IMPERFECT HUSBAND [REVISI]

IMPERFECT HUSBAND [REVISI]
BAB 19 : Tahanan (1)


__ADS_3


Lita menjadi semakin panik, saat sahabatnya tak memperdengarkan suaranya lagi dan ia mengusahakan dirinya agar tetap tenang.


"Kamu dan Yohan jadi topik utama di berita. Apa benar kalian menganiaya sekretaris Letta?" Tanya Yuriko.


Lita terdiam dan matanya terbelalak. Selain itu, keringat dingin mulai muncul dan dirinya dihantui perasaan malu. Suaminya yang melihat perubahan pada mimik Lita bertanya, "Sayang, ada apa?"


"..... " Lita hanya terdiam dan ia masih menunggu sahabatnya itu berbicara.


"Ta, apa itu benar?" Tanya Yuriko sekali lagi untuk meyakinkan.


Yohan menyentuh pundak Lita dan ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, "Sayang, biar aku yang bicara." Ujar Yohan.


Lita pun memberikan ponselnya pada Yohan dan pria itu berkata, "Ada apa, Yur?"


"Han, kalian jadi topik panas berita hari ini. Apa betul kasusnya penganiayaan terhadap sekretaris kalian?" Tanya Yuriko lagi.


"....." Yohan terdiam dan dia terkejut.


"Bagaimana mungkin kasus itu bisa diketahui khalayak ramai? Sedangkan, kami menganiaya hanya berdua dengan satu korban itu." Gumam Yohan dalam hati.


Yuriko sendiri menjadi bingung dengan pertanyaannya yang tak kunjung jua menemukan jawabannya, "Han, kalian harus jawab jujur! Ini sebenarnya, ada apa?" Desak Yuriko.


"Sebenarnya, Lita hanya ingin melampiaskan rasa sakit hatinya. Kami berdua memang betul melakukannya." Yohan mengatakan apa adanya. Keduanya baru menyadari bahwa tindakan mereka salah.


"Hah!? Kalian lagi gak sakitkan?" Lawan bicaranya tersebut terkejut bukan main, ketika mendengar pengakuan Yohan dan Lita.


"Istriku sakit hati karena kehamilan Letta dan perselingkuhanku. Aku hanya ingin kembali seperti dulu, aku mau hidup keluarga kami bahagia." Jawabnya pasrah.


"Berikan ponselnya pada Lita, aku mau bicara." Pinta gadis muda yang baru menikah beberapa waktu lalu.


"Ha-halo?" Sapa Lita dengan terbata-bata, nafasnya memburu dan tak beraturan.


Yuriko mulai menegur sahabatnya yang melakukan kesalahan fatal. Kesalahan yang merupakan salah satu tindakan kriminal berupa kekerasan.


"Kamu tau salahmu dimana?" Tegurnya seraya menanyakan.


"Sa-salahku? Menurutku itu adil, perasaan sakit hatiku terbayar dan hatiku menjadi tenang." Sangkalnya dan malu untuk mengaku salah.

__ADS_1


"Lita, kamu bukan yang kukenal. Iblis apa yang merasukimu? Dendam dan kebencianmu membuat kalian terbawa masalah!" Tegas Yuriko yang tak habis pikir dengan perbuatan sahabatnya sendiri.


"Yur, bagaimana kalau posisiku adalah posisimu? Wanita yang sedang sakit kondisinya dan mengandung anak dari suaminya sendiri, malah ditinggal selingkuh hingga mengakibatkan wanita lain itu hamil? Apakah ini adil bagiku!?" Tanyanya dengan emosi yang menjadi tak beraturan.


"Tapi, tidak seperti itu caranya. Itu salah, kalian bisa membahayakan reputasi kalian dan calon anak kalian menjadi ancamannya." Jawab Yuriko yang berfikir jernih.


"Aku tau perasaanmu, rasanya sakit ketika kita sebagai wanita terduakan. Tapi, pikirkan hal kedepannya. Sekarang, kalian sedang menjadi buronan polisi." Sambung Yuriko.


Lita dan Yohan semakin gelisah, saat mereka telah mendengar informasi yang disampaikan oleh Yuriko, sahabat dekat Lita. Berita itu telah tersebar di media massa.


Yohan pun membuka akun sosial medianya. Betul saja, berita panas tentang mereka menjadi topik utama perbincangan. Banyak sekali yang menandai Yohan dan Lita dalam postingan.


Tak sedikit pula dari netizen yang angkat suara di kolom komentar katanya, "Apakah ini real? Atau ini cuma sekedar buah bibir yang tak jelas asalnya. Saya masih tidak yakin dengan tuduhan seperti ini. Apalagi mereka adalah pengusaha ternama dan orang yang paling berpengaruh dalam dunia bisnis."


"Saya gak yakin. Tuan muda Yohan, CEO perusahaan Zhou memang sangat dingin. Namun, mana mungkin ia dan istrinya melakukan tindakan keji itu."


"Saya rasa ini hanya bohongan. Mereka itu pasangan yang baik, bijaksana dan cerdas. Mereka juga romantis, mungkin ada yang memanfaatkan situasi dibalik berita viral ini."


Banyak pula yang melontarkan ujaran kebencian dan hujatan yang bertebaran, "Saya tak menyangka orang penting tersebut bisa melakukan tindakan sekeji itu terhadap karyawan di kantornya. Sungguh tidak profesional dan tidak seharusnya mendapat terakreditasi A."


"Perusahaan Zhou dan Lin tidak pantas menduduki perusahaan dengan peringkat terbaik dan tertinggi. Memalukan dunia bisnis saja."


"Fake, mereka hanya tampilan saja tapi untuk attitide so bad. Behaviour? Apalagi, they not have akhlak."


Yohan yang membacanya terkejut. Banyak media masa yang menayangkan rekaman CCTV di ruangan kerja sekretaris, Letta. Tak sedikit juga, wartawan yang ingin mewawancarai mereka berdua.


"Ya ampun, aku baru ingat bahwa ruangan itu dilengkapi rekaman keamanan. Bodoh!" Gerutu Yohan sendiri.


***


Lita yang telah mematikan ponselnya juga terkejut dan sangat panik setelah membaca komentar pada berita yang panas sekali sore itu.


"Sayang, bagaimana ini? Aku gak mau masuk penjara... " Lita sangat ketakutan dan khawatir.


"Kamu tenang ya, kita ke rumah mama. Aku rasa tempat itu lebih aman daripada kita harus masuk dalam jeruji besi." Ajak Yohan dan segera mereka berangkat.


***


Sesampainya di sana, mereka segera memakai masker saat hendak turun dari mobil. Lita memeluk lengan kekar Yohan dan mereka memencet bel rumah.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, wanita paruh baya yang mengenakan atasan berwarna hijau toska membukakan pintu rumah dan ia sangat khawatir setelah mengetahui semua di berita.


"Lita, kamu keterlaluan ya! Mama gak pernah mengajarimu untuk berbuat seperti itu! Mama kecewa denganmu!" Bentak sang wanita paruh baya tersebut.


Lita yang menerima ocehan pahit dari mamanya segera berkata, "Ma, ini bukan waktunya untuk marah. Sekarang, kami akan ke kamarku dan kalau ada yang cari kami. Mama tolong bilang, kalau kami gak ada di sini." Pintanya.


Akhirnya, mamanya mengesampingkan egonya dan mereka segera masuk ke kamar Lita untuk bersembunyi. Yohan berusaha menenangkan Lita dengan cara memeluknya.


"Sayang, kamu jangan khawatir ya. Kalau seandainya polisi datang, kita hadapi sama-sama ya. Kamu jangan sedih, apapun yang terjadi kita selalu bersama." Suaminya memeluk Lita yang masih merasa gugup. Perlahan keadaannya mulai membaik.


***


Betul saja, setelah itu polisi datang ke rumah mamanya. Lita kembali gelisah dan peluhnya mulai bercucuran membasahi pelipisnya.


"Bagaimana ini...? Kita harus tetap diam di sini.." Pintanya untuk lari dari masalah. Akan tetapi, suaminya menolak permintaan Lita.


"Tidak sayang, jangan libatkan korban lagi. Cukup kita saja, kasihan mama." Katanya kepada Lita.


"Hmm baiklah, aku akan ikuti saja jalannya."


***


Wanita paruh baya itu membukakan pintu lagi dan menyambut petugas keamanan tersebut. Ia sangat khawatir dan tak tenang batinnya.


"Selamat sore, apa benar ini kediaman saudari Lita Lin dan Lau Yohan Zhou?" Tanya salah seorang petugas.


"Betul pak, ada apa ya dengan putri dan menantu saya?" Tanyanya pura-pura tak paham.


"Kami mendapat surat perintah untuk penangkapan Nona Lita dan Tuan Yohan. Apakah mereka ada disini?"


Baru saja, ia akan menjawab, tiba-tiba Yohan dan Lita muncul secara bersamaan, serta berkata, "Kami di sini. Bapak mau cari kami?"


"Kalian harus ikut ke kantor polisi untuk diminta keterangan terkait kasus penganiayaan terhadap sekretaris Anda. Kalian saya tahan!" Katanya dan mama Lita menitikkan air mata.


Lita memeluk mamanya dan berkata, "Ma, ini hanya sebentar. Kami akan baik-baik saja. Minta pengacara kami untuk menyelesaikan kasus ini." Titahnya. Hal itu, membuat mama Lita semakin terpuruk lantaran anaknya yang sedang mengandung ditahan bersama menantunya.


".... Kamu jaga kesehatan ya bersama bayi dan suamimu." Pesan sang ibu.


"Pasti, ma.. Maafin, Lita." Lita menitikkan setitik air mata di pipinya. Kemudian, keduanya dibawa ke kantor polisi karena kasus tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2