Indahnya Waktu

Indahnya Waktu
Sinyo Daniel


__ADS_3

"Siapa tadi yang membersihkan kamarku?!!!!" Bentak Daniel pada seisi dapur para pembantu.


"In-indah den...!" Serentak mereka menunjuk salah seorang dari mereka yang berkerudung.


Daniel menatap orang yang menjadi sebab kemarahannya dengan penuh emosi. Kamar tidur miliknya adalah tempat paling privasi yang tidak boleh ada orang masuk kecuali atas izinnya. Bukan karena benda-benda berharga yang ada di dalamnya tapi karena ia tak suka jika barang-barang miliknya berpindah tempat tanpa sepengetahuannya.


"Ada apa sih nyo, pagi-pagi begini sudah ribut? Matahari juga baru keluar?"


Wanita paruh baya dengan pakaian daster khas miliknya mendatangi si bungsu yang kini kerap marah-marah kalau ada hal yang tidak cocok dengannya.


"Kamar I (baca ai) diberantakin ma....! Mama tahu kan I paling nggak suka ada yang masuk ke kamar I?"


"Siapa tadi yang bersihkan kamarnya Sinyo?" Tanya nyonya rumah itu.


"Indah bu..." Jawab para pekerja dengan serentak.


Gadis cantik berkerudung merah jambu yang ketakutan akan kena amukan itu memberanikan diri maju dengan kedua tangan yang bertaut. Kepalanya menunduk tak berani melihat tatapan majikan muda yang biasanya suka bermanja-manja pada sang mama.


"Berani-beraninya you masuk ke kamar I dan memindahkan barang-barang I ?!!" Daniel berkacak pinggang. Memarahi Indah di depan semua orang.

__ADS_1


"Daniel... mama yang nyuruh Indah membersihkan kamar kamu. Mbok Jah sedang sakit dan mama yang memberi waktu libur selama satu Minggu. Kalau kamu nggak suka kamar kamu dibersihin sama Indah mulai besok bersihkan saja sendiri. Kok bisa kamu tinggal di kamar yang persis kayak kapal pecah begitu..."


Nyonya Rosi memang meminta salah satu pembantu untuk membersihkan kamar Daniel tanpa menyebut nama. Dan para pekerja yang kini sering mendapatkan amukan dari Sinyo sepakat menyuruh Indah yang harus mengerjakannya. Karena Indah adalah pegawai paling baru dan paling muda yang bisa disuruh-suruh. Apalagi dia baik dan penurut membuat para pembantu kawakan sering memerintahnya ini dan itu.


"Branggggg!!!!"


Semua orang menoleh pada galon kosong yang dijatuhkan oleh sang majikan utama. Pria keturunan cina yang berjalan tenang menuju ke meja makan.


"Ada apa pagi-pagi sudah ribut begini?"


Semua orang terdiam mendengar tuan rumah bicara dengan nada marah. Seluruh penghuni rumah terpaku di tempat masing-masing.


Indah menganggukkan kepala pada sang Nyonya kemudian mengikuti tuan mudanya ke kamar sedangkan nyonya besar berkulit agak gelap itu buru-buru mendatangi sang suami yang sudah siap untuk menyantap sarapan.


"Apa pekerjaan you di sini?" Tanya Daniel sambil berjalan ke kamarnya.


"Nyuci dan setrika tuan!" Jawab Indah dengan menundukkan kepala seperti orang yang sedang mencari barang yang hilang.


Hampir saja Indah menabrak tubuh si tuan mudanya kalau saja dia tidak punya rem cakram yang kuat untuk menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"Berdiri di sini!!" Kata Daniel sambil membuka pintu kamarnya. Tak mengizinkan pegawai rumahnya untuk menginjakkan kaki di kamar pribadi nya.


Gadis itu pun menganggukkan kepala tanpa melihat wajah si tuan muda.


"Jawab!!, kenapa diam saja ?"


"B-baik tuan!!" Jawab Indah dengan terbata-bata. Ia ketakutan karena seumur-umur baru kali ini ia dibentak sedemikian.


Meski dia hidup serba kekurangan namun ia tak pernah kekurangan kasih sayang. Mendiang suami dan ayahnya adalah orang yang sangat sabar. Begitupun ibu dan adiknya.


Indah adalah seorang janda dengan satu anak yang kini berusia tiga tahun. Ia sudah menjanda ketika umurnya baru menginjak dua puluh satu. Meski umur nya masih tergolong muda tapi ia sudah menjadi tulang punggung keluarga semenjak sang ayah dan suaminya meninggal.


Hidup serba kekurangan dan kesulitan memang sudah menjadi teman akrabnya. Ia tak menyesali apalagi iri pada kehidupan orang lain yang berkecukupan. Dari mendiang suami nya yang seorang ustadz ia belajar mengenai kehidupan. Setiap orang hidup akan diuji dengan berbagai hal. Entah itu si miskin atau si kaya. Jangan dikira kalau orang kaya itu hidupnya selalu bahagia dan si miskin selalu menderita.


Banyak hal yang bisa membuat orang bahagia tanpa harus kaya terlebih dahulu.


Orang-orang kaya juga banyak yang menangis karena berbagai masalah yang mendera mereka. Lihat saja kehidupan para majikan tempatnya bekerja selama tiga bulan terakhir ini. Semuanya punya masalah sendiri-sendiri.


"Dimana sepatu kets ku yang biasa di situ?" Tanya Daniel sambil menunjuk belakang pintu.

__ADS_1


"Di dalam lemari kaca tuan" Jawab Indah santun menggunakan kelima jarinya untuk menunjuk dimana ia tadi menyimpan sepatu sang majikan.


__ADS_2