![IMPERFECT HUSBAND [REVISI]](https://asset.asean.biz.id/imperfect-husband--revisi-.webp)
-Desserts Cafe-
Salah satu cafe terkenal di New York, sengaja dibangun untuk menjadi tempat bagi para pengunjung bersantai sambil menyeruput secangkir kopi hangat.
Wanita paruh baya dengan pakaian berwarna biru muda dan ditemani dua cangkir kopi yang telah dipesannya. Wajahnya sedikit gelisah dan gusar mendengar ucapan menantunya tadi.
"Ada apa ya dengan Lita? Firasatku jadi gak enak." Gumam wanita tersebut dalam hati.
Beberapa menit kemudian, tampilah sosok wanita muda dengan perutnya yang sudah sangat besar. Betul saja, dia adalah Lita. Wajahnya tampak kebingungan dan pandangannya seperti mencari sesuatu.
Mama mertuanya melambaikan tangan ke arahnya, "Lita, disini!"
Sumber suara itu terdengar jelas hingga sampai di telinga Lita. Gadis itu menoleh dan segera melangkah ke arah meja pesanan mama mertuanya.
Lalu, ia duduk di sebelah wanita paruh baya tersebut dan matanya sudah tak dapat membendung air mata lagi.
"Lita sayang, kamu kenapa?" Tanyanya.
Lita mulai menceritakan isi hatinya yang hancur berkeping-keping, karena Yohan "Perasaanku hancur, Ma. Aku sudah gak tau harus gimana, Yohan telah mengkhianati aku."
"Mengkhianati? Dia mengkhianati bagaimana sayang? Dia sayang banget lho sama kamu."
"Itu dahulu, tapi setelah aku sakit dan fisikku lemah? Aku rasa Yohan kesepian." Balasnya dan ia menyeka air matanya yang titik demi titik mengalir membasahi pipi mulusnya.
"Sayang, bukannya mama gak percaya. Tapi, kamu dapat info dari mana tentang hal ini?" Mama mertuanya bingung dan penasaran dengan tuduhan menantunya.
Lita mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan buktinya, "Ini, ma. Wanita lain hamil dengannya. Perasaanku hancur dan ini rasanya sakit.. " Gadis itu semakin menangis sedih.
Wanita tersebut beranjak dan memeluk Lita yang sedang rapuh perasaannya. Bagaikan sebuah barang yang telah dicampakkan.
"Terkadang aku berfikir, rumput tetangga lebih indah daripada rumput sendiri. Aku juga sadar, kalau aku wanita yang punya kekurangan." Lita tak sanggup untuk menerima kenyataan pahit.
"Sabar ya sayang, sekarang mama rasa ini waktumu untuk sendiri. Kalian sedang genting, jadi lebih baik sementara waktu kalian berpisah dahulu." Ide wanita tersebut untuk meredakan emosional Lita.
"Baik ma, aku akan pulang ke rumah mamaku. Tapi, aku tidak tau sampai kapan?" Katanya dan menyeka bekas air mata yang masih setia menggenang.
__ADS_1
"Mama akan paham, mama juga akan hukum Yohan." Ujar Mertuanya.
"Sekarang, kamu jangan banyak pikiran ya. Kamu pikirkan kandunganmu, supaya ia sehat terus sampai persalinan nanti." Sambungnya dan mengusap perut Lita.
Lita mengangguk dan memohon kepada mama mertuanya, "Ma, kalau bisa jangan hukum Yohan. Ini bukan salah dia sepenuhnya."
"Andai saja, waktu itu aku gak emosi dan minum racun. Pasti semua ini gak akan terjadi..." Air matanya kembali menitik dan membasahi pipinya.
Mamanya memeluk menantunya untuk menegarkannya, "Yohan memiliki gangguan mental semenjak papanya meninggal. Namun, ini sudah terlewat batas. Kamu jangan terlalu baik padanya." Sahutnya sambil membelai rambut panjang lurus milik lawan bicaranya.
"Ma, bagaimanapun dia tetap suamiku. Semua orang punya salah, aku hanya butuh akal sehat untuk memisahkan mereka." Ungkapnya yang kemudian meneguk secangkir kopi miliknya.
"Baiklah, mama akan berusaha menahan emosi untukmu, nak." Mertuanya menuruti permohonannya.
***
Yohan tak juga menemukan jejak istrinya. Ia seperti sedang dipisahkan tembok besar dalam cintanya, sehingga membuatnya tak bisa menemukan Lita.
"Aku sadar, aku salah. Aku telah mengkhianatinya, disaat ia sedang mengandung darah dagingku sendiri." Sesalnya dengan apa yang telah terjadi.
Nasi sudah menjadi bubur. Realitanya tak dapat diubah lagi, semua sudah menjadi penyesalan yang saling melukai satu sama lain.
Yohan tergesa-gesa dan segera membuka pintu rumahnya. Ternyata, ia mendapati sang ibu dengan raut wajah kesal dan muak.
"Ada apa, ma?" Tanyanya tenang.
Tamparan kasar mendarat tepat di pipi sebelah kanan Yohan. Tamparan tersebut membuatnya terdiam, batinnya ingin sekali menghujat. Akan tetapi, semuanya terhenti ketika mamanya mengucapkan tentang Lita.
"Kamu masih tanya ada apa!? Kamu keterlaluan ya! Mama merasa gagal mendidikmu dan kamu gagal menjaga calon keluarga kecilmu." Yohan tertunduk diam dan sesekali ia menatap ke arah mamanya.
"Kamu ada main dengan sekretarismu, jelas-jelas saat itu istrimu sedang hamil. Dimana hati nuranimu dan akal sehatmu!?" Wanita tersebut mengguncangkan tubuh Yohan sangat kencang.
Yohan hanya terdiam dan tanpa ia sadari air matanya menangis, "Maafkan aku, ma. Aku salah... " Hanya kalimat tersebut yang diucapkan olehnya.
"Kamu bilang maaf? Kamu sudah melukai perasaannya! Menantu sebaik dia dan istri yang mau menerima kamu apa adanya!!" Lagi-lagi Yohan menerima sentakan tajam dari mamanya.
Yohan berfikir pasti mamanya tau dimana Lita berada dan bertanya, "Lita, sekarang ada dimana, Ma...?" Ia memberanikan dirinya untuk bertanya.
__ADS_1
"Mama tidak akan memberitahumu. Biarkan dia sendiri, perasaannya hancur karenamu... " Mamanya merasa sedih melihat rumah tangga mereka.
Yohan kembali dan berlari ke arah kamarnya. Ia mencoba menghubungi Lita. Namun, semuanya sia-sia. Istrinya malah menolak panggilan tersebut.
Akhirnya, Yohan menuliskan pesan singkat untuk Lita. Ia berharap wanita yang ia cintai itu membacanya dan paham maksudnya.
Lita
Sayangku yang paling sempurna dan tiada duanya. Aku tau ini kesalahanku; aku keterlaluan dan menduakanmu. Tapi, ini semua di luar kendaliku. Diriku berkata tidak, namun tak dengan hasratku. Saat itu, aku kesepian dan aku membutuhkan seorang teman. Akan tetapi, aku salah mengartikan semua itu...
Kumohon, jangan pergi dariku. Biarkan aku menebus kesalahanku denganmu.. Aku merasa berdosa telah melakukan semua ini. Aku merasa berdosa dengan kamu dan calon anak kita. . .
Tapi, kalau kamu tidak mau tidak masalah.. Mungkin, kita akan bertemu di sebuah pemakaman untuk terakhir kalinya dan aku gak akan menyakiti perasaanmu lagi.
Kalau kita tak bisa bertemu lagi, aku minta maaf dan tolong juga sampaikan maafku sama anak kita. Aku takut, aku tidak bisa menjadi figur yang baik untuknya. Semua keputusan berada padamu...
-Yohan-
***
Lita membaca pesan tersebut dan kemudian, ia memutuskan untuk kembali karena ia tak mau ada penyesalan yang kedua kali untuk dirinya.
"Aku tau ini sakit, tapi kamu egois dan aku gak bisa. Demi anak ini dan rumah tangga kita, aku akan kembali. Meski rasanya masih luka." Ungkapnya sambil menitikkan air mata.
Gadis itupun segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke rumahnya. Sesampainya disana, ia berjalan sangat lemas untuk masuk ke dalam rumah dan disambut mama mertuanya, "Lita, kamu kok disini??"
"Bukannya, kamu ingin menenangkan dirimu." Sambungnya sambil menatap Lita.
"Aku gak mau ada penyesalan kedua kali.. " Ucapnya dan kemudian, melangkah maju ke dalam rumah.
Ia berjalan menuju kamar dan ternyata, Yohan langsung memeluknya erat. Perasaannya sangat hancur juga saat Lita pergi dan ia berkata, "Maaf, aku menyesal... Kasih aku kesempatan sekali lagi untuk menebus kesalahan.. "
"Sakit sayang, sakit rasanya diduakan.. " Jawabnya sambil menangis.
"Sayang, tolong sebutkan cara apa yang perlu kulakukan agar kamu bisa bersama lagi denganku?"
Lita terdiam sejenak dan sebuah ide muncul dibenaknya, "Yang kuingin adalah..... "
__ADS_1
Bersambung. . .