan.


Pria tampan di sampingnya menoleh ke arah Lita, istrinya yang sedang hamil 9 bulan. Ia tersenyum dan mengatakan, "Aku juga senang bisa memandangmu tersenyum seperti ini."


Tak lupa pula, ia mengusap perut Lita yang tertutupi kumpulan benang berwarna biru muda. Salah satu tangannya mengusap dengan lemah lembut, "Anak papa, maafin papa yang buat mama kamu menderita dan sedih. Tapi, papa janji akan buat mamamu selalu tersenyum dan juga papa akan menjadi figur yang baik untukmu." Katanya.


"Kamu harus janji, jangan ulangi lagi kesalahan yang sama. Aku gak mau anak kita menjadi korban." Pesan Lita.


Yohan menganggukkan kepalanya. Salah satu tangannya meremas jemari Lita. Kini, perasaan mereka sangat damai dan tiada konflik lagi.


***


Sesampainya di rumah sakit, mereka hanya menunggu beberapa menit, sebab siang itu pasien tidak terlalu banyak. Hanya ada seorang pasien bersama suaminya di dalam dan mereka yang menunggu di luar.


"Kira-kira, anak kita jenis kelaminnya apa ya?" Tanya Yohan penasaran.


"Kalau aku sih apa saja, kalau kita diberikan anak laki-laki atau perempuan oleh Tuhan itu artinya titipan yang harus kita jaga." Ungkap istrinya dengan sabar.


Yohan pun gemas dengan istrinya yang sangat baik itu di matanya dan ia juga sedikit mengacak-acak rambut panjang berwarna hitam pekat milik Lita.


"Kamu dewasa banget sih, calon ibu." Yohan sangat gemas dan mencubit pipi istrinya bak bakpau itu.


"Miaw, kamu bisa saja deh." Yohan tersenyum puas melihat Lita yang manja siang itu.


***


Siang itu cahaya matahari sangatlah terik, tanah di halaman belakang gadis berambut pendek berwarna kecoklatan itu menjadi gersang dan kering. Tanahnya menjadi retak dan bunga yang ditaburi diatasnya pun mulai mengering.


Air matanya masih menitik setiap saat, ketika dirinya memandangi gundukan tanah tersebut. "Maafkan mama nak, mama gak bisa menjagamu dari wanita durjana dan ayahmu.."


"..Ta-tapi, mama janji akan menuntut keadilan demi kamu. Kamu yang tenang ya di surga sana." Ucap Letta terbata-bata karena isak tangisnya.

__ADS_1


Gadis yang baru saja pulih pasca mengalami keguguran, segera beranjak dan melangkah secepat mungkin untuk masuk ke dalam mobil.


Ia berniat menuju kantor dan mengambil bukti rekaman CCTV yang merekam kejadian tempo hari lalu. "Kalian pikir hanya golongan kelas atas yang bisa memperlakukanku semena-mena? Aku akan menuntut keadilan."


***


Selepas ia mengambil rekaman tersebut, kemudian disimpan di dalam flashdisk miliknya. Gadis tersebut berangkat menuju kantor polisi.


Perjalanan yang singkat, karena jarak antara kantor tempat ia bekerja dan kantor polisi tidaklah terlalu jauh. Ia segera melaporkan kekerasan fisik tersebut kepada pihak berwajib dengan menyertakan bukti pula.


".... Seperti itu, pak. Kejadian itu membuat saya frustasi. Tolong, bapak tindaklanjuti dan tangkap kedua pelaku tersebut." Mohonnya kepada polisi tersebut.


"Baiklah nona, keterangan kami terima berdasarkan bukti-bukti yang nona berikan. Kami akan menangkap saudara bernama Yohan dan saudara bernama Lita." Polisi tersebut menerima laporan Letta dan dengan perasaan puas Letta pun lega.


"Terimakasih pak atas bantuannya." Balas Letta dan bersalaman dengan aparat negara tersebut.


Letta menyusuri jalan keluar kantor polisi tersebut. Gadis itu tersenyum puas dan menanti pertunjukan di televisi, "Kalian akan menanggung malu juga. Bagaimana bisa kedua orang yang paling berpengaruh dalam dunia bisnis melakukan hal sekeji ini? Sungguh memalukan."


***


Lita berbaring dan dokter mulai mengolesi perutnya dengan sebuah gel. Wanita tersebut tersenyum menatap suaminya sambil menggenggam erat tangannya.


"Iya sayangku."


Dokter mulai meletakkan alatnya dan melakukan Ultrasonografi atau yang biasa dikenal sebagai USG kepada Lita. Kedua pasangan tersebut melihat janin di rahim Lita yang tumbuh dengan sehat.


Dokter tersebut tersenyum dan berkata, "Bayinya sehat dan tidak ada cacat apapun dengan anggota tubuhnya."


"Bagaimana dengan jenis kelaminnya, dok?" Tanya Yohan, sang Ayah dari bayi tersebut.


"Sebentar ya, tuan. Kita tunggu sebentar, karena posisi bayinya sedikit membelakangi kita dan jenis kelaminnya menjadi tak terlihat jelas."


Beberapa menit kemudian, bayi tersebut mulai bergerak dan kedua pasangan tersebut sangat senang melihat calon anaknya bergerak aktif di dalam sana.


"Wah, si kecil aktif banget nih sayang." Gumamnya sambil mengusap rambut Lita.


"Hihi, seperti kamu. Dia sepertinya akan menjadi anak yang lincah." Kata Lita sambil tertawa.

__ADS_1


Dokter tersebut kembali membelokkan lehernya dan mengatakan, "Wah selamat, anak Tuan dan Nona adalah laki-laki."


Keduanya merasakan mendapat bahagia yang bertubi-tubi, "Wah sayang, kita akan punya putra tampan nih." Kata Yohan.


"Terimakasih sayang, aku jadi tidak sabar menanti dia." Jawabnya dan semakin erat menggenggam tangan Yohan.


***


Mereka tak langsung kembali ke rumah. Mereka terlebih dahulu berjalan-jalan dan mampir ke sebuah mall besar yang baru buka bulan lalu.


"Pokoknya kita harus siapin semua perlengkapan baby kita." Ucap Lita senang.


"Iya sayang, tapi kalau kamu lelah, bilang ya. Biar aku gendong." Kata Yohan seraya menggenggam erat tangan Lita.


"Pasti, aku akan katakan."


Mereka pun menghabiskan waktu selama 1 jam untuk berbelanja di toko perlengkapan bayi. Lita dan Yohan kembali hangat seperti dulu. Namun, siapa menyangka kalau ini hanya sejenak.


"Aku maunya yang warna biru muda, biar manis ajaa anak kita." Lita bersikeras memilih warna merah jambu untuk selimut calon anaknya.


"Tapi, bagus warna biru tua sayang. Warnanya tidak terlalu menyala." Tidak sesekali mereka berdebat dan akhirnya, ada salah satu dari mereka yang mengalah.


***


Setelah selesai berbelanja, mereka segera pulang ke rumah untuk beristirahat. Yohan berkata, "Gimana hari ini menyenangkan, bukan?"


"Sangat menyenangkan dan ini lebih menyenangkan dari biasanya." Jawab Lita puas.


"Aku senang kalau kamu juga senang. Yaudah, hari ini kita mampir ke rumah mama ya. Aku mau main ke rumah mamamu." Pinta Yohan dan Lita pun membalas, "Yasudah, ayo."


Namun, saat perjalanan menuju ke rumah ibunda Lita. Yuriko, sahabat Lita yang sedang berbulan madu menghubunginya.


"Ta, kamu sudah baca berita utama yang lagi panas sekarang?" Tanyanya.


"Belum, memangnya ada berita apa?" Tanya Lita menjadi penasaran.


"Itu berita tentang..... "

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2