IMPERFECT HUSBAND [REVISI]

IMPERFECT HUSBAND [REVISI]
BAB 14 : Konflik


__ADS_3


Wanita cantik dengan perutnya yang membesar berjalan menghampiri sekretaris yang dicurigainya itu. Lita yang rendah hati malah menjadi sangat arogan dan sangat sinis.


"Kamu! Ikut saya kemari!" Titahnya atas gadis tersebut.


Letta yang merasa ikut bersalah dan juga sangat ketakutan menuruti perintah Lita. Wanita dengan pakaian kantor yang dikenakannya diajak oleh Lita untuk masuk ke dalam mobilnya dan ikut ke suatu tempat.


Lita menatap sinis dan benci gadis tersebut. Insting Lita yang kuat sebagai seorang istri mengatakan bahwa gadis di depannya ini adalah benalu dalam rumah tangganya.


"Masuk sekarang!" Lita sangat jengkel menatapnya.


Dengan rasa sangat percaya dan takut, ia mengikuti apa yang dikatakan Lita. Gadis tersebut mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada lawan bicaranya, "Sebenarnya, kita mau kemana, Nyonya?"


"Gak usah banyak tanya. Kau akan tau kita akan kemana, yang pasti aku ingin berbicara empat mata denganmu." Jawab Lita dingin dan ia menyalakan mesin mobil tersebut.


***


Berangkatlah mereka menuju tempat yang Lita inginkan. Mobil berwarna merah itu ditunggangi dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat, Letta khawatir pada kondisi janinnya dan pada Lita yang sedang mengandung juga.


"Nyonya, saya paham nyonya kesal dengan saya. Tapi, keselamatan itu penting nyonya. Apalagi, nyonya sedang hamil." Nasihatnya kepada Lita yang emosinya sedang tak stabil.


Lita menatapnya tajam dan penuh amarah, "Tidak perlu mengajariku! Intinya sekarang, ikuti instruksiku!"


Dalam sekejap, sampailah mereka di sebuah cafe dengan pemandangan puncak gunung yang begitu menjulang. Berbagai tanaman berwarna hijau yang beragam menghiasi restoran tersebut.


"Turun." Perintah Lita dingin. Letta pun membuka pintu mobil tersebut, kemudian keluar dari mobil tersebut.


Usai memarkirkan mobil tersebut, Lita keluar dan menarik kasar pergelangan tangan Letta. Gadis itu meringis kesakitan dengan kekasaran istri CEO tersebut.


Ketika, sampai di meja yang akan mereka duduki. Lita memesan air lemon yang merupakan menu favorit restoran tersebut. Setelah itu, mereka duduk dan berbicara.


"Sambil menunggu pesanan, tolong jawab pertanyaanku dengan jujur!" Pinta Lita tegas.


Gadis itu mengangguk dan bersiap menghadapi pertanyaan Lita yang bagaikan ujian kelulusan, "Apa hubunganmu dengan suamiku?"


Pupil matanya membesar dan ia berusaha menjawab dengan tenang, "Saya hanya rekan kerja tuan Yohan. Saya sekretaris saja, tak lebih."


"Bohong! Pasti kau punya hubungan gelap dengannya, kan?" Lita semakin mendesak wanita tersebut.


Peluhnya semakin deras membasahi keningnya, "Nyonya, saya sudah bilang saya hanya rekan kerja saja."


"Gak usah mengelak, buktinya suamiku menjadi lebih sering perhatian denganmu. Oh iya satu lagi, untuk masalah cek. Suamiku ingin memberimu cek? Gitu!?"


"Tidak, itu hanya sebagai cek untuk pembelanjaan perusahaan saja."

__ADS_1


"Baiklah, kali ini aku percaya. Tapi, jangan kau kira, kalau aku akan percaya padamu semudah itu." Gertak Lita kepada Letta.


"Aku akan menggalinya lebih dalam dan dalam lagi. Apabila, diagnosaku benar, kau akan tanggung sendiri, akibat dari ulahmu." Kecam Lita yang membuat Letta semakin takut.


***


Waktu yang bertepatan dan tujuan yang sama. Kedua calon pasangan suami-istri, Jiang dan Yuriko mampir ke cafe yang disinggahi Lita saat itu.


Yuriko yang mengenal mobil milik sahabatnya beserta nomor polisi kendaraan tersebut bergumam, "Eh, bukannya ini mobil Lita?"


Calon suaminya yang mendengar ucapan Yuriko mendelik ke arahnya dan menanyainya kembali tentang gadis yang disebutnya tadi, "Maksudmu, Lita pemilik perusahaan besar yang sekarang sudah menikah?"


Yuri menoleh dan bertanya kembali, "Itu betul, darimana kau tau?"


Jiang tertawa ringan mendengar pertanyaan Yuri. Sepertinya, Yuri lupa bahwa calon suaminya itu adalah pemilik perusahaan Jiang grup. Perusahaan yang pernah berkerja sama dengan perusahaan sahabatnya yang merekrut dirinya.


"Apakah kamu lupa?" Gumamnya sambil tertawa serta memarkirkan mobil.


Yuri menyadari bahwa calon suaminya adalah CEO besar dan terkenal yang sangat tampan itu, "Ah iya, maaf aku lupa." Gadis tersebut menjadi sedikit malu dan menampakkan gigi putihnya sedikit.


"Yasudah, kita turun dan kita jumpai dia. Sekalian, kita sampaikan kabar gembira kita dengannya." Ide Jiang kepada Yuriko.


Yuriko mengangguk dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Jiang. Pria berperawakan gagah dengan dadanya yang bidang serta sangat tampan wajahnya. Sungguh, sebuah kesempurnaan.


***


Wajah Lita yang murung dan kesal dilihat oleh Yuriko. Sahabatnya itu sangat paham ekspresi wajah Lita dalam keadaan apapun.


"Aku merasa ini ada konflik." Celetuknya saat sedang memandangi Lita dari kejauhan dan perasaannya menjadi tak enak.


"Sepertinya akan ada masalah besar. Namun masalah apa?" Gadis itu bertanya dalam hati.


"Lebih baik kita duduk di sekitar sini. Nanti kalau suasana sudah tenang, kita gabung ke meja mereka ya?" Ajak Jiang dan mereka berpura-pura memesan minuman.


***


Setengah jam telah berlalu, pembicaraan kedua wanita tersebut tak kunjung selesai. Jiang dan Yuriko terus memperhatikan keduanya yang semakin memanas.


"Jangan bilang kau sudah semakin dekat semenjak saya sakit? Begitu!?" Tanyanya dengan nada tinggi.


"Cukup nyonya! Nyonya semakin menginjak harga diri saya!" Letta mulai berani mengeluarkan suara tegasnya.


"Kamu memang rendahan ya! Beraninya kamu masih chatting dengan suami saya!?" Emosi Lita sangat meledak-ledak, saat notif dari suaminya berdering pada ponsel milik Letta.


Letta yang telah kehilangan kesadaran menampar pipi mulus Lita. Kejadian tersebut menjadi tontonan para pengunjung cafe tersebut, termasuk Yuriko dan Jiang.

__ADS_1


"Parah ini!" Yuriko ikut terbawa emosi saat melihat sahabatnya ditampar oleh sekretaris tersebut.


"Sayang, tenanglah." Pria tersebut menenangkan dan menahan emosi calon istrinya.


"Plis, ini sudah keterlaluan. Sudah menghabiskan waktu kerjaan, bahkan sampai Yohan sedikit waktu untuk istri sahnya."


"Tenanglah sedikit, ini privasi mereka."


"Gak! Aku harus kesana. Seenaknya aja sekretaris semacam dia itu!" Usaha Jiang mencegah Yuriko untuk ke sana gagal.


"Yuriko!" Panggilnya, namun Yuriko tak menghiraukan suara itu.


Sesampainya di sana, gadis tersebut langsung menjambak kasar ratusan helai rambut milik Letta yang menampar Lita.


Lita terkejut melihat kehadiran Yuriko sahabatnya, "Jangan berlaku kasar padanya! Dasar sekretaris tidak tahu diri!"


Letta kembali tersadar dari sulutan kemarahannya itu. Keamanan di cafe tersebut datang dan menghampiri ketiga wanita tersebut, "Ada apa ini!? Tolong, para Nona jangan membuat kegaduhan yang mengganggu kenyamanan pengunjung di sini."


Jiang berinisiatif meminta maaf atas ketidaknyamanan tersebut, "Maafkan kami, pak. Semuanya bubar!" Tegasnya bersamaan.


Kemudian Lita mengeluarkan beberapa lembar uang dan meninggalkannya diatas meja tersebut. Ia keluar dengan perasaan kesal dan matanya berkaca-kaca. Begitu pula dengan ketiga orang yang sama.


***


Sesampainya di luar, Jiang memisahkan ketiga gadis tersebut. Pria tersebut meminta Letta untuk pergi dari sini, karena situasi saat itu sedang memanas.


"Sebaiknya kau pergi, jangan luapkan emosi lagi. Lita sedang mengandung, jangan buat dia kehilangan buah cintanya." Pinta Jiang dan Letta segera mengikuti perintah pria tersebut.


"Baiklah, Tuan. Terimakasih bantuannya." Ucapnya dan kemudian, segeralah ia beranjak menaiki taxi di seberang jalan.


***


Saat mulai tenang, Lita mulai bercerita dan menangis di pelukan sahabatnya. Yuriko yang mendengarkan permasalahan keluarga tersebut pun merasa kasihan dengan keadaan Lita.


"Aku rasa, aku perlu ikut turun tangan." Gumam Yuriko. Ia juga masih menenangkan sahabatnya itu.


"Sudahlah tenang, kau harus ingat kandunganmu."


"Aku akan cari tahu semua buktinya!" Tekad gadis yang akan menikah tersebut.


Lita menanyakan sesuatu kepada kedua insan di depannya, "Kenapa kalian bisa ada di sini?"


"Kami hanya mampir saja dan ternyata kau juga ada disini." Balas Yuri.


"Oia Ta, aku akan menikah dengan Yuriko nanti. Semoga kau bisa hadir ya." Timpal Jiang.

__ADS_1


"Tentu saja aku akan datang. Selamat ya.. " Ucapnya yang ikut bahagia melihat pasangan tersebut.


Bersambung...


__ADS_2